Bagian 9

2066 Kata
~Ke mana pun pergi, sejauh apa pun kamu melangkah, tempat kembali hanyalah rumah~ Raymon memandang sendu ke arah sang mama yang tergolek tak berdaya di atas brankar dengan berbagai peralatan medis yang tertempel di wajah, d**a, dan tangan. Sudah lebih dari tiga puluh menit, lelaki berusia tiga puluh tahun itu duduk terpegun di atas sofa panjang yang ada di sudut ruang rawat inap. Binar yang melihat raut wajah penuh duka itu hanya bisa mengembuskan napas gusar. Dia pun berinisiatif untuk membuka obrolan terlebih dahulu agar suasana di dalam ruang rawat inap itu tak terlalu tegang. “Bang,” panggilnya dengan suara rendah agar tak terlalu mengejutkan lelaki itu. “Abang baik-baik aja, ‘kan?” Perempuan dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai itu mengatupkan bibir kuat-kuat, merutuki pertanyaannya yang terdengar bodoh. Tentu saja, lelaki itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pertanyaan macam apa itu? Dia terus bersungut-sungut dalam hati. Raymon mengalihkan atensi pada Binar sembari menyunggingkan senyum tipis, terlihat seperti dipaksakan. “Ah, maaf, Nar. Aku mengabaikan kamu sejak tadi. Seharusnya, aku lebih peka.” “Enggak, kok, Bang. Aku baik-baik aja,” Binar menyangkal sambil tersenyum canggung. “Kamu pasti penasaran apa yang terjadi sama mamaku,” tanya lelaki berkulit sawo matang itu, kemudian membuang muka ke arah tubuh ringkih di atas brankar yang belum juga sadarkan diri. “Mama kena stroke karena tekanan darah tinggi. Semakin hari, kondisinya makin buruk. Sampai sebulan yang lalu, dia masuk rumah sakit dan mengalami koma. Selama tiga minggu, mama dirawat di ICU, tapi kata dokter, terapi intensifnya gagal. Jadi, mama dipindahkan ke ruang perawatan. Kata dokter, kecil kemungkinan mama untuk sembuh, tapi aku masih berharap kalau dia bisa bangun dari koma.” “Bang ....” Binar menatap Raymon dengan iba. Tak menyangka jika lelaki itu memiliki permasalahan yang pelik. Selama ini, Raymon selalu terlihat baik-baik saja, seolah-olah tidak ada yang terjadi. “Aku ikhlas kalau Tuhan mau mengambil mama sekarang, tapi setidaknya aku bisa berbicara dengan mama untuk terakhir kalinya.” Air mata menggenang di pelupuknya. Namun, sesegera mungkin dia mendongak, berusaha mencegah air matanya jatuh. “Dulu, saat papa meninggal, aku enggak bisa ngucapin selama tinggal karena dia meninggal di tempat kejadian.” Binar beranjak duduk di samping Raymon, mengusap lengan kukuh lelaki itu dengan lembut, kemudian menepuk-nepuknya pelan, berharap dapat menenangkannya. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Raymon saat ini karena dulu dia juga pernah mengalami hal yang sama—takut ditinggal oleh orang yang disayang. “Kalau Abang pengin nangis, nangis aja. Jangan ditahan, apalagi pura-pura kuat. Laki-laki menangis bukan karena lemah, tapi itu adalah luapan emosi terdalam dari dirinya.” Netra dengan manik cokelat di balik kacamata bulat itu kembali berkaca-kaca. Sedetik kemudian, bulir bening mengalir dari pelupuknya. Tanpa aba-aba, Raymon merengkuh tubuh Binar, memeluk erat perempuan itu. “Biarkan seperti ini sebentar. Aku enggak mau kamu lihat aku dalam keadaan rapuh,” ucapnya lirih di tengah derai air mata. *** Pelita memandang sang suami yang duduk di sampingnya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Desti yang duduk di sofa seberang. Kini, hanya mereka bertiga yang duduk di ruang tamu, sedang Aruna sudah pergi ke kamar, mematuhi perintah mamanya. Sejak sepuluh menit yang lalu, suasana di dalam ruang tamu itu tetap hening. Tak ada yang berniat membuka suara untuk memulai obrolan. Semua tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Pelita berdeham, memecah kesunyian yang sempat membelenggu. “Ada apa ini, Mas? Kenapa tiba-tiba kamu bawa teman ke rumah?” tanyanya lembut sambil menatap lekat wajah Wisnu dari samping. Pasalnya, lelaki itu tetap merunduk, tak menatap ataupun meliriknya. “Aku hamil,” sahut Desti tanpa tedeng aling-aling, membuat Pelita langsung mengalihkan pandangan ke arah perempuan berambut sebahu itu. Mendengar hal tersebut, tubuh Pelita seketika menegang. Dia terdiam sesaat. Lidahnya terasa kelu, meski hanya mengucapkan beberapa patah kata. Entah kenapa, Pelita merasa ada yang tidak beres. “Sayang.” Suara berat milik Wisnu menyadarkannya dari keterkejutan. Lelaki itu meraih tangan sang istri. Namun, Pelita langsung menepis dan melemparkan tatapan tajam padanya. “Aku enggak salah dengar, ‘kan, Mas?” Pelita melirik Desti sekilas, kemudian memusatkan atensinya pada Wisnu yang saat ini dilanda kegugupan. “Kenapa dia ke sini untuk memberi tahu hal itu? Apa hubungannya dengan kita?” “Ini anaknya Wisnu.” “Desti,” Wisnu menyergah sambil melemparkan tatapan tajam ke arah perempuan itu, “biarkan aku menjelaskan ke istriku. Jangan ikut campur!”  “Jelasin, Mas! Apa maksud dia?” Sekuat tenaga, Pelita berusaha menjaga agar suaranya tak bergetar ketika melontarkan pertanyaan tersebut. “Sayang, sebenarnya ... sebenarnya ....” Wisnu mengangkat kepala, menatap sendu netra hitam sang istri. Dia melipat bibir, bingung mau mengatakan apa. “Maafkan aku,” lanjutnya dengan suara lirih. Perempuan berkerudung moka itu bergeming. Bulir bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat, berusaha meredam emosi yang mulai bergejolak di dalam d**a. Meskipun Wisnu tak menjelaskan semuanya, tetapi Pelita langsung tahu apa yang dimaksud dengan permintaan maaf itu. Pelita menghela napas panjang, mendongakkan kepala sejenak, berusaha menahan air mata yang merangsek ke luar. Lalu, dia memusatkan perhatian pada Wisnu yang menatapnya dengan raut penuh penyesalan. “Jelaskan semuanya ke aku, Mas. Aku enggak butuh permintaan maaf.” Suaranya mulai bergetar. Namun, dia tetap berusaha mencegah air matanya turun dengan cara mendongakkan kepala. “Aku akan dengerin semua penjelasan kamu. Setelah itu, aku akan mengambil keputusan.” “Kita ke kamar aja, ya. Aku mau bicara empat mata.” “Kenapa? Justru bagus kalau dia ada di sini. Aku bisa mendengar penjelasan dari kedua belah pihak.” “Sayang, aku mohon. Ya?” pinta lelaki itu dengan memasang raut wajah memelas, berharap sang istri akan luluh. Akhirnya, usahanya tak sia-sia. Pelita langsung beranjak dari sofa setelah mendengkus pelan. Dia pun bergegas menyusul sang istri selepas memerintah Desti agar tetap duduk di sana dan tidak ikut campur. Pelita menapaki anak tangga dengan langkah cepat, kemudian membuka pintu kamar lebar-lebar, membiarkan Wisnu yang berada di belakangnya untuk menutup pintu tersebut. Setelahnya, dia duduk di sisi ranjang. Wisnu berdiri di ambang pintu, menatap Pelita yang membuang muka ke arah lain, seolah-olah enggan berkontak mata dengannya. Perasaan bersalah seketika melingkupi hatinya. Andai saja, sebulan yang lalu dia tidak menerima ajakan Desti untuk menghabiskan malam bersama di apartemennya, mungkin masalah ini tidak akan pernah terjadi. Lelaki itu menyugar rambut cepaknya, kemudian duduk di samping Pelita dan menggenggam tangan sang istri yang terasa sangat basah karena keringat. “Sayang, sekali lagi, maafin aku, ya. Aku—” “Langsung aja ke intinya, Mas,” ujar Pelita tanpa menatap manik cokelat sang suami. Setelah menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan, Wisnu pun mulai bercerita, “Sebenarnya, Desti adalah mantan pacarku sebelum aku kenal sama kamu. Dia pergi ke Inggris untuk melanjutkan S-2 tanpa berpamitan langsung sama aku. Dia hanya mengirim pesan kalau akan pergi ke luar negeri dan hubungan kami berakhir begitu saja. Lalu, lima tahun kemudian, tepatnya setelah Runa lahir, dia kembali ke Indonesia dan bekerja di rumah sakit ayahnya, tempatku bekerja juga. Desti selalu mendekatiku, padahal aku sudah mengingatkannya kalau aku sudah beristri. Tapi, dia tidak mau tahu dan terus mengancam akan menyuruh ayahnya untuk memecatku. “Dokter Widyaguna itu direktur rumah sakit dan orang yang paling berpengaruh. Kalau sampai dia menggunakan koneksinya, aku enggak akan pernah bisa bekerja di rumah sakit mana pun setelah dipecat. Kamu tahu sendiri, ‘kan, bagaimana perjuanganku untuk bisa kerja di sana?” “Tapi, alasan itu enggak bisa membenarkan perselingkuhan kamu, Mas! Sebenarnya, aku udah tahu kalau kamu berselingkuh setelah menghadiri resepsi pernikahan itu, tapi aku diam aja. Karena apa?” Pelita menatap sang suami dengan berkaca-kaca. Namun, dia berusaha mencegah bulir bening itu menitis. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan laki-laki yang telah menyakiti hatinya sedemikian rupa. “Karena Runa! Aku berusaha bertahan demi Aruna. Aku enggak mau dia bernasib sama seperti aku dan adik-adikku yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Aku enggak mau egois dengan mengorbankan kebahagiaan putriku. Tapi, apa yang harus aku lakukan kalau perempuan itu sudah hamil anak kamu, Mas?!” Suaranya menggelegar hingga ke penjuru kamar, menyentak Wisnu yang sedari tadi menatapnya dengan perasaan bersalah. “Maafkan aku, Sayang.” Wisnu menatap lekat pupil hitam sang istri dengan tatapan mengiba. “Aku memang salah. Tapi, tolong jangan tinggalin aku. Aku masih mencintai kamu. Aku enggak mau kehilangan kamu dan Runa.” “Lantas, apa kamu mau meninggalkan perempuan itu demi kami?” Wisnu terdiam sesaat, memutus tatapan mereka secara sepihak. Bola matanya bergulir ke kanan dan kiri. Terlihat sekali kalau dia sedang bingung mencari jawaban yang pas. “Aku juga enggak mungkin ninggalin Desti, Sayang. Dia sedang hamil anakku. Kalau Dokter Widyaguna tahu, aku akan dipecat dan enggak akan bisa bekerja di rumah sakit mana pun.” “Terus, kamu mau apa, Mas?! Mempertahankan aku di sisimu dan menikahi perempuan itu?!” Pelita sudah kehilangan kontrol. Dia melepaskan genggaman Wisnu dengan kasar. Wajah putihnya terlihat memerah dengan rahang yang mengeras. Napasnya memburu dengan jantung yang berdetak bertalu-talu. “Lit—” “Enggak, Mas!” Pelita langsung memotong ucapan Wisnu. Entah kenapa, dari gelagatnya, dia sudah menebak apa yang akan dikatakan lelaki itu. Dia memejamkan mata sejenak untuk menetralkan degup jantung yang semakin tak keruan. “Lebih baik, kamu ceraikan aku daripada dimadu. Aku enggak akan pernah rela berbagi hati sama orang lain! Bukankah, sebelum menikah dulu, kamu berjanji akan setia sama aku dan enggak akan pernah selingkuh, apalagi sampai memaduku! Kamu tahu, ‘kan, aku enggak suka dan enggak akan mau dimadu!” pekiknya dengan air mata yang menitik dari pelupuk. Hancur sudah pertahanan yang telah dia bangun sejak tadi. Perempuan itu menutup mulut menggunakan kedua tangan, berusaha menahan sedu sedan. Pelita menghapus air matanya dengan kasar, menghela napas panjang, kemudian mengeluarkannya perlahan. Setidaknya, itu bisa membuat perasaannya jauh lebih tenang dibandingkan tadi. “Sekarang kamu putuskan, pilih perempuan itu atau aku sama Runa?” Wisnu mematung seketika. Kepalanya terasa berat karena memikirkan keputusan yang tepat untuk keluar dari masalah ini. Namun, dia tidak sanggup memilih antara Desti atau Pelita karena dua-duanya sangat penting. Satu sisi, dia sangat mencintai Pelita dan tidak akan bisa berpisah dari perempuan yang sudah menyembuhkan patah hatinya. Di sisi lain, dia tidak mungkin meninggalkan Desti karena kariernya sebagai dokter akan terancam. “Dari raut wajah, sepertinya kamu lebih memilih anak direktur rumah sakit itu, Mas.” “Bukan begitu, Sayang. Aku ... aku ....” Pelita bangkit, lalu berjalan ke lemari untuk mengambil koper berukuran sedang, kemudian meletakkannya di atas ranjang. “Aku akan pulang ke rumah umi dan mengajak Runa. Kalau kamu memilih perempuan itu, lebih baik ceraikan aku, Mas,” pungkasnya sembari mengambil beberapa potong pakaian, lalu dimasukkan ke dalam koper. “Lita, tunggu dulu, dong. Kita bicarakan dengan kepala dingin, oke?” Wisnu terus membujuk Pelita. Namun, perempuan berkerudung moka itu tak mengindahkan, sibuk menata pakaiannya ke koper. “Jangan pergi kayak gini. Please, jangan tinggalin aku.” “Bagaimana mungkin aku bisa bertahan dengan lelaki yang mengingkari janjinya dan masih terjebak dengan masa lalu? Aku memang bukan dari keluarga kaya yang bisa mendukung kariermu, Mas. Tapi, setidaknya, aku memiliki hati yang tulus untuk mencintaimu. Semoga kamu enggak menyesal sama keputusanmu. Aku pergi, Mas.” Wisnu akan mengejar Pelita. Namun, entah kenapa, kakinya sulit digerakkan. Lidahnya pun terasa kelu, meski hanya meneriakkan nama Pelita. Pada akhirnya, dia tetap terpaku di tempat, menatap punggung sang istri yang kemudian hilang di balik pintu. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mengerang frustrasi. *** Dengan langkah tergesa, Pelita berjalan ke kamar Aruna yang bersebelahan dengan kamarnya. Dia membuka pintu kamar putrinya secara perlahan, kemudian memasuki ruangan yang didominasi dengan warna biru muda itu. Namun, langkah Pelita seketika terhenti kala melihat Aruna membenamkan wajah di antara kakinya yang tertekuk. Punggung gadis kecil itu terlihat bergetar seperti tengah menangis. “Runa, kamu kenapa, Sayang?” tanyanya lembut setelah duduk di pinggir ranjang kecil itu. Dia mengusap rambut lebat Aruna dengan penuh kasih sayang, membuat gadis kecil itu mendongak. Betapa terkejutnya dia ketika melihat mata Aruna sembap dengan air mata yang masih terus mengalir. “Runa ....” Suara Pelita tersekat, tertahan di kerongkongan. Nyeri di relung hati menjalar ke sekujur tubuh, membuat sendinya susah digerakkan. Dia hanya bisa mematung, menatap sendu wajah sang putri yang terlihat menyedihkan. “Luna enggak suka mama sama papa belantem,” ungkap gadis kecil itu dengan suara parau. Pelita langsung merengkuh tubuh sang putri, mengusap pelan punggungnya yang bergetar. “Maafkan Mama, ya, Sayang. Maaf ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN