Bab 3 Diplomasi Kertas Minyak

1496 Kata
​Pukul 10.30 WIB. Matahari Jakarta sedang berada di puncak kegarangannya, membakar aspal Sudirman hingga tampak bergelombang. Di ruang kerja utamanya yang kedap suara dan sejuk oleh AC sentral, Arkan Dirgantara sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada menganalisis laporan akuisisi perusahaan startup. ​Ia sedang menonton video tutorial di YouTube dengan judul: "Cara Membungkus Nasi Padang Agar Rapi dan Tidak Tumpah." ​Tania, sang sekretaris, masuk membawa map laporan audit tahunan. Ia terpaku di ambang pintu. Bosnya, pria yang masuk dalam daftar 40 Under 40 majalah bisnis terkemuka, sedang memegang selembar kertas kalkir dan mencoba melipatnya membentuk kerucut dengan dahi berkerut tajam. ​"Pak Arkan? Laporan auditnya sudah siap," interupsi Tania ragu-ragu. ​Arkan tidak mendongak. Tangannya sibuk melipat kertas itu hingga membentuk segitiga. "Tania, menurutmu, apakah sudut lipatan bawah ini harus ditekan keras atau dibiarkan longgar agar uap nasinya keluar?" ​Tania berkedip tiga kali. "Maaf, Pak? Kita sedang bicara tentang ekspansi ke Vietnam atau... nasi bungkus?" ​Arkan akhirnya mendongak, wajahnya sangat serius seolah sedang membicarakan nasib saham perusahaan. "Ini tentang efisiensi struktural, Tania. Batalkan semua agenda saya dari jam sebelas sampai jam dua siang. Saya ada... 'sidak lapangan' yang sangat krusial." ​Tania hanya bisa mengangguk pasrah saat melihat bosnya menyambar kunci mobil SUV hitamnya, meninggalkan jas Tom Ford-nya tersampir tak berdaya di kursi kerja. ​Invasi di Dapur Sempit ​Saat Arkan tiba di Warung Nasi Maura, suasana masih relatif sepi. Maura sedang di dapur belakang, kepalanya tertutup uap dari kuali besar berisi gulai nangka. Ia sedang mengaduk santan dengan gerakan ritmis yang melelahkan. ​"Saya datang untuk menagih janji," suara bariton itu memecah kebisingan sodet dan wajan. ​Maura menoleh, hampir menjatuhkan sendok sayur besarnya. Arkan berdiri di sana, mengenakan kaos polo hitam polos yang melekat pas di tubuh atletisnya dan celana jins gelap. Sederhana, tapi tetap saja aura "uang" terpancar darinya. ​"Kamu benar-benar datang?" Maura menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Saya pikir kamu cuma igau siang bolong kemarin." ​"Arkan Dirgantara tidak pernah menarik kata-katanya," jawab Arkan tegas. Ia melangkah masuk ke area dapur yang sempit. Suhu di sana setidaknya lima derajat lebih panas daripada di luar. "Di mana kertas minyaknya? Saya siap belajar." ​Maura tertawa renyah, sebuah bunyi yang entah kenapa membuat perut Arkan terasa sedikit aneh. "Oke, Tuan Muda. Tapi di sini nggak ada AC, nggak ada asisten, dan kalau tanganmu kena sambal lalu perih, jangan tuntut saya ke pengadilan." ​Maura mengambil selembar kertas minyak cokelat dan sepotong daun pisang yang sudah dibersihkan. "Lihat baik-baik. Ini bukan origami Jepang. Ini seni bertahan hidup." ​Maura dengan cekatan meletakkan nasi, menyiramkan sedikit kuah, menambahkan lauk, lalu dengan tiga gerakan tangan yang secepat kilat, bungkusan itu sudah terkunci rapat dengan karet gelang di ujungnya. Kokoh, rapi, dan simetris. ​"Sekarang giliranmu," tantang Maura. ​Arkan menerima tantangan itu. Ia mengambil kertas. Jarinya yang biasa menandatangani cek miliaran rupiah itu kini gemetar saat menyentuh tekstur kasar kertas minyak. Ia mencoba meniru gerakan Maura. Namun, saat ia mencoba melipat bagian samping, nasinya justru merosot keluar dari bawah. Kuah gulai mulai merembes ke tangan Arkan. ​"Sial," umpat Arkan pelan. ​"Jangan pakai emosi, Arkan. Pakai perasaan," goda Maura. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Arkan untuk memperbaiki posisi tangannya. ​Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Arkan bisa mencium aroma rempah yang bercampur dengan wangi sabun bayi dari kulit Maura. Fokus Arkan pecah. Ia bukan lagi seorang CEO yang dominan; ia adalah murid yang gagal fokus. ​"Tangan kirimu menahan bagian bawah, tangan kanan menarik kertasnya ke atas. Nah, begitu..." Maura tanpa sadar memegang punggung tangan Arkan, membimbingnya melipat kertas itu. ​Arkan membeku. Sentuhan tangan Maura kasar karena pekerjaan fisik, tapi terasa begitu hangat dan... nyata. Untuk sesaat, hiruk-pikuk pasar di luar dan panasnya dapur seolah hilang. ​"Nah, jadi juga! Walaupun bentuknya lebih mirip trapesium penyok daripada nasi bungkus," Maura tertawa sambil melepaskan tangannya. ​Arkan menatap hasil karyanya dengan bangga yang tidak masuk akal. "Ini adalah nasi bungkus pertama yang pernah saya buat. Saya rasa ini layak masuk museum." ​"Jangan sombong. Itu baru satu. Kita punya pesanan lima puluh bungkus untuk proyek bangunan di seberang jalan. Ayo, kerja!" ​Ujian Sesungguhnya: Jam Sibuk ​Satu jam kemudian, warung itu meledak oleh pelanggan. Arkan ditempatkan di bagian pembungkusan, sementara Maura di bagian depan melayani lauk. ​"Nasi dua, ayam satu, tongkol satu! Bungkus!" teriak Maura. ​Arkan bekerja dengan kecepatan penuh. Keringat mulai membasahi kaos polonya, membuat kainnya menempel di punggung. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan. Tangannya yang bersih kini penuh dengan noda kuning kunyit dan bekas minyak. ​Seorang pelanggan, seorang sopir truk bertubuh besar, menatap Arkan dengan heran saat menerima bungkusan nasinya. "Mas, pegawai baru ya? Kok mukanya kayak artis iklan sabun?" ​Arkan tertegun sejenak, lalu memaksakan sebuah senyum kaku—sesuatu yang jarang ia lakukan pada orang asing. "Saya sedang... magang, Pak." ​Maura yang mendengar itu hampir tersedak es teh manisnya sendiri. "Magang katanya? Kamu itu 'asisten tanpa bayaran' yang paling mahal di dunia, Arkan." ​Di tengah kericuhan itu, sebuah insiden kecil terjadi. Seorang pelanggan yang sedang terburu-buru menyenggol piring berisi sambal ijo, dan sambal itu meluncur bebas menuju kaos polo Arkan. ​Plat! ​Noda hijau berminyak menghiasi d**a Arkan. Maura terpekik kecil. "Aduh! Kaosmu pasti mahal ya? Sini, biar saya bersihkan." ​Maura menarik Arkan ke arah wastafel di sudut. Dengan panik, ia mengambil kain lap bersih dan mulai menggosok d**a Arkan. Posisi mereka sangat dekat. Maura terlalu fokus pada noda itu hingga ia tidak menyadari bahwa ia sedang menggosok d**a bidang yang keras dan terlatih. ​Arkan menahan napas. Ia bisa melihat setiap detail wajah Maura dari jarak dekat—bulu matanya yang lentik, rona merah di pipinya karena panas dapur, dan cara bibirnya mengerucut saat konsentrasi. ​"Sudah, Maura. Tidak apa-apa. Ini cuma baju," bisik Arkan. Suaranya rendah dan serak, membuat Maura mendongak. ​Mata mereka bertemu. Ada keheningan yang aneh di tengah suara bising warung. Maura menyadari apa yang sedang ia lakukan dan segera menarik tangannya dengan wajah merona hebat. ​"Maaf... saya cuma nggak mau kamu pulang dengan penampilan berantakan," gumam Maura, mendadak sibuk merapikan kain lapnya. ​Arkan tersenyum, kali ini sebuah senyum yang tulus, bukan senyum korporat. "Saya tidak keberatan sedikit kotor kalau alasannya adalah untuk membantumu." ​Pelajaran Tentang Nilai ​Pukul dua siang, perang makan siang berakhir. Warung mulai sepi. Arkan duduk di kursi plastik, tubuhnya terasa pegal luar biasa—rasa pegal yang berbeda dari duduk berjam-jam di ruang rapat. Ini adalah pegal yang memuaskan. ​Maura datang membawakannya segelas es jeruk peras. "Ini gaji pertamamu. Tanpa potongan pajak." ​Arkan meminumnya hingga tandas. Rasanya lebih segar daripada sampanye seharga puluhan juta. "Ternyata membungkus nasi lebih melelahkan daripada melakukan negosiasi merger." ​"Tapi setidaknya di sini, kamu melihat orang-orang kenyang dan tersenyum setelah menerima bungkusanmu," sahut Maura sambil duduk di seberangnya. "Itu nilainya, Arkan. Bukan angka di layar saham." ​Arkan terdiam, meresapi kata-kata itu. Ia menatap tangannya yang masih berbau bumbu gulai. "Maura, kenapa kamu tetap di sini? Dengan kecerdasanmu—cara kamu mengatur arus pelanggan dan stok tadi—kamu bisa bekerja di tempat yang jauh lebih nyaman." ​Maura menatap keluar gang, ke arah langit Jakarta yang mulai mendung. "Tempat ini adalah warisan ibu saya. Tapi lebih dari itu, di sini saya adalah 'Maura'. Bukan 'Karyawan Nomor Sekian' di sebuah gedung tinggi. Saya punya kendali atas hidup saya sendiri. Sesuatu yang mungkin, meski kamu kaya raya, belum tentu kamu miliki sepenuhnya." ​Kalimat itu menghantam Arkan tepat di ulu hati. Ia menghabiskan hidupnya memenuhi ekspektasi keluarga dan dewan komisaris. Di warung ini, ia hanya seorang pria yang gagal membungkus nasi dengan rapi, dan anehnya, ia merasa lebih merdeka. ​Sebelum pergi, Arkan merogoh ponselnya. Ia mencatat sesuatu di aplikasi Notes-nya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. ​Log Transformasi Arkan: ​Cara Ke-2: Menanggalkan Gengsi (Operasi Kertas Minyak). ​Status: Berhasil (Meski kaos polo seharga $500 jadi korban sambal ijo). ​Temuan: ​Sentuhan tangan Maura lebih berbahaya daripada fluktuasi pasar modal. ​Nasi bungkus memiliki filosofi struktural yang lebih kuat daripada rencana bisnis lima tahunan. ​Ternyata saya bisa tersenyum tanpa perlu ada fotografer PR di sekitar. ​Arkan berdiri dan berjalan menuju pintu. "Besok saya tidak akan datang jam makan siang." ​Maura mengangkat alis, ada sedikit rasa kecewa yang berusaha ia sembunyikan. "Oh, sudah bosan jadi rakyat jelata?" ​Arkan berbalik di ambang pintu, memberikan kerlingan yang hampir saja membuat Maura menjatuhkan nampannya. "Bukan. Besok saya akan datang sebelum subuh. Saya ingin tahu dari mana semua bumbu ini berasal. Saya ingin ikut kamu ke pasar." ​Tanpa menunggu jawaban, Arkan melangkah pergi menuju SUV-nya, meninggalkan Maura yang terpaku dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. ​"Ke pasar?" gumam Maura. "Dia benar-benar gila." ​Tapi sore itu, Maura mendapati dirinya sedang memilih baju mana yang paling bagus untuk dipakai ke pasar besok jam empat subuh—sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN