Setelah sampai di kamarnya, Lenny mencoba menenangkan hatinya dan berbaring tengan tenang, ia memeluk guling dengan erat, ia menangis tanpa suara, semua penderitaan dalam hidupnya ia tumpahkan semua dalam tangisan yang tertahan, ia tak ingin membuat keributan pada malam itu.
Ghiyan masuk ke dalam, ia langsung berbaring di atas kasur tanpa memperdulikan Lenny yang terbaring di sisi ranjang dengan tangisan dalam diam.
***
Sayup-sayup terdengar adzan subuh, Lenny bangun dengan mata yang sedikit sayu. Matanya bengkak karena semalaman menangis. Saat bangun ia melihat Ghiyan yang tidur terlelap tanpa dosa di sampingnya.
'Apa yang harus aku lakukan? Aku sekarang benci melihat wajahnya, lalu aku harus bagaimana?' batin Lenny.
Saat melihat ke arah nakas yang ada di sampingnya, ia melihat ponselnya, lalu meraihnya.
"Semalam ponsel aku matikan sebelum aku tidur, kira-kira ada yang hubungi aku? Tapi malam-malam siapa yang akan telepon? Aduh Lenny sadarlah," gumam Lenny sambil menepuk jidatnya.
Dengan perut yang sedikit mual, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi, entah kenapa perutnya terasa kurang nyaman.
"Kandungan aku sudah jalan tiga bulan, mungkin karena itu perutku sering mual."
Lenny beberapa kali muntah dan yang ke luar cuman air saja, ia sedikit lemas dan sempoyongan, tapi tak ada yang perduli padanya. Suaminya masih tidur dan seakan tak mendengar suara Lenny yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.
"Aku ingin istirahat, tapi aku harus ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi."
"Ada pembantu, tapi Ibu mertuaku memintaku untuk menyiapkan sarapan pagi setiap hari, kalau bukan aku yang masak, maka aku akan kena marah besar."
"Aduhh, malangnya nasibku, aku di rumah mertua tapi aku seperti seorang pembantu saja."
Lenny terus menggerutu mengeluarkan unek-uneknya, ia dengan sekuat tenaga mencoba untuk berdiri tegap, walau dengan berpegangan di tembok rumahnya.
"Aku harus kuat, aku harus kuat," ucap Lenny memberi semangat pada dirinya sendiri.
Setelah berjalan sampai depan pintu kamar, ia menoleh ke arah suaminya yang tidur pulas dengan berselimut bedcover warna putih. Hati Lenny galau saat mengingat kejadian tadi malam, tapi ia berusaha tegar.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana?"
Lenny membuka pintu dan ke luar dari kamar, langkah kakinya gontai, ia seakan tak bisa menahan amarah dan kesedihan yang bercampur aduk dalam hatinya.
"Non, baik-baik saja?" sapa Mbok Ginem.
"Aku tidak apa-apa."
"Tapi Non Lenny terlihat sangat kacau."
Lenny duduk di kursi yang ada di dapur, ia tersenyum tipis, hatinya memang sedang kacau, tapi ia berusaha untuk kuat.
"Non, aku buatkan teh hangat ya?"
"Boleh, buatkan teh di gelas besar dan yang manis."
"Baik Non."
Tanpa mereka sadari, Desi ternyata bangun pagi juga, ia masuk ke dapur dan sengaja mengejek Lenny.
"Hmmm, wanita dekil kayak kamu tak pantas bersanding dengan Mas Ghiyan."
Desi bicara seraya membuka pintu kulkas dan mengeluarkan botol plastik yang berisi air dingin, lalu mengambil gelas sambil tersenyum sinis pada Lenny.
Tak mau kalah dengan Desi, Lenny memandang Desi tajam, rasanya ia ingin mencabik-cabik tubuh wanita genit yang telah menggoda suaminya, tapi apa daya, dirinya tak bisa melakukan itu semua.
"Aku diam bukan berarti aku tidak tahu kamu seperti apa, tapi aku tak akan meladeni mulut kamu yang bau kecoa."
"Dasar wanita dekil, deso! Awas kau ya! Aku akan bilang Mama bila kamu sudah menghina diriku, heh!"
Desi pergi sambil membawa gelas yang berisi air dingin dari kulkas, sebelum pergi ia masih sempat mencibir ke arah Lenny, tapi Lenny memandang dia dengan tatapan mata tajam setajam silet.
"Kamu wanita tak tahu malu, sudah tahu Mas Ghiyan punya istri, tapi kamu menggodanya, heh!"
Mendengar ucapan Lenny yang menyinggung perasaan Desi, ia tiba-tiba berbalik arah dan berjalan menuju Lenny duduk dan menyiram Lenny dengan air dingin yang ada di gelasnya.
"Nih, rasakan!" geram Desi.
"Hei, apa-apaan sih! Kamu gila ya!"
Lenny geram dan segera berdiri dari duduknya, amarahnya yang dari tadi sudah ia tahan, akhirnya terlepas begitu saja, ia kini tak bisa menahannya lagi.
"Hei, kamu itu yang gila, dasar dekil, kampungan!" hina Desi dengan suara yang keras, hingga Ibu mertua Lenny bangun.
"Kalian pagi-pagi buta sudah ribut, mau kamu apa, hah!" bentak Bu Jayanti.
Tatapan matanya tajam memandang Lenny, ia tidak sekalipun memandang ke arah Desi yang bersalah, tapi Bu Jayanti melampirkan kemarahannya pada Lenny.
"Ibu, yang salah Desi, kenapa aku yang disalahkan?"
"Karena kamu biang kerok di rumah ini, heh! Kamu sok berani padaku?"
"Tidak Bu, tapi yang salah Desi, dia yang menyiram air padaku."
"Halah, cuman air saja, kamu kayak gitu, kamu tinggal ganti baju, beres kan?"
"Tapi Bu," sela Lenny.
"Tak ada tapi-tapian, kamu ganti baju sana dan segera pergi ke pasar belanja!" bentak Bu Jayanti.
"Ba-baik Ma."
Lenny tak ada cara lain, selain menuruti perintah mertuanya, kalau Lenny membantah, maka urusan akan semakin panjang dan ujung-ujungnya Lenny yang kena hukuman dari mertuanya yang kejam.
Sedangkan Desi tersenyum sinis saat melihat Lenny yang kena marah Bu Jayanti, ia merasa di atas angin karena Bu Jayanti membela dirinya.
"Ma, aku tadi dihina sama dia." ucap Desi sambil menunjuk ke arah Lenny.
"Iya Sayang, aku sudah tahu kok, tenang saja ya, dia bukan saingan berat bagimu, lagi pula anakku sudah suka sama kamu," ucap Bu Jayanti sambil memeluk Desi.
"Ya salam, sekarang sudah panggil Mama, ke mertua aku?" gumam Lenny sambil memandang ke arah mereka yang sedang berpelukan.
"Mama, kapan sih, Mas Ghiyan menceraikan dia? Aku benci lihat dia di rumah ini."
"Tenang saja, dia gak akan lama, lagi pula kalau dia pergi, siapa yang akan bersihin rumah dan yang masak," balas Bu Jayanti.
'Ya Allah, dia anggap aku sebagai pembantunya, bukan sebagai menantunya, astaghfirullahaladzim,' batin Lenny sambil mengelus dadanya.
Mbok Ginem menarik lengan baju Lenny dan berbisik, "Non, pergi ganti baju sana, jangan diambil hati ucapan Nyonya."
Lenny mengangguk perlahan, ia lalu berjalan menuju kamarnya dan mengganti baju, tapi saat ia sedang ganti baju, telepon seluler yang ada di atas meja bergetar, langsung saja ia meraihnya agar tidak menimbulkan suara yang membuat suaminya bangun.
"Aduh, siapa ini yang telepon pagi-pagi sekali? Kalau Mas Ghiyan terganggu tidurnya, maka aku akan terkena masalah lagi," gumam Lenny.
Ponsel yang ada di tangannya segera ia silent, tapi ia sempat melihat notifikasi panggilan teleponnya.
'Mas Reyndra yang telepon, kenapa dia telepon pagi-pagi sekali, memangnya ada apa?' batin Lenny.
Dengan cepat Lenny ganti baju dan mengambil dompet dari dalam laci yang ada di bawah meja, ia membuka laci dengan sangat pelan, bahkan saat ia berjalan pun sangat pelan-pelan agar tak menimbulkan suara dan membuat Ghiyan terbangun.
'Aku jalan saja seperti seorang pencuri, aku harus pelan-pelan. Di rumah ini, aku seperti tak ada hak apa pun, aku hanya kena marah dan marah saja, kayaknya semua yang aku lakukan selalu salah di mata mereka,' batin Lenny sambil menutup pintu kamar dengan sangat pelan.
Saat ia berjalan ke luar dan sampai di teras rumah, Mbok Ginem sudah menunggu dengan tangan yang memegang selembar kertas putih.
"Ada apa Mbok?"
"Non, ini catatan belanja dari Nyonya."
"Bukankah, kemaren sudah kasih catatan ke saya, Mbok?"
"Ini ada tambahan lagi Non."
"Hah! Ya Allah, mana bisa aku belanja begitu banyak seperti ini?"
"Non, maaf kata Nyonya, aku tak boleh temani belanja dan sopir juga tak boleh antar Non Lenny."
"Lalu aku ke pasar naik apa, Mbok?"
"Go-car, kata Nyonya." Mbok Ginem mendekati Lenny dan memegang lengannya, "maaf ya Non!"
"Gak apa-apa, Mbok." Lenny menjawab sambil tersenyum.
Lenny lalu berjalan ke luar pagar rumah Ghiyan yang mewah, ia bingung mau naik apa ke pasar yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari rumahnya.
"Baiklah, aku pakai gocar saja," ucapnya pasrah.
Tangannya lalu meraih ponsel yang ada di dalam sakunya, tapi saat membuka layar monitor, terlihat notifikasi panggilan telepon dari Reyndra.
"Mas Reyndra telepon lagi? Ada apa ya?"
Hati Lenny dipenuhi tanda tanya karena dari tadi Reyndra terus menelponnya.
'Ada apa dengan Mas Reyndra, ya?' batin Lenny.