Bagian 7

2215 Kata
Binar bergegas masuk rumah setelah memasukkan mobil ke dalam bagasi. Dia tadi sudah mengambil mobilnya di bengkel setelah makan malam bersama Baskara. “As-salamu’alaikum,” ucapnya memberi salam ketika sudah sampai di ambang pintu utama. Binar memang sengaja lewat pintu depan dibandingkan pintu yang menghubungkan bagasi dengan ruang tengah karena dia tahu pintu itu sudah dikunci oleh uminya. “Wa’alaikumus-salam, Tante.” Aruna yang semula duduk di lantai langsung bangkit dan langsung menghambur, memeluk kaki panjang tantenya. Binar menyunggingkan senyum tipis, kemudian mengusap lembut rambut kemenakannya itu. “Kamu masih di sini, Sayang? Lagi ngapain?” “Lagi walnain buku gambar sama Tante Kilan, Tante. Tadi pagi, nenek beliin Aluna buku mewalnai,” jawab gadis kecil itu dengan suara khasnya yang cadel sambil menunjuk Kirana. Seketika, senyum Binar memudar ketika melihat Kirana duduk di sofa tak jauh darinya. Dia segera memalingkan muka ke arah lain, seolah segan melihat keberadaan sang adik. “Wa’alaikumsalam. Kamu sudah pulang, Nar?” tanya Umi Maira yang berjalan dari dapur menuju ruang tamu. “Kamu udah salat? Sudah makan malam?” Binar menanggapi pertanyaan-pertanyaan Umi Maira dengan anggukan singkat, kemudian melengos menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Umi Maira mengembuskan napas berat, menatap gamang punggung sang putri dengan tatapan sendu. Entah kenapa, hatinya terasa sakit dan sesak melihat ketidakacuhan Binar. Bahkan, putrinya itu tak menjawab satu pun pertanyaannya. *** Umi Maira menatap nampan berisi sepiring nasi berserta lauk dan segelas air putih, kemudian mengalihkan tatapan ke arah pintu satu daun di depannya. Dia mengembuskan napas sesaat sebelum mengetuk pintu tersebut, lalu masuk ke kamar Binar. “Binar, Umi bawain makan malam untuk kamu,” ucapnya kepada Binar yang sedang melipat mukena dan sajadah. Tampaknya, perempuan itu baru saja melaksanakan salat Isya. “Binar udah makan, Mi.” Nada bicara Binar terdengar dingin. Setelah meletakkan mukena dan sajadah di atas kursi rias, dia mengambil ponsel dan duduk di tepi ranjang. “Binar, kamu masih marah sama Umi?” Umi Maira duduk di samping sang putri selepas meletakkan nampan di atas nakas. “Maafin Umi, ya. Umi enggak bermaksud seperti itu. Umi cuma enggak mau kamu melukai perasaan Kiran,” ucapnya seraya meraih tangan Binar dan menggenggamnya erat-erat. Binar meletakkan ponselnya, beralih menatap Umi Maira. “Umi cuma peduliin perasaan Kiran. Umi enggak pernah peduliin perasaan Binar.” Tanpa sadar, sebulir air mata menitik dari kedua netranya. Pertahanannya runtuh seketika itu juga. “Sebenarnya, anak kandung Umi itu siapa, sih? Binar atau Kiran? Kenapa Umi selalu belain Kiran? Umi tahu, ‘kan, kalau ibunya dia itu udah rebut abi dari kita! Dia yang udah buat Binar enggak bisa rasain kasih sayang seorang ayah! Apa Umi tahu kalau selama ini Binar selalu kesepian? Apa Umi tahu kalau selama ini Binar menginginkan sosok ayah? Umi enggak tahu, ‘kan? Jelas Umi enggak tahu karena Umi sibuk menjaga perasaan Kiran!” Binar menebah dadanya yang terasa sesak. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dicegah. Tangis perempuan itu semakin menjadi-jadi ketika melihat Umi Maira ikut meneteskan air mata. Dia merasa telah menjadi anak durhaka karena membentak dan membuat uminya menangis. “Maafin Umi, Binar.” Umi Maira meraih tangan kanan Binar dan menatap putrinya dengan mata berlinang. “Umi salah. Maafin Umi. Maafin Umi yang enggak pernah peka sama perasaan kamu,” ujarnya lirih di sela isak tangis, kemudian mencium punggung tangan Binar berkali-kali.  “Umi ....” Binar segera menarik tangannya. Dia merasa bersalah membuat Umi Maira menangis hingga tersedu-sedan. Dia segera merengkuh tubuh Umi Maira dan memeluknya erat-erat. “Maafin Binar, Umi. Binar enggak bermaksud membuat Umi sedih. Maafin, Binar.” Isak tangis keduanya memenuhi ruangan berukuran 3x4 meter itu. Mereka berpelukan cukup lama, saling membagi kesedihan satu sama lain. Tanpa mereka sadari, sejak tadi Pelita berdiri di balik pintu dan terisak pelan mendengar percakapan antara ibu anak itu. Pelita menyeka air mata yang terus mengalir dari pelupuk. Dia membungkam mulut menggunakan tangan kanan, berusaha menahan isakan yang bisa lolos kapan pun. Percakapan antara adik dan uminya membuat Pelita sadar bahwa ia tak boleh bersikap egois. Sebenarnya, setelah memergoki sang suami selingkuh, dia berniat melayangkan gugatan cerai. Namun, ketika mendengar Binar menyampaikan unek-uneknya selama ini, Pelita jadi teringat pada Aruna. Putrinya yang masih berusia empat tahun itu akan menjadi pihak yang paling menderita jika dia dan Wisnu bercerai. Perempuan itu menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang menggantung di pipi. Seharusnya, di saat seperti ini, dia harus berpikir rasional demi menjaga perasaan sang putri. Dia bertekad untuk bertahan, berpura-pura tidak terjadi apa pun. Selama Wisnu tak memaduinya, dia akan berusaha menahan arus yang menerjang bahtera rumah tangga mereka. *** Wisnu melirik sejenak ke arah Pelita yang tengah sibuk menidurkan putri mereka. Perempuan itu belum membuka suara sekali pun sejak mobilnya meninggalkan gedung pernikahan. “Sayang, kamu kenapa, sih? Dari tadi, sejak pulang dari kondangan, kamu murung terus? Ada masalah, hm?” Dia menjulurkan tangan kiri, mengusap lembut puncak kepala sang istri yang terbalut kerudung. Namun, netranya tetap fokus ke arah jalanan. Pelita menurunkan tangan Wisnu yang berada di atas kepalanya. “Enggak, Mas. Kamu nyetir aja, jangan peduliin aku,” ucapnya dengan nada dingin, kemudian mengecup pelan puncak kepala Aruna yang sudah tertidur lelap dalam pelukannya. *** “Umi!” Binar tiba-tiba muncul dari pintu toko bagian belakang, mengagetkan Umi Maira yang tengah sibuk menata kue dan roti di dalam etalase. Hubungan mereka sudah mulai membaik sejak dua hari yang lalu. “Ada yang bisa Binar bantu?” “Enggak perlu,” ujar Umi Maira lembut seraya menyunggingkan senyum. “Kamu istirahat aja mumpung hari Minggu.” “Enggak pa-pa lagi, Mi. Jarang-jarang ‘kan Binar bantuin Umi.” “Ya, udah. Tolong, jaga toko bentar, ya. Umi mau ambil cupcake di dalam.” Umi Maira pun keluar dari toko melalui pintu belakang seraya membawa beberapa tumpuk loyang yang sudah kosong. “Oke!” Perempuan itu tersenyum semringah seraya mengacungkan kedua ibu jarinya. Setelah kepergian Umi Maira, Binar beranjak ke belakang etalase yang menyuguhkan berbagai macam roti dan kue, mulai dari tradisional hingga kekinian. Uminya itu memang pandai dalam membuat roti dan kue. Rasanya pun tak perlu diragukan lagi. Tak heran jika roti dan kue buatan Umi Maira selalu habis setiap harinya. Bahkan, tak jarang Umi Maira selalu mendapat pesanan dari pelanggan. Derap langkah seseorang yang memasuki toko, membuat Binar segera menghentikan aktivitasnya menata kue di etalase. Dia segera menyunggingkan senyum lebar, memasang wajah ramah untuk menyambut kedatangan pembeli tersebut. Namun, senyum yang tercetak di bibirnya perlahan memudar, tergantikan kerutan tipis di dahi ketika melihat seorang pria jangkung dengan kaus polo dan celana jin yang membalut tubuh kukuhnya. “Pak Kara?”       “Binar?” Lelaki itu pun tak kalah terkejutnya. “Ngapain kamu di sini?” Binar segera keluar untuk menyapa atasannya dengan benar. “Rumah saya ‘kan di sini, Pak. Ini toko roti umi saya,” sahutnya dengan senyum yang tercetak kembali. Baskara menganggut-anggut sambil ber-oh ria. Dia baru mengingat percakapannya dengan Raymon beberapa hari yang lalu. Netra berpupil cokelat itu memindai penampilan Binar dari bawah ke atas. Binar terlihat berbeda seperti biasa yang ia lihat ketika di kantor. Perempuan itu hanya mengenakan kaus oblong merah yang dipadupadandakan dengan celana training panjang. Rambut yang biasa dikucir kuda pun, kini dibiarkan terurai dengan tambahan aksesori berupa bandana headband yang sering dikenakan perempuan-perempuan Korea. “Bapak mau beli kue?” tanya Binar dengan lembut. Dia merasa risi dengan tatapan Baskara yang seolah-olah akan melucuti seluruh pakaiannya. “Enggak. Saya mau beli semen,” sahut Baskara sedikit sewot dengan memasang raut datar. Binar justru terkekeh menanggapi banyolan Baskara yang terdengar garing. “Bapak bisa aja. Ini ‘kan toko roti, Pak, bukan toko bangunan.” “Itu kamu tahu,” Lelaki itu berucap dengan nada dingin. “Saya mau beli oleh-oleh untuk mama saya. Beliau sangat menyukai kue bolu di toko ini.” “Oh.” Binar segera kembali, berdiri di balik etalase. “Bapak mau beli bolu apa? Bolu pandan? Bolu gula merah? Bolu pisang? Bolu s**u? Bolu macan? Bolu keju? Bolu cokelat? Bolu tapai? Bolu ubi?” Dia menyebutkan semua jenis bolu yang ada di Indonesia, meskipun uminya tak menjual bolu tersebut. “Memangnya, toko ini menjual semua jenis bolu itu?” “Hm ....” Binar menggerakkan bola matanya ke atas, seolah-olah sedang berpikir. Sedikit kemudian, dia tertawa sumbang seraya menggeleng. “Enggak, Pak. Tapi, kalau misal Bapak mau bolu yang enggak dijual sekarang, insyaallah umi saya bisa membuatkannya langsung. Umi saya paling jago kalau buat bolu, Pak.” “Enggak perlu. Saya pesan bolu keju seperti biasanya,” ucap Baskara dengan raut wajah datar, terlihat kesal karena Binar telah membuang waktunya yang begitu berharga. Binar tersenyum canggung, kemudian membungkus kue sesuai pesanan dengan cekatan dan memberikannya pada lelaki itu. Setelah menyebutkan harganya, Baskara langsung membayar dan bergegas pergi. Bersamaan dengan itu, Umi Maira muncul seraya membawa loyang berisi “Ada pembeli, Nar?” tanya wanita paruh baya itu ketika melihat sebuah mobil meninggalkan tokonya. “Iya, Mi. Manajer Binar,” jawab Binar dengan wajah yang tertekuk. “Iyakah? Kenapa enggak disuruh mampir dulu?” Umi berjalan ke belakang etalase, memindahkan beberapa cupcake vanila yang sudah dihias sedemikian rupa dari loyang ke dalam etalase. “Kayaknya, dia buru-buru, Mi.” “Ohhh. Padahal, Umi mau tahu gimana tampang manajer kamu itu. Kali aja, Umi berminat jadiin dia menantu,” pungkas Umi Maira yang diakhiri dengan kekehan. Obrolan mereka pun berhenti sampai di situ karena ada pembeli yang datang. *** Avanza merah milik Binar berhenti di depan gerbang salah satu SMA swasta yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Meskipun berstatus swasta, tetapi SMA tempat Kirana menempuh pendidikan itu termasuk salah satu SMA terbaik di Jakarta yang berada di bawah naungan yayasan pendidikan sebuah universitas negeri. Tak heran apabila biaya selama bersekolah di SMA tersebut mencapai puluhan juta. Pernah Binar bertanya kepada Umi Maira, mengapa uminya itu rela mengeluarkan banyak uang untuk sekolah Kirana, bahkan anak itu seperti tak berniat sekolah. Di antara ketiga putri Umi Maira, hanya Kirana yang masuk SMA swasta dengan biaya fantastis. “Umi akan melakukan apa pun untuk pendidikan anak-anak Umi. Umi rela banting tulang asalkan kalian bisa sekolah tinggi-tinggi, enggak kayak Umi yang hanya lulusan SMP.” Begitulah kira-kira alasan yang dilontarkan Umi Maira saat itu. “Aku masuk dulu, Mbak.” Suara Kirana mengoyak kesunyian yang menyelimuti keduanya sejak berangkat dari rumah. Kakak-beradik beda ibu itu memang tak pernah akrab sejak kecil. Keduanya terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan. Berbeda halnya dengan Pelita yang selalu memperlakukan Kirana dengan hangat, seakan tak pernah terjadi apa pun. “Hari ini hari pertama kamu masuk sekolah setelah diskors, jangan bikin ulah lagi. Ngerti?” Binar menekankan kata ‘ngerti’, membuat remaja berusia delapan belas tahun itu memutar bola matanya dengan malas. “Iya, Mbak,” sahut Kirana tak bersemangat, lantas keluar dari mobil setelah melepas sabuk pengaman. Binar melirik arloji kecil berlogo DW di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul 06.50 rupanya. Setelah memastikan Kirana masuk lingkungan sekolah, dia pun segera melajukan mobil menuju kantornya yang terletak di Jakarta Pusat. Meski sekolah Kirana dan kantornya hanya berjarak sekitar tiga belas kilometer, dia harus berangkat satu jam lebih awal untuk mengantisipasi kalau-kalau jalanan macet. Apalagi, hari ini adalah hari Senin, yang mana orang-orang akan memadati jalanan untuk mengawali kesibukan setelah rehat selama satu sampai dua hari kemarin. Empat puluh menit kemudian, mobil Binar sudah terparkir sempurna di area parkir yang tak jauh dari pintu utama. Perempuan itu segera keluar dari mobil sambil menjinjing tas tangan dan mengalungkan ID card-nya. Dia kemudian melangkahkan kaki jenjangnya yang terbalut celana kain hitam menuju pintu utama. Kantor masih terlihat lengang karena jam masih menunjukkan pukul 07.31. Ada waktu selama kurang lebih setengah jam lagi sebelum masuk. Biasanya, kebanyakan karyawan memang suka berangkat mepet-mepet jam masuk kantor. Jadi, tak heran jika suasana kantor saat ini masih sepi. Setelah menempelkan ID card di RFID reader dan palang kecil di depannya terbuka, Binar berjalan tergesa-gesa karena pintu lift akan tertutup. Dia memasukkan tangannya ke sela-sela pintu lift yang akan tertutup hingga pintu besi itu terbuka kembali, menampakkan seorang pria jangkung yang sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana kain hitam. Binar segera masuk lift setelah terdiam sejenak. Dia melirik Baskara dari samping, sedikit mengagumi penampilan lelaki itu. Kemeja berwarna khaki terlihat sangat pas membalut tubuh kekarnya. Rambut tebal yang dimodel dandy dengan poni menyamping di depan, membuat lelaki itu tampak maskulin dan ... tampan. Tangan kanannya pun sengaja dia masukkan ke dalam saku celana hingga membuat dirinya semakin gagah. Ah, tampaknya Binar tak bisa menyangkal hal tersebut. Terlepas dari sikap dinginnya, Baskara memang termasuk jajaran pria tampan di kantor. “Apa saya terlalu ganteng sampai-sampai kamu menatap saya seperti itu?” “Hah?” Perempuan bertubuh lampai itu tergeragap. Dia mengusap belakang kepala, kemudian membenarkan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi. Dia lupa, benar-benar lupa kalau pintu lift bisa memantulkan bayangan mereka. Meskipun Baskara menatap lurus ke depan, tetapi dia bisa melihat semuanya. Binar berdeham pelan, berusaha meredam rasa gugupnya. “Bagaimana kuenya kemarin, Pak?” tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan. Dia mencoba membuka topik pembicaraan agar suasana tak terlalu canggung karena saat ini hanya mereka berdua yang berdiri di dalam lift. “Ibu saya yang makan. Saya bahkan tak menyentuhnya sama sekali.” “Oh,” balas Binar singkat, malas memperpanjang topik pembicaraan karena sang lawan bicara pun tampak enggan berbicara dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN