Menjemput Almeer

1308 Kata
Ramona duduk di samping Almoora yang sedang membaca buku di teras samping rumah. Wanita itu duduk sembari tersenyum sambil meletakkan ponselnya di meja. Ia baru saja selesai bicara dengan Raymond melalui panggilan telepon. “Raymond sudah mendapatkan pekerjaan,” ujar wanita itu memberi tahu. Almoora hanya melirik sebentar pada ramona lalu melanjutkan bacaan. Tidak ada ekspresi apapun yang di tampilkan oleh gadis itu. “Kata Raymond, kalau ia sudah mendapatkan gaji pertama, ia akan membawa kita ke kota,” ujar Ramona lagi. Almoora tetap melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Melirik Ramona sebentar lalu kembali pada aktifitasnya membaca buku. Ramona menggaruk kepalanya, apa dua berita yang ia sampaikan ini tidak berpengaruh sama sekali pada gadis itu? Setidaknya ada sedikit ucapan yang keluar dari mulutnya mengenai keberhasilan Raymond. “Kamu tidak keberatan jika nanti Raymond membawa kita ke kota, ‘kan?” tanya Ramona lagi, mencoba peruntungan kalau-kalau dengan pertanyaan ini Almoora akan mengalihkan pandang dari buku yang sedang ia baca. Dan benar saja, Almoora langsung menutup buku yang ia baca. Gadis itu memiringkan tubuhnya ke samping agar bisa melihat Ramona sepenuhnya. “Kalau aku di izinkan untuk memilih, aku tidak akan pernah mau menikah dengannya, aku akan memilih untuk tetap tinggal di sini bersama saudaraku. Tapi kalian tidak pernah menyetujuinya dan memaksa aku untuk hidup dengan orang yang telah merusak masa depanku. Jadi untuk apa Mama memberikan informasi tentang nya kepada ku? Bagiku... dia mendapatkan pekerjaan atau tidak sama saja. Menikah dengan nya sudah membuat hidupku seperti di neraka meskipun dia bekerja ataupun tidak bekerja,” ketus Almoora. “Dia.... suami mu Almoora. Namanya Raymond!” Ramona menekankan kata-katanya persis seperti yang dia lakukan pada Raymond tempo hari, saat pria itu tidak mau menyebutkan nama Almoora. Almoora menelan ludah, ia kemudian membuka kembali buku yang sudah ia tutup dan melupakan apa yang sudah ia ucapkan. Ramona kemudian bangkit dan berjalan dengan lesu ke belakang. Sepertinya menyampaikan kabar bahagia ini kepada Almoora tidak berpengaruh apapun pada gadis itu. Dia menganggap Raymond bukan siapa-siapa nya. Dan Almoora menatap kepergian Ramona dengan perasaan bersalah. Apa dia terlalu kasar pada wanita itu? Padahal Ramona sama sekali tidak bersalah dengan kasus yang telah menimpanya. Gadis itu kemudian bangkit dan mengikuti Ramona ke belakang. “Maafkan aku, Ma,” ujarnya pelan. Ramona menoleh, lalu tersenyum kecil menanggapi ucapan Almoora. “Mama tau kalau kau masih belum bisa melupakan kejadian itu dan menerima kehadiran Raymond. Mama tidak akan memaksanya. Tapi mama yakin, kau nanti akan berubah pikiran karena Raymond tidak sejahat yang kau kira. Dia anak yang baik, anak yang bertanggung jawab. Mungkin saja malam itu Raymond....” “Aku tidak ingin lagi membahasnya, Ma,” potong Almoora. “Baiklah... mama juga tidak akan membahas malam itu lagi.” Wanita itu meletakkan secangkir teh di depan Almoora, dan satu cangkir lagi ia ambil untuknya. Almoora mengambil teh yang telah Ramona sajikan, ia kemudian membawa gelas kaca itu ke bibirnya, meneguk cairan manis tersebut beberapa tegukan. “Berapa usianya, Ma?” tanya Almoora kemudian. “Ha?” Ramona terkesiap, umur siapa yang gadis itu tanyakan. “Berapa usianya?” tanya Almoora lagi. “Maksudmu... usia Raymond?” Almoora menganggukkan kepalanya. “Dua puluh lima tahun.” Ramona menjawab sambil tersenyum lebar. Ia cukup senang dengan pertanyaan itu. “Tiga tahun lebih muda dari Bang Alden,” gumam Almoora. “Apakah dia pernah memiliki kekasih?” tanya Almoora lagi. “Tidak pernah. Mama tidak pernah melihat ia dekat dengan gadis manapun.” Almoora kemudian mengangkat kembali gelas teh miliknya, lalu menghabiskan sisa yang ada di gelas tersebut sampai habis. Ramona memperhatikan sambil tersenyum senang, meskipun gadis yang di depannya ini masih menjaga jarak dari Raymond setidaknya ia sudah mulai mencari tahu siapa Raymond sebenarnya. * “Raymond, dua jam lagi kita akan ke bandara. Siapkan mobil hitam yang letaknya di garasi pertama,” perintah Maria setelah wanita itu selesai menghabiskan sarapan nya. “Baik Nyonya.” Raymond yang juga baru selesai menghabiskan sarapannya segera bangkit dari duduknya. Terlebih dahulu ia meletakkan piring dan gelas bekas pakainya ke bak pencucian piring. Ia bersama pembantu yang lain sama-sama sarapan meskipun di meja yang berbeda dengan Maria. Kalau di pikir-pikir, Raymond bisa di katakan sangat beruntung bekerja di rumah Nyonya Maria meskipun hanya sebagai sopir dan assisten pribadi wanita itu ketimbang bekerja di perusahaan. Pekerjaan nya sekarang sangat menghemat pengeluarannya karena biaya tempat tinggal dan makannya sudah di tanggung oleh Nyonya Maria. “Pasti tuan akan kembali,” bisik salah seorang pelayan Maria. “Iya, jelas saja yang di jemput Nyonya ke bandara itu pasti tuan.” Raymond mendengarkan percakapan itu dan kemudian berlalu menuju garasi mobil, menyiapkan mobil hitam yang di sebut oleh Maria tadi. Tepat dua jam seperti yang di sebut Maria tadi, kini Raymond sedang dalam perjalanan menuju bandara. “Apa tuan yang kembali, Nyonya?” tanya Raymond. “Hmmm.... iya.” “Apa kembali bersama dengan Bryan?” Raymond bertanya lagi, kali ini ia sangat hati-hati melontarkan pertanyaan tersebut. Ia hanya berusaha menebak kalau Tuan Almeer akan kembali bersama Bryan. “Tidak! Bryan memutuskan tetap tinggal di Los Angeles.” Terdengar helaan nafas kecil yang keluar dari mulut Maria saat menjawab pertanyaan Raymond. “Padahal aku sangat ingin dia berada di sini, di samping kami. Dia juga sudah berjanji setelah menyelesaikan kuliahnya akan bekerja di perusahaan ayahnya, tapi memang anak itu tidak bisa di tebak apa kemauannya. Setelah ia pulang dari Amerika, ia hanya di sini selama satu minggu lalu memutuskan untuk kembali ke Los Angeles. Karena itulah ayahnya menyusul dia ke sana, membujuknya untuk kembali ke sini. Tapi sepertinya gagal. Ia bersikeras untuk tetap berada di sana.” Maria kembali menghela nafasnya, kemudian memperbaiki posisi duduknya. “Apa kau tidak bertemu dengan nya saat ia pulang kemaren?” tanya Maria mengalihkan ceritanya tentang Bryan tadi. “Bertemu, aku bercerita kalau aku membutuhkan pekerjaan dan Bryan menyerahkan kartu nama itu kepadaku dan meminta aku datang ke perusahaan. Saat aku datang aku tidak bisa menemui siapapun karena tidak membuat janji terlebih dahulu. Saat itulah aku bertemu dengan mu, Nyonya. Ketika ada pencopet yang mengambil dompetmu saat berbelanja di pusat perbelanjaan waktu itu,” terang Raymond dan terlihat Maria menganggukkan kepalanya. Mobil yang Raymond kendarai telah memasuki kawasan bandara dan menuju pintu kedatangan. Lalu Maria bersiap-siap untuk turun. “Kau tunggu saja di area parkir. Nanti kalau suamiku sudah keluar aku akan menghubungi mu,” perintah Maria sebelum membuka pintu mobil. “Baik, Nyonya.” Raymond membawa mobil hitam tersebut menuju area parkir. Sambil menunggu panggilan dari Maria, pria itu membayangkan seperti apa wajah Tuan Almeer. Jika Maria orangnya sangat baik dan dermawan, bagaimana dengan Tuan Almeer? Apakah pria itu juga sama dermawan nya dengan sang istri? Itu yang ada dalam pikiran Raymond. “Pasti tidak,” gumam pria itu menjawab pertanyaan nya sendiri. “Wajah Bryan memang mirip dengan Nyonya Maria, tapi sifatnya berbeda. Aku yakin sikap buruknya itu di turunkan dari ayahnya. Tuan Almeer pasti orang yang memiliki prilaku buruk, keras dan tidak bertanggung jawab, persis Bryan,” desis Raymond. Pria itu menduga-duga sendiri sikap Tuan Almeer, sosok yang belum pernah ia jumpai sama sekali. Dugaannya itu di perkuat dengan tidak adanya karyawan Tuan Almeer yang beristirahat di perusahaan waktu itu. Masa iya, waktu makan tetap duduk di meja kerja mereka masing-masing sambil makan bekal makan siang yang mereka bawa dari rumah? Padahal waktu istirahat seharusnya bisa di gunakan juga untuk berkeluh kesah dan bercerita dengan sesama karyawan lain. Tiba-tiba Raymond menjadi bersyukur telah bertemu dengan Nyonya Maria dan menjadi sopir pribadi serta pengawal wanita tersebut. Ponsel Raymond bergetar, dan ia langsung meraih benda pipih yang ia letakkan di atas dashboard. Sebuah pesan masuk dari Maria. [Suamiku sudah keluar, kami menunggu di pintu kedatangan] Ia meletakkan kembali ponselnya di dashboard, Segera Raymond menjalankan mobilnya karena ia tidak mau kedua majikan nya tersebut terlalu lama menunggu di sana. Raymond sudah tidak sabaran lagi bertemu dengan Tuan Almeer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN