Surabaya siang ini panas, seperti biasa. Meskipun selepas hujan yang terlihat dari jalanan yang basah dan beberapa ranting daun yang masih meneteskan air sisa hujan. Setelah mengucapkan nama Abimanyu, Raka menjadi lebih pendiam. Laki-laki itu sama sekali tidak berniat membuka segala macam jenis percakapan baik dengan pengawalnya ataupun dengan Renjana yang duduk di sampingnya.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Abim,” ucap Renjana memecah sepi.
Raka terkekeh namun ada nada getir di dalam tawa ringannya. Mata laki-laki itu menunjukan sebuah rasa yang tak bisa sampai ke hati Renjana. Arah pandang Raka pun tak tertuju pada Renjana sebagai lawan bicaranya.
“Aku jujur,” tambah Renajana menguatkan jawaban sebelumnya.
“Pak Abim? Kamu bilang tidak dekat tetapi dari cara kamu menyebut namanya saja kedekatan kalian sudah terlihat begitu kentara. Jangan mengelak.”
“Jangan membuat asumsimu sendiri, Raka.”
“Raka, Abim. Berapa kali aku harus mengatakan tentang sebuah panggilan ‘sayang’?”
Tak ada lagi senyum di wajah Raka, hanya ada keseriusan di dalam raut wajah laki-laki itu. Renjana memalingkan wajahnya saat sadar tidak ada jalan keluar untuk menghindari tuntutan Raka.
Pemandangan di luar mobil lebih bisa dinikmati ketimbang wajah Raka yang menyebalkan. Mereka sudah berada di perjalanan menuju bandara, seperti ucapan Raka sebelumnya, sore hari mereka langsung kembali ke Jakarta menggunakan pesawat. Tidak ada pertanyaan dari kedua orangtua Renjana setelahnya meskipun Renjana yakin ada ribuan pertanyaan didalam benak kedua orangtuanya.
Satu tarikan tangan tidak terlalu kuat sudah mampu membawa wajah Renjana kembali menghadap sumber kesakitannya selama ini. Raka masih menunggu jawaban Renjana.
“Kamu memanggil laki-laki itu dengan panggilan kesayangan, sedangkan untuk memanggil nama calon suamimu sendiri dengan ‘sayang’ pun terkesan sangat sulit.”
“Itu bukan panggilan sayang, namanya adalah Abimanyu dan aku hanya menyingkat namanya menjadi ‘Abim’. Salahnya ada dimana?!”
“Itu salah! Namanya Abimanyu dan kamu cukup memanggilnya dengan nama Pak Abimanyu. Selesai, Na.”
“Astagaaa, Raka. Serius kamu mau bahas tentang sebuah panggilan nama?” tanya Renjana tidak percaya.
“Seribu rius, aku akan selalu mempermasalahkan bahkan hanya untuk sebutan nama laki-laki lain yang lebih manis daripada panggilan untuk calon suamimu sendiri.”
Renjana menyerah untuk mencoba memahami jalan pikiran Raka. Dia tidak habis pikir dengan alasan laki-laki itu marah. Bagi Renjana tidak ada yang perlu dibahas tentang hubungannya dengan Abimanyu, meskipun mereka dekat akhir-akhir ini tetapi Renjana masih sadar betul dimana posisinya berdiri.
“Rak-.”
“Sayang, Renjana! Berapa kali aku harus mengatakan itu?!” Raka membentaknya, nyaris membuat jantung Nana meloncat dari tempatnya. Raka benar-benar marah karena sebuah panggilan nama yang menurut Renjana amat sangat tidak penting.
“Raka, bisa kita bicara dengan baik?” tanya Renjana pelan. Dia tidak mau ikut tersulut emosi Raka yang sudah memuncak.
“Jika hanya untuk membahas ketidakpatuhanmu, aku tidak bisa.”
“Raka aku mohon pengertianmu. Semua ini terlalu cepat dan terlalu banyak.”
Bertepatan dengan kalimat itu selesai Nana ucapkan, mobil yang ditumpangi Raka dan Renjana berhenti tepat di depan bandara.
“Aku ingin menekankan dua hal kepadamu. Pertama, jangan membuat banyak alasan, Na. Sebanyak apapun kamu menciptakan alasan itu semua tidak akan pernah bisa menghentikan niatku untuk kembali memilikimu. Kedua, kita sudah sampai. Lebih baik kita tutup perbincangan tidak bermutu saat ini dan kita turun.”
“Aku tidak mau menutup perbincangan ini, aku hanya menunda,” jawab Renjana memberanikan diri sambil tangannya bergerak membuka pintu mobil.
Renjana memilih untuk mendahului Raka memasuki pintu masuk Bandara. Raka yang berada di belakangnya cukup mampu bisa menahan emosinya karena mereka berdua sedang berada di tengah keramaian. Laki-laki itu keluar mobil setelah Renjana menjauh.
“Aku butuh banyak stok sabar yang aku sendiri sadar aku tidak memiliki itu,” ucap Raka ke arah salah satu pengawal yang selalu setia menemani kemanapun laki-laki itu pergi.
“Berusahalah, Bos.”
Raka menghela nafasnya kasar lalu ikut menyusul Renjana yang sudah masuk terlebih dahulu. Dalam waktu kurang dari dua jam mereka sudah sampai di rumah mereka di Jakarta. Tidak seperti biasanya mereka disambut Tuan Haditya atau Nyonya Rukma, rumah ini terlihat sepi malam ini. Mereka berdua sama-sama memilih untuk melihat Saka terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Saka terlihat sudah tertidur pulas di kamarnya.
“Apa Saka mencariku?” tanya Renjana kepada Laila, baby sitter Saka.
“Iya, tetapi tadi sudah saya jelaskan Mama sedang pergi sama Papa.”
“Dia nangis?”
“Tidak, Den Saka hari ini tidak rewel, ceria.”
“Baguslah,” ucap Renjana lega.
“Pergilah.” Kalimat itu tentu saja tidak keluar dari mulut Renjana melainkan dari Raka yang dengan sadis mengusir Laila untuk keluar dari kamar Saka.
“Kenapa?” tanya Raka saat melihat Renjana yang memalingkan wajahnya dengan malas setelah kepergian Laila.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu memutar matamu.”
“Aku tidak melakukannya,” elak Renjana.
Raka menarik tubuh Renjana untuk menghadapnya, cukup kuat hingga tubuh mereka berbenturan dengan tidak sengaja.
“Apakah kamu berniat membuat sebuah pertengkaran lagi, Na?” tanya Raka. Laki-laki itu mengunci pergerakan tubuh Renjana yang mencoba melepaskan diri.
“Rak ... Mas Raka maksudku, aku tidak berniat menciptakan sebuah pertengkaran.”
Mungkin mulai sekarang, Renjana akan mulai kembali membiasakan diri memanggil Raka dengan panggilan itu. Dulu, Renjana memanggil Raka dengan panggilan Sayang lalu setelah menikah berubah menjadi ‘Mas Raka’ tetapi tentu saja semua itu berubah sejak Renjana mendapati Raka selingkuh dibelakangnya.
“Baguslah, aku sudah lelah,” jawab Raka sambil melepaskan cengkeraman tangannya di tubuh Renjana.
“Mas Raka,” panggil Renjana lirih, sangat lirih dan penuh permohonan.
“Heem.”
Mata Raka masih asik mengamati tidur Saka yang sedang pulas dengan mulut yang terbuka. Bahkan Renjana bisa menemukan senyum tipis yang tercetak di wajah Raka saat laki-laki itu mengamati Saka yang sedang tertidur.
“Aku ada sebuah permohonan, sebagai syarat pernikahan ini.”
“Kamu baru saja mengatakan tidak berniat menciptakan sebuah pertengkaran, Na,” jawab Raka frustasi. “Sudah berapa kali aku tegaskan kalau pernikahan ini tidak membutuhkan persetujuanmu. Aku tetap akan menikahimu.”
“Mas, dengerin aku dulu. Bisa?”
Raka mengatupkan rahangnya kuat, kedua tangannya saling bersedekap seakan menunggu kalimat Renjana selanjutnya.
“Katakan,” ucap Raka.
“Aku ingin kita tinggal di rumah yang terpisah dari Tuan Haditya dan Nyonya Rukma.”
“Aku anak tunggal kalau kamu lupa, aku tidak mungkin meninggalkan kedua orangtuaku.”
“Tapi, Mas. Aku tahu memorimu hilang beberapa tahun yang lalu, saat pernikahan kita sebelumnya. Tapi akan aku tekankan lagi bahwa pernikahan kita sebelumnya tidak berhasil. Kamu ... kita mengacaukannya.”
“Tidak! Sekali aku bilang tidak jawabannya akan selalu sama. Aku, kamu dan Saka akan tetap tinggal di rumah ini,” jawab Raka final.
Laki-laki itu melangkah keluar kamar Saka sebelum kalimat Renjana kembali meghentikan langkah itu.
“Itu adalah persyaratan nikah yang aku ajukan, jika kamu tidak memenuhinya maka aku tidak bersedia melangsungkan pernikahan ini.”
“Mari kita lihat apakah penolakanmu bisa merubah apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian,” jawab Raka tanpa perlu repot-repot memutar tubuhnya.
Laki-laki itu melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar Saka, meninggalkan Renjana yang kecewa dengan penolakan Raka. Sekuat hati Renjana mencoba mengikhlaskan takdirnya yang harus kembali terjerat dalam kehidupan rumit milik mantan suaminya. Dia hanya ingin satu, tinggal terpisah dari Nyonya Rukma yang selalu bisa membuat hidupnya berantakan. Wanita itu bisa dengan mudah menyakiti Renjana lagi ataupun menyakiti kedua orangtuanya. Wanita itu dengan mudah bisa kembali menghasut Raka dan membuat laki-laki itu membencinya.
Tetapi, bukankah seharusnya memang seperti itu baiknya? Raka membencinya.