Inikah Pemerkosa Itu?

1134 Kata
“Jadi, apa kamu bisa membuktikan, hah?” Suara petugas kepolisian membuyarkan lamunan Raymond tentang jam tangannya. Raymond menggeleng, meskipun ia bisa mengatakan kalau ia mencurigai Bryan tapi ia tidak punya bukti apa-apa untuk menuduh pria itu. “Pengadilannya besok pagi. Kamu siap-siap saja!” ujar petugas tersebut, kemudian ia berlalu meninggalkan Raymond sendirian di ruangan yang berukuran sempit tersebut. Raymond mendongak, ia menatap langit-langit ruangan yang ia tempati. Pikirannya menerawang ke kejadian dua hari yang lalu. Bagaimana bisa aku menjadi tertuduh hanya dengan bukti jam tangan yang mereka temukan di tempat kejadian?pikir Raymond. Pria itu hampir putus asa mengingat besok adalah hari persidangan, mamanya sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia katakana. Bagaimana caranya ia bisa membuktikan kalau bukan ia pelakunya jika tidak ada satupun orang yang bisa mendengarkan perkataannya? Tidak lama kemudian, orang yang sedang ia pikirkan masuk ke dalam ruangannya dengan seseorang yang tidak ia kenal. “Mama …,” panggil Raymond. Cepat-cepat ia menyusul Ramona, mendekati wanita yang sangat ia sayangi itu. Ramona menatap Raymond sebentar, lalu ia memalingkan wajahnya. Perlakuan Ramona itu membuat Raymond semakin terluka. “Mama, aku tidak bersalah.” Raymond kembali berkata, memelas, mengucapkan kata yang entah sudah berapa kali ia sampaikan. “Besok adalah hari persidanganmu, dan gadis yang sudah kau nodai itu juga sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Ia akan pulang ke rumahnya.” Ramona memberi tahu. Ramona memandang Raymond, lalu melanjutkan ucapannya. “Yang sembuh hanya fisiknya, namun jiwanya masih terluka. Sadarkah kau, Nak? Perbuatanmu telah menghancurkan masa depannya,” ujar Ramona. Raymond menghela nafasnya, ia sangat kecewa dengan Ramona. “Kenapa Mama tidak percaya padaku? Apa selama ini aku pernah berbohong? Apa selama ini, aku pernah mengecewakan Mama?” tanya Raymond mengiba. “Aku tidak tau apa-apa, Ma... bahkan aku tidak tau siapa gadis itu!” ungkap Raymond frustasi. Ia sudah bingung bagaimana cara meyakinkan Ramona agar percaya pada ucapannya. “Gadis itu adalah adikku,” ujar lelaki yang tadi masuk bersama Ramona. Lelaki itu adalah Alden. Raymond mengalihkan pandangannya pada Alden. “Aku bersumpah, bukan aku pelakunya!” ucap Raymond. “Jika ada yang percaya kepadamu, maka akan muncul lebih banyak pemerkosa lainnya. Kau tau? Sekarang bukan saatnya membela diri dengan wajah tak berdosa yang kau tampilkan itu. Aku muak dengan semua yang kau ucapkan tadi.” Alden berkata dengan beringas, matanya menatap tajam Raymond yang duduk di depannya. Untung saja mereka di batasi jarak dengan jeruji besi, kalau tidak Alden pasti sudah mendaratkan satu pukulan telak di wajah Raymond. Tangannya dari tadi sudah gatal ingin melayangkan tinju pada pria itu. Raymond meremas rambut dengan kedua tangannya. Ia benar-benar putus asa. Bahkan orang yang sangat ia sayang tidak mempercayai ucapannya. Hancur sudah masa depannya jika ia sampai dipenjara. Siapa yang mau menerima seorang mantan narapidana dengan kasus perkosaan seperti dirinya jika nanti ia sudah dibebaskan? Ia pasti akan luntang lantung di jalanan dan tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan. “Kami akan menarik tuntutan jika kau mau menikahi adikku.” Raymond mengangkat kepalanya, ucapan Alden membuat ia menautkan kedua alisnya. “Menikahi gadis itu? Bagaimana mungkin?” elak Raymond. “Kau harus bertanggung jawab atas hidupnya, jika tidak … besok pengadilan akan memutuskan hukuman yang akan kau terima dan kau akan menghabiskan waktu dipenjara. Tidak ada yang bisa membela karena kau satu-satunya orang yang paling dicurigai atas kasus ini,” desis Alden. “Kau harus bertanggung jawab, Nak!” Kali ini Ramona yang berbicara. Suara yang dikeluarkannya cukup lembut namun terasa ada penekanan di setiap katanya. “Ma ….” Raymond menatap Ramona dengan mata yang berkaca-kaca. Ramona kembali berpaling, ia menghindari tatapan langsung puteranya. Dalam hati, ingin sekali ia mempercayai ucapan Raymond, tapi semua bukti mengarah kepadanya. Mau tidak mau, Ramona harus mengakui jika memang Raymond-lah pelakunya. “Kamu hanya punya dua pilhan, Nak! Bertanggung jawab dengan menikahi Almoora atau menghabiskan masa depanmu di penjara. Pikirkanlah!” Ramona berkata singkat, tanpa melihat Raymond ia kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Alden mengikuti Ramona dari belakang, bedanya, ia menatap Raymond dengan tatapan penuh kebencian sebelum meninggalkan ruangan itu. * “Apa maksudmu?” tanya Ramona berang. “Aku akan menemui Bryan dan menanyakan kepadanya,” jawab Raymond santai. “Kau sudah bersedia menikahinya dan mereka sudah mencabut tuntutannya. Sekarang kau bilang kau akan mencari bukti dan membuktikan jika kau tidak bersalah? Jangan macam-macam, Raymond!” “Tidak mungkin aku menikahinya, karena memang bukan aku pelakunya! Ma, tolong percaya kepadaku. Berikan aku waktu satu minggu untuk membuktikan kepada kalian jika aku bukan pemerkosa. Aku akan membawa pelaku sebenarnya.” “Tidak Raymond! Mereka pasti akan sangat marah jika kau mengulur waktu. Mereka pasti akan menganggap kau akan melarikan diri. Tolong jangan lakukan ini,” tegas Ramona. “Jika Mama tidak bisa membelaku, aku yang akan membela diriku sendiri. Aku pergi! Aku akan pergi membawa pelakunya kehadapan gadis itu! Oh, Siapa namanya? Bahkan Namanya saja aku tidak tau, masa aku harus menikahinya besok,” umpat Raymond. Raymod pergi meninggalkan rumahnya. Ia akan mencari Bryan dan bertanya tentang kasus itu. Raymond sangat yakin jika Bryan pelakunya. Malam itu, Bryan berkata dia butuh seorang perempuan untuk menghangatkannya dan paginya Raymond mendapati bajunya penuh kotoran lumpur yang sudah kering. Raymond yakin jika mereka ada di lapangan bola itu. Hanya saja, Raymond tidak bisa mengingat dengan jelas setiap kejadian setelah ia meminum beberapa  alkohol yang disodorkan Bryan padanya. Raymond berdiri di depan pagar rumah besar milik keluarga Bryan. Rumah itu tetap sepi seperti saat ia keluar dari bangunan itu tiga hari yang lalu. “Anda mencari siapa?” seseorang mendatangi Raymond. “Ada Bryan?” tanya Raymond kepada penjaga rumah tersebut. “Tuan muda sudah pulang. Minggu depan Tuan besar yang akan kesini, jika anda ada keperluan, silahkan datang minggu depan,” ucap penjaga rumah tersebut. “Boleh aku minta alamat mereka di kota? Aku akan mengunjunginya,” ujar Raymond. “Maaf, aku tidak tau!” “Apa kau tidak bisa menghubungi Bryan dan memintanya kesini? Katakan, Raymond mencarinya! Ia sudah berjanji kepadaku akan memberikan aku pekerjaan.” “Kalau begitu, anda bisa membicarakannya dengan tuan besar nanti. Karena tuan muda hari ini berangkat ke Amerika. Ia akan mengurus perusahaan yang di sana.” “Apa?” Raymond berteriak dan membelalakkan kedua matanya pada penjaga tersebut. “Aku pikir, aku sudah mengatakan dengan sangat jelas, Tuan!” Penjaga tersebut mulai marah karena teriakan Raymond. “Baiklah! Aku akan kesini lagi minggu depan.” Dengan langkah lunglai Raymond meninggalkan tempat itu. Ia akan kembali memohon kepada Ramona untuk memberikannya waktu sampai minggu depan. Sampai ia bisa berbicara dengan kedua orang tua Bryan. Raymond berlari menuju rumahnya ketika ia melihat banyak orang yang berkerumun di sana. Beberapa dari mereka melemparkan batu dan berteriak-teriak. “Apa yang kalian lakukan?” Bentak Raymond. “Inikah pemerkosa itu?” tanya salah seorang mereka. “Ayo kita pukul dia!” ajak yang lain.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN