"Ini adalah buku peraturan sekolah dan asrama. Harap diperhatikan dan segera singkirkan barang-barang yang dilarang. Inspeksi akan dilakukan secara mendadak." Jelas senior yang terlihat seperti ketua di asrama ini.
Jaemin membaca dengan seksama hal-hal yang dilarang sedangkan Jeno hanya peduli dengan barang-barang yang dilarang. Kemudian ia menyeringai dan menunduk pada Jaemin.
"Sepertinya alat-alat untuk bermain denganmu bisa kubawa." Bisik Jeno di telinga Jaemin, membuatnya merinding.
"Mana mungkin. Jelas-jelas barang mencurigakan dilarang." Sentak Jaemin tiba-tiba membuat semua orang meliriknya yang membuatnya hanya tertawa canggung sambil menunduk dan bersembunyi di belakang Jeno.
"Siapa bilang kau bisa menjadikanku tameng?" Ujar Jeno tetap menghadap depan, ia memberi kode pada senior di depan sana yang langsung diangguki.
"Iiss, ini kan juga karenamu." Ujar Jaemin, meringis pada Jeno. Jeno terkekeh merasa Jaemin pasti sangat menggemaskan dibelakanhnya.
Tak lama setelah itu, anak baru di bubarkan dan dipersilakan kembali ke kamar masing-masing. Jeno menyuruh Jaemin kembali ke kamar lebih dulu dan dengan baik menunggunya.
***
Jaemin tertidur setelah membereskan kamar dan menunggu Jeno. Ia terbangun dengan keadaan terikat pada tangga tempat tidur mereka dan tanpa mengenakan sehelai benang pun namun justru tali membelit tubuhnya.
Jeno keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk di pinggangnya dan rambut basah yang ingin di keringkannya. Jaemin sempat melupakan keadaan memalukannya begitu melihat keadaan Jeno yang bisa membuatnya tegang hanya dengan melihatnya.
"Sudah bangun?" Ujar Jeno sambil mengeringkan rambutnya dan duduk di sofa.
"A, apa maksudnya ini?" Ujar Jaemin yang baru menyudahi khayalan liarnya tentang tubuh Jeno, ia ingin menjilatnya.
"Aku bilang tunggu, tapi kau tidur begitu saja." Jawab Jeno singkat.
"Kau terlalu lama, dan aku terlalu lelah akibat persiapan masuk asrama. Maafkan aku, kali ini saja... Jeno" Lirih Jaemin, sungguh ia butuh tidur, besok hari orientasi pertama mereka.
"Apa aku meminta alasan? Dan sebaiknya kau perbaiki ucapanmu sebelum memohon padaku." Jawab Jeno.
"I'm sorry, Master. Just let me go this time." Ujar Jaemin memohon.
Jeno pun berjongkok di depan Jaemin yang terikat, ia masih menimbang untuk membiarkan Jaemin.
"Jika aku melepaskanmu, usahaku memakaikan outfit ini akan sia-sia. Untuk malam ini, aku cukup berbaik hati. Aku hanya akan menggunakan ini." Ujar Jeno sambil menunjukkan vibrator kecil yang dikendalikan dengan remote jarak jauh.
"Seriously?? Dimana kau mendapat semua ini sebenarnya?" Sentak Jaemin tiba-tiba. Ini pertama kalinya ia melihat s*x toys secara langsung, ia sedikit takut. Bukan pada s*x toys nya tapi reaksi tubuhnya nanti.
"Jangan protes, Jaemin-ah. Aku hanya menyalakannya selama dua jam. Tapi jika tingkahmu seperti ini, apa kau mau bermain dengan ini?" Tukas Jeno sambil menunjukkan dildo di tangannya, membuat Jaemin meneguk ludah.
"Maafkan aku, Master." Jawabnya cepat.
"Baiklah, kalau begitu." Ujar Jeno dengan tersenyum tipis.
Jeno menarik sedikit tubuh Jaemin, kemudian merentangkan kakinya agar lubangnya terlihat jelas. Ia pun bersiap memasukkan vibrator yang telah diberikan lube sebelumnya.
"Kau siap?" Tanya Jeno.
Jaemin menjawab dengan anggukan sambil menutup mata. Ia khawatir tapi juga exciting. Vibrator masuk dengan mudah ke lubang Jaemin, kemudian Jeno mendorongnya agar masuk lebih dalam dengan jarinya.
Saat berada tepat dibawah prostat Jaemin, Jeno merasa lubang Jaemin mengetat tanda bahwa ia menyentuh sweet spot nya. Ia pun melihat wajah Jaemin yang memerah, dengan itu ia menyalakan vibrator itu.
"Aakhh." Jaemin melenguh saat vibrator itu dinyalakan oleh Jeno tepat di prostatnya. Jeno yang senang melihat reaksi Jaemin pun menekan vibrator itu pada prostatnya. Alhasil, Jaemin makin mengetatkan lubang maupun kakinya, wajahnya terlihat sangat menggemaskan sekarang.
"Ennghh.. Ah.. Mmmph" Jaemin berusaha menahan desahannya. Tak lama Jeno bermain dengan jarinya, Jaemin mendapat klimaks pertamanya.
"Tubuhmu terlalu sensitif. Kau klimaks bahkan tanpa menyentuh penismu. Sepertinya kau sudah terbiasa bermain dengan ini." Ujar Jeno.
Jaemin menggeleng sambil menggigit bibir, "Hanya sebatas masturbate." Jawab Jaemin.
Jeno terkekeh mendengar suara Jaemin yang mencicit. Ia pun menaikkan tingkat getaran pada vibrator itu hingga Jaemin tak bisa lagi menahan desahannya.
"Well, tidak buruk juga. Aku jadi tidak perlu melatihmu untuk hal itu." Ucap Jeno kemudian mengusap wajah Jaemin yang berkeringat.
"Kalau begitu, bertahanlah. Vibratornya hanya akan bertahan dua jam, setelah itu kau bisa tidur tenang. Good Night." Ujar Jeno sambil mengecup puncak kepala Jaemin kemudian naik ke tempat tidurnya.
Suara desahan Jaemin seakan lullaby baginya malam itu.
***
TO BE CONTINUED..