Luna datang tanpa janji. Langkahnya cepat dan tajam saat memasuki ruang kerja Darren di lantai atas gedung Wijaya Group. Sekretaris yang berjaga bahkan tidak sempat berdiri penuh ketika pintu itu sudah terbuka lebar. Suara engsel beradu dengan dinding, cukup keras untuk membuat beberapa staf di luar menoleh dengan gugup. Darren yang sedang menandatangani berkas hanya mengangkat kepala sekilas. Alisnya mengernyit tipis, bukan karena terkejut, melainkan karena jengkel. “Ada apa?” tanyanya datar. Ia sudah tau bahwa perempuan yang ada di depannya adalah Luna, bukan Aurora. Terlihat dari aura yang dilancarkan olehnya Luna berdiri di depan meja kerja itu, napasnya sedikit memburu. Gaun kerja berwarna krem yang ia kenakan tampak rapi seperti biasa, rambutnya tersisir sempurna, make up-nya ny

