bc

SERATUS CARA MENGEJAR MAURA

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
friends to lovers
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
city
office/work place
secrets
love at the first sight
addiction
like
intro-logo
Uraian

​Arkananta Dirgantara adalah definisi dari kesempurnaan yang mengintimidasi. Di usianya yang baru kepala tiga, ia sudah menjabat sebagai Direktur Utama di imperium bisnis keluarganya dan menyandang gelar bangsawan dari garis keturunan sang ibu. Hidup Arkan adalah tentang angka, strategi, dan menjaga citra eksklusif. Baginya, cinta hanyalah sebuah transaksi yang harus menguntungkan posisi sosialnya.​Semua berubah saat mobil mewahnya mogok di sebuah kawasan pemukiman padat yang becek setelah hujan. Di sanalah ia bertemu Maura. Maura bukan putri tidur yang menunggu pangeran; ia adalah wanita pekerja keras yang mengelola warung makan kecil warisan orang tuanya sambil menyelesaikan kuliah malam. Saat Arkan datang dengan sikap angkuh menuntut bantuan, Maura justru memberikan teguran keras karena mobil Arkan menghalangi akses jalan warga.​Bagi Arkan, ditolak atau dikritik adalah pengalaman asing. Alih-alih marah, ego Arkan terusik oleh binar mata Maura yang tidak gentar sedikitpun menatap pangkat dan kekayaannya. Di malam itu, Arkan memutuskan satu hal yang gila: ia menginginkan Maura. Namun, ia segera menyadari bahwa uang tidak bisa membeli perhatian wanita yang memandang kekayaan sebagai beban, bukan berkah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Aspal Basah Dan Aroma Bawang Goreng
​Jakarta tidak pernah ramah pada mereka yang sedang terburu-buru, dan Arkananta Dirgantara adalah pria yang menganggap waktu lebih berharga daripada emas murni. Di dalam kabin belakang Rolls-Royce Ghost yang kedap suara, Arkan melonggarkan dasi sutranya. Jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.30 WIB. Ia terlambat tiga puluh menit untuk jamuan makan malam eksklusif bersama para komisaris di Hotel Dharmawangsa. ​"Suryo, kenapa kita berhenti?" suara Arkan rendah, namun memiliki daya tekan yang sanggup membuat nyali bawahannya menciut. ​Suryo, sopir pribadi yang sudah bekerja belasan tahun, tampak berkeringat dingin. "Mohon maaf, Den Arkan. Sepertinya ada masalah dengan mesinnya. Tiba-tiba mati total. Saya akan cek sebentar." ​Arkan menghela napas tajam. Ia menatap ke luar jendela yang buram oleh sisa gerimis. Di luar sana bukan kawasan pusat bisnis dengan gedung pencakar langit yang berkilau. Karena menghindari macet total di jalur utama, Suryo mengambil jalan pintas melalui kawasan padat penduduk di daerah Tebet yang gang-gangnya menyempit dan aspalnya berlubang. ​Arkan membuka pintu mobil. Udara lembap dan aroma khas pemukiman padat—perpaduan antara tanah basah, asap knalpot motor, dan entah mengapa, aroma gurih bawang goreng—langsung menyerbu indra penciumannya. Ia turun dengan sepatu Oxford buatan Italia yang mengkilap, yang kini terancam ternoda oleh genangan air hujan. ​"Berapa lama?" tanya Arkan sambil melirik arlojinya lagi. ​"Mungkin butuh derek, Den. Ini sistem kelistrikannya yang kena," jawab Suryo panik. ​Arkan mendengus. Ia berjalan menjauh dari mobilnya, berusaha mencari sinyal ponsel yang tiba-tiba melambat di antara himpitan bangunan semi-permanen. Di sudut jalan yang sempit, tepat di depan sebuah bangunan dengan papan kayu kusam bertuliskan "Warung Nasi Maura", mobil mewahnya berhenti melintang. Posisi mobil itu praktis menutup akses bagi motor-motor yang ingin lewat. ​"Woy! Mobil siapa nih? Mas, pinggirin dong! Orang mau lewat susah!" sebuah teriakan melengking dari arah belakang membuat Arkan menoleh. ​Seorang wanita muncul dari balik etalase kaca warung. Ia mengenakan kaos oblong putih yang sedikit kebesaran dan celana kain hitam. Rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit badai, namun ada beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya yang bersih tanpa riasan. Di tangannya, ia memegang sebuah serbet dapur. ​Arkan menatap wanita itu dengan tatapan menilai yang biasa ia gunakan di ruang rapat. "Mobil saya mogok. Sedang menunggu bantuan," ucap Arkan datar. ​Wanita itu—Maura—berjalan mendekat. Ia tidak tampak terpesona dengan mobil seharga miliaran rupiah itu, justru dahinya berkerut kesal. "Ya saya tahu mogok, Mas. Tapi jangan berhenti di mulut gang pas begini. Ini jam orang pulang kerja, jam orang mau makan. Itu lihat, tukang ojek di belakang mobil Mas sudah antre." ​Arkan melirik ke belakang. Benar saja, tiga motor sudah membunyikan klakson dengan tidak sabar. "Saya tidak punya pilihan. Mesinnya mati di sini." ​"Ya didorong, Mas! Masa punya mobil mahal tapi logikanya nggak jalan?" Maura berkacak pinggang. "Sini, saya bantu dorong ke depan ruko kosong itu, biar jalanan nggak macet." ​Arkan tertegun. Didorong? Dia, seorang Arkananta Dirgantara, mendorong mobil di tengah gang becek bersama seorang pelayan warung? "Saya tidak melakukan pekerjaan fisik seperti itu. Sopir saya yang akan mengurusnya." ​Maura tertawa, sebuah tawa yang terdengar mengejek namun entah mengapa terdengar renyah di telinga Arkan. "Gengsi ya? Pangkatnya jatuh kalau tangannya kena debu? Mas, di sini nggak ada yang peduli Mas ini siapa. Yang orang peduli itu jalanan lancar. Kalau Mas nggak mau bantu, mending Mas masuk ke warung saya, duduk diam, jangan halangi jalan." ​Tanpa menunggu persetujuan Arkan, Maura berteriak pada beberapa pemuda yang sedang nongkrong di dekat warungnya. "Woy, bantuin nih si Mas Ganteng dorong mobilnya! Kasihan, tangannya halus nggak bisa kena panas!" ​Arkan merasa wajahnya memanas. Bukan karena malu, tapi karena marah sekaligus takjub. Belum pernah ada orang yang bicara sekasar itu padanya, apalagi dengan nada meremehkan yang begitu terang-terangan. Namun, dalam hitungan menit, dengan bantuan para pemuda setempat dan instruksi Maura yang sigap, mobil itu sudah terparkir rapi di pinggir jalan yang lebih luas. ​Gerimis kembali turun, kali ini lebih deras. Arkan terpaksa berteduh di bawah kanvas biru warung Maura. ​"Masuk saja dulu. Di luar basah. Jas Mas itu harganya pasti lebih mahal dari sewa warung saya setahun, kan?" suara Maura melunak, meski masih ada nada sarkasme di sana. ​Arkan melangkah masuk. Warung itu kecil, namun sangat bersih. Meja-meja kayu dipel hingga mengkilap. Aroma rendang dan tumis kangkung memenuhi ruangan. Arkan duduk di kursi plastik yang terasa ringkih di bawah tubuhnya yang tegap. Ia merasa seperti alien yang baru saja mendarat di planet asing. ​Maura datang membawakan segelas teh hangat. "Nggak usah pasang muka kayak mau dieksekusi gitu. Ini cuma teh, bukan racun." ​"Saya tidak memesan ini," ujar Arkan dingin. ​"Gratis. Anggap saja upeti karena tadi saya sudah ngomel," Maura duduk di kursi seberang, mulai memetik sayur bayam untuk persiapan besok. "Nama saya Maura. Nama Mas siapa? Atau saya harus panggil 'Tuan Muda'?" ​Arkan menatap gelas teh plastik di depannya. Ada rasa hangat yang menjalar dari gelas itu ke telapak tangannya. "Arkan." ​"Oke, Arkan. Jadi, apa yang membawa orang sepertimu nyasar ke tempat kumuh begini? Salah setting GPS atau memang lagi mau survei buat gusur pemukiman kami?" ​Pertanyaan itu tajam. Arkan menatap mata Maura. Mata wanita itu berwarna cokelat gelap, sangat jernih, dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Arkan terbiasa dengan wanita yang bersikap manis, memujanya, atau mencoba menarik perhatiannya dengan segala cara. Tapi Maura menatapnya seolah ia hanyalah gangguan yang harus segera dibereskan. ​"Hanya kecelakaan teknis," jawab Arkan singkat. "Dan tempat ini tidak seburuk itu." ​Maura tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat jantung Arkan berdenyut aneh. "Bohong. Kamu pasti jijik lihat lantai semen ini. Tapi buat saya, tempat ini segalanya. Ini cara saya bertahan hidup, cara saya bayar kuliah, cara saya beli obat buat ibu." ​Arkan terdiam. Ia melihat tangan Maura yang lincah memetik sayuran. Tangan itu kasar, ada bekas luka bakar kecil di punggung tangannya, sangat berbeda dengan tangan para wanita di lingkaran sosialnya yang selalu menjalani manikur mingguan. Namun, ada kekuatan di tangan itu yang membuat Arkan sulit memalingkan wajah. ​"Kenapa kamu bekerja sekeras ini?" tanya Arkan, sebuah pertanyaan yang muncul begitu saja tanpa rencana. ​Maura berhenti sejenak, menatap Arkan dengan tatapan heran. "Pertanyaan orang kaya banget ya? Ya karena kalau saya nggak kerja, saya nggak makan, Arkan. Hidup saya bukan tentang investasi atau saham. Hidup saya tentang bagaimana hari ini bisa lewat dengan perut kenyang dan tagihan listrik terbayar." ​Suryo masuk ke dalam warung dengan napas tersengal. "Den Arkan, derek sudah jalan. Mobil pengganti juga sedang menuju ke sini. Mungkin sepuluh menit lagi sampai." ​Arkan berdiri. Ia merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu rupiah—jumlah yang jauh melebihi harga teh dan tumpangan berteduh—lalu meletakkannya di atas meja. ​Maura melirik uang itu, lalu menatap Arkan. Ia mengambil uang itu, namun bukannya menyimpannya, ia justru mengembalikannya ke tangan Arkan. ​"Simpan saja uangmu, Tuan Arkan. Saya nggak jualan tempat berteduh. Teh tadi benar-benar gratis," ucap Maura tegas. ​"Ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu mendorong mobil," balas Arkan, suaranya mulai naik satu oktaf. ​"Membantu itu pakai hati, bukan pakai harga. Kalau saya terima uang ini, saya sama saja kayak tukang parkir liar," Maura kembali ke pekerjaannya. "Sana, mobil penggantimu pasti sudah sampai. Orang-orang penting nggak boleh nunggu lama, kan?" ​Arkan tertegun di ambang pintu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kekuasaannya tidak berlaku. Uangnya ditolak. Egonya seperti dipukul oleh sesuatu yang sangat sederhana namun sangat keras. ​Saat ia masuk ke dalam mobil sedan hitam mewah yang baru datang, Arkan menoleh sekali lagi ke arah warung itu. Maura masih di sana, sibuk dengan sayurannya, sama sekali tidak peduli pada iring-iringan mobil mewah yang mulai menjauh. ​Di dalam mobil yang melaju tenang menuju hotel berbintang, Arkan menyandarkan kepalanya. Ia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: rasa penasaran yang membakar. ​"Suryo," panggil Arkan. ​"Ya, Den?" ​"Besok jam makan siang, kosongkan jadwal saya. Kita kembali ke gang tadi." ​Suryo hampir mengerem mendadak karena kaget. "Ke... ke warung tadi, Den?" ​Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya yang tadi sempat menyentuh gelas teh plastik milik Maura. Ada sesuatu pada wanita itu yang membuatnya merasa bahwa hidupnya yang sempurna selama ini sebenarnya sangat kosong. Dan Arkan, dengan segala pangkat dan kekayaannya, baru saja menemukan sebuah tantangan yang tidak bisa ia taklukkan dengan sekadar tanda tangan di atas cek. ​Itu adalah awal dari cara pertama. Cara untuk kembali tanpa terlihat seperti seorang pecundang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.7K
bc

Kali kedua

read
220.7K
bc

TERNODA

read
201.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook