“Bryan... mama sudah rindu.” Maria langsung mengejar putranya dengan merentangkan ke dua tangan hendak memeluk Bryan. Deriyan yang berjalan di sisi pria itu menatap geli pada ekspresi wajah Bryan yang mendadak pias saat mendapat perlakuan manja dari Maria. “Ah mamaaa, mama buat aku seperti anak kecil,” geram Bryan tidak suka. “Kau memang anak mama, anak mama yang belum juga dewasa,” protes Maria sambil menghujani Bryan dengan kecupan di seluruh wajahnya. “Belum dewasa gimana? Aku berada di sini karena aku sudah melakukan adegan dewasa di LA sana, apa perlu aku perjelas lagi?” Maria terkekeh, lalu mengurai pelukannya. “Kau ini, jangan terlalu vulgar seperti ini.” Satu tangannya mengusap lengan Bryan. “Ini kenyataan, Ma. Dan ini sudah tidak bisa aku sembunyikan lagi dari siapapun. Sel

