Keputusan Almeer

1553 Kata
Raymond sudah menjalankan pekerjaan di hari pertamanya. Siang tadi ia menemani Nyonya Maria pergi ke beberapa yayasan yang ia kelola. Tidak Raymond sangka jika wanita itu berhati dermawan. Cerita-cerita yang ia dengar dari warga Kampung Mastah tentang kebaikan orang tua Bryan selama ini sudah ia buktikan. Tak tanggung-tanggung uang yang di keluarkan Maria untuk satu yayasan, tadi mereka mendatangi tiga yayasan. Dua yayasan mengelola anak yatim piatu dan satu yayasan lagi mengelola orang tua yang di tinggal oleh anak mereka. Orang-orang jompo yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan di usia senja mereka. Dan Nyonya Maria yang mewujudkan itu semua dengan yayasan yang berada di bawah asuhannya. Mereka... orang tua dan anak-anak yatim piatu ataupun anak-anak terbuang yang sudah tidak punya keluarga lagi di selamatkan dan hidup bahagia di bawah yayasan asuhan Nyonya Maria. “Habis ini kita kemana lagi, Nyonya?” Selain menjadi pengawal pribadi Maria, Raymond juga merangkap sebagai sopir pribadi wanita itu. “Kita pulang dulu, besok masih ada yayasan yang akan kita kunjungi,” jawab Maria sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, wanita itu sepertinya sangat lelah karena ia terlihat memejamkan mata. Raymond melihat itu dari spion kecil di depannya. Sekarang Raymond tahu, untuk apa barang belanjaan yang di beli Maria kemaren di pusat perbelanjaan. Sebagian barang itu sudah berpindah tempat ke tiga yayasan tadi. Benar-benar luar biasa, belanja barang yang sangat banyak dan meninggalkan uang yang jumlahnya juga sangat banyak. Pantas saja ia menjadi intaian pencuri saat ia keluar rumah seorang diri. “Setelah ini saya boleh keluar sebentar, Nyonya?” tanya Raymond hati-hati. “Kau mau kemana?” tanya Maria tanpa membuka mata. “Mau ke rumah dulu, mengambil pakaian milikku yang tertinggal di sana. Sekalian mau pamit dan menyerahkan kunci rumah dengan pemilik rumah yang. Sebelumnya saya tidak tahu kalau Nyonya menyediakan tempat tinggal,” jelas raymond. “Owh, silahkan. Bawa saja mobil yang satu lagi jika kau membawa barang yang banyak,” tawar Maria. “Tidak, tidak ada barang yang banyak. Hanya satu tas saja,” tolak Raymond. Ia bisa pergi dengan naik taxi. “Baiklah kalau begitu.” “Terima kasih banyak Nyonya.” “Hhmmm.” Maria menanggapi dengan deheman. Setelah mengantarkan Maria pulang ke rumah, pria itu langsung pergi sesuai dengan yang ia katakan tadi pada Maria. Dan disnilah Raymond sore ini, di kamar kecil yang sudah memberinya kenyamana selama beberapa tahun belakangan ini.   Raymond mengambil tas miliknya, tas yang ia bawa dari rumah, tas yang berisi baju dan sedikit kebutuhan pribadinya. Kemudian ia menemui pemilik rumah untuk menyerahkan kunci. Hari ini juga, Raymond memutuskan untuk pindah dari rumah tersebut dan siap untuk tinggal bersama Nyonya Maria. Beberapa langkah rencana sudah tersusun dalam kepala Raymond, jika ia bisa membuktikan Bryan pelaku sebenarnya maka ia akan menyeret pria b******k itu ke hadapan Almoora. Raymond sudah tidak sabar lagi untuk melakukan itu, Almoora dan keluarganya harus tahu siapa pelaku kejahatan sebenarnya. Langkah pertama tentunya mulai mengambil kepercayaan Maria. “Apa semua urusan mu di luar sudah selesai, Anak muda?” tanya Bahadir saat Raymond hendak masuk ke kamarnya. Pria itu sedang berdiri di depan pintu kamar yang jaraknya berada dua pintu dari kamar Raymond. “Sudah, Tuan.” “Lain kali kalau ada keperluan di luar, kau harus memberi tahu aku. Kemana dan sama siapa kau pergi,” ujarnya penuh penekanan. “Baik.” Raymond mengangguk sembari mengucapkan kata itu. Ia lalu masuk ke kamarnya dan meletakkan tas yang ia sandang di depan lemari kamar. “Huh, Tuan Bahadir. Pria tua cerewet yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Aku harus berhati-hati dengan nya,” ujar Raymond sambil menyusun satu per satu pakaian nya ke dalam lemari. Sementara itu, di belahan bumi yang lain. “Daddy tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran.” “Aku lebih senang di sini, Dad.” “Tapi sebelumnya kau sudah berjanji akan pulang, bekerja menggantikan daddy di perusahaan dan menemani mommy mu.” Dua orang pria beda usia itu tengah menikmati makan siang di sebuah rumah makan di Los Angeles. Almeer dan Bryan, ayah dan anak itu memilih duduk di ruangan terbuka dengan dua porsi tocaya masing-masing berada di depan mereka. “Aku ingin membuktikan pada Daddy dan mommy keahlianku. Perusahaan di sana sudah berkembang, Daddy sudah berhasil membawanyake posisi paling tinggi. Tidak ada yang sanggup bersaing dengan keahlian Daddy dalam mengelola sebuah perusahaan. Sementara perusahaan yang di sini baru saja di dirikan.” Bryan memasukkan satu sendok tocaya ke dalam mulutnya, ia buru-buru mengunyah makanan tersebut dan menelannya. Sementara Almeer tetap mengunyah makanan dengan pelan sambil memperhatikan putranya berbicara. “Aku ingin mengembangkan perusahaan di sini seperti Daddy dan mommy yang berhasil mengembangkan perusahaan di sana. Aku ingin membuktikan pada mommy kalau aku bisa seperti Daddy,” ungkap Bryan. “Please Dad... kasih aku kepercayaan untuk menjadi pemimpin di sini. Aku bisa Daddy andalkan, akan aku buktikan itu!” rengek Bryan. “Bryan... bukannya daddy tidak percaya pada mu. Kamu sama sekali belum punya pengalaman memimpin perusahaan seorang diri. Kamu perlu belajar bagaimana caranya berbisnis dengan baik, bagaimana cara menghadapi lawan dengan cantik. Di sana... jaringan kita sudah besar dan kuat. Sudah ada orang-orang kuat yang berada di belakang kita, yang akan melindungi setiap keputusan yang akan kau ambil nanti.” “Sementara di sini... umur perusahaan ini baru tiga bulan. Ibarat bayi yang baru lahir, ia belum bisa apa-apa. Butuh orang yang berpengalaman untuk membesarkannya. Dan orang itu bukan kamu!” tegas Almeer. “Ck... Daddy selalu meremehkan kemampuanku.” Bryan mendecih dan membuang muka. Selalu saja begitu. Almeer tidak pernah memberikan kekuasaan penuh pada Bryan. Almeer selalu meragukan kemampuan Bryan. Dan yang paling Bryan tidak suka adalah sikap Almeer yang selalu menguntit kemanapun dan apapun yang ia lakukan. Bryan benci akan hal itu. “Selama ini kau belum bisa membuktikan kepada daddy kalau kau pria yang bertanggung jawab. Tentu saja daddy meragukanmu. Kuliahmu saja setiap tahun selalu berantakan, daddy terus-terusan membayar orang untuk menyelamatkan nilai-nilai mu. Bagaimana mungkin daddy mempercayakan sebuah perusahaan yang baru saja lahir ketangan mu?” Wajah Bryan merah padam mendengar ocehan Almeer. Kalau saja pria yang sedang menyindirnya itu bukan ayahnya, Bryan akan melayangkan satu pukulan di wajahnya. Tetapi yang berucap kasar itu jelas-jelas adalah Almeer, ayah sekaligus orang yang paling berkuasa di muka bumi Eropa. Tidak ada yang tidak mengenal Almeer di kerajaan bisnis Eropa. “Kau harus belajar dulu memimpin baru daddy bisa memberikan kepercayaan penuh kepadamu.” Almeer berkata sambil meletakkan sendok yang ia pegang di piring. Piring putih itu sudah bersih, semua isinya sudah berpindah ke dalam perut Almeer. “Tapi aku mau di sini, Dad,” ujar Bryan tak mau kalah. “Aku lebih tertantang belajar dari perusahaan yang baru berdiri ketimbang belajar dari perusahaan yang sudah besar,” lanjut Bryan. Almeer menatap putranya dengan sungguh-sungguh. Akhirnya kata kunci itu keluar juga dari mulut Bryan. Sebenarnya sejak awal Almeer ingin mendengar kata tersebut, tertantang belajar dari perusahaan yang baru berdiri. Jika Bryan sudah mengucapkan hal itu, artinya putranya itu sudah mulai bisa berfikiran waras. Ya, Almeer selalu meragukan kemampuan Bryan mengingat sepak terjang anak itu yang selalu membuat masalah. Ada saja keributan yang di lakukan Bryan dan berakhir dengan penyelesaian masalah oleh orang suruhan Almeer yang secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bryan. Hal ini juga yang membuat ia sering bertengkar dengan istrinya, Maria. “Daddy masih belum bisa melepaskanmu seratus persen,” putus Almeer. Bryan mendesah kecewa. “Selain Deriyan sebagai sopir pribadimu, daddy juga akan menempatkan Tuan Pedro di perusahaan yang akan membantumu.” “What?! Tuan Pedro? Yang benar saja, Dad....” Bryan berkata sambil menurunkan kaki kanannya yang tadi berada di atas kaki kiri, kedua bola mata pria itu membesar. Kehadiran Deriyan, sopir pribadi serta orang kepercayaan mommynya sudah menjadi kendala bagi Bryan, sekarang daddy nya memberi hadiah lagi kepadanya dengan menghadirkan Tuan Pedro di perusahaan. Ini sama saja artinya memberi kebebasan pada Bryan dengan kaki dan tangan masih terikat kuat. “Kenapa harus Tuan Pedro, Dad? Tidak adakah orang lain?” tawar Bryan. Tuan Pedro adalah salah satu orang kepercayaan Almeer dalam berbisnis. Tidak hanya sikapnya yang garang, wajahnya juga teramat garang dan dingin, di wajah pria itu tidak ada sedikitpun ekspresi yang bisa Bryan baca, entah dia dalam keadaan sedih atau senang. Sedikitpun Bryan tidak pernah melihat dia tersenyum. Bryan saja heran, apa dia tidak pernah bahagia di dalam hidupnya hingga menarik dua sudut bibir saja dia tidak pernah ia lakukan. “Tuan Pedro punya istri dan anak-anak. Jika dia di sini, ia pasti meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Apa Daddy tidak kasihan memisahkan Tuan Pedro dengan keluarganya?” Bryan mencoba mencari alasan agar kehadiran Tuan Pedro bisa di gantikan oleh orang lain yang lebih bisa Bryan atur, setidaknya bisa Bryan iming-imingi dengan uang tutup mulut jika Bryan ingin melakukan sesuatu. “Tuan Pedro sudah berada di sini dengan keluarganya, jadi kau tidak perlu khawatir.” Bryan mendengkus. Andai saja.... andai saja orang itu bukan daddynya. “Jika kau keberatan maka besok kau harus ikut dengan daddy pulang,” ancam Almeer. “Ya... ya... terserah Daddy saja. Terserah siapapun yang akan Daddy tempatkan di sekitarku. Aku tidak akan menolaknya lagi karena aku mau di sini, aku tetap tidak mau pulang!” ketus Bryan. Mengalah dan menerima semua keputusan Almeer lebih baik daripada dia di bawa pulang. Bryan meneguk habis minuman di gelasnya untuk menghilangkan rasa frustasi yang di sebabkan oleh keputusan mutlak Almeer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN