Menikah

1101 Kata
Orang-orang yang tadi melempar rumah Ramona dengan batu berputar arah menuju Raymond. Raymond mengangkat kedua tangannya ke kepala untuk melindungi dirinya dari serangan warga yang mengamuk. Satu lemparan tepat mengenai kepala Raymond, lalu darah segar mengucur dari kepalanya. Raymond meringis menahan sakit. Tiba-tiba saja, Ramona sudah berdiri di depan Raymond. Ia melindungi Raymond dengan tubuhnya. Alhasil, batu lain yang akan dilempar kepada Raymond mengenai Ramona. “Apa yang kalian lakukan?” tanya Raymond sambil berteriak. Raymond lalu berbalik, mencoba melindungi Ramona dengan tubuhnya. “Hentikaaan,” teriak Ramoona. Air muka Ramona berubah, wajahnya memerah menahan marah, kedua matanya juga ikut memerah menandakan emosi yang sedang ditahannya akan meledak keluar. “Apa yang kalian inginkan? Hah?” tanya Ramona. “Kalian sudah melempari rumahku dengan batu, aku diam! Kenapa kalian juga melempari puteraku? Apa kesalahan yang ia perbuat pada kalian?” tanya Ramona lagi. “Ia seorang pemerkosa dan pemerkosa tidak pantas hidup di kampung ini. Karena dia, anak gadis kami jadi takut keluar sendirian. Kampung ini sudah tidak aman lagi karena ulah lelaki b******k dan biadab ini!” ujar salah seorang warga yang bicara sambil mengacungkan tangannya menunjuk-nunjuk Raymond. “Kami sudah berdamai dan Raymond akan menikahi gadis itu. Apalagi?” ujar Ramona. “Maaa ….” Raymond menyanggah perkataan Ramona. Ia masih menolak jika diminta untuk menikahi gadis itu. “Huh! Anakmu saja tidak mau melakukannya? Ia memang pantas menerima lemparan kami. Ayo! Lempari lagi lelaki yang tidak mau bertanggung jawab ini!” perintah salah satu dari mereka. Beberapa batu terlempar kearah Ramona dan Raymond. Salah satu lemparan tepat mengenai kepala Ramona. Ramona terhuyung ke belakang, ia menjadi pusing karena itu. “Ma … mama tidak apa-apa?” tanya Raymond cemas. “Hentikan! Tolong hentikan!” bentak Raymond. “Apa mau kalian?” “Kau masih bertanya apa mau kami?” “Kalau yang kalian mau, aku menikahi gadis itu … baik! Aku akan menikahinya. Tapi aku mohon … jangan kalian lukai ibuku,” pinta Raymond. “Memang itu yang harus kau lakukan. Menikahi gadis yang sudah kau rusak masa depannya,” ujar salah seorang dari mereka. Rahang Raymond mengeras, ia merasa sakit hati ketika orang-orang menyebutnya sebagai perusak masa depan gadis itu, tapi sekarang bukanlah saatnya untuk membela diri. Pembelaan diri yang akan Raymond lakukan akan memperkeruh suasana, amukan warga tidak akan bisa Raymond atasi dengan kata-kata ‘aku tidak bersalah’ atau ‘bukan aku pemerkosa gadis itu’. “Aku akan menikahinya, kami sudah sepakat untuk itu,” ujar Raymond kemudian. Satu persatu warga membubarkan diri setelah mendengar pengakuan Raymond. Ada yang pergi begitu saja dan ada juga yang memandang sinis pada Raymond dan Ramona sebelum meninggalkan tempat itu. “Mama tidak apa-apa?” Raymond menoleh pada Ramona. “Tidak apa-apa. Oh, lihatlah! Lukamu lebih besar dari luka mama. Ayo! Kita obati, mama punya ramuan untuk mengobati luka ini,” ucap Ramona sambil menarik tangan Raymond supaya masuk ke rumah mereka. Raymond menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan, semua tampak sangat berantakan. Beberapa kaca jendela pecah akibat lemparan orang-orang yang menghakimi mereka. “Tidak apa-apa, nanti mama hubungi tukang kaca. Sore ini juga, kaca tersebut akan diganti dengan yang baru. Memang kaca jendela rumah kita sudah seharusnya diganti.” Ramona berkata demikian karena melihat kekhawatiran di mata Raymond. “Sini, duduk agak mendekat. Mama akan bersihkan luka di kepalamu dulu!” panggilnya. Raymond mendekati Ramona dan menuruti perintah mamanya. Ia duduk menghadap perempuan itu agar luka dikepalanya bisa diobati. “Kapan pernikahannya, Ma?” Ramona tersenyum mendengar pertanyaan Raymond. Artinya anak lelakinya ini sudah bersedia bertanggung jawab atas hidup Almoora. “Lusa,” jawab Ramona singkat. Raymond mendesah, kemudian ia menarik nafasnya dalam. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menikahi gadis itu. Raymond memasrahkan hidupnya pada takdir yang telah menimpanya. “Siapa nama gadis itu?” tanya Raymond lagi. “Almoora. Apa kau ingin bertemu dengannya sebelum kalian menikah?” “Tidak! Aku tidak ingin menemuinya!” Raymond kemudian bangkit dan berjalan menuju kamarnya. * Tidak ada yang istimewa di hari pernikahan Raymond dan Almoora. Raymond tidak menyangka ia akan menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal, begitu juga dengan Almoora. Gadis itu dari awal mereka sampai di gereja, ia sama sekali tidak melihat kearah Raymond. Ia menganggap Raymond seseorang yang menjijikan, hingga memandangnya pun Almoora enggan. Setelah janji suci mereka ucapkan di depan pendeta, Raymond langsung saja melenggang keluar tanpa mempedulikan semua mata yang tertuju padanya. Tidak ada pertukaran cincin, tidak ada ciuman mesra seperti layaknya pengantin baru yang berbahagia, ia berjalan tanpa sedikitpun melihat kearah Almoora yang sekarang telah sah menjadi istrinya. Ramona menangkap tangan Raymond sebelum lelaki itu benar-benar menghilang. “Apa seperti ini mama mengajarimu?” desis Ramona. “Kembali dan bawa istrimu keluar dari gereja ini dengan baik,” Perintahnya kemudian. Tanpa menunggu perintah kedua, Raymond berbalik dan berjalan kembali ke tempat Almoora. Ia menggamit lengan Almoora lalu menarik pelan gadis itu agar mengikutinya. Almoora menghindar, ia mengibaskan tangan Raymond dengan kasar. “Jangan sentuh aku, b******n!” Raymond mendelik, ia menguasai dirinya agar tidak terbawa emosi. Sejak setuju untuk menikahi Almoora, sudah membuat emosinya tidak terkontrol. Raymond menjadi gampang marah dan labil. Kepergian Bryan ke Amerika yang membuat faktor pemicu tertinggi kemarahan Raymond. Bisa-bisanya Bryan pergi tanpa berbicara dulu dengannya. Raymond merasa di tipu oleh Bryan. “Kalau begitu … ayo ikut! Aku mau pulang!” katanya dengan suara sedikit tertahan. “Siapa yang mau ikut denganmu? Aku? Tidak akan pernah!” tantang Almoora. Mendengar perdebatan itu, Ramona mendekat. Rupanya meminta Raymond untuk membawa serta Almoora adalah keputusan yang salah. “Pulanglah! Biar Almoora bersama mama,” ucap Ramona. Tanpa pikir Panjang, Raymond segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh pada siapapun yang ada di sana. “Aku tidak mau kesana!” ucap Almoora. “Moora … sayaaang, sekarang kamu istri Raymond. Kamu harus pulang bersamanya,” ucap Irene. “Tidak Kak! Aku tidak mau!” tolak Almoora. “Moora, maafkan Abang! Tapi kamu tetap harus pulang bersamanya.” Alden mulai bersuara. “Tidak, Bang! Abang tau jika aku tidak mau ….” Suara Almoora bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Melihat hal itu, Ramona mendekati Almoora. Ia membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya. “Moora … ada mama! Mama yang akan menjagamu. Mama pastikan, kau akan baik-baik saja!” tegas Ramoona. Almoora terisak, pelukan Ramona terasa sangat menenangkannya. Almoora merasa nyaman dibuatnya. “Kamu jangan khawatir, mama akan terus berada disampingmu!” ucap Ramona lagi. Almoora mengangguk mengiyakan. Berada di dekat Ramona dengan posisi seperti ini membuat Almoora teringat pada ibunya yang telah tiada. Dulu, ibunya sering memeluknya seperti ini, seperti yang dilakukan Ramona pada dirinya sekarang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN