“Mama pulang lebih cepat?”
Raymond menyusul Ramona yang sedang menuntun sepedanya. Pagi-pagi sekali Ramona sudah pergi berjualan dengan mengayuh sepeda keliling kampung menjajakan dagangannya dan sekarang, ia pulang lebih cepat dari biasanya.
“Iya,” jawab Ramona singkat. Ia menghapus keringat yang menetes di wajahnya dengan handuk kecil yang ia sampirkan di bahu kanannya.
“Dagangannya tidak ada yang beli?” Raymond bertanya lagi, matanya menatap ke keranjang dagangan yang isinya masih utuh, persis seperti yang Ramona bawa pagi tadi.
“Mungkin orang-orang sudah membuat sarapan mereka sendiri,” ujar Ramona pelan.
“Tidak mungkin! Pasti ada sesuatu yang membuat mereka tidak mau membeli dagangan Mama,” ujar Raymond.
“Kamu jangan berfikir seperti itu, bisa jadi mereka sudah memasak pagi hari untuk keluarga mereka. Berfikir yang baik saja, mungkin hari ini belum ada rezeki buat kita.”
“Ini pasti karena aku. Mereka masih menganggap aku sebagai pemerkosa makanya mereka tidak mau membeli dagangan Mama.”
Raymond meninggalkan Ramona dengan tangan terkepal. Sementara Ramona menatap keranjang yang berisi dagangan yang tidak laku. Ia berfikir keras, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu?
Ia memang tidak seperti Raymond yang terang-terangan mengatakan langsung jika dagangannya tidak ada yang membeli karna kasus yang menimpa Raymond. Hati Ramona juga sedih melihat tumpukan makanan dan puluhan botol minuman yang masih utuh.
Namun Ramona masih berfikir positif, ia tidak mau membebani dirinya dengan pikiran-pikiran negative yang nantinya hanya akan merusak suasana hatinya. Dan jelas itu akan berdampak buruk untuk kesehatannya.
*
Raymond memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel yang biasa ia gunakan, ia sudah mantap untuk kembali ke kota mencari pekerjaan. Ia mengacuhkan permintaan Ramona untuk membawa Almoora, selain ia dan Almoora tidak akur, gadis itu juga tidak berminat sama sekali untuk ikut dengannya.
“Kau mau kemana?”
“Aku akan pergi ke kota. Aku harus mencari pekerjaan,” jawab raymond sambil terus memasukkan bajunya ke dalam tas.
“Kau serius tidak mau membawa Almoora?”
Ramona menghampiri Raymond, wanita itu duduk di kasur yang digelar di lantai. Ia menatap Raymond yang sibuk memasukkan bajunya ke dalam ransel dengan tatapan sendu.
“Aku serius, Ma! Toh, dia juga tidak mau ikut denganku.” ucap Raymond dengan santai.
“Mama khawatir orang-orang akan berfikir lain jika kau pergi seorang diri dan meninggalkan Almoora bersama mama. Kalian sudah menjadi suami istri, masa kalian tidak tinggal bersama. Apa kata keluarga Almoora jika mereka tau kamu akan meninggalkan adiknya bersama mama.” Ramona berkata dengan pelan.
Raymond menghela nafasnya dengan berat lalu mengeluarkannya secara perlahan.
“Ma,” ujarnya lemah.
“Gadis itu juga tidak mau ikut denganku. Jadi tidak ada yang perlu mama khawatirkan,” lanjutnya.
“Almoora, namanya Almoora! Kenapa kamu sulit sekali untuk menyebut namanya?”
Raymond mendesah mendengar kata protes yang keluar dari mulut Ramona. Memang dari awal Raymond tidak pernah menyebut nama istrinya. Ia lebih suka memanggil dengan sebutan ‘gadis itu’.
“Baiklah, Almoora juga tidak mau ikut denganku, jadi … berhentilah memikirkannya!”
“Kamu bisa membujuknya kalau kamu mau,” pinta Ramona.
“Dibujukpun dia tidak akan mau, Mama lihat sendiri kan? Berada dekat denganku saja ia tidak mau, seolah-olah ia menganggap aku manusia yang menjijikkan.”
“Almoora sebenarnya gadis yang baik, hanya saja yang telah terjadi kepadanya membuat ia dingin seperti itu,” bela Ramona.
“Dingin? Dia bukan gadis yang dingin. Dia menakutkan!” protes Raymond.
Ramona tertawa mendengar perkataan Raymond barusan.
“Dia lucu dan menggemaskan, bukan menakutkan,” ucap Ramona di sela tawanya.
“Sudahlah, Ma! Bagaimanapun aku dan dia tidak akan bisa akur selama dia menganggap aku sebagai pemerkosanya.”
Ramona menghentikan tawanya, ia menatap Raymond dengan pandangan serius.
“Kau… yakin sekali dengan ucapanmu?”
“Sangat yakin! Dan aku juga tau pemerkosa sebenarnya. Kalian saja yang tidak percaya padaku ketika aku mengatakan itu saat dipenjara.”
“Siapa orangnya?”
“Dia sudah tidak di sini lagi, dia sudah pergi ke Amerika. Jadi, percuma saja jika aku memberitahu, tidak ada gunanya lagi. Toh, aku sudah menikahinya.”
“Kau menyesal?”
“Aku tidak tau, Ma! Yang jelas aku sekarang ingin fokus untuk mencari kerja dan Mama tidak perlu lagi berjualan.” Nada suara Raymond keluar dengan pelan saat mengucapkan hal itu. Ia tidak tega melihat Ramona yang sudah susah payah mengayuh sepedanya menjajakan makanan dan pulang kembali ke rumah tanpa membawa hasil apapun.
Ramona meletakkan telapak tangannya di pipi kanan Raymond. Ia sangat menyayangi Raymond meskipun Raymond bukan anak kandungnya. Ramona bahkan rela untuk tidak menikah demi membesarkan Raymond.
“Diusia yang sekarang, Mama hanya perlu berdiam diri di rumah. Biar aku yang bekerja, sekarang giliranku untuk membahagiakan Mama. Tolong! Jangan larang aku melakukannya,” pinta Raymond.
“Mama tidak pernah melarang, tapi kau tau kan? Kau punya Almoora. Dia sudah menjadi tanggung jawabmu.”
“Aku tau, Ma! Aku tidak lupa, hanya saja ….” Raymond menggantung ucapannya, ia memikirkan kata apa yang pantas ia ucapkan agar Ramona tidak tersinggung dengan yang ia sampaikan.
“Hanya saja, Aku belum terbiasa.”
Ya, Raymond tidak bisa jujur bahwa ia tidak bisa menerima Almoora sepenuhnya karena ia sama sekali tidak mencintai gadis itu. Pernikahan mereka lakukan dengan terpaksa, baik bagi Raymond maupun Almoora.
Ramona tersenyum, “Nanti kau juga akan terbiasa. Mama bisa maklum jika itu alasanmu.”
“Jam berapa kau akan berangkat?”
“Sebentar lagi, nanti jika aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku akan membawa Mama ke Kota dan ….” Raymond menarik nafasnya sebentar lalu, “Almoora juga … jika gadis itu... mau!”
Raymond keluar kamar dengan menyandang ransel di punggungnya. Ia telah siap untuk berangkat ke kota. Hatinya juga sudah mantap meninggalkan Kampung Mastah karena ia merasa tidak diterima lagi di kampung tersebut.
Raymond menghentikan langkahnya, di depannya telah berdiri seseorang yang sangat ia kenal.
“Tuan Alden,” sapa Raymond.
“Aku mendengar kau akan pergi ke kota, jadi aku mampir sebentar untuk memastikan berita ini benar atau tidak.” Alden berkata dingin.
“Benar, aku akan berangkat sekarang!”
“Bagaimana dengan adikku? Kau akan meninggalkannya?” Alden memicingkan matanya ketika menanyakan hal itu pada Raymond.
Raymond melirik sebentar pada Almoora yang sedang duduk di sofa, kemudian ia kembali menatap Alden dengan tatapan dingin, persis seperti Alden menatapnya.
“Aku akan menjemputnya setelah aku mendapatkan pekerjaan. Aku harap kau bisa memakluminya.”
“Baguslah jika kau berfikir seperti itu, jika kau meninggalkannya, kau pasti tau apa yang akan aku lakukan!” Alden berkata samar di telinga Raymond. Nada ucapannya penuh dengan ancaman, hal itu membuat Raymond bergidik.
Raymond tidak takut dengan Alden, yang Raymond takutkan adalah nanti Alden akan melakukan sesuatu yang buruk pada Ramona selama ia tidak di rumah.
“Aku berangkat!” Raymond berjalan melewati Alden. Ia menghampiri Ramona dan mencium tangan mamanya itu.
Kemudian Raymond melihat sekilas kearah Almoora yang duduk di samping Ramona.
“Aku pergi!” ucapnya dingin pada gadis itu.
Almoora sama sekali tidak menjawab Raymond, ia hanya memandang Raymond dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh pria itu.
Lalu Raymond berbalik menuju Alden.
“Jangan khawatir, aku tidak akan melarikan diri,” ucapnya sambil menatap Alden.
“Aku percaya padamu!” jawab Alden.
Kedua mata pria keras kepala itu saling menatap. Mereka saling memegang janji masing-masing. Alden dengan janji jika Raymond meninggalkan Almoora maka ia akan menghancurkan hidup pria itu dan Raymond dengan janji akan menemukan Bryan serta menyeretnya ke hadapan Alden.