Langit sore di atas taman kampus mulai meredup ketika Aurora dan Samuel duduk berdampingan di bangku kayu yang menghadap kolam kecil. Mahasiswa sudah jauh berkurang, hanya beberapa yang lalu lalang dengan ransel di punggung. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dari taman yang baru disiram. Samuel diam terlalu lama. Aurora tahu itu. Ia bisa merasakannya dari cara rahang Samuel mengeras, dari tatapan yang tidak lagi menyapu sekitar, melainkan terpaku pada permukaan air yang bergetar pelan. Ia sudah mengatakan semuanya tadi. Tentang pertunangan yang dipercepat. Tentang tanggal yang semakin dekat. Tentang keputusan yang, di kehidupan lamanya, tidak pernah ia ambil secepat ini. “Kamu kepikiran,” kata Aurora akhirnya, suaranya tenang. Samuel menghembuskan napas pelan, lalu menole

