Chapter 3. Pertemuan Resmi

1847 Kata
"Ish, gadis yang malas," decakan itu berasal dari wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik.  Angelica, mama Skyla. Wanita itu berjalan menghampiri anak gadisnya yang masih tertidur pulas di atas kasur begitu nyenyak. Tangannya mengusap pipi Skyla sayang, menepuk-nepuknya lembut. "Sayang, bangun." Skyla menggeliat merasakan tepukan di pipinya.  Lalu gadis itu memejamkan matanya lagi, memeluk guling kesayangannya erat. Angelica menghela napas, berdiri memilih untuk menyibak gorden. Sinar matahari yang memasuki kamar melalui jendela membuat Skyla merasakan hangat yang menerpa wajahnya. Matanya sedikit terbuka menyesuaikan sinar matahari yang menyilaukan. "Apa kau tidak ada jadwal kuliah, sayang?" suara lembut Angelica memasuki indra pendengarannya.  Gadis itu segera membuka matanya, mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang. "Jam berapa sekarang, Ma?" "Jam delapan pagi, sayang." Skyla yang sedang merenggangkan tubuhnya terlonjak kaget mendengar jawaban mamanya. "Astaga! Aku hanya memiliki waktu satu jam untuk bersiap atau aku akan terlambat!" teriaknya.  "Bisakah kau tidak berteriak, sayang! Cepatlah bersiap. Mama tunggu di bawah," ujar Angelica lalu keluar kamar. Skyla langsung turun dari kasur dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Dengan secepat kilat Skyla menyelesaikan mandinya. Memilih baju asal-asalan. Ia segera menyisir rambutnya, mengikatnya menjadi ekor kuda. Mengambil flat shoes dan memakainya.  "Skyla, lihat langkahmu. Jangan tergesa!" suara Angelica mengintruksinya. Membuat Skyla melangkahkan kakinya menuruni tangga berhati-hati.  "Ma aku akan berangkat," ujar Skyla.  "Apa kau tak sarapan dulu sayang?" tanya Angelica. Skyka menggeleng. ''Tidak." Angelica mengangguk paham. "Hati-hati kalau begitu."  Skyla mencium kedua pipi mamanya secara bergantian, lalu mengacungkan jempolnya. "Pasti Ma." ***** "Aku pikir kau tidak berangkat Sky," suara salah satu sahabatnya terdengar ketika ia memasuki kelas.  Skyla mengedikkan bahunya. ''Aku terlambat bangun karena pulang dari club dan itu menyita waktu tidurku." "Skyla yang malang," ejek Laura membuat Skyla mendengus kesal. "Ah, ya Sky! Kenapa tadi malam kau pulang duluan tanpa memberi tau kami?" tanya Angela menatapnya kesal.  Pertanyaan Angela membuatnya mengingat kejadian tadi malam. Entah kenapa matanya memanas, tapi segera ditahannya. Skyla mendengus kesal. "Kalian tau aku hampir diperkosa!" ceritanya mendramatisir. "Lelaki b******k itu menciumku tanpa permisi, dan dia mengambil ciuman pertamaku!" geramnya berteriak. Jessica dan Laura menatapnya prihatin sedangkan Angela menatapnya ingin tau. "Apakah pria itu tampan Sky? Jika iya, beruntunglah kau dicium oleh pria tampan." Sontak Jessica menoyor kepala Angela membuat gadis itu mengaduh. "Sakit, Jess!'' geramnya kesal. "Apa kau mengenal pria itu, Sky?" tanya Jessica menghiraukan Angela yang menatapnya sebal. "Bahkan aku tidak mengenal pria itu. Tapi dilihat dari pakaiannya dia seperti pekerja kantoran. Aku tidak begitu jelas mengingat wajahnya, hanya saja ada sedikit goresan di bagian pelipis." Jessica mengangguk paham. "Tapi syukurlah kau tak apa, Sky." Skyla mengangguk. Lalu menempatkan diri duduk di sebelah Angela.  "Lau, kau dapat salam dari kakakku. Aku lupa menyampaikannya," ucapan Angela tanpa minat itu membuat Laura berbalik menatap gadis itu senang. "Ah, apakah kak Angelo memiliki perasaan pada Laura?" tanya Skyla menaikkan sebelah alisnya bertanya. Angela mengedikkan bahunya. "Aku tidak tau. Dia terlalu sering bermain wanita, dan Lau sebaiknya kau jangan menaruh hati pada kakakku." Perkataan Angela membuat Laura mengangguk lesu, "baiklah. Aku akan berpikir bahwa dia hanya pria b******k yang suka bermain wanita termasuk denganku." "Yap, kau benar Lau! Tanamkan itu pada otak cantikmu, karena aku tidak ingin kau tercemar olehnya." Angela menjentikkan telunjuknya setuju. "Ya, sayangnya pria yang kau sebut b******k adalah kakakmu Njel. Dan sifatnya sebelas dua belas denganmu!" gerutu Jessica. Angela menatap Jessica tak suka. "Aku hanya menikmati masa mudaku Jess. Lagi pula tidak ada pria yang mencintai dengan sepenuh hati," lirihnya di akhir kalimat. Skyla segera memeluk sahabatnya. "Sudah tidak usah dipikiran lagi. Lagi pula Njel, ada Justin yang menantimu." Ujarnya mengedipkan sebelah matanya menggoda.  Jessica mengangguk setuju. "Kupikir dia cocok denganmu." "Terlihat dari matanya dia selalu menatapmu penuh kagum, Njel." Lanjut Laura. "Tapi aku tidak berminat dengannya,'' jawaban Angela membuat Skyla dan sahabat-sahabatnya menghela napasnya.  **** "Skyla pulang!" teriaknya begitu memasuki rumah.  Angelica yang sedang membaca majalah di ruang keluarga menggelengkan kepalanya mendengar teriakkan anak gadisnya.  "Bisakah tidak berteriak ketika memasuki rumah, Sky!" kesal wanita paruh baya itu. Skyla nyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Sorry." "Anak Papa sudah pulang, ternyata." Suara bariton yang sangat dikenalnya membuatnya menoleh.  "Aaaa Papa, Sky rinduuu." Teriaknya berlari menghampiri Antonius memeluknya.  Antonius membalas pelukan Skyla. "Bagaimana kuliahmu, sayang?" tanyanya mengusap kepala Skyla. "Baik, sangat menyenangkan." Antonius terkekeh, "oh ya, nanti malam kita akan kedatangan tamu bisnis Papa Sky." "Bersiaplah, dan berdandan yang cantik. Kita akan makan malam bersama." Skyla mengangguk. "Pasti Pa. Akukan selalu cantik setiap saat." "Kau memang putri kecilku yang menggemaskan." Antonius mencubit hidung Skyla gemas. Skyla mendengus kesal. "Aku tidak kecil lagi Pa. Aku sudah cukup dewasa sekarang." Jawabnya memajukan bibirnya, sebelum melangkah pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap. **** Daniel merapikan jasnya. Ia sangat tampan malam ini. Tubuhnya yang terbalut jas membuatnya terlihat begitu gagah.  Bentuk rahangnya yang tegas, serta tubuhnya yang tinggi tegap membuatnya sangat sempurna.  Bagaimana tidak, jika semua wanita terpesona padanya. Apalagi Daniel termasuk kriteria incaran para wanita.  Bahkan matanya yang tajam membuat semua orang terkadang ter-intimidasi oleh tatapannya. Tapi banyak pula yang justru terpesona. Tuhan begitu baik, menciptakan Daniel begitu sempurna dengan pahatan rahang yang begitu tegas sehingga ia digilai semua wanita. Bahkan pernah ada wanita yang mengaku hamil anaknya. Kadang itu membuat Daniel bersyukur dan tidak. Bersyukur karena diberi kadar ketampanan yang berlebihan dan sedikit menyesal karena dengan itu membuat tidak sedikit wanita-wanita gila di luar sana mengaku hamil anaknya. Memuakkan. Begitu rendah semua wanita di mata seorang Daniel. Layaknya jalang yang melempar tubuhnya secara cuma-cuma hanya untuknya. ''Kau sudah siap, son?" suara bariton papanya membuat Daniel menoleh. Mengangguk. "Sudah," jawabnya singkat. Papanya pun tak kalah tampan. Meskipun sudah berumur tapi jika orang-orang menilai mereka seperti kakak-beradik. Bukan seperti papa dan anak. John, supir pribadi Samuel membuka pintu mobil. Mempersilahkan tuannya masuk. John pria tua itu sudah mengabdi pada keluarga O'brien sejak Daniel masih berumur sepuluh tahun hingga sekarang.  Dan pria tua itu cukup dekat dengan Daniel, bahkan pria itu sudah menganggap John sebagai papa kedua baginya. "Kapan kau akan menikah?" suara Samuel memecah keheningan. Daniel mengedikkan bahunya acuh. "Entahlah. Mungkin hingga tua aku tak akan menikah." "Kau tau, Papa sudah tua. Dan umurku tidak akan panjang lagi, segeralah menikah karena aku ingin segera menimang cucu!" ujar Samuel kesal. Anaknya itu begitu keras kepala, membuatnya menikah adalah daftar terakhir yang akan dilakukan anak bodoh itu.  "Kalau begitu papa saja yang menikah dengan wanita yang masih muda, dengan begitu istrimu nanti akan hamil dan melahirkan seorang anak. Dan orang mengira jika kau mengenalkannya pasti mereka beranggapan bahwa dia adalah cucumu bukan anakmu.'' Jawab Daniel telak. Samuel melototkan matanya, anaknya ini benar-benar kurang ajar. "Kau, memang anak biadab Niel!" geramnya seranya menoyor kepala Daniel. Membuat pria itu mengaduh, "akh!" **** "Apa mereka masih lama, Pa?" tanya Skyla menatap Antonius.  Pria itu menggeleng. "Tidak sayang. Mereka sedang berada dalam perjalanan menuju ke sini." Skyla menghela napasnya. "Tapi lama sekali," gerutunya. Keluarga Collins sedang menunggu sahabat Antonius sekaligus rekan bisnisnya yang diundang untuk acara makan malam. Angelica yang duduk di samping Skyla terkekeh. "Sabarlah Sky," ujarnya mengusap kepala putrinya lembut. "Jangan cemberut seperti itu, karena kau terlihat jelek sayang." Suara Antonius membuat Skyla menatap papanya kesal.  "Tidak, karena mau cemberut atau tidak aku akan terlihat cantik!" elaknya dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Antonius mengangguk setuju. "Baiklah Papa setuju. Dan kau begitu memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, Sky." "Ya! Karena itu sepertimu Antonius,  sifatmu yang terlalu percaya diri menurun pada putri kita!" jawab Angelica sinis. "Aku tidak senarsis itu, sayang. Aku memang tampan dan semua orang tau--'' "Ya, bahkan semua wanitapun tergila-gila padamu!'' potong Angelica cepat. "Nah itu kau tau sayang, dan kau termasuk wanita yang tergila-gila padaku." "Aish! Kalian berisik sekali," gerutu Skyla.  "Ah, maafkan Mama dan Papa sayang." Skyla begitu anggun malam ini. Tubuh indahnya yang dibalut gaun hitam yang menjuntai hingga mata kaki mengekspos punggungnya yang putih dan mulus.  Rambutnya yang sengaja digerai, ditambah polesan make up yang tidak terlalu tebal membuatnya bak malaikat. Apalagi jika melihat senyumnya yang memikat, pasti semua orang terutama kaum adam akan terpesona olehnya.  Bibir merah ranumnya begitu menggoda, membuat semua orang ingin mencicipinya. Apalagi matanya yang berwarna coklat memiliki tatapannya yang meneduhkan membuat semua orang nyaman. Dan aroma lavender yang melekat di tubuhnya, yang menjadikan ciri khas seorang Skyla. Aroma tubuhnya yang harum, menenangkan, dan memabukkan. "Ya! Karena itu sepertimu Antonius,  sifatmu yang terlalu percaya diri menurun pada putri kita!" jawab Angelica sinis. "Aku tidak senarsis itu, sayang. Aku memang tampan dan semua orang tau--'' "Ya, bahkan semua wanitapun tergila-gila padamu!'' potong Angelica cepat. "Nah itu kau tau sayang, dan kau termasuk wanita yang tergila-gila padaku." "Aish! Kalian berisik sekali," gerutu Skyla.  "Ah, maafkan Mama dan Papa sayang." Skyla begitu anggun malam ini. Tubuh indahnya yang dibalut gaun hitam yang menjuntai hingga mata kaki mengekspos punggungnya yang putih dan mulus.  Rambutnya yang sengaja digerai, ditambah polesan make up yang tidak terlalu tebal membuatnya bak malaikat. Apalagi jika melihat senyumnya yang memikat, pasti semua orang terutama kaum adam akan terpesona olehnya. Suara bell berbunyi membuat baik Skyla maupun kedua orang tuanya berdiri. "Pasti mereka sudah datang, bersiaplah." Ujar Antonius.  Skyla dan Angelica mengangguk. Lalu membenarkan gaunnya dan berjalan beriringan.  "Biarkan aku saja yang membuka, Pa," tawar Skyla.  Gadis itu langsung berjalan mendahului kedu orang tuanya dan bergegas menuju pintu. Dengan cepat tangannya memutar knop pintu, senyum indah terbit di bibirnya. "Selamat datang, sir."  Ujar Skyla ramah.  "Akhirnya kau datang, Sam." Antonius menghampiri sahabatnya, lalu berpelukan ala pria. "Maaf menunggu lama," ujar Samuel tak enak. "Ah tak apa, apakah ini Daniel. Anakmu?" tanya Antonius mengarahkan pandangannya pada laki-laki tampan di samping Samuel. "Ya, dia Daniel anakku. Dan Niel, dia Antonius sahabat Papa." Pria itu mengangguk sopan lalu menjulurkan tangannya pada Antonius. "Ini istriku, dan ya-- ini putriku, Skyla." "Wah putrimu sangat cantik, bisakah kita merencanakan perjodohan untuk anak kita?" canda Samuel. Antonius mengangguk setuju. "Boleh juga," kekehnya. Skyla langsung menoleh ke arah papa dan sahabatnya ketika menyebutkan kata perjodohan. Ia mendengus kesal. "Dan Niel, berapa umurmu?" tanya Antonius.  "Dua puluh delapan, sir." Jawabnya sopan. Skyla langsung menoleh, ketika menyadari suara laki-laki itu mirip dengan seseorang yang ditemuinya ketika di club. Dan Ya! Ia terkejut, mendapati laki-laki itu sama dengan yang dilihatnya malam itu. "Kau!" Skyla sedikit berteriak, wajahnya terkejut. Sedangkan pria di depannya hanya menatap datar. Bahkan Daniel sudah menyadari jika gadis di depannya sama seperti yang ditemuinya tempo lalu sejak Skyla membukakan pintu. Hanya saja ia tidak seterkejut Skyla. Teriakan Skyla mengundang tanya kedua orang tuanya dan Samuel. "Apa kalian saling mengenal?" tanya Antonius.  Angelica menghela napasnya. "Apa kalian akan berbincang-bincang dan berdiri di depan pintu hingga pagi?" kesalnya. "Ah aku lupa sampai tak mempersilahkan kalian masuk, ayo kita lanjutkan di dalam." Antonius mempersilahkan Samuel dan putranya masuk. Sedangkan Skyla masih menatap tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Pria yang menciumnya tanpa permisi itu sekarang berdiri di depannya.  Dan laki-laki itu adalah putra dari sahabat papanya. Dunia begitu sempit. Batinnya berteriak. "Apa kau akan berdiri terus menerus dengan memasang wajah konyol, sayang?" suara itu menyadarkan Skyla. Tubuh Daniel begitu dekat dengannya membuat Skyla gugup. Dan ia menatap Daniel yang sedang menatap intens ke arahnya. "Kau!" geramnya. Lalu berbalik meninggalkan Daniel yang terkekeh melihat tingkah lakunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN