Bagian 8

1885 Kata
Pelita termenung di samping Aruna yang sedang sibuk mewarnai buku gambar. Pikirannya tertuju pada kejadian tiga hari lalu, di mana sang suami berciuman mesra dengan wanita lain. Bahkan, malam itu, dia tidak berani, lebih tepatnya belum siap menggerebek mereka. Tatapan perempuan itu tampak kosong. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Aruna hanya dia jawab dengan anggukan atau senyum tipis. Raganya memang berada di ruang tamu seluas 5x5 meter persegi itu, tetapi pikirannya terbang entah ke mana. “Ma!” Aruna menggoyang bahu Pelita cukup keras hingga membuat ibu anak satu itu tersadar dari lamunan. Dia menaikkan alis ke atas, seolah-olah bertanya ada apa. “Ada tamu kayaknya, Ma.” Pelita baru sadar jika bel rumahnya berbunyi berulang-ulang. Setelah membenahi kerudung mokanya, dia segera bangkit dari duduk, berjalan ke pintu, dan membuka pintu dua daun tersebut hingga menampakkan seorang wanita berusia lima puluh tahun ke atas. Penampilan wanita itu bisa dibilang sangat elegan, khas ibu-ibu sosialita. Long dress hitam yang dipadupadankan dengan kerudung abu-abu, membuat wanita paruh baya itu terlihat lebih muda dari usianya. Cincin dari Tiffany&Co yang melingkar di jari manis tangan kanan dan jam tangan Rolex di pergelangan tangan kiri menunjukkan betapa tingginya kelas sosial wanita itu. Pun, tak lupa pula tas merah dengan logo kereta kuda menggantung di lengan kirinya. “Mama?” *** “Pelamar yang lolos wawancara kemarin, hari sudah mulai masuk kerja, ‘kan?” Pertanyaan yang dilontarkan Baskara memecah kesunyian yang sempat terjadi beberapa jenak di dalam ruang rapat itu. “Mereka mungkin sedikit kebingungan karena pertama kali masuk kantor. Jadi, tolong pandu mereka.” “Baik, Pak. Saya akan mengurus mereka,” sahut Nadia yang duduk di barisan sebelah kirinya Baskara. “Saya akan membantu Nadi, Pak.” Ayu terlihat begitu antusias. Bibir yang dipoles lipstik merah itu tersenyum semringah. Tadi pagi, dia diberi tahu oleh Raymon bahwa karyawan baru yang lolos tahap wawancara dua hari lalu semuanya laki-laki. Jadi, tak heran kalau sekarang dia terlihat begitu antusias untuk memberi orientasi, meski itu bukan  tugasnya. Kali aja bisa mendapatkan pacar baru, begitu pikirnya. Puput mengacungkan tangan tinggi-tinggi, tak kalah bersemangat. “Saya juga, Pak.” Baskara menatap tajam Ayu dan Puput secara bergantian, membuat senyum yang sempat singgah di bibir kedua perempuan itu musnah seketika. “Lebih baik, kalian urus pekerjaan kalian.” Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lelaki berkacamata yang duduk di samping kanannya. “Untuk persiapan training, progresnya berapa persen? Kalian sudah koordinasi dengan Rais Training?” “Sudah, Pak. Kami juga sudah menentukan tanggalnya.” “Proposal pengajuan? Sudah dibuat?” “Masih proses, Pak, karena tempatnya belum fix. Setelah jam istirahat nanti, saya dan Bang Ray akan meninjau ulang tempatnya. Jika cocok, kami akan segera membuat reservasi.” “Oke. Saya harap, training tahun ini enggak buang-buang uang perusahaan.” “Baik, Pak.” *** Pelita menyuguhkan segelas teh yang asapnya masih mengepul ke udara di atas meja, kemudian duduk di sofa single, tak jauh dari sofa panjang yang saat ini ditempati oleh ibu mertuanya. “Mama ada perlu apa kemari?” Dia bertanya dengan hati-hati. “Memangnya, saya perlu alasan untuk berkunjung ke rumah anak semata wayang saya?” tanya Rasmi—sang mertua—sengit, membuat Pelita mengatupkan bibir rapat-rapat. Entah kenapa, setiap kali berhadapan dengan ibu mertuanya, nyalinya langsung menciut. “Bukan begitu, Ma. Maksud Lita, biasanya Mama ke sini kalau Mas Wisnu lagi libur.” Rasmi bergeming, seolah-olah enggan menanggapi. Wanita yang akan beranjak tua itu mengusap lembut kepala Aruna yang tengah asyik mewarnai. Aruna memang duduk di lantai, tepatnya di samping kakinya. “Mama tadi sama siapa ke sini?” Pelita melontarkan pertanyaan kembali, berusaha mengikis rasa canggung yang sempat menyeruak. “Sama Pak Mamat,” sahut ibu mertuanya singkat. Sejak ayah mertuanya meninggal dunia tiga tahun lalu karena komplikasi diabetes, ibu mertuanya itu selalu pergi ke mana pun bersama Pak Mamat, sopir pribadi keluarga Wisnu yang sudah mengabdi sejak dua puluh tahun lalu. Padahal, biasanya wanita itu selalu pergi bersama almarhum suaminya, sekalipun sang suami sibuk praktik di rumah sakit atau mengajar di kampus. “Nek, lihat, deh. Buku mewalnainya bagus, ‘kan?” Aruna memperlihatkan buku mewarna yang dibelikan oleh sang nenek—Umi Maira—tiga hari yang lalu. Risma tersenyum tipis menanggapi pertanyaan sang cucu. “Bagus banget, Sayang. Apa pun yang diwarnai cucu Nenek pasti hasilnya cantik, seperti orangnya,” pujinya seraya mengusap rambut panjang Aruna yang tergerai hingga punggung. “Buku ini dibelikan sama Nenek Ila waktu Aluna ke sana, Nek. Nenek Ila baik banget kayak Nenek.” Seketika, raut wajah wanita yang akan beranjak tua itu berubah masam, seakan-akan tak suka cucunya menyebut nama itu. “Nenek akan belikan lebih banyak buku mewarnai buat kamu.” “Benelan, Nek?” Mata Aruna langsung berbinar, menatap sang nenek penuh harap. “Asyiiik!” “Kamu pasti habis menitipkan Aruna ke ibu kamu.” “Iya, Ma. Tiga hari yang lalu, saya dan Mas Wisnu pergi ke kondangan, jadi—” “Kenapa enggak kamu titipkan ke mama, hah? Apa Mama enggak berhak menjaga Aruna?” “Bukan begitu, Ma. Saya hanya takut mengganggu Mama.” “Mengganggu apanya?” Nada bicaranya terdengar ketus. “Kamu tahu sendiri ‘kan saya sudah pensiun dan tidak bekerja di rumah sakit lagi?” “Iya, Ma, tapi—” “Lain kali, kalau kalian pergi berdua, titipkan Aruna ke mama. Dalam hal menjaga anak, mama lebih hebat dan berpengalaman daripada ibu kamu. Kamu tahu ‘kan kalau mama ini dulunya adalah dokter anak? Jangan meragukan kemampuan mama.” Kedua tangan Pelita yang berada di sisi tubuhnya mengepal kuat-kuat, berusaha meredam emosi. Dia menghela napas panjang, mengembuskan perlahan, kemudian mencoba menyunggingkan senyum terbaik. “Iya, Ma.” *** Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 ketika mobil MPV Honda yang dikendarai Raymon dan Binar meninggalkan kawasan salah satu hotel bintang empat yang terletak di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Artinya, hampir dua jam mereka berada di hotel tersebut untuk meninjau, melakukan reservasi, dan sedikit diskusi mengenai ruang pertemuan yang akan digunakan sebagai tempat training. Mereka memang sengaja memilih hotel tersebut, meski jaraknya cukup jauh dari kantor karena hotel yang berada di jantung kota Jakarta Utara itu memiliki ruang pertemuan nomor wahid di kawasan Jakarta. “Nar.” Suara berat milik Raymon memecah kesunyian yang terjadi di dalam mobil tersebut. Merasa namanya dipanggil, Binar pun segera menoleh, lalu bertanya, “Iya, Bang?” Raymon melirik Binar sekilas, kemudian kembali memfokuskan pandangan ke arah jalanan yang terlihat cukup padat, tetapi tak begitu macet. “Kamu mau enggak, aku ajak ke suatu tempat? Mumpung masih ada waktu sebelum jam pulang.” Dahi perempuan itu mengernyit seraya menatap lekat lelaki berkacamata itu dari samping. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan kembali. “Ke mana, Bang?” “Nanti juga kamu akan tahu sendiri. Tapi, kamu mau enggak?” Raymon kembali menawarkan dan langsung diangguki oleh Binar. Setelah mendapat persetujuan dari perempuan itu, Raymon langsung melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Setelah berkendara selama kurang lebih dua puluh menit, Raymon menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan besar yang didominasi dengan warna salmon. Pada dinding atas bangunan sayap kanan terdapat tulisan besar yang merupakan nama rumah sakit tersebut. “Kenapa kita ke sini, Bang?” Dengan penasaran, Binar bertanya sembari menatap Raymon yang saat ini sudah melepas sabuk pengamannya. “Aku mau ngajak kamu ketemu seseorang,” sahut lelaki itu dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Tanpa banyak bertanya, Binar segera keluar dari mobil, mengekor Raymon yang sudah terlebih dahulu meninggalkan mobil. Lelaki berkulit sawo matang itu berjalan ke sayap kanan bangunan dengan langkah lebar, membuat Binar kesusahan menyamakan langkahnya. Menyadari hal itu, Raymon pun memelankan langkah, menyamakannya dengan Binar. “Maaf,” ujarnya lirih yang hanya dibalas senyuman oleh Binar. Binar terus mengikuti ke mana Raymon pergi. Sesekali, netra hitamnya melirik sekitar, menatap lalu-lalang tenaga medis, pasien, atau keluarga pasien yang berpapasan dengannya. Namun, tiba-tiba langkah perempuan itu terhenti ketika matanya tak sengaja menangkap sosok lelaki yang tak asing baginya tengah berjalan sambil bergandengan tangan dengan wanita lain. Binar bergeming sejenak sebelum akhirnya menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Akan tetapi, mereka sudah menghilang dari pandangannya. Perempuan itu celingukan, berusaha mencari keberadaan lelaki yang ia yakini adalah Wisnu, suami kakaknya. “Kenapa, Nar?” tanya Raymon dengan raut muka yang terlihat kebingungan. Lelaki itu juga terpaksa menghentikan langkahnya. “Kayaknya, tadi aku sempat lihat kakak iparku, deh, Bang.” Raymon mengikuti tatapan Binar yang mengarah ke pintu masuk sekaligus pintu keluar rumah sakit. Namun, dia tidak menemukan keberadaan lelaki yang dimaksud Binar. Raymon memang sedikit tahu bagaimana rupa kakak ipar Binar karena dia pernah menghadiri resepsi pernikahan mereka. “Aku lupa kalau dia juga kerja di sini,” gumamnya, melenceng dari topik pembicaraan. “Tapi—” “Kenapa, Nar?” Perempuan itu menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang saat ini bersarang di benak kepalanya. Dia segera menoleh ke arah Raymon yang masih menatapnya dengan gamang, lantas mengulas senyum yang terlihat seperti dipaksakan. “Enggak, Bang. Mungkin aku salah lihat.” Lelaki jangkung itu hanya bergumam sambil menganggut-anggut. “Yuk!” ajaknya, kemudian melanjutkan langkah yang sempat tertunda, diikuti oleh Binar di belakang. Perempuan itu sesekali masih menoleh ke belakang, seolah-olah ingin memastikan sesuatu. Lima menit kemudian, lift yang mereka naiki berhenti di lantai empat, lantai khusus untuk ruang perawatan VIP dan kelas I. Raymon terus melangkah menyusuri lorong empat, diikuti oleh Binar di sampingnya. Tak banyak tenaga medis atau orang yang berlalu-lalang di sekitar lantai empat hingga suasana begitu sunyi, bahkan keduanya pun bisa mendengar derap langkah mereka yang menggema. Raymon berhenti di depan sebuah ruang rawat inap bertuliskan ‘Anggrek II’ yang berada tepat di depan nurse station. Dia membuka pintu, kemudian mempersilakan Binar untuk masuk terlebih dahulu. Perempuan itu pun langsung menyanggupinya. Binar bergeming, menatap nanar seorang wanita setengah baya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang perawatan. Raymon berjalan mendekati ranjang, kemudian menggenggam erat tangan wanita itu. Dia sedikit membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. “Ma, Raymon balik lagi.”                                                                ***                                                       “Hati-hati di jalan, ya, Ma.” Pelita mengantarkan kepergian ibu mertuanya sampai pintu depan. Sedan hitam yang terparkir di halaman rumah sudah menunggu si pemiliknya. “Hm.” Rasmi hanya meresponsnya dengan gumaman. Wanita paruh baya itu kemudian mengalihkan pandangan ke arah Aruna yang berdiri di samping mamanya. Dia bersimpuh di depan sang cucu, berusaha menyamakan tingginya. “Sayang, Nenek pulang dulu, ya. Kapan-kapan, Nenek bakal ke sini lagi. Nenek bakal bawain kamu buku mewarnai yang banyak.” “Janji, ya, Nek?” Aruna menyunggingkan senyum lebar seraya mengacungkan jari kelingkingnya. “Janji,” sahut Rasmi sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Aruna. Setelah mengecup kedua pipi gembil Aruna, dia segera masuk mobil. Mobil sedan itu pun melaju perlahan, meninggalkan pekarangan rumah. Ketika mobil itu sudah tak terlihat lagi, Pelita berniat masuk rumah, menyusul Aruna yang sudah terlebih dahulu masuk. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah mobil yang ia kenali milik sang suami memasuki pekarangan rumah. Tak berapa lama kemudian, Wisnu keluar dari mobil sambil menenteng tas kerja. Perempuan itu mengembuskan napas berat sebelum akhirnya menyunggingkan senyum. Setidaknya, Wisnu masih berstatus sebagai suaminya, jadi dia harus tetap berbakti. Salah satunya dengan menyambut kepulangan sang suami dengan senyuman. Akan tetapi, senyum Pelita seketika memudar saat melihat seorang perempuan bertubuh lampai keluar dari pintu penumpang samping kemudi. “Desti?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN