“Masuk!” ujar Baskara dengan memasang wajah datar.
Perempuan itu mengerjap-ngerjapkan mata, masih tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Seorang Baskara dengan kepribadian dingin dan jarang bergaul dengan karyawan lain memberinya tumpangan?
Binar masih bergeming di tempat. Mata hitamnya menatap nanar ke arah Baskara yang berada di balik kemudi.
“Kamu enggak bawa mobil, ‘kan? Masuk! Saya akan mengantarkan kamu.”
“Saya bisa pesan ojek online, kok, Pak. Ini saya mau pesan. Bapak duluan saja,” tolaknya secara halus.
“Saya enggak suka dibantah.”
Nada dingin yang dilontarkan lelaki itu membuat Binar mengatupkan bibir rapat-rapat. Dia kemudian berdeham pelan. “Memangnya tidak merepotkan Bapak?”
“Sebenarnya, agak merepotkan, sih, tapi mau bagaimana lagi? Saya enggak mau salah satu karyawan saya kenapa-napa, apalagi saya masih butuh kamu.”
Diam-diam, perempuan bertubuh lampai itu memutar bola matanya, agak kesal dengan jawaban sang manajer. Namun, dia berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan menyunggingkan senyum tipis.
“Ini udah malam. Bahaya.”
“Bapak yang lebih berbahaya,” sahut Binar di dalam hati. Namun, bibir tipisnya tetap menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan. “Baiklah kalau Bapak memaksa,” ucapnya kemudian membuka pintu penumpang yang berada di samping kemudi.
“Saya boleh tanya sesuatu, Pak?”
“Silakan.”
“Hm ... apa Bapak mengenal Pelita Sukma? Saya dengar, Bapak dulu seangkatan dan sejurusan sama Bang Raymon. Kebetulan, Bang Raymon juga sejurusan dengan—”
“Saya tidak menerima pertanyaan pribadi.”
“Ah.” Binar menggigit bibir bawahnya, kemudian menyelipkan anak rambut yang menjuntai ke belakang telinga dengan canggung. Niat hati ingin mencairkan suasana, malah mati gaya sendiri. “Maafkan saya, Pak,” ujarnya seraya menganggut sejenak.
Suasana di dalam mobil Toyota Rush itu kembali sunyi selama beberapa saat sebelum akhirnya Binar mengeluarkan suara kembali. “Hm ... Pak?”
“Ada apa lagi?” tanya Baskara dengan nada dingin, membuat nyali Binar menciut seketika.
“Boleh mampir sebentar enggak, Pak? Saya belum makan malam, jadi mau beli makan dulu. Enggak akan lama, kok, Pak.”
“Ya, udah, kita makan malam bareng aja. Kebetulan saya juga belum makan malam.”
“Hah?” Binar termangu sesaat, kemudian mengangguk dengan gerakan patah-patah mirip seperti robot. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat setelah mendapat lirikan tajam dari Kara. “Maaf,” cicitnya.
Sepuluh menit kemudian, mobil Baskara pun berhenti di depan sebuah depot yang tak terlalu besar. Kepalanya celingak-celinguk, mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobilnya. Ternyata, rumah makan tersebut sangat ramai sampai-sampai parkiran di depannya penuh.
Setelah lima menit mencari, Baskara akhirnya menemukan tempat yang lumayan lengang, sekitar tiga meter dari warung tadi. Lelaki itu bergegas turun dari mobil dan menuju depot tadi, diikuti oleh Binar di belakangnya.
“Kamu mau makan malam mi ayam?” tanya lelaki jangkung itu setelah membaca spanduk yang dipasang di depan depot
Binar menyengir kuda. “Hehehe, iya, Pak. Di sini mi ayamnya sangat enak, Pak. Selain mi ayam di kantin perusahaan, mi ayam di sini adalah favorit saya. Bapak harus coba juga pokoknya.”
Tanpa berkata apa pun lagi, Baskara melangkahkan kaki panjangnya menuju salah satu meja yang berada di sudut depot, sedangkan Binar memesan dua porsi mi ayam beserta minumannya kepada ibu penjual. Selepas itu, dia berjalan ke meja yang sudah ditempati oleh Baskara dan duduk di seberang lelaki itu.
“Maaf, ya, Pak, saya ngajak Bapak makan malam di pinggir jalan,” ujar Binar membuka pembicaraan setelah meletakkan tas di kursi kosong yang ada di sampingnya.
“Enggak pa-pa, kok. Saya juga suka makanan yang dijual di pinggir jalan.” Baskara menatap ke sekeliling depot yang terlihat sangat ramai. Tidak hanya dipenuhi dengan muda-mudi, tetapi juga orang tua. “Memangnya, di mata kamu, saya seperti orang yang selalu keluar masuk restoran mewah?” tanyanya dengan menatap Binar penuh selidik.
Binar menyengir. “Se-dikit,” jawabnya, sedikit ragu juga tak enak hati.
“Oh, jadi karena itu kalian enggak pernah ngajak saya makan siang bersama?”
Binar menggerakkan kedua telapak tangannya ke kanan-kiri. “Tidak, Pak. Bukan begiu. Maksud saya—”
“Hm. Saya sudah tahu, kok. Lagi pula, saya sadar diri, kok.” Baskara menegakkan punggung tegapnya seraya melipat kedua tangan di depan d**a. “Tidak perlu kamu jelaskan daripada kamu salah bicara.”
Binar mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menunduk dalam-dalam, persis seperti seorang anak yang dimarahi oleh ibunya.
Melihat itu, Baskara diam-diam menyunggingkan senyum tipis. Namun, dia langsung berdeham pelan, berusaha menyamarkan senyumnya dan kembali memasang ekspresi datar nan dingin.
***
Wisnu menggandeng tangan sang istri, berjalan memasuki gedung mewah dengan pilar-pilar kukuh yang disewa untuk resepsi pernikahan rekan kerjanya. Selama perjalanan dari tempat parkir ke gedung, mereka melihat karangan bunga ucapan selamat yang berjajar rapi, seolah-olah tengah menyambut sepasang suami istri itu.
Gedung itu sudah dipadati oleh tamu yang sudah berpenampilan necis dan perlente. Beberapa dari mereka memadati pelaminan untuk mengucapkan selamat dengan raja dan ratu sehari itu, sedangkan sebagian yang lain ada yang mendekati meja prasmanan, sibuk mengobrol, dan berswafoto.
Setelah mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin, Wisnu mengajak sang istri menuju salah satu kerumunan yang berada di dekat meja prasmanan. Lelaki itu menyalami satu per satu rekan kerjanya yang ada di dalam kerumunan tersebut.
“Perkenalkan, ini istri saya,” ucap Wisnu, memperkenalkan sang istri.
“Pelita.” Pelita memperkenalkan dirinya, kemudian melakukan hal yang sama seperti Wisnu, menyalami mereka satu per satu.
Setelah itu, Wisnu dan rekan-rekannya larut dalam obrolan, mengabaikan keberadaan Pelita yang sedari tadi hanya berdiri canggung di samping sang suami. Sesekali, dia hanya mengulum senyum simpul ketika matanya tak sengaja bersirobok dengan mata orang lain.
Tak lama kemudian, seorang perempuan bertubuh lampai dalam balutan gaun berwarna emas menghampiri mereka. Kaki jenjang yang dibalut sepatu hak tinggi lima belas sentimeter itu melangkah anggun menuju kerumunan Wisnu dan rekan-rekannya,
“Halo, semuanya,” sapanya ramah, membuat mereka mengalihkan pandangan seketika.
Pelita menoleh ke samping dan menatap perempuan itu dari ujung kepala hingga kaki. Benar-benar sempurna, begitu pikirnya. Pelita menilik penampilannya sendiri. Kebaya putih tulang dan kain batik dikenakannya sangat jauh berbeda dengan gaun cantik milik perempuan itu. Terkesan norak sekali. Memikirkan itu membuat dirinya minder berada di samping perempuan cantik itu.
“Sayang.” Suara berat milik sang suami membuyarkan lamunannya seketika. “Kenalkan, dia adalah Dokter Desti, rekan kerjaku, dokter spesialis kandungan. Dia juga anak direktur rumah sakit tempatku bekerja.”
“Halo. Kenalin, aku Desti.”
Pelita tergeragap dan segera membalas uluran tangan Desti. “Pelita Sukma. Panggil saja Pelita,” balasnya sambil menyunggingkan senyum ramah.
Desti hanya tersenyum tipis, kemudian mengangguk samar. Setelah itu, dia ikut larut dalam obrolan.
Perlahan-lahan, Pelita menghindar dari suaminya yang tengah sibuk bercakap-cakap dengan teman atau seniornya yang sama-sama berprofesi sebagai dokter itu. Karena tak terlalu mengerti ke mana arah pembicaraan mereka, akhirnya Pelita memutuskan menjauh dan memilih mencari minuman untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering.
Pelita mengembuskan napas berat, memperhatikan sang suami yang terlibat percakapan dengan rekan-rekannya, termasuk Desti. Entah mengapa, rasa iri tiba-tiba menyergap hati perempuan itu. Wisnu dan Desti terlihat cocok saat bersama. Desti juga memiliki paras cantik dan tubuh yang proporsional bak seorang model. Dia juga berprofesi sebagai dokter, sama seperti Wisnu. Keluarga Desti juga merupakan keluarga terpandang, sesuai dengan keluarga Wisnu. Tidak seperti dirinya yang hanya ibu rumah tangga biasa dan dari keluarga biasa-biasa saja. Memikirkan hal itu membuat Pelita merasa semakin terasingkan. Baru kali ini dia menyadari bahwa menikahi seseorang dengan status sosial yang lebih tinggi membuatnya sangat menderita.
Pelita mengembuskan napas kasar, mencoba membuang sesak yang menyelimuti dadanya. Dia mengambil gelas yang sudah berisi minuman dan meneguknya hingga tandas untuk menghilangkan kegelisahannya.
“Sayang,” panggil Wisnu, membuat Pelita segera membalikkan badan. “Aku ke toilet sebentar, ya,” pamitnya dan langsung diiakan oleh sang istri.
Ketika menatap punggung sang suami yang kemudian hilang di dalam kerumunan, Pelita tak sengaja melihat Desti pergi ke arah yang sama. Pelita ingin berpikir positif, mungkin hanya kebetulan saja mereka sama-sama ke toilet. Namun, hatinya merasa tak enak, lebih tepatnya curiga, apalagi setelah membaca pesan yang masuk ke ponsel sang suami malam itu.
Setelah berperang batin selama beberapa menit, dia akhirnya memutuskan ke mana mereka pergi. Perempuan itu mengernyitkan dahi karena ternyata yang dituju oleh Desti dan Wisnu bukanlah toilet, melainkan tempat penyimpanan yang jarang dilewati oleh orang, terutama para tamu.
Samar-samar, Pelita mendengar suara seorang perempuan sedang bercakap-cakap dengan seorang lelaki. Dengan langkah pelan, dia menghampiri sumber suara. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan sang suami dan perempuan bergaun selutut yang saat ini membelakanginya tengah berdiri berhadap-hadapan. Dia pun bersembunyi di balik dinding, mencuri dengar percakapan mereka.
“Kenapa, sih, kamu harus ngajak istrimu ke sini?” Desti mengerucutkan bibirnya yang sudah dipoles lipstik merah menyala. Perempuan dengan balutan gaun selutut berwarna emas itu melipat kedua tangan di depan perut.
“Des, aku ngajak dia karena dia istriku.”
“Oh, gitu, ya, sekarang kamu lebih milih dia daripada aku. Kalau gitu, aku ini apa bagi kamu, Wis?!”
“Desti, sabar. Jangan teriak-teriak gitu, nanti kedengaran orang lain.”
“Biarin. Biar semua orang tahu, termasuk istri kamu itu.”
“Des—”
Desti maju selangkah, menghapus jarak antara mereka. Dia berjengket, menangkup kedua pipi Wisnu, mengecup bibir laki-laki jangkung di depannya, dan melumatnya dengan lembut.
Pemandangan itu tak lepas dari pandangan Pelita yang sedari tadi mengintip dari balik tembok. Perempuan berkerudung abu-abu itu memejamkan mata, membuat air mata yang sedari tadi berkumpul di pelupuk luruh tanpa diminta. Dia meremas kuat roknya untuk menahan amarah yang bergelegak di dalam d**a.