Samuel terbangun dengan napas yang masih berat, seolah mimpi buruk semalam belum sepenuhnya pergi dari kepalanya. Langit di balik jendela apartemen sudah terang, tapi dadanya justru terasa lebih sesak dari biasanya. Ada jeda sepersekian detik sebelum ia menyadari satu hal kecil yang langsung membuatnya duduk tegak. Aurora tidak ada. Bukan di sisi ranjang, bukan di kursi dekat jendela, bahkan bukan di sofa kecil tempat ia sempat tertidur tadi malam. Samuel berdiri terlalu cepat sampai kepalanya sedikit pening. Ia melangkah ke pintu kamar sebelah dan mengetuk, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Kosong. Seprai rapi, lampu mati, tidak ada tanda Aurora baru saja pergi. Samuel mengusap wajahnya kasar. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan, bukan karena logika, tapi karena ingatan tenta

