Renjana berulang kali mengusap wajahnya untuk mengusir gusar. Kalimat yang baru saja Abimanyu ucapkan cukup mempengaruhi dirinya. Bagaimana bisa seorang laki-laki kaku seperti Pak Abim tiba-tiba mengucapkan hal semanis itu di hadapan Renjana? Dulu, kedekatan mereka hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Lalu kenapa tiba-tiba Pak Abim berubah menjadi mengerikan?
Bahkan saat Renjana sudah sampai di rumahnya, wanita itu masih memikirkan kalimat Abimanyu. Renjana berjalan memasuki rumah yang sepi. Raka dan Tuan Haditya sedang bekerja, Nyonya Rukma pergi entah kemana. Wanita itu jarang sekali berada di dalam rumah.
“Ada apa, Bu?”
“Astagaa, Mbok. Jangan ngagetin.”
“Maaf, Bu. Saya ngagetin ya? Soalnya Bu Nana tadi kelihatan aneh banget, mengusap wajah berkali-kali.”
Renjana menggaruk kepalanya yang terasa gatal, padahal dia baru saja keramas pagi tadi. Renjana hanya bisa tersenyum tipis untuk mengurangi kecanggungannya. “Maaf, Mbok. Saya saja yang tadi sedang melamun.”
Renjana memilih pergi meninggalkan Mbok Siti. Dia berjalan ke kamarnya sendiri untuk menetralkan perasaannya. Di kamarnya, Renjana menelungkupkan badannya ke ranjang. Wanita itu menutupi wajahnya dengan bantal.
Beep. Beep.
Ada nama Raka di layar ponselnya, dengan malas Renjana terpaksa menerima panggilan itu atau Raka akan memiliki alasan untuk kembali memarahinya.
“Halo.”
“Salamnya mana?”
“Assalamualaikum, Raka.”
“Walaikumsalam, mungkin aku harus mulai mengubah panggilan kita. Seharusnya kamu memanggilku dengan panggilan sayang.”
“Raka, aku mohon-.”
“Renjana, bisa kamu tidak menolak permintaanku? Sekali saja, apa semuanya terlalu sulit untuk kamu menurut?”
Ya sulit, sangat sulit! Tetapi tentu saja Raka tidak mau tahu tentang perasaan Renjana. Bagi laki-laki itu yang terpenting adalah kemauannya yang terlaksana. Ketika dia ingin semua orang harus mengikuti kemauannya.
“Ya,” jawab Renjana singkat.
“Panggilnya gimana?”
Renjana kembali menghela nafasnya berat, mengikuti permainan keluarga Hadiutomo membuat Nana seperti hidup di dalam penjara. Semuanya dibatasi, terkekang bahkan untuk keinginannya sendiri pun Renjana terpaksa mengalah.
“Sayang.”
“Bagus. Aku ingin ngasih tahu, besuk pagi kita berangkat ke rumahmu. Beri kabar kepada kedua orangtuamu tentang kedatangan kita.”
“Raka-.”
“Sayang.”
Sialan memang!
“Sa-yang, aku tidak mau secepat ini. Bukankah kamu sudah mengatur minggu depan baru mau kerumahku?”
“Aku merubah rencanaku, beberapa pekerjaanku sudah selesai dan proses pendaftaran pernikahan kita pun sudah dilakukan. Aku ingin mempercepat pernikahan kita secepat-cepatnya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya.”
“Raka aku mohon, segala sesuatu yang dilakukan terburu-buru itu tidak baik.”
“Aku tidak terburu-buru, aku sudah merencanakannya dengan matang. Dan aku ingatkan sekali lagi, mulai detik ini kamu harus memanggilku sayang. Jika sampai kamu lupa tentang hal itu, kamu akan mendapatkan hukuman.”
Hukuman?
“Sa-yang.” Kenapa kata itu terlalu sulit Renjana ucapkan untuk Raka? “Kita ke Surabaya minggu depan, seperti yang selama ini kamu rencanakan.”
“Na, semua sudah ada dalam kendaliku. Besok, BESOK! Besuk kita aka bersama-sama pulang kerumahmu.”
Beep.
Renjana sadar hidupnya sudah berada di dalam genggaman Raka. Dia hanya bisa berdoa semoga ingatan Raka segera pulih dan dia bisa kembali hidup dengan tenang bersama Saka. Hanya Saka.
***
Raka menepati janjinya, pagi dini hari mereka berdua bersama-sama berangkat ke rumah Renjana di Surabaya. Rencananya mereka akan naik pesawat dan sekaligus membawa keluarga Nana karena pernikahan Raka dan Renjana akan dilangsungkan tiga hari lagi. Ya tiga hari! Pernikahan yang awalnya akan dilangsungkan dalam waktu kurang lebih satu bulan semakin dipercepat karena permintaan Raka. Dan seperti tidak bisa menolak, Tuan Haditya dan Nyonya Rukma pun mengiyakan. Raka sudah resmi bercerai dari Marina dua hari yang lalu. Bagi keluarga Hadiutomo, tidak ada yang salah dengan pernikahan yang dipercepat.
“Aku ingin kamu menunjukan wajah bahagia di depan Bapak dan Ibu agar tidak ada alasan untuk mereka menolak.”
“Jadi, aku harus berpura-pura bahagia, begitu?”
Renjana mendapatkan tatapan mata menusuk dari Raka, sesuatu yang kembali menciutkan nyalinya. Bagi Renjana pengaruh Raka memang masih sebesar itu. Renjana takut dan juga rindu dengan laki-laki itu. Raka adalah cinta pertama Renjana yang tak mungkin bisa wanita itu lupakan begitu saja. Meskipun Raka sudah menyakitinya selama ini, tidak bisa dipungkiri laki-laki itu masih menempati hatinya.
“Kamu pasti bahagia saat kembali bersamaku.”
“Kamu sudah pernah mengatakan janji itu tetapi nyatanya kamu juga yang mengingkarinya.”
“Renjana!” bentak Raka dengan nada tinggi. Laki-laki itu terlihat lelah karena mengurus semua pekerjaan dan pernikahan dalam waktu cepat. “Jangan membuatku marah,” pintanya lemah.
“Jalan, Pak.” Raka memberikan instruksi kepada Pak Bani untuk mengantarkan keduanya ke Bandara.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di Surabaya, di kota itu pun sudah ada orang suruhan Raka yang menjemput keduanya. Raka dan Renjana berjalan cepat dengan Renjana yang berjalan di belakang laki-laki itu. Tiba-tiba tangan Raka menarik tubuh Renjana untuk berjalan di sampingnya.
“Berjalan di sampingku, jangan jauh-jauh.”
Renjana menurut, seperti seorang robot yang siap mengikuti setiap instruksi yang dititahkan Raka kepadanya.
“Sudah telepon Bapak sama Ibu?” tanya Raka disela-sela perjalanan keduanya keluar Bandara.
“Sudah.”
“Sudah bilang tujuan kita kesana?”
“Belum.”
Raka mendadak menghentikan tubuhnya lalu menghadap ke arah Renjana dengan tatapan marah khas seorang Raka. Laki-laki itu mendekat untuk mengikis jarak, berada sejengkal di depan wajah Renjana yang mencoba kuat. Renjana beruntung lobi khusus tamu VIP ini cukup sepi sehingga dia tidak perlu menjadi tontonan umum saat mendapatkan amukan Raka.
Raka tidak berbicara tetapi tangan laki-laki itu mencekal lalu menariknya untuk berjalan lebih cepat. Raka memasukan tubuh Renjana ke kursi belakang lalu menyusul masuk ke dalam mobil.
“Kamu tahu Renjana? Kamu akan tetap menjadi istriku lagi meskipun sekuat tenaga kamu menolaknya,” desis Raka tepat di depan wajah Renjana. Laki-laki itu mengucapkan kalimat itu dengan penuh ancaman.
“...”
“Jika orangtuamu tidak setuju dengan pernikahan ini aku akan kembali memaksa mereka untuk tetap mengatakan ‘ya’.”
“Kamu tidak bisa memaksa kedua orangtuaku.”
“Aku bisa.”
“...”
“Aku bisa mengancam mereka, menyakiti keduanya atau bahkan membuatmu hamil untuk menyetujui pernikahan ini.”
“Raka ... mmmffttt.”
Raka mencium bibir Renjana dengan tiba-tiba, menautkan bibir keduanya dengan paksaan.
“Raka--, lepaashh.”
Raka menuntut, menggigit bibir ranum milik Renjana yang sudah ia damba sejak pertemuan keduanya waktu itu. Meskipun Renjana menolak, tangan Raka mengunci pergerakan kepala Renjana yang menghindar.
“Itu adalah hukuman untukmu karena sudah memanggilku dengan nama.”
“...”
“Juga sesuatu yang sudah aku inginkan sejak dulu,” tambah Raka sambil mengusap bibirnya sendiri dengan tersenyum tipis.
Pengawal laki-laki itu masuk ke dalam mobil setelah Raka menginstruksikan keduanya untuk masuk. Mobil berjalan membelah jalanan kota Surabaya dengan membawa perasaan Renjana yang hancur berantakan.