Raymond salah besar. Tuan Almeer tidak seperti yang ia bayangkan. Pria itu sangat ramah dan mudah tersenyum. Dia tidak segan untuk menjabat tangan Raymond padahal Raymond bukanlah siapa-siapa, Raymond hanyalah seorang sopir dan pengawal istrinya, orang baru yang baru saja bekerja dengan istrinya. “Jadi kau berasal dari Kampung Mastah?” tanya Almeer sekali lagi. “Iya benar, Tuan.” Raymond menjawab dan terus fokus mengemudi. “Kami sekali sebulan atau sekali dalam dua bulan selalu ke sana. Kau pasti tidak pernah datang ke rumah kami,” ujarnya lagi. “Tidak pernah, Tuan. Aku sudah lama di sini, sekolah dan menamatkan kuliah di sini.” “Owh... pantas,” ujarnya lagi sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian suasana diam sebentar, Raymond tetap fokus dengan pekerjaan nya. Tuan Almeer terli

