Menjadi Pengawal Maria

1429 Kata
Raymond langsung memutar otaknya saat mengetahui wanita yang ia tolong ini adalah Ibu Bryan. Ini adalah kesempatan besar. Tidak bisa bertemu dengan Tuan Almeer ternyata ia bisa bertemu dengan Nyonya Almeer di sini, di tempat yang tidak di duga oleh Raymond. “Kau teman Bryan sewaktu kuliah?” tanya wanita itu, menyelidik. Tamatan luar negeri harusnya mendapatkan rekomendasi untuk bekerja di perusahaan sesuai kemampuannya, kenapa pria yang ada di depannya ini mencari-cari pekerjaan? “Bukan Nyonya. Aku hanya teman masa kecil Bryan,” ungkap Raymond jujur. Wanita itu mengangguk mengerti kemudian tersenyum lebar. “Berarti kau dari Kampung Mastah?” tebaknya. Giliran Raymond yang mengangguk. “Benar Nyonya.” “Jika kau memang sangat membutuhkan pekerjaan, kau bisa datang ke rumah kami besok. Jam sepuluh.” “Benarkah Nyonya?” tanya Raymond tidak percaya. “Hmmm... ini alamat rumah kami.” Wanita itu memberikan sebuah kartu nama dengan warna yang senada yang di berikan oleh Bryan waktu itu. “Saya pasti akan datang besok,” ujar Raymond saat menerima kartu nama dari tangan Nyonya Almeer. “Baiklah, akan saya tunggu... kalau begitu saya pulang dulu.” Nyonya Almeer masuk ke dalam mobil. Raymond memandang mobil bewarna hitam metalic bergerak keluar dari area parkir. Ia melambaikan tangannya saat mobil itu berbelok dan berbaur dengan mobil lain di jalan raya. “Yes!” ujar Raymond senang. Pria itu mencium kartu nama tersebut sebelum memasukkan benda itu ke dalam dompet. Dengan perasaan bahagia dan setengah berlari Raymond pulang ke rumahnya. Pria itu sudah tidak sabar lagi menunggu hari esok. * Raymond menatap pagar besi warna putih yang melindungi rumah besar ber cat sama di baliknya. Rumah yang juga bewarna putih menjulang besar di hadapan Raymond. Sekali lagi Raymond memastikan alamat yang tertera di kartu nama sama dengan yang tertempel di sisi kanan pagar. “Ini benar alamatnya,” gumam Raymond. Dengan mantap ia melangkahkan kakinya mendekati gerbang itu. “Permisi.” Raymond memanggil seseorang yang bisa membukakan pintu pagar. “Permisi,” panggilnya beberapa detik kemudian, karena panggilan pertama tidak mendapat sahutan. Pria itu menunggu dengan gelisah. Rumah itu terlihat sepi, tidak ada juga penjaga yang berdiri di dekat pagar seperti yang sering ia lihat di filem-filem. Rumah besar yang memiliki pos penjagaan. Karena tidak ada sahutan juga, Raymond melangkah ke sudut pagar, barangkali ia bisa memanggil seseorang dari sana. Lalu mata Raymond menangkap sebuah bel rumah yang tergantung di sana. “Sial! Rupanya tersedia doorbell.” Raymond mentertawakan dirinyan sendiri. Harusnya ia tahu kalau rumah orang kaya suka memanfaatkan teknologi doorbell yang di lengkapi dengan kamera dan LCD monitor. Tangan Raymond terulur dan memencet tombol di sana. “Siapa?” tanya seseorang dari dalam melalui pengeras suara. “Raymond. Saya sudah ada janji dengan Nyonya Almeer.” “Owh, baiklah!” Tidak lama kemudian, pintu besar rumah itu terbuka. Seorang wanita berseragam keluar dari dalam dan membuka pagar. “Silahkan masuk, Nyonya Maria sudah menunggu di dalam.” Raymond mengikuti wanita itu ke dalam. Kata pertama yang Raymond simpulkan saat melangkahkan kaki ke dalam adalah rumah keluarga Almeer sangat mewah, ukuran rumah ini dua kali lebih besar dari rumah mereka yang di kampung Mastah Sangat besar dan luas. “Raymond, kau sudah datang?” Maria, istri Almeer berjalan menuruni tangga. Wanita itu menyapa Raymond ramah. “Sudah Nyonya.” “Silahkan duduk.” Tunjuknya pada sebuah sofa besar bewarna kuning gading. Sofa yang terletak di tengah-tengah ruangan dengan meja kaca yang juga berukuran besar sebagai pembatas sofa. Di langit-langit ruangan menjuntai sebuah lampu hias tiga tingkat. Kombinasi yang sangat sempurna untuk ruang tamu yang di siapkan untuk menerima tamu penting dari kalangan atas. Ragu Raymond untuk duduk di sana, rasanya golongan bawah sepertinya tidak pantas untuk mendudukkan diri di sofa mewah itu. Jangan-jangan nyonya Almeer salah menunjuk sofa. “Silahkan duduk,” ulang Maria. “Terima kasih, Nyonya.” Karena Maria sudah mengatakan sekali lagi maka Raymond yakin jika ia memang di suruh duduk di sana. “Aku sudah bicara dengan suami ku, kebetulan sekarang ia sedang berada di luar negeri. Mengenai pekerjaan yang akan aku berikan kepadamu, itu bukanlah pekerjaan yang akan kau kerjakan di kantor seperti yang kau inginkan.” Maria menghentikan ucapannya beberapa saat, lalu kembali melanjutkan. “Aku menawarkan pekerjaan kepadamu sebagai bodyguard. Aku butuh seseorang yang bisa melindungi aku. Kebetulan pekerjaan itu sebelumnya milik seseorang, orang itu sekarang ikut dengan suamiku ke luar negeri dan berkemungkinan... dia akan menetap di sana.” Maria menjelaskan pekerjaan apa yang ia tawarkan pada Raymond. Bagi Raymond, pekerjaan apapun akan ia lakukan asalkan ia bisa berada dekat dengan keluarga Bryan. Persetan dengan ijazah sarjana yang baru saja ia raih, Raymond sudah tidak memedulikan itu lagi. Baginya bisa masuk ke keluarga itu adalah pencapaian tertinggi nya untuk saat ini. “Tidak masalah, Nyonya. Aku bersedia melakukan apa saja.” Raymond tersenyum lebar. “Baiklah Raymond, kamu bisa memulai kerja hari ini.” “Sekarang Nyonya.” Raymond dengan cepat bertanya. “Iya, jadi kalau aku akan keluar sudah ada yang ikut dan menjagaku,” jawab Maria tak kalah cepat. “Apa kau keberatan?” “Tidak! Tidak! aku tidak keberatan. Aku hanya kaget karena tidak menyangka akan langsung bekerja pada hari ini.” “Karena kau orang baik dan kau adalah teman Bryan makanya aku memberikan pekerjaan ini kepadamu.” Maria tersenyum tipis saat mengucapkannya. “Terima kasih atas kepercayaan anda, Nyonya. Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” “Nanti siang aku mau keluar, kau ikut menemaniku. Untuk sekarang, kau bisa istirahat di kamar mu.” Maria memberitahu. “Bahadir.” “Ya, Nyonya.” Seorang pria berseragam yang di panggil Bahadir datang menghampiri. Ia berdiri di belakang Raymond. “Bawa Raymond ke kamarnya. Mulai sekarang dia akan bekerja menggantikan Deriyan.” “Baik. Ayo anak muda, kau ikuti aku.” Bahadir bersuara. Raymond langsung saja bangkit dan mengikuti Bahadir. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya ketika ia di bawa ke kamar yang di maksud Maria tadi. “Tuan,” panggil Raymond. “Ada apa?” Bahadir menoleh ke belakang, ia menunggu Raymond untuk bisa berjalan sejajar dengannya. “Apa dengan menjadi pengawal nyonya aku harus menginap di sini?” “Tentu saja. Kita tidak tahu jam berapa nyonya akan keluar.” Mereka sekarang berjalan bersisian. Usia Bahadir sudah sangat tua, rambut dan jenggotnya sudah memutih. Ia terlihat sangat berwibawa dengan penampilannya yang rapi denagn seragam yang ia pakai itu. Jika Raymond memperhatikan Bahadir pasti usia nya sudah lebih dari setengah abad. “Apa itu suatu keharusan?” tanya Raymond. Bahadir menghentikan langkahnya. “Iya, Deriyan siap dua puluh empat jam menemani kemanapun nyonya akan pergi. begitu juga dengan mu nanti,” jawabnya tegas. “Kenapa Deriyan berhenti bekerja?” tanya Raymond penasaran, seharusnya seseorang yang siap seperti Deriyan pasti dipertahankan. “Dia tidak berhenti bekerja, tapi ia di bawa tuan ke luar negeri dan akan bekerja di sana,” jawab Bahadir, lalu ia berhenti di sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat. “Ini kamarmu anak muda, di dalam sudah tersedia kamar mandi, sebentar lagi nyonya akan keluar. Kau bisa bersiap-siap.” Bahadir lalu membuka pintu kamar dan membawa Raymond masuk. Pria itu menuju lemari yang terletak di salah satu sisi kamar. “Ini seragam kerja, kau bisa menggunakan nya jika akan bepergian bersama nyonya.” Ia lalu memindai tubuh Raymond dari ujung kepala hingga kaki. “Sepertinya ukuran seragam ini pas dengan mu, tubuhmu sama besarnya dengan Deriyan,” lanjutnya. “Terima kasih, Tuan.” “Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan, kau bisa menghubungi aku. Kamarku berada dua kamar dari kamar ini.” Bahadir berkata kemudian berlalu dari hadapan Raymond. Sepeninggalnya Bahadir, Raymond menyusuri kamar miliknya, masuk ke kamar mandi melihat-lihat isi di dalamnya dan terakhir berdiri di dekat jendela. Kamar ini cukup luas untuk Raymond tempati sendiri, dan ia sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan sekaligus tempat tinggal secara bersamaan. Di saat ia menatap ke luar jendela, Raymond tiba-tiba teringat dengan Almoora. Ia pernah berjanji kepada Ramona akan membawa gadis itu bersamanya jika ia sudah mendapatkan pekerjaan. Lalu raymond mendesah, akan sangat sulit baginya membawa dua wanita itu jika ia saja tinggal di rumah Tuan Almeer. Ini artinya Raymond harus mencarikan rumah baru untuk mereka tempati. “Aku harus banyak menabung biar bisa membeli rumah sederhana untuk mama tempati bersama gadis itu.” Raymond berkata pada diri sendiri. Ia lalu kembali menatap jauh ke depan, memikirkan bagaimana caranya ia membuka kedok Bryan dan membawa si b******k itu ke hadapan Almoora. Raymond harus membersihkan nama baiknya di depan gadis itu dan keluarganya, juga di depan semua orang di kampung Mastah, terlebih lagi nama baiknya di depan ibunya sendiri, Ramona.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN