Raymond menghempaskan tubuh di kasur miliknya. Kasur tipis yang menemaninya selama beberapa tahun ini. Mata pria itu menerawang, pikirannya jauh ke depan, memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Janji manis Bryan yang akan memberikannya pekerjaan berakhir dengan memikul tanggung jawab yang pria b******k itu lakukan.
Menikah! menikah dengan seorang wanita yang sangat jauh dari harapan Raymond. Selama ini mendambakan wanita seperti Ramona. Wanita yang penyayang, sabar dalam menghadapi sesuatu, lembut. Ternyata ia malah menikahi wanita yang kasar dan mengerikan.
Sial!
Raymond sangat yakin sekali kalau teman masa kecilnya itulah yang melakukan perbuatan b***t itu. Meskipun Raymond belum bisa membuktikannya tapi ia berjanji akan mencari bukti tersebut dan menyerahkannya pada Almoora.
Baru beberapa hari menikahi gadis itu sudah membuat Raymond jengah dengan hidupnya. Ia sangat frustasi, di tambah ia gagal mendapatkan pekerjaan.
Segera Raymond bangkit dari tidurnya, dengan cepat ia mengambil dompet yang di simpan di saku belakang celana yang pria itu pakai. Lalu ia mengambil sesuatu dari dalam dompet tersebut.
Sebuah kartu nama.
Kartu nama yang diberikan Bryan kepadanya malam itu, kartu nama yang bertuliskan nama ayah Bryan, Tuan Almeer dan alamat perusahaan mereka.
“Aku akan ke sana,” ujar Raymond cepat.
“Aku akan menemui Tuan Almeer.”
Raymond mengganti pakaian nya dengan yang lebih pantas dan mengumpulkan berkas-berkas yang seperlunya yang akan ia bawa. Ia juga mengikat rambutnya yang sedikit panjang hingga wajahnya sekarang terlihat lebih rapi.
*
“Tuan Almeer sedang tidak di tempat.” Seorang wanita cantik yang duduk di meja depan lobby kantor itu berkata. Setelah mengucapkan kata tersebut, ia menatap layar LCD yang ada di meja kerjanya tanpa memedulikan Raymond yang masih berdiri di sana.
“Jam berapa aku bisa menemuinya? Aku bersedia menunggu sepanjang hari di sini,” ucap Raymond.
Wanita cantik itu mengangkat kepala, kembali memindai penampilan Raymond dari ujung rambut sampai ujung sepatu pria itu.
“Tidak bisa di pastikan. Anda tidak akan pernah bisa menemuinya jika tidak membuat janji terlebih dahulu.”
Raymond mendengkus, mau di rumah... mau di kantor... sama saja! Sama-sama susah untuk di temui. Apa orang kaya semuanya seperti itu? Apa salahnya menerima tamu yang datang, bisa jadi tamu yang datang itu mau memnyampaikan berita yang sangat penting.
“Aku akan tunggu di sana. Bisa kan?” tanya Raymond sambil menunjuk pada sebuah sofa yang terletak agak jauh dari meja wanita itu.
Wanita itu mengangguk, kemudian Raymond segera menuju sofa tersebut. Sambil menunggu Tuan Almeer, Raymond duduk sambil melihat ke sekeliling. Lobby kantor itu sepi, hanya ada satu dua orang yang berjalan dengan buru-buru masuk dan keluar lift sambil membawa tumpukan kertas di tangannya. Di sebelah sana ada dua orang security yang berjaga di depan pintu masuk dan satu orang wanita cantik yang menunggu di meja recepcionist.
Ini memang masih jam kerja, masih jam sepuluh pagi. Raymond yakin Tuan Almeer ada di salah satu ruangan di gedung berlantai lima belas tersebut. Pria itu akan menunggu sampai jam gedung kantor ini di tutup. Bagaimanapun dia harus bertemu dengan Tuan Almeer.
Raymond melirik benda yang melingkar di pegelangan tangan kirinya. Sudah jam satu siang, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang lewat di lobby gedung tersebut.
“Apa tidak ada satupun yang istirahat untuk makan siang?” Raymond berkata pada diri sendiri. Pria itu langsung bangkit menuju meja recepsionist.
“Permisi, apa tidak ada satupun yang beristirahat di kantor ini?” tanya Raymond.
Wanita itu mengangkat kepalanya.
“Jam istirahat siang nya sudah berakhir, Tuan.”
Raymond menautkan kedua alisnya, padahal target dia tadi adalah menghadang Tuan Almeer yang keluar untuk makan siang. Sementara lobby kantor kosong melompong, yang raymond lihat hanyalah wanita cantik ini dan dua security. Apa ada jalan lain yang di gunakan karyawan untuk keluar?
“Aku tidak melihat seorangpun yang beristirahat, termasuk anda... Nona,” ujar Raymond dengan memberi penekanan pada kata Nona.
Wanita itu mengangkat kotak bekal yang berisi makanan. Memberi tahu Raymond kalau ia sedang bekerja sambil makan siang.
“Hah, bekerja sambil makan?” gerutunya dan kembali ke tempat duduk semula.
Raymond membayangkan bagaimana rasanya menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Pasti sangat tersiksa karena saat makan tetap harus berada di meja masing-masing. Kemudian ia mengenyahkan pikiran itu, yang penting bagi Raymond adalah ia mendapatkan pekerjaan hingga Ramona tidak lagi bersepeda keliling kampung untuk menjajakan sarapan, dan Raymond harus bekerja di perusahaan itu.
Jam sudah menunjukkan jam tiga sore, Raymond masih betah duduk di tempatnya. Seorang security kemudian datang menghampiri Raymond.
“Maaf Tuan, apa yang bisa kami bantu?” tanyanya sopan.
“Aku ingin bertemu dengan Tuan Almeer. Ada yang perlu aku sampaikan,” jawab Raymond.
“Tapi Tuan Almeer tidak masuk kantor hari ini. Akan sia-sia jika kau terus menunggu di sini,” ujarnya lagi karena melihat Raymon menunggu dari jam sepuluh pagi.
Raymond mendesah, ia menatap wajah pria tua yang berdiri tenang di depannya.
“Apa kau tidak berbohong?” tanya Raymond penuh selidik.
“Tidak ada gunanya kalau aku berbohong. Aku hanya kasihan melihatmu menunggu dari tadi.” Pria berseragam itupun kembali ke tempatnya.
Raymond mengambil tas punggung yang ia letakkan di sebelahnya, ia menyandang tas tersebut dan berjalan menuju pintu keluar.
Sinar matahari sudah tidak menyengat lagi, Raymond memilih berjalan kaki menelusuri jalanan sambil melihat-lihat pekerjaan apa yang bisa ia lakukan untuk sekedar mencari tambahan uang supaya bisa membeli makan malam.
Beberapa meter di depan Raymond.
“Tolooong....”
Seorang wanita paruh baya berteriak minta tolong, ia berlari keluar dari pusat perbelanjaan. Raymond mendekati wanita itu.
“Dompet saya di jambret orang itu. Tolong kejar dia!” perintahnya pada Raymond.
Pria yang di tunjuk sudah berlari di balik jalan, masuk ke gang kecil antara dua bangunan. Raymond mengejar pria itu dengan mengambil jalan berbeda. Ia tahu seluk beluk jalan kecil di daerah sana. Raymond paling benci dengan penjambret, ia mati-matian bekerja untuk mendapatkan sedikit uang penyambung hidup sedangkan penjambret itu seenaknya saja mengambil milik orang.
“Mau lari kemana?” Hadang Raymond saat ia sudah berada di depan pria itu.
Melihat Raymond sudah berdiri di depannya, pria itu mengambil jalur kiri dan berlari sekencang mungkin.
Raymond yang tubuhnya jauh lebih besar dari pria itu dengan mudah mengejar dan langsung menangkap si penjambret.
“Kau mencuri dompet wanita itu?” Raymond menjepit kepala pria itu di balik lengannya.
“Ampun!!! Lepaskan aku,” mohon nya.
“Berikan dompetnya kepadaku!” hardik Raymond.
Pria itu mengulurkan dompet yang ia sembunyikan di balik celananya. Raymond menangkap benda bewarna coklat muda tersebut, lalu mendorong si pria penjambret ke depan hingga pria itu terhuyung.
“Aku akan mengembalikannya pada wanita yang memiliki dompet ini. Dan aku harap kau pergi dari sini. Tubuhmu sehat dan kuat, kenapa kau tidak mencari pekerjaan saja? Kenapa harus mencuri. Meresahkan!” umpat Raymond.
Wanita yang memiliki dompet tadi menunggu Raymond di pintu masuk pusat perbelanjaan, ia terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Melihat Raymond datang menghampirinya, ia juga melangkah mendekati Raymond.
“Tidak apa-apa. Pemuda yang menolongku telah di sini. Ia telah membawa dompet milikku,” ujarnya pada seseorang di seberang sana.
“Tidak... tidak perlu khawatir. Kau lanjutkan saja pekerjaan mu.”
Ia kemudian mematikan ponselnya dan memasukkan benda tersebut ke dalam tas miliknya.
“Terima kasih banyak,” ujarnya pada Raymond saat Raymond menyerahkan dompet itu kepadanya.
“Siapa namamu anak muda?” tanyanya kemudian.
“Raymond.”
“Owh... Raymond,” ulangnya sembari menganggukkan kepala.
“Aku tadi mau membayar belanjaan, tiba-tiba pria itu langsung menyambar dompetku dan berlari dengan sangat cepat ke luar. Untung kau datang di saat yang tepat. Sekali lagi terima kasih.”
“Tidak masalah. Kalau begitu... aku permisi dulu.” Raymond membalikkan tubuhnya, ia masih perlu berjalan sekitar lima belas menit lagi untuk sampai di rumah.
“Tunggu Raymond.”
“Ya, ada apa?”
“Kau bisa membantu ku sekali lagi?”
“Tentu.”
“Barang belanjaanku masih banyak di dalam. Kalau kau bersedia, tolong bantu aku membawakannya ke mobil. Aku akan memberikan uang jasa untuk pekerjaan mu nanti.”
Raymond tersenyum lebar.
“Tentu Nyonya,dengan senang hati aku akan membantumu.”
Wanita yang Raymond panggil Nyonya itu membawa Raymond ke dalam pusat perbelanjaan. Ia kemudian menunjuk beberapa barang belanjaan yang ia beli. Melihat banyaknya barang yang wanita itu beli Raymond yakin jika wanita ini bukan orang sembarangan, ia pasti memiliki uang yang sangat banyak.
Raymond membawa semua barang belanjaan itu ke mobil si wanita yang berada di area parkir.
“Terima kasih,” ucap wanita itu sekali lagi.
“Sama-sama Nyonya.”
Raymond membungkuk memasukkan barang terakhir ke dalam bagasi mobil. Saat yang sama sebuah kartu nama terjatuh dari dalam saku kemeja yang ia pakai. Kartu nama tersebut di pungut oleh wanita itu.
“Darimana kau mendapatkan kartu ini?” tanyanya ingin tahu.
“Seseorang memberikannya kepadaku,” jawab Raymond sambil membayangkan si b******k Bryan. Bahkan untuk menyebut namanya saja Raymond enggan.
“Kau bekerja di perusahaan ini?” tanyanya lagi.
“Tidak! Tetapi aku ingin bekerja di sana.”
“Kau sudah memasukkan lamaran kerja?”
Raymond membuang muka, wanita ini banyak bicara.
“Belum! Aku tidak bisa menemui pimpinan perusahaan itu. Dia orang yang sibuk.” Raymond memberi tahu.
“Harusnya kau meminta bantuan kepada orang yang telah memberikan mu kartu nama ini. Ini kartu nama ekslusif, hanya orang tertentu saja yang memilikinya.”
Raymond menoleh, menatap wanita yang berdiri di sampingnya.
“Maksud Nyonya?”
“Ini kartu nama ekslusif, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Siapa yang memberikan ini kepadamu?”
“Temanku,” ujar Raymond. Ia kemudian menghela nafasnya, akhirnya nama itu akan terucap juga dari mulutnya.
“Bryan.”
“Bryan? Kamu teman Bryan?” tanya wanita itu lagi.
“Ya.” Raymond menutup pintu bagasi mobil.
“Anda mengenal Bryan, Nyonya?” tanya Raymond penasaran.
“Ya tentu. Bryan anakku.”
“Oh ya!” Raymond berujar senang. Tidak bisa bertemu dengan Tuan Almeer justru sekarang ia bersama istrinya.