"Aku tidak pernah menawar kebunmu," ujarnya yang langsung saja menahan langkahku. "Lalu?" "Kenapa kau tidak sopan sekali datang dan marah kepadaku, aku masih sabar karena tidak membekuk dan memenjarakanmu, sekali lagi kutegaskan bahwa aku tidak menawar kebunmu." "Lalu siapa yang menawarnya?" "Kebetulan suamimu bersahabat dengan anakku dan dekat dengan keluarga kami, jadi ia menawarnya pada kami agar kami membelinya." "Apa? Mas Didit bersahabat dengan Letnan Heri?" "Iya, dan sebagai istri kau tidak tahu?" Tentu saja aku terkejut mendengarnya, bagaimana aku bisa tidak mengetahui bahwa Mas Didit dan Heri dekat, dipikir-pikir pun rasanya tak habis pikir, bukankah ia sendiri yang mengawal persidangan dan membantuku mendapatkan keadilan bagaimana mungkin dia bisa menahan semua itu tanpa

