Raymond terduduk lemas di tempatnya, kedua lututnya menyentuh tanah lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar. Penyesalan yang ia rasakan sekarang tidak ada lagi gunanya. Semua sudah terjadi dan itu jelas-jelas merugikannya.
“Aaaaa ….” Raymond berteriak dengan sekuat tenaga. Seandainya ada planet lain yang bisa menampung manusia, ingin rasanya Raymond dimutasi kesana.
Raymond menarik rambutnya dengan kasar. Rambut ikal yang sudah agak panjang itu sebagian masuk kedalam sela-sela jari tangan Raymond.
“Bryan b******k! Gegara bertemu denganmu, aku harus menanggung semua perbuatanmu,” umpat Raymond.
Kedua mata Raymond memerah, ia sudah tidak tau lagi apa yang akan ia lakukan setelah ini. Lalu tiba-tiba saja, seseorang melemparkan ranting pohon ke kepalanya. Raymond menoleh ke belakang, ia mengambil ranting itu dan berdiri.
“Kenapa kau melempariku?” tanya Raymond pada seorang wanita yang berusia sekitar empat puluhan yang berdiri tidak jauh darinya.
“Mau apa kau kesini? Mau mencari anak gadis kami dan memperkosanya lagi?” Perempuan itu balik bertanya, ia menatapa Raymond dengan pandangan yang tak suka.
Raymond jadi salah tingkah mendengar perkataan perempuan itu, ia tidak menyangka jika perempuan itu telah men-cap dirinya sebagai pemerkosa.
“Bu-bukan, Bu! Aku hanya ….”
“Pergi kau dari sini, dan jangan pernah mendekati tempat ini lagi. Kami tidak mau melihat wajahmu yang kotor itu!” ucapnya dengan sinis lalu perempuan itu melempari lagi ranting pohon yang lain kearah Raymond.
Raymond menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lengkap sudah penderitaan yang ia rasakan saat ini. Dihina orang lain ketika berada di luar rumah dan mendapat pandangan penuh kebencian jika berada di dalam rumah.
Apakah ini karma? Tapi apa kesalahan yang Raymond lakukan hingga mendapati karma yang begitu menyakitkan?
*
“Kamu sudah pulang?” Ramona bertanya ketika melihat Raymond memasuki rumah melewati pintu samping.
“Sudah!”
“Darimana?”
“Hanya sekitar sini. Dimana gadis itu?” Raymond melihat kesekililing ruangan.
“Ada dikamarnya,” jawab Ramona.
“Apa dari tadi ia tidak keluar kamar?” tanya Raymond penasaran.
“Ada, tadi ia bantu mama meracik ramuan untuk dijual besok pagi.”
“Mama mau jualan lagi?” Raymond menatap Ramona dengan pandangan iba. Ia sebenarnya tidak tega melihat Ramona keliling kampung dengan sepeda menjual sarapan pagi beserta minuman racikannya.
“Harus, Nak! Mama sudah dua minggu tidak berjualan. Kita mau makan apa jika mama tidak bekerja?”
“Maafkan aku, Ma! Mama seharusnya tidak bekerja lagi. Aku yang seharusnya bekerja.” Raymond memegang kedua tangan Ramona dan menciumnya.
“Mama masih sehat dan kuat, kamu jangan khawatirkan itu. Justru mama bingung mau mengerjakan apa jika berhenti berjualan.”
“Besok aku akan kembali ke kota, aku akan mencari pekerjaan.”
“Besok? Lalu bagaimana dengan istrimu?” tanya Ramona.
“Dia bisa tinggal dengan mama di sini,” jawab Raymond.
“Apa maksud ucapanmu? Dia istrimu, dan kamu harus membawanya kemanapun kamu pergi,” bantah Ramona.
“Aku tidak mau ikut dengannya!” Almoora berbicara. Tiba-tiba saja gadis itu sudah berdiri di pintu kamarnya.
“Siapa juga yang mau membawa kamu?” kata Raymond sengit.
“Raymond! Jaga ucapanmu!” bentak Ramona.
Raymond langsung masuk ke kamarnya, dia tidak mau terlibat pertengkaran lagi dengan kedua perempuan itu. Lebih baik Raymond menghindar karena ia tau nanti yang harus mengalah juga dirinya, tetap ia juga yang di suruh bersabar.
“Raymond suamimu, kamu harus ikut kemanapun dia pergi,” ujar Ramona lembut pada Almoora.
“Aku menikahinya karena terpaksa. Aku bahkan tidak pernah bermimpi menikah dengan seorang pemerkosa.” Almoora berkata dengan ketus.
“Nak, bisakah kau menerima Raymond? Dia sebenarnya anak yang baik, dia –”
“Jika dia anak yang baik, dia tidak akan menjadi seorang pemerkosa!” sanggah Almoora.
Ramona menghentikan ucapannya karena dipotong oleh Almoora.
“Kamu hanya belum mengenal Raymond saja. Dia tidak seperti yang kau kira.” Ramona berusaha menampilkan sisi baik Raymond pada Almoora. Bagaimanapun dia hanya ingin anak dan menantunya itu akur dan menjalani kehidupan rumah tangga layaknya.
“Tidak, aku tidak ingin mengenalnya!”
Ramona menghela nafasnya, Almoora langsung pergi meninggalkannya setelah mengucapkan kata yang lumayan pedas terdengar di telinganya.
Sebenarnya posisi Ramona sebagai orang tua serba salah. Ia sudah meminta Raymond untuk menerima Almoora sebagai istrinya, Raymond terang-terangan menolak. Begitu juga sebaliknya, ia meminta Almoora untuk menerima Raymond sebagai suaminya dan gadis itu juga menolak. Padahal mereka sama-sama telah mengucapkan janji suci di depan pendeta.
Wanita itu kemudian menghela panjang nafasnya, keadaan seperti ini harus di hentikan. Raymond dan Almoora tidak bisa bertengkar terus menerus, mereka sudah menjadi suami istri. Ramona juga sudah berjanji kepada Alden untuk membahagiakan Almoora. Ia menegerti kenapa Almoora selalu mengangkat bendera perang kepada Raymond, jika hal itu terjadi kepadanya mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.
“Moora,” panggil Ramona lembut.
“Ya, ada apa, Ma?” Almoora keluar dari kamarnya.
“Mau jalan-jalan?” ajak Ramona.
“Tidak!”
“Apa kau tidak suntuk hanya berdiam diri di rumah? Mama tau tempat yang indah, jarang orang ke sana. Mama biasa mengambil daun untuk mama racik sebagai obat di tempat itu.”
Almoora terlihat berfikir, mempertimbangkan tawaran Ramona.
“Ayolah, mama yakin pasti kau suka tempatnya,” bujuk Ramona lagi.
Almoora memutar kepalanya. Dia menatap sisi lain ruangan itu.
“Raymond di kamarnya. Kita hanya pergi berdua,” ujar Ramona seolah wanita itu tahu apa yang di pikirkan Almoora.
“Aku ganti baju dulu.” Almoora masuk ke kamar. Menerima tawaran Ramona mungkin akan bisa mengobati sedikit luka di hatinya.
Ramona tersenyum, mendekati Almoora butuh kesabaran yang ekstra sementara meminta Raymond untuk bersabar juga butuh tenaga yang luar biasa. Kedua nya sama-sama keras kepala.
Ramona kemudian melangkah menuju kamar Raymond, ia mengetuk pelan pintu kayu tersebut.
“Mama mau ajak Almoora jalan-jalan, apa kau mau ikut?” tanya Ramona. Seharusnya Ramona cukup memberi tahu kalau ia dan Almoora akan pergi jalan-jalan tidak perlu menawari Raymond untuk ikut serta.
Raymond tersenyum kecil.
“Apa Mama mau melihat aku dan dia bertengkar lagi?”
“Mama hanya mau kalian berdua akur, damai dan bahagia,” ujar Ramona.
“Kalau begitu dimana ada dia tidak boleh ada aku, dan begitu juga sebaliknya. Dimana ada aku, tidak boleh ada dia. Karena jika kami bersama, yang akan ada hanya pertengkaran, tatapan sinis penuh kebencian dan kata-kata kasar.” Raymond menatap tajam mata Ramona saat mengucapkan kata tersebut.
“Raymond... kamu harus bersabar dengan situasi ini. Mama yakin kalian pasti bisa melewatinya.” Ramona berkata dengan pelan, mencoba menenangkan Raymond.
“Tidak akan bisa, Ma. Selagi dia tetap menuduh aku sebagai pemerkosa, kami tidak akan bisa melewatinya,” ucap Raymond dengan wajah frustasi.
Sementara itu, tidak jauh dari sana. Almoora berdiri diam mendengarkan pembicaraan Raymond dan Ramona.