Meja makan terasa jauh lebih sunyi setelah Luna pergi meninggalkan ruangan. Bunyi langkah kakinya yang tergesa menghilang di ujung lorong, disusul pintu kamar yang ditutup agak keras. Aurora masih berdiri di tempatnya, punggungnya tegak, napasnya tertahan lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena takut, tapi karena lelah. Mamah menurunkan sendoknya perlahan. Tatapannya berpindah dari arah tangga menuju wajah Aurora yang tampak tenang di luar, namun jelas menyimpan banyak hal di dalam. Papah duduk diam, tangannya terlipat di atas meja, sorot matanya tidak lagi setajam beberapa menit lalu. Ada sesuatu yang berubah sejak rapat internal itu, sejak fakta-fakta mulai terbuka satu per satu. “Duduk,” kata Papah akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. Aurora menurut. Ia menarik kursi

