Mencoba Mengingat Lagi

1167 Kata
“Apa yang kau lakukan di sini? Aku bilang … pergiii!” Langkah Raymond langsung terhenti ketika mendengar teriakan Almoora. Reflek tangannya melepaskan guling yang sudah dipegangnya. “Apa lagi yang kau tunggu? Pergiii…,” teriak Almoora sekali lagi. Ramona memberi kode dengan matanya pada Raymond yang masih berdiri mematung di tempatnya untuk segera keluar kamar. “Ma-maaf,” ujar Raymond dengan suara sendat. Setengah berlari Raymond keluar dari kamar tersebut. Ia langsung menuju kamarnya, dan merebahkan tubuh di Kasur. “Apa dia membenciku?” tanya Raymond di dalam hati. “Tapi, apa salahku? Aku bukan pelakunya?” tanya Raymond lagi. Raymond paham kenapa Almoora sangat membencinya, tapi Raymond juga tidak bisa menerima jika ia terus-terusan dibenci. Kemudian ia mengepalkan kedua tangannya ketika mengingat Bryan. “Kamu yang harusnya menikahi dia, bukan aku,” erangnya. “Siapa? Siapa yang harus menikahinya?” Raymond menoleh, Ramona sudah berdiri di pintu sambil melipat tangannya di d**a. “Mama, sejak kapan Mama berdiri di sana?” Raymond langsung bangkit dan duduk di Kasur. “Jika memang bukan kamu, siapa yang melakukannya?” tanya Ramona lagi. Raymond menatap Ramona dengan ragu, apakah Ramona bisa mempercayainya setelah yang ia lakukan sebelumnya gagal? “Tidak ada, lupakan!” katanya. “Dia tampaknya masih takut jika bertemu denganmu,” kata Ramona. “Siapa?” “Siapa lagi kalau bukan Almoora, istrimu!” “Kalau begitu, dia bisa tinggal lagi bersama kakaknya,” ujar Raymond santai. “Raymond!” bentak Ramona. “Kamu jangan asal bicara, mama tidak suka mendengarnya.” “Jadi aku harus bagaimana, Ma?” tanya Raymond. “Mama meminta aku untuk menikahinya, sudah aku lakukan. Sekarang aku harus bagaimana?” tanya Raymond dengan suara yang tertahan. “Dia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya, mama harap kamu mengerti. Tugasmu sekarang adalah membantunya untuk menghilangkan trauma itu.” Raymond mendesah, ia masih kecewa dengan sikap Ramona yang masih membela gadis itu. “Sekarang, bagaimana keadaannya?” tanya Raymond berbasa basi. Ramona tersenyum, kata-kata ini yang ingin didengar dari mulut anaknya. “Dia sekarang sudah tenang. Kamu bantu dia supaya ia bisa menghilangkan traumanya.” “Baiklah, kalau memang itu yang Mama mau.” “Terima kasih,” ujar Ramona sebelum ia berbalik meninggalkan Raymond di kamarnya. “Oh, ya … Almoora sebenarnya gadis yang cantik. Kamu tidak akan menyesal telah menikahinya.” Ramona berkata sebelum ia menutup kembali pintu kamar Raymond. * Raymond berjalan dengan tergesa-gesa dari kamar mandi menuju kamarnya. Raymond lupa, kalau sekarang ia memakai kamar mandi yang di belakang jadi ia lupa membawa pakaian ganti. Biasanya, ia menggunakan kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Karena terburu-buru, Raymond tidak menyadari jika di rumah itu tidak hanya ada dia dan Ramona, tapi juga ada Almoora. Bug! Sebuah buku mendarat tepat di kepala Raymond. “Apa yang kau lakukan?” Raymond mengusap kepalanya yang terasa sakit. “Tidak bisakah kau berpakaian jika berada di luar kamar?” kata Almoora dengan nyalang. “Aku habis mandi, tidakkah kau lihat dari handuk yang melilit tubuhku?” jawab Raymond tak kalah nyalang. “Dasar m***m, manusia mesum.” Raymond memilih menghindar dan tidak melayani ucapan Almoora yang pedas. “Perempuan aneh, habis mandi saja dibilang m***m,” ketus Raymond sambil berjalan melewati Almoora untuk masuk ke kamarnya. Raymond tidak habis fikir dengan sikap permusuhan yang diberikan Almoora kepadanya. Bagaimana caranya ia bisa menjelaskan pada gadis itu jika bukan dia pelaku sebenarnya, melihat dirinya saja gadis itu sudah merasa jijik. Raymond sudah memakai pakaian lengkap, ia kemudian keluar kamar lagi untuk menjemur handuk yang ia pakai tadi. Sama seperti sebelumnya, masih ada Almoora di ruang tengah rumah mereka dan lagi, Almoora memperlihatkan wajah tidak senangnya ketika melihat Raymond melintas di depannya. “Kau,apa tidak ada tempat lain untuk duduk?” tanya Raymond sinis. “Aku jadi tidak leluasa bergerak dirumah ini karena kau.” Raymond melanjutkan perkataannya. “Jelaskan kepadaku dimana tempat aku bisa baca buku ini dengan tenang,” ujar Almoora tak kalah sinis. Ia bahkan membesarkan bola matanya dan mengangkat satu tangannya memperlihatkan buku yang sedang ia baca. “Banyak tempat di rumah ini, kau bisa di belakang, di paviliun samping, bahkan kau bisa duduk di kamar dengan tenang tanpa melihat aku berjalan mondar mandir.” “Kau yang harusnya tau diri, tidak menampakkan wajahmu yang kotor itu di depanku,” “Memang kau pikir ini rumah siapa? Nenek moyangmu?” Raymond mulai berkata sengit, ia sudah mulai gerah dengan sikap Almoora. “Apa yang kalian ributkan?” Ramona berkata dan memandang Raymond dan Almoora bergantian. “Dia yang mulai duluan.” Almoora bangkit dan langsung menuju ke kamarnya. “Dia yang mulai duluan, Ma!” Raymond membela diri, tidak terima dengan pengaduan Almoora. “Sudah … sudaaah. Sungguh mama pusing dengan sikap kalian.” “Maaf, Ma! Aku ingin istirahat dulu,” ucap Almoora lalu ia menutup pintu kamar. Ramona menghela nafas, ia kemudian berkata. “Kau jangan terlalu keras kepadanya, ia masih belum bisa menerima keadaan yang menimpanya.” “Mama jangan terus-terusan membelanya, anak mama itu aku, bukan dia!” Raymond kemudian meninggalkan Ramona yang sedang serba salah dan bingung harus membela siapa. Raymond sendiri sudah kehilangan moodnya berada di dalam rumah, tapi ia juga bingung tidak tau harus kemana. Jika ia kembali ke kota, pasti Ramona akan melarang atau Ramona akan memintanya untuk membawa Almoora Bersama dengannya, sementara ia sendiri tidak bisa akur bersama gadis itu. “Mau kemana?” tanya Ramona ketika melihat Raymond bersiap keluar rumah. “Aku mau menenangkan pikiran. Jujur saja, Ma! Aku tidak sanggup menghadapi situasi ini,” jawab Raymond. “Mama mengerti dengan yang kau rasakan, tapi … mama harap kau bisa bertindak dewasa dengan status kau sekarang.” Ramona mengingatkan Raymond jika sekarang ia adalah seorang suami. “Aku mengerti!” jawab Raymond dingin, lalu ia menarik resleting jaket yang ia pakai dan keluar dari rumah. Raymond melangkahkan kakinya menjauh dari rumah tersebut, ia sendiri tidak tau tujuan yang akan ia tuju. Ia hanya ingin menenangkan diri dan mendinginkan kepalanya. Rupanya, menikah tidak bisa menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi, justru Raymond merasa beban masalahnya semakin berat semenjak kehadiran Almoora di rumah mereka. Tidak terasa, Raymond melangkahkan kakinya menuju lapangan bola. Ia berdiri mematung memandang tempat luas itu. “Apa mobil itu aku kemudikan ke arah sini?” tanyanya pada diri sendiri. Raymond berjalan pelan menyusuri pinggir lapangan. “Dimana tempat kejadian itu?” Raymond mencoba mengingat kembali kejadian terakhir sebelum ia meminum alkohol yang ditawarkan Bryan. Raymond menghentikan langkah kakinya, ia menatap beberapa meter kedepan. “Di sini, aku hanya berdiri di sini ketika Bryan membawa gadis itu,” ujarnya. “Aku ingat! Aku telah ingat, aku benar-benar bukan pelakunya.” Raymond melangkah mundur, ia menggelengkan kepala. “Kenapa? Kenapa aku tidak menghentikannya saat itu? Kenapa aku malah ikut tertawa ketika melihat Bryan memaksa gadis itu?” Kedua mata Raymond memerah, ia merasa sangat menyesal tidak menghentikan aksi Bryan malam itu. Seandainya ia tidak ikut minum dan tidak mabuk, pasti ia sudah menghentikan Bryan dan ia tidak harus menikahi gadis itu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN