Aku Bilang Pergi!

1152 Kata
“Ini kamarmu, istirahatlah!” Ramona membuka pintu kamar dan meminta Almoora untuk beristirahat di dalamnya. Almoora mengedarkan pandangan ke seluruh sisi di kamar tersebut. Sebuah lemari kayu yang tidak terlalu besar, di atas lemari tersebut ada pajangan sebuah kapal besar yang juga terbuat dari kayu. Lalu ada sebuah ranjang dengan ukuran yang tidak terlalu besar juga. Disamping ranjang tersebut, ada sebuah meja, beberapa buku tersusun rapi di atasnya. Di sudut ruangan yang dekat dengan pintu, ada sebuah rak yang berjejer beberapa sepatu dan sendal pria. “Kamar siapa ini?” Almoora memutar bola matanya. “Kamar Raymond, sekarang sudah menjadi kamar kalian.” Ramona berkata sambil tersenyum. Wajah Almoora mendadak berubah menjadi pias. Disaat yang bersamaan, Raymond keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya yang telanjang. Keduanya saling tatap sebentar, lalu sama-sama memalingkan wajah. Raymond lalu berjalan ke arah lemari dan mengambil baju gantinya, tanpa ucapan selamat datang atau apapun itu yang seharusnya ia ucapkan pada Almoora, ia kembali masuk kamar mandi untuk berpakaian. “Aku tidak mau sekamar dengannya!” ucap Almoora dengan tegas pada Ramona. “Tapi, Nak! Raymond sudah menjadi suamimu. Tidak masalah jika kalian sekamar.” “Aku juga tidak mau sekamar dengannya.” Raymond keluar dari kamar mandi, ia mengibaskan rambutnya yang masih basah dengan satu tangannya. “Raymond … kita hanya punya dua kamar. Almoora istrimu, tidak ada hal yang melarang kalian berdua satu kamar.” Ramona berkata dengan tenang. “Aku tidak mau!” “Aku tidak mau!” Ujar mereka bersamaan. Raymond melihat sekilas kearah Almoora, lalu ia langsung berjalan melalui gadis itu tanpa berkata apa-apa. Melihat situasi itu, Ramoona menghela nafasnya. Kedua anak yang baru saja menikah itu sama keras kepalanya. “Kami hanya punya dua kamar, Nak! Tidak ada kamar lain yang bisa kau tempati selain kamar ini.” Ramona berkata lemah, karena memang seperti itulah kenyataannya. Mereka dengan keterbatasan ekonomi hanya punya dua kamar tidur yang bisa ditempati. “Aku akan membersihkan gudang yang di belakang. Kemana akan kubawa barang-barang yang tidak berguna yang ada di dalamnya?” Raymond kembali dengan sapu di tangannya. Ramona tersenyum lebar, ia kemudian berkata, “Mama akan membantumu membersihkannya.” “Moora, kamu bisa tempati kamar Raymond. Bawa semua bajumu ke dalam dan beristirahatlah!” perintah Ramona. Raymond dan Ramona membersihkan gudang belakang bersama. Memang tidak ada jalan lain bagi mereka untuk saling sendiri dulu. memaksakan mereka untuk sekamar berdua tentu bukan pilihan yang bijak. Almoora yang memandang jijik pada Raymond dan Raymond yang belum bisa menerima keberadaan Almoora menjadi istrinya membuat hubungan mereka menjadi panas jika berada dekat bersama. “Gudang ini bocor, Nak! Kita harus memperbaikinya dulu, sekarang musim hujan.” “Tidak apa, Ma! Semoga malam ini tidak hujan. Kita bisa memperbaikinya besok.” “Terima kasih.” Ramona berkata sambil tersenyum. “Aku hanya tidak mau mempertajam masalah. Yang lebih baik yang aku lakukan sekarang adalah mengalah. Aku bisa memahami kebenciannya padaku, tapi aku tetap akan mengatakan padanya kalau bukan aku yang memperkosanya.” Ramona memandang Raymond dengan tatapan iba. Sampai detik ini, anak itu tetap bersikeras mengatakan hal yang sama padahal ia sudah menikahinya. “Aku kecewa karena Mama tidak percaya padaku!” ujar Raymond lirih. “Tapi tidak masalah, aku bersedia menikahinya karena Mama. Aku harap hal ini tidak menjadi beban pikiran Mama lagi.” Raymond melanjutkan ucapannya. “Ini semua kita buang atau kita bakar saja?” Raymond mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal lain yang menyangkut isi gudang yang tidak terpakai. “Taruh saja di halaman belakang, nanti mama akan meminta seseorang untuk mengangkutnya ke pembuangan.” * Raymond menatap Gudang yang telah ia sulap menjadi kamar. Kamar dadakan itu hanya berisi satu Kasur tanpa ranjang. Beberapa perlengkapan pribadi Raymond seperti deodorant, facial wash khusus pria, gel dan minyak wangi hanya ia tata di meja kecil yang juga ia sulap dari beberapa papan yang tak terpakai. Raymond kemudian menidurkan tubuhnya di kasur, seluruh tulangnya terasa hampir patah karena sudah bekerja keras seharian. Mata Raymond menatap lurus ke langit-langit kamar. ‘Apa yang harus aku lakukan dengan pernikahan ini?’ tanyanya di dalam hati. Jujur saja … Raymond tidak siap dengan pernikahan yang sama sekali tidak ada dalam rencana jangka pendek hidupnya. Kejadian ini begitu cepat, dalam sekejap mata sudah bisa mengubah jalan hidup Raymond yang ia sendiri bingung mau membawa kemana. “Aahhh ….” Raymond mendesah. Kedua tangannya ia lipat di d**a. Janji suci yang ia ucapkan di altar di depan Pendeta pagi tadi kembali terngiang di telinganya. Raymond tentu saja berkeinginan menikah, tapi bukan pernikahan yang seperti pagi tadi yang ia harapkan. Pernikahannya terjadi bersamaan dengan cibiran warga dengan skandal yang sama sekali tidak ia lakukan. Dilain tempat, rumah yang sama dan ruang yang berbeda. Almoora tidak bisa memejamkan matanya, dari satu jam yang lalu ia merasa gelisah dan tidak nyaman. Ia takut jika ia tertidur dan tidak sadar, Raymond akan masuk ke kamar itu dan memperkosanya untuk kedua kalinya. Meskipun Almoora sudah memastikan pintu kamar sudah tertutup rapat dan terkunci tapi ia tetap merasa gelisah. Raymond memang tidak berada diruangan yang sama dengannya, tapi aroma maskulin yang Almoora rasakan di kamar ini membuat bulu kuduk Almoora meremang. Ia merasa Raymond berada dekat dengan dirinya hingga Almoora merasa keselamatannya terancam. Kini … Almoora hanya bisa diam, ia menatap langit-langit kamar sambil membayangkan masa depannya. Hidup bersama Raymond pasti akan terasa berat untuk ia jalankan. “Aahhh ….” Almora mendesah. Ia reflek memegang k*********a yang mendadak terasa ngilu. Matanya terpejam membayangkan aksi brutal Raymond ketika memperkosanya malam itu. Almoora memang tidak bisa melihat dengan jelas wajah Raymond saat itu. Tapi Almoora tau, ia telah melukai Raymond dengan kukunya persis di perut Raymond yang bertato bibir wanita. Tato itu terlihat jelas karena warna bibirnya yang terlihat terang. Almoora memeluk guling yang ada di dekatnya, tidak lama kemudian guling itu ia lempar jauh dari ranjangnya. “Tidaaak!” Almoora berteriak. “Jangan sentuh aku! Aku mohon … pergiii … pergi kau dari sini!” Hanya beberapa detik setelah teriakan Almoora, pintu kamarnya di ketuk-ketuk dari luar. “Moora … Sayaaang … apa yang terjadi? Buka pintunya, Nak!” Ramona memanggil dari luar. “Pergiiii … jangan sentuh aku!” Lagi, Almoora bersuara. “Raymond, buka pintunya. Dimana kunci cadangannya?” tanya Ramona panik. Raymond segera berlari mengambil kunci cadangan kamarnya dan memberikannya pada Ramona. Dengan cepat, Ramona membuka pintu dan mengejar Almoora yang sedang terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Ramona langsung memeluk gadis yang tampak ketakutan itu, dengan sedikit belaian dikepala, Almoora menjadi tenang dan ia terisak di pelukan Ramona. Raymond berdiri mematung dan melihat mereka dari pintu kamar yang sedang terbuka. Ia tidak berani masuk ke kamar, terlebih dengan kondisi Almoora yang tampak menyedihkan seperti ini. Lalu Raymond mencoba melangkahkan kakinya masuk ke dalam, mengambil guling yang terletak di lantai dan bermaksud mengembalikannya ke ranjang. “Apa yang kau lakukan di sini? Aku bilang … pergiiii!” Almoora berteriak sambil melototkan ke dua bola matanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN