6 - Public?

509 Kata
Jeno terbangun, ia melihat Jaemin tak lagi bersuara. Sepertinya ia kelelahan, terlihat dari sebagaimana p***s Jaemin mengeluarkan begitu banyak s****a. Jeno pun melepaskan ikatan Jaemin secara perlahan agar tak membangunkannya. Ia melihat ada bekas merah dari ikatannya. Ia juga membasuh tubuh Jaemin yang berkeringat kemudian membaringkannya di sofa dan memberinya selimut. Jeno tersenyum melihat wajah Jaemin yang begitu polos saat tidur namun bagitu erotis saat bangun. Jeno tak berniat untuk kembali tidur, ia pun mulai menyiapkan keperluan besok. Dan Tak terasa, hari mulai terang. Jeno segera membasuh diri di kamar mandi. Mungkin suara air membangunkan Jaemin. Ketika Jeno keluar ia melihat Jaemin sudah mengusap mukanya walaupun masih dalam keadaan tidur. "Kau yang mengangkatku ke sofa?" Tanya Jaemin. Hanya dijawab dengan gumaman kecil dari Jeno. "Aku kira kau hanya sadist tak berperasaan." Lanjut Jaemin melihat tubuhnya bahkan dibersihkan oleh Jeno. "Ckckck, jadi kau lebih memilih tidur semalaman sambil terikat?" Tanya Jeno balik. "Tidak, tentu tidak." Jawab Jaemin cepat, itu akan sangat melelahkan tidur seperti itu semalaman. "Yasudah kalau begitu, tidak perlu banyak protes. Sadist bukan berarti aku kejam setiap saat. Kita hanya mencari kepuasan dari itu, dan tidak mungkin juga aku melakukannya setiap saat. Coba pikir, apa kau ingin aku tiba-tiba menerkammu setiap bertemu denganmu? Tidak, kan?" Jelas Jeno. "Eh, tapi itu akan menyenangkan." Pikir Jeno. "Hey, apa kau tertarik melakukannya diluar?" Tanya Jeno langsung. "Maksudmu?" Jaemin bertanya balik. "Hm, ya seperti kita bermain diluar. Aku dengar Masochist justru terangsang saat ia dilihat orang lain. Bagaimana?" Lanjut Jeno "Apa kau gila? Ini hari pertama orientasi, dan kau ingin melakukannya di depan semua orang? Tidak mungkin!!" Tolak Jaemin, dalam hati ia b*******h membayangkan itu tapi juga takut jika Jeno benar-benar melakukannya di depan semua orang. Image nya akan hancur. "Hey, Apa yang kau bayangkan sebenarnya? Apa kita memikirkan hal yang sama?" Tanya Jeno lagi, ia rasa pemahaman yang mereka bayangkan sedikit berbeda. "Apa lagi, tentu saja aku membayangkan kau memaksaku s*x di depan public." Jawab Jaemin polos. Jeno geleng-geleng kepala, sebenarnya seperti apa dirinya dimata Jaemin dan sebejat apa sebenarnya isi otak anak ini. "Bodoh, kau pikir aku gila? Maksudku, seperti misalnya kau menggunakan vibrator seperti tadi malam selama kegiatan orientasi." Tukas Jeno sambil menjentik dahi Jaemin membuatnya meringis. "Oh? Hanya seperti itu?" Ujar Jaemin. "'Hanya'? Kau mau melakukannya kalau hanya seperti itu?" Bisik Jeno melihat Jaemin tak keberatan. Mendengar itu, tubuh Jaemin merinding. "Ti.. Tidak, Tidak mau.. Ini hari pertamaku, aku ingin mengenal banyak orang dulu." Jawab Jaemin ragu, ia sangat tertarik setiap melihat video s*x in public selalu bisa membuatnya ejakulasi selama ini. Tapi mendengar Jeno tadi, ia seakan siap mempermainkannya di depan public. Jeno menghela nafas mendengar itu, ya benar juga. Ini hari pertama mereka, belum genap 24 jam mereka bertemu dan wajar jika ia menolak permainan ekstrem seperti itu. "Huh, well sepertinya hari ini memang tidak bisa." Ujar Jeno. "Wait, apa artinya kau masih berencana di hari lain?" Tukas Jaemin, cepat mengerti maksud ucapan Jeno. "Tentu saja, ini permainan paling menyenangkan, bukan?" Jawab Jeno sambil menyeringai. "Oh My God." Gumam Jaemin, membayangkan nasibnya. *** TO BE CONTINUED..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN