Bagian 10

1972 Kata
“Dari mana aja kamu? Jam segini baru pulang.” Binar bersedekap d**a sambil menatap tajam ke arah gadis berseragam putih abu-abu yang baru saja membuka pintu rumah. Dia beranjak dari sofa, menghampiri sang adik yang terlihat tak merasa bersalah, padahal dari tadi Umi Maira mencemaskan dirinya karena tak kunjung pulang. Dihubungi pun susah karena ponselnya sengaja dimatikan. Kirana mendengkus pelan, kemudian memutar bola matanya. Sebenarnya, dia sedikit risi dengan pertanyaan sang kakak. Namun, dia harus tetap menjawab pertanyaan tersebut sebelum kemarahan Binar meledak. “Dari kerkel, Mbak.” Binar memindai penampilan sang adik dari pucuk kepala hingga ujung kaki. Decak kesal terdengar dari bibirnya tatkala menyadari penampilan Kirana yang karut-marut—ujung kemeja dikeluarkan setengah, bagian lengan digulung sedikit, tak mengenakan dasi dan ikat pinggang. Benar-benar seperti preman sekolah. “Terus, kenapa kamu enggak izin dulu sama Mbak atau Umi? Emangnya, ada kerkel sampai jam delapan? Kamu pasti keluyuran sama teman-teman kamu yang enggak jelas itu, ‘kan?” Umi Maira menyentuh pelan bahu Binar, berusaha meredamkan emosinya. “Nar.” “Mbak enggak capek apa ngurusin hidup orang lain terus?” “Apa?! Orang lain? Aku tuh kakakmu, Ran!” “Bukannya, selama ini Mbak enggak pernah anggap aku sebagai adik, ya?” Pertanyaan telak itu membuat Binar terdiam seketika dan hanya bisa menatap sang adik dengan sengit. “Binar, sudah. Biarkan adikmu mandi dan makan dulu.” Umi Maira mencoba menengahi perdebatan antarsaudara itu. Dia kemudian mengalihkan pandangan ke arah putri bungsunya. “Kamu sudah salat, ‘kan, Nak?” “Sudah, Mi,” jawab Kirana, berdusta. Mana mungkin dirinya mau melaksanakan salat kalau tidak ada Umi Maira. “Kiran mau ke atas dulu.” Umi Maira mengangguk mengiakan, lantas beranjak akan menutup pintu. Namun, pergerakannya terhenti ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, seorang pria berusia empat puluhan turun dari kursi kemudi, kemudian beranjak menuju bagasi. Disusul oleh seorang wanita dan anak kecil yang turun dari kursi penumpang. “Kenapa, Mi?” tanya Binar dengan raut wajah kebingungan saat melihat uminya terus menatap ke luar rumah. “Umi!” “Lita?” “Mbak Lita?” Pelita berlari, menghambur ke dalam pelukan Umi Maira dan membenamkan wajahnya ke bahu sang ibu. Air mata yang sudah menggenang di pelupuknya mengalir tanpa dikomando. Dia menangis tanpa suara. “Lita, kamu kenapa, Nak?” Umi Maira menepuk pelan punggung sang putri yang bergetar. Meski tanpa melihat atau mendengar suaranya, dia langsung tahu kalau Pelita tengah menangis. Pasti ada masalah yang menimpa Pelita hingga pulang ke rumahnya malam-malam seperti ini. Tentu saja, Umi Maira langsung tahu. Ikatan batin antara keduanya sudah terjalin begitu erat. Dia sudah mengandung Pelita selama sembilan bulan sepuluh hari dan merawatnya selama 25 tahun lebih. Perempuan yang usianya sudah menginjak kepala tiga itu melepaskan pelukan, menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya yang bergetar terbuka, ingin berkata sesuatu. Namun, kalimat yang sudah dia siapkan selama perjalanan hilang begitu saja, tertelan bersama rasa takut. Takut jika asma Umi Maira akan kambuh setelah mendengar kabar mengejutkan tersebut. “Kita masuk aja, yuk,” ajak Umi Maira sembari mengusap lengan Pelita. Dia kemudian beralih memandang Binar yang terlihat bingung sekaligus terkejut. “Binar, ajak Aruna ke kamar mbakmu dan bawa koper mereka, ya.” “Iya, Mi.” Sepeninggalan Binar dan Aruna, Umi Maira menuntun Pelita untuk duduk di sofa ruang tamu. Wanita paruh baya itu beranjak menuju dapur, mengambil minum untuk Pelita. Beberapa saat kemudian, Umi Maira kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas air. Disodorkannya gelas tersebut pada Pelita, lantas duduk di samping sang putri yang masih bungkam. Dengan tangan bergetar, Pelita menerima gelas tersebut dan menyesap isinya perlahan. setelah itu, dia memegang erat sisi gelas dengan kedua tangan, berusaha meredam rasa gugup yang menyelimuti hati. Perempuan itu terus menatap ke depan, tak ingin membuat kontak mata dengan sang umi. Dia merasa bersalah pada Umi Maira karena sebelum menikah dulu, dia sempat berjanji akan mempertahankan pernikahannya sampai akhir hayat dan tak ingin mengulangi kesalahan kedua orang tuanya di masa lalu. Namun, nyatanya, Pelita memutuskan berpisah dengan sang suami saat usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Umi Maira mengambil alih gelas yang masih dipegang Pelita, lalu meletakkannya di meja. Setelah itu, dia menggenggam tangan kanan Pelita yang terasa dingin dan berkeringat. “Ada apa, Lita? Kamu ada masalah?” Suara lembut Umi Maira membuat pertahanan Pelita runtuh seketika. Air matanya kembali merangsek ke luar tanpa bisa dicegah. Dia menghambur ke dalam pelukan Umi Maira dan menumpahkan segala kesedihannya. Wanita berusia setengah abad itu hanya bisa mengembuskan napas gusar sambil menepuk dan mengusap punggung putrinya. Dia tidak tahu masalah apa yang dihadapi Pelita. Yang pasti, masalah itu pasti sangat besar sehingga membuat Pelita menangis tersedu-sedu. Umi Maira sangat tahu sifat Pelita. Anak sulungnya itu tak pernah menangis sampai tersedu-sedan seperti ini jika bukan karena masalah besar. Puas menumpahkan tangis, Pelita pun melepaskan pelukan. Dengan isakan yang sesekali keluar dari mulut, dia menyeka sisa air mata di pipi dengan cekat. “Umi,” panggilnya pelan, kemudian membalas genggaman Umi Maira dengan erat. “Maafin Lita, ya.” “Ada apa, Nak? Enggak biasanya kamu kayak gini. Ada masalah sama Nak Wisnu?” “Mas Wisnu, Mi. Mas Wisnu ... di-dia selingkuh.” Cairan bening kembali luruh dari pelupuknya. Namun, Pelita berusaha menahan isakan sekuat mungkin. “Tadi, selingkuhannya datang dan bilang kalau dia lagi hamil anaknya Mas Wisnu, Mi.” Bagai disambar petir di siang bolong, Umi Maira langsung mematung dengan mata terbelalak. Dia meremas ujung kerudung panjangnya dengan erat, berusaha mengendalikan emosi yang bergejolak di dalam d**a. Emosi itu semakin mengimpit d**a hingga membuatnya kesulitan bernapas. “A-apa?” Suaranya terdengar serak, terbata-bata. Pelita menceritakan semua yang terjadi, termasuk alasan Wisnu berselingkuh dan siapa wanita yang menjadi selingkuhannya. Umi Maira memicingkan mata, kemudian menghela napas panjang untuk mengisi setiap sudut paru-parunya dengan oksigen. Dia meremas d**a, berusaha menghilangkan sesak yang membuat napasnya tersengal. “Umi, enggak pa-pa, ‘kan?” tanya Pelita, sarat akan kekhawatiran. Rasa bersalah semakin mendominasi tatkala melihat sang ibu terlihat pucat dan susah bernapas. “Binarrr! Kiranaaa! Tolong, ambilkan inhaler Umi.” Teriakannya menggelegar hingga ke lantai dua. Tak lama kemudian, Binar muncul dengan membawa sebuah inhaler, disusul oleh Kirana yang sudah mengganti seragamnya dengan kaus berlengan pendek dan celana selutut. Tampaknya, gadis itu juga terkejut mendengar keributan yang terjadi di lantai bawah. Binar bergegas membantu Umi Maira untuk menyemprotkan uap air di dalam inhaler tersebut ke dalam mulut. “Udah mendingan, Mi?” tanyanya dengan sorot mata penuh kecemasan sembari mengusap-usap bahu Umi Maira yang masih berusaha mengatur napas. Pelita bersimpuh sambil menggenggam kedua tangan Umi Maira. “Umi, maafin Lita. Enggak seharusnya Lita cerita masalah ini. Maaf, Mi.” Wanita setengah baya itu mulai menitikkan air mata. Tak kuasa membayangkan penderitaan putrinya selama ini. “Kalau tahu dia akan memperlakukan kamu seperti ini, Umi enggak akan pernah mengizinkan dia menikahimu. Maafkan Umi, ya,” katanya sembari mengusap kepala Pelita yang masih terbungkus kerudung. Perempuan berkerudung moka itu mendongak, menatap netra sang umi lekat-lekat, lalu menggeleng samar. “Ini bukan salah Umi. Kenapa Umi harus minta maaf? Lita yang salah memilih suami, Mi.” Binar menatap Umi Maira dan Pelita secara bergantian dengan dahi mengernyit, tak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh mereka. Daripada mengganggu, dia memutuskan kembali ke kamar Pelita untuk mengecek kemenakannya. Pun, dia menyuruh Kirana agar kembali ke kamar. Beberapa saat setelah kepergiaan Binar dan Kirana, Umi Maira membuka suara kembali selepas mengatur napasnya yang terengah-engah. “Umi juga salah, Lita. Andai saja, Umi adalah orang kaya dan terpandang, kamu tidak akan diselingkuhi dan direndahkan seperti ini.” Wanita setengah baya itu merunduk, menyembunyikan kesedihan yang terpancar jelas di raut wajahnya. Melihat itu, Pelita langsung memeluk tubuh Umi Maira. “Umi jangan pernah menyalahkan takdir. Ini bukan karena keluarga kita yang kurang cakap, tapi karena Lita yang enggak tahu diri karena mau menerima pinangan dari Mas Wisnu. Sekarang, Lita harus menanggung akibatnya, Mi,” jelasnya di sela isak tangis yang terdengar sangat memilukan. *** Binar membenarkan letak selimut Aruna yang sempat tersingkap, kemudian duduk di sisi ranjang. Dia menatap iba seorang gadis kecil yang kini terlihat tenang dalam tidurnya. Dia memikirkan nasib gadis itu jika orang tuanya bercerai. Tiba-tiba, kilasan masa lalu muncul dalam benak kepala, memaksanya untuk menggali luka yang telah lama dia kubur dalam-dalam. Seorang gadis kecil dengan rambut terkucir dua berlari menyusul seorang pria yang berjalan ke luar rumah sambil menenteng tas pakaian. Dengan derai air mata yang membasahi pipi, gadis berusia lima tahun itu mencengkeram tas yang dibawa oleh sang ayah hingga membuat pria itu menghentikan langkah. “Jangan tinggalin Inar, Bi. Kalau Abi pergi, Inar mau ikut.” Binar meraung-raung sambil mengentak-entakkan kaki kecilnya. Genggamanya pada tas semakin erat, seolah-olah tak ingin melepaskan kepergian sang ayah. Pria yang usianya sudah menginjak kepala tiga itu membalikkan tubuhnya, kemudian berjongkok untuk menyamakan tinggi sang putri. Dia menghapus cairan bening yang membasahi pipi putrinya. “Jangan nangis lagi, ya. Kalau nangis, Inar kelihatan jelek banget,” kelakarnya disertai dengan tawa kecil yang terkesan dipaksakan. Bhanuar—pria itu—menangkup pipi tirus sang putri. Dia mengecup kening Binar dengan lembut, lantas beralih mengecup mata, ujung hidung, dan terakhir kedua pipinya secara bergantian. Ditatapnya lekat manik hitam sang putri yang diselubungi cairan bening. “Binar, kamu jangan nakal, ya. Jangan merepotkan umi. Abi harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik, ya,” nasihatnya sembari mengusap puncak kepala Binar, lalu melepaskan genggaman sang putri dan beranjak pergi. Gadis berponi itu menggeleng kuat-kuat. Tangisnya semakin keras, mengiris hati siapa pun yang mendengarnya, termasuk Umi Maira yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menggandeng Pelita. Ibu mana yang hatinya tak nyeri melihat sang anak meraung-raung seperti itu? Tak jauh berbeda dengan Binar, gadis berusia sepuluh tahun itu juga menangis tersedu-sedu melihat kepergian sang ayah. Dia tidak tahu apa yang membuat ayahnya memutuskan pergi dan menelantarkan putri-putrinya yang masih kecil. “Abiii! Jangan tinggalin Inar, Biii! Inar mau ikut. Huwaaa!” Tubuh Binar luruh. Dia menggerung-gerung di lantai sambil menendang-nendang udara. Umi Maira berjalan gontai menghampiri Binar yang masih tersedu-sedan. Wanita itu bersimpuh di samping Binar dan memeluk tubuh sang putri yang bergetar. “Cup, cup. Jangan nangis, ya, Sayang. Ada Umi di sini.” Lamunan Binar terbuyarkan oleh suara pintu yang terbuka. Tampaklah sang kakak dengan wajah kuyunya, berjalan gontai menuju ranjang sambil menatap layar ponsel. Nama sang suami terus terpampang di layar, membuatnya kesal setengah mati. Dia terus-menerus menolak panggilan dari Wisnu sejak tadi. “Mbak ada masalah sama Mas Wisnu?” tanya Binar setelah Pelita duduk di sampingnya. Perempuan berkerudung itu mengembuskan napas berat. “Dia selingkuh,” sahutnya singkat yang berhasil membuat Binar membelalakkan mata dengan mulut sedikit terbuka. “Se-selingkuh?” ulangnya yang diangguki oleh Pelita. “Mbak enggak akan menceraikan Mas Wisnu, ‘kan?” “Menurut kamu, apa Mbak akan diam saja setelah mengetahui kalau selingkuhannya hamil?” Binar mencengkeram tangan Pelita dengan lembut sambil menatap manik hitamnya lekat-lekat. “Mbak, Aruna masih umur empat tahun. Dia masih butuh kasih sayang dari ayahnya. Kalau Mbak cerai sama Mas Wisnu, gimana nasib Aruna, Mbak? Mbak enggak ingat apa yang terjadi sama kita dua puluh tahun lalu?” “Kamu enggak bisa memandang masalah ini dengan realistis karena belum menikah, Nar. Kamu tahu, sebuah hubungan itu harus didasari rasa saling percaya. Kalau komitmen sudah dilanggar itu tandanya pasangan kita tidak menghargai kita lagi. Kalau sudah begitu, lebih baik sudahi saja. Kamu belum bisa merasakan apa yang Mbak rasakan karena kamu hanya memosisikan diri sebagai seorang anak, bukan seorang istri!” Aruna menggeliat pelan, tidur lelapnya terusik karena suara sang mama yang sedikit keras. Hal itu membuat Pelita bergegas menepuk-nepuk tangannya agar dia tertidur kembali. “Maafin aku, Mbak. Enggak seharusnya aku bilang kayak gitu,” ucap Binar dengan penuh penyesalan, lantas memeluk sang kakak dengan erat. “Maafin Mbak juga. Mbak enggak bisa mengontrol emosi tadi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN