Siang hari, dibawah teriknya panas matahari yang membakar bumi. Mobil yang Raka dan Renjana tumpangi berhenti tepat di depan rumah Renjana di Surabaya. Tidak ada yang keluar dari dalam rumah, mungkin masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bapak dan Ibu biasanya sudah pulang dari pasar menginjak siang dan setelah itu mereka memilih istirahat sejenak karena sudah beraktivitas sejak dini hari.
Raka turun dari mobil dengan begitu elegan hingga beberapa tetangga Renjana terpaksa menghentikan semua aktivitasnya untuk mengamati laki-laki itu. Raka yang tampan dan gagah dengan setelah mahal tentu sesuatu yang langka berada di perumahan sempit seperti di rumah Nana.
Setelah lama memejamkan mata karena frustasi, Renjana memilih ikut turun. Tidak ada pilihan lain untuknya saat ini selain mengikuti setiap keinginan Raka.
“Aku pikir kamu nggak mau ikut turun.”
“Aku ingin bertemu dengan kedua orangtuaku.”
“Oke, ayo kita hadapi bersama,” ucap Raka sambil menggenggam tangan Renjana erat.
Kalimat itu terdengar manis, sangat manis. Seperti dulu ketika mereka berdua masih bersama, Raka selalu memperjuangkannya. Tetapi itu dulu, meskipun sekarang Raka yang berdiri di hadapannya adalah Raka yang berbeda, tetapi Renjana yakin itu semua hanya masalah waktu. Dengan berjalannya waktu Raka akan kembali seperti Raka yang sebelumnya. Raka yang membenci Renjana, Raka yang selalu menyakiti Renjana.
Saat jari jemari tangan laki-laki itu menyusup disela-sela jemari Renjana ada getar yang berusaha Renjana abaikan.
“Ayo,” ucap laki-laki itu lagi sambil menarik tangan Renjana untuk mengikuti langkahnya.
Rumah Renjana masih terlihat sepi, tidak ada aktivitas di dalamnya. Saat tangan mulai mengetuk daun pintu rumahnya yang reyot, Renjana kembali memejamkan mata dan mengucap ribuan doa dalam hati.
Cekrek.
“Nak Raka?”
“Selamat pagi, Pak. Bagaimana kabarnya?” sapa Raka dengan senyum menawan yang menghangatkan.
“Baik, silahkan masuk.”
Meskipun hubungan Raka dan Renjana tidak baik selama ini, tetapi Renjana tidak pernah memberitahukan masalah penyebab perceraian keduanya. Renjana hanya bercerita tentang mereka berdua yang tidak berjodoh dan sudah tidak sejalan. Sebuah alasan klise yang sering digunakan pasangan jika ingin bercerai. Renjana juga bercerita tentang dirinya yang masih berjuang untuk bisa bersama Saka karena hak asuh ada di tangan Raka. Hanya itu saja, tidak lebih.
Keterkejutan tercetak jelas di wajah Pak Tomo tetapi dengan mudah laki-laki paruh baya itu menghalau rasa itu. Dengan ramah, Pak Tomo mempersilahkan Raka untuk duduk, dia sempat melihat ke arah anaknya sekilas lalu kembali menautkan perhatiannya ke arah Raka.
“Panggil Ibumu, Nduk. Ibu ada di rumah budhe.”
“Mungkin bisa dipanggil yang lain saja, Pak. Saya mau Renjana ada di samping saya karena ada yang ingin kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Bersama-sama.”
Pak Tomo semakin menunjukan wajah penuh tanda tanya besar, laki-laki itu menatap anaknya berharap mendapatkan sebuah clue dari kedatangan mantan suami yang ia ketahui memiliki hubungan yang tidak terlalu baik dengan Renjana.
“Biar saya yang panggil,” jawab laki-laki itu akhirnya.
Pak Tomo pergi dan Raka menarik tangan Renjana untuk duduk mendekat. “Sebagai seorang calon istri seharusnya kamu duduk di sampingku.”
Raka terlalu banyak menuntut! Seperti dirinya yang dulu.
“Aku membutuhkan jarak,” jawab Renjana.
“Dan aku akan selalu mengikis jarak yang kamu buat.”
Renjana tak lagi mejawab, wanita itu memilih untuk menurut daripada mendapatkan amukan Raka yang lainnya. Mereka berdua menunggu Bapak dan Ibu Renjana, setelah sepuluh menit berlalu kedua orang paruh baya itu datang melalui pintu tengah.
“Waah, ada apa ini tumben-tumbennya Mas Raka ke Surabaya?” tanya Bu Rima yang dijawab Raka hanya dengan sebuah senyuman tipis tanpa makna.
Setelah kedua orangtua Renjana duduk, Raka memulai perbincangan siang ini.
“Seperti yang sudah saya sampaikan kepada Bapak tadi, Bu.Saya dan calon istri saya, Renjana, datang ke sini ingin menyampaikan sesuatu.”
Tentu saja kalimat Raka yang lugas membuat Pak Tomo dan Bu Rima terkejut. Tidak ada terbersit sedikitpun dalam otak keduanya tentang maksud kedatangan Raka kesini adalah untuk kembali meminang Renjana.
“Saya dan Renjana memilih kembali rujuk, kami akan melangsungkan pernikahan Minggu depan.”
“Kamu meminta izin atau memberitahu?” tanya Pak Tomo setelah cukup lama membisu.
“Saya membutuhkan izin Bapak dan Ibu dalam pernikahan ini, tetapi jika pun Bapak dan Ibu tidak mengizinkan, pernikahan ini akan tetap terjadi.”
“Nak Raka,” panggil Pak Tomo dengan pelan.
“Ya saya.”
“Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan.”
“Tentu saja tujuan saya bukan untuk main-main.”
“Di dalamnya ada sebuah janji, komitmen dan tanggung jawab.”
“...”
“Pernikahan tidak akan selamanya mudah tetapi sebagai pasangan suami istri yang terikat sebuah janji suci tidak selayaknya semudah itu untuk melepaskan.”
“Saya-.”
“Setahu saya Nak Raka sudah menikah.”
“Saya sudah bercerai.”
“Berarti ini adalah pernikahan ketiga?”
“Tetapi cinta saya hanya untuk Renjana.”
“Tapi kamu pernah menceraikannya.”
“Itu sebuah kesalahan.”
“Kesalahan?”
“Pak, apa maksud kalimat Bapak? To the point saja jangan bertele-tele!”
Kalimat Pak Tomo sukses menciptakan amarah Raka. Raka mencengkeram tangannya sendiri tanda marah. Dia tidak suka kedua orangtua di hadapannya ini terlalu banyak bicara. Dia memang pernah salah karena menceraikan Renjana, sesuatu yang tidak ia ingat alasannya. Tetapi itu tidak akan pernah terjadi pada Raka yang sekarang.
Sebuah sapuan lembut di tangan Raka menenangkan. Ada tangan Renjana disana yang menyelimuti dan memberikan kehangatan. Raka yang melihat tangan itu saling menggenggam mencoba mengurai emosinya yang bersikokol di dalam d**a.
Sedangkan di sisi Renjana, ia melakukan itu hanya demi melindungi orangtuanya dari amukan Raka. Kedua orangtua Renjana tentu sudah paham tabiat Raka yang suka memaksa, mereka pasti menyadari bahwa tidak ada jawaban tidak untuk pinangan Raka siang ini.
“Saya hanya ingin mengingatkan Nak Raka. Jika kamu ingin menikahi anak saya, bolehkah saya meminta Nak Raka untuk mencintainya dengan tulus? Percaya dengannya?”
“Saya pasti melakukannya.”
Renjana tersenyum tipis dalam hati, kebohongan Raka yang kesekian kalinya. Entah berapa kebohongan lagi yang akan ia tunjukan kepada Renjana nantinya.
“Baiklah, dengan ini aku berikan izinku dan restuku untuk pernikahan kalian.”
Raka tersenyum puas, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Renjana.
“Terima kasih. Saya akan menyiapkan semua keperluan Bapak dan Ibu untuk ke Jakarta.”
Sore itu juga mereka langsung kembali ke Jakarta. Tidak ada persinggahan untuk sekedar makan siang atau mengobrol banyak. Raka selalu menghindari setiap interaksi dengan beberapa orang yang dianggapnya tidak terlalu penting termasuk kedua orangtuanya.
“Aku akan membelikan kaki palsu untuk Bayu. Sebagai seorang kakak aku ingin memberikan yang terbaik untuk adik iparku.”
“Kamu tahu keadaan Bayu?” tanya Renjana menelisik ke arah Raka yang duduk di sampingnya.
“Aku tahu semuanya tentang dirimu, Renjana.”
“...”
“Abimanyu, apa perlu aku sebutkan juga tentang laki-laki itu?”