Aurora sudah duduk di sofa selama hampir satu jam, tapi rasanya tubuhnya tidak benar-benar menyentuh permukaan apa pun. Kepalanya penuh. Nafasnya pendek. Samuel sudah pergi terlalu lama dan ia tidak berkata apa pun selain, "Aku harus cek sesuatu. Kamu tunggu di apartemen." Tunggu. Kata itu terdengar seperti jebakan buat orang yang lagi panik. Aurora bangun, mondar-mandir, lalu berhenti di depan jendela besar. Malam itu tampak padat, tapi baginya justru terasa kosong. Pikirannya masih di gudang tua semalam. Di tangan Samuel yang menggenggamnya kencang banget seolah takut dia bakal hilang. Di tatapan marah laki-laki itu waktu menghajar pria berhodie, tapi juga tatapan lembutnya waktu menenangkan Aurora. Begitu banyak hal yang terjadi dalam dua puluh empat jam. Begitu cepat. Aurora butuh

