Luka | Bab 43

1141 Kata

Apartemen itu sunyi ketika pintu tertutup di belakang mereka. Aurora masih bisa merasakan getaran amarah Samuel bahkan setelah mesin mobil dimatikan dan perjalanan panjang dari villa itu berakhir. Udara di dalam lift terasa sesak, bukan karena sempitnya ruang, tapi karena emosi yang belum turun sama sekali dari bahu pria di sampingnya. Samuel berdiri kaku, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal sejak tadi. Matanya menatap lurus ke depan, seolah apa pun yang baru saja terjadi masih terulang di kepalanya tanpa henti. Begitu pintu apartemen terbuka, Samuel masuk lebih dulu tanpa menyalakan lampu. Ia meletakkan kunci di meja dengan suara keras, lalu berdiri membelakangi Aurora. Hening. Aurora menutup pintu perlahan. Ia tidak langsung mendekat. Ia tahu Samuel sedang berada di titik y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN