Pagi itu gedung utama Perusahaan Yunandhra terasa berbeda. Bukan karena proyek baru, bukan karena audit internal yang masih menggantung, melainkan karena satu kabar yang beredar jauh lebih cepat daripada memo resmi. Para staf sudah saling bertukar pandang sejak pintu lift terbuka. Beberapa berbisik pelan sambil menutup mulut dengan map, yang lain pura-pura sibuk mengetik tapi mata mereka terus mengarah ke lobi utama. Aurora baru saja turun dari mobil ketika ia menyadari atmosfer itu. Ia mengenakan setelan kerja berwarna krem pucat, sederhana, rambutnya diikat rapi. Ekspresinya tenang, seperti biasa. Namun langkahnya sedikit melambat saat melihat Darren berdiri di depan pintu masuk, dikelilingi beberapa manajer senior. Dan yang membuat jantungnya mengeras sepersekian detik, tangan Darre

