bc

True Love

book_age18+
1.1K
IKUTI
5.2K
BACA
forbidden
family
drama
sweet
genius
male lead
regency
like
intro-logo
Uraian

"Salahkah aku bila aku miskin? Kenapa kamu perlakukan aku seperti babu?"

Perlakuan buruk dari keluarga Ghiyan membuat Lenny memutuskan untuk pergi dari rumah suaminya dengan membawa buah hati mereka yang masih bayi.

Ghiyan tidak begitu saja melepaskan Lenny dengan mudah, walaupun dia pria yang kaya, tampan dan mapan. Ghiyan adalah tipe pria yang tidak mudah melepaskan seseorang yang ia sayangi, terlebih wanita itu ibu dari anaknya, tapi karena Ghiyan  berkhianat dengan wanita lain, Lenny dengan berat hati pergi meninggalkan Ghiyan.

Lenny yang sudah terlanjur sakit hati dengan sikap keluarga Ghiyan yang telah merendahkan martabat dan harga dirinya sebagai seorang wanita dan juga harga diri orang tuanya, lalu ia memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya.

Lenny lalu bertemu Reyndra cinta pertamanya, lalu terjalinlah cinta lama bersemi kembali. Melihat hal itu, Ghiyan tentu tidak menyerah begitu saja. Anak hasil buah hati antara Lenny dan dirinya yang membuat Ghiyan terus berusaha membuat Lenny untuk kembali padanya.

Dan ketika Lenny mulai luluh, saat itu pula datang Desi dengan perut buncit dan meminta pertanggungjawaban Ghiyan. 

Lalu, akankah Lenny tetap bertahan di saat fakta yang terungkap itu sangat menyakitkan untuknya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Istri Rasa Babu
Lenny duduk bersimpuh di atas rumput yang ada di depan rumahnya, bajunya kotor penuh dengan tanah yang menempel, wajah cantiknya juga tertutup oleh debu dan kotoran. "Aku sebenarnya siapa, kenapa aku diperlakukan seperti ini?" gumam Lenny dengan wajah cemberut. Dua tahun menjadi istri Ghiyan Adyatma yang seorang pengusaha sukses dan juga kaya, tapi punya perilaku yang tidak masuk akal, Lenny diminta menikah secara terhormat dengan mahar yang luar biasa mahal harganya, tapi setelah menikah ia bagaikan seorang babu di rumah suaminya. Ghiyan dulu jatuh cinta pada Lenny gadis desa pelayan sebuah cafe. Ghiyan memaksa menikah dengan Lenny alasannya ia tidak bisa hidup tanpa Lenny dan bila tidak dinikahkan dengan Lenny, ia memilih mati saja. Ibunya yang memanjakan Ghiyan dengan berat hati menerima permintaan Ghiyan untuk menikah dengan Lenny. Akhirnya di sinilah Lenny berada, di rumah besar dengan pagar rumah tinggi menjulang dengan pengawasan satpam di depan pintu gerbang rumah. "Andaikan dulu aku tidak bertemu dengan Mas Ghiyan di cafe tempat aku kerja, pasti aku tidak jatuh cinta pada Mas Ghiyan dan kami tidak akan menikah." Lenny menggerutu meratapi nasibnya yang kurang beruntung. Dalam segi materi ia bisa dapatkan dan tidak pernah kesulitan uang, karena Ghiyan selalu loyal padanya, tapi sikap keluarga Ghiyan yang sombong dan selalu menghina dirinya yang membuat Lenny kesal. "Demi kesehatan dan biaya buat Ibuku, aku akan bertahan di sini," gumam Lenny. Setelah Ghiyan berangkat ke kantor, Lenny harus belanja ke pasar dan memasak sesuai menu pilihan dari Ghiyan atau dari Bu Jayanti. Setiap hari rutinitas itu yang selalu Lenny jalani, tapi ada untungnya buat Lenny, saat Lenny belanja ke pasar, ia bisa sisihkan uang sendiri selain uang pemberian Ghiyan. "Aku harus kumpulkan uang untuk membayar pengobatan ibuku, dan juga untuk aku tabung. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan di sini. Apalagi aku sedang hamil saat ini, aku butuh simpanan tabungan buat anakku kelak tanpa harus meminta ke Mas Ghiyan." Lenny bergumam sendiri sambil mencabut rumput liar di taman depan rumah Ghiyan. Cuaca mendung membuat Lenny ingin berlama-lama di luar rumah. Saat Lenny sedang termenung, tiba-tiba saja tangan seorang wanita paruh baya menarik rambutnya, spontan Lenny menengok ke arah wanita itu. "Aduh Ma, sakit!" "Kamu enak-enakkan duduk di sini, emangnya sudah selesai di dapur?" "Sudah Ma, makanya saya mencabut rumput di sini." "Ya sudah kalau begitu, masalahnya Ghiyan cuman mau makan masakan kamu, jadi gimana lagi, kamu yang harus masak tiap hari." "Baik, Ma!" "Untung kamu sedang hamil, kalau tidak, pasti aku sudah lempar kamu ke luar dari rumahku!" Setelah bicara seperti itu, Bu Jayanti ibu dari Ghiyan itu berlalu pergi dengan pandangan mata yang sinis. "Hhmm, aku diam karena aku tidak tahu harus ke mana, tapi saat aku punya pegangan hidup, aku akan pergi dari sini, tapi bagaimana dengan Mas Ghiyan?" Lenny menghela nafas panjang, ia tahu betul Ghiyan itu walau sudah dewasa tapi manja. Semua kebutuhan Ghiyan Lenny yang siapkan setiap hari, bahkan melepas sepatu dan memakai sandal saja harus Lenny yang mengerjakan. "Aku ini istrinya atau pembantunya?" gumam Lenny sambil menarik rumput, "aku kesal sekali, sama Mas Ghiyan, huh!" Tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju daster dan jilbab warna hitam, menyodorkan nampan berisi air dan sepotong roti tawar yang permukaannya berwarna kuning kecoklatan. "Non, tolong makan roti bakar ini dulu, ya! Non Lenny dari tadi pagi belum sarapan." "Mbok Ginem kok bawa makanan ke sini? Kalau Mama tahu Mbok nanti di hukum." Mbok Giyem duduk di depan Lenny, ia lalu meletakkan nampan itu di depan Lenny. "Non Lenny tenang saja, Nyonya pergi ke luar dengan Non Gita." "Jadi mereka berdua pergi?" "Iya Non!" "Asyiiik!" seru Lenny sambil merebahkan tubuh di atas rumput di halaman rumahnya. Sore itu suasana mendung jadi Lenny bisa rebahan di atas rumput tanpa takut panasnya sinar matahari. "Non Lenny tidak apa-apa?" tanya Mbok Ginem. Lenny memandang Mbok Ginem dengan pandangan mata tajam sambil mengerutkan keningnya, ia merasa aneh kenapa Mbok Ginem bertanya seperti itu. "Aku sehat-sehat saja, Mbok! Kenapa, ada yang aneh?" "Mbok tahu badan Non Lenny sehat, tapi hati Non Lenny apa baik-baik saja?" Lenny tertawa ringan, ia melepaskan semua beban dalam hatinya dengan tertawa saat Ibu mertua dan adik iparnya tidak ada di rumah. "Aku sehat, tapi hatiku tak bisa aku pahami, Mbok!" "Non Lenny kalau butuh teman ngobrol, bicara saja sama Mbok, ya!" Lenny bangkit dari rebahan, ia lalu memandang Mbok Ginem sambil tersenyum. "Aku, sejak pertama kali masuk rumah ini, sudah mengganggap Mbok sebagai teman sekaligus orang tuaku." Entah kenapa saat Lenny bicara seperti itu, air mata Mbok Ginem mengalir di pipinya, melihat hal itu Lenny lalu mengusap pipinya Mbok Ginem. "Kenapa menangis, Mbok?" Aku kasihan pada Non Lenny, di rumah ini Non Lenny istri Tuan Ghiyan, tapi Non Lenny diperlakukan seperti pembantu." "Aku kadang juga berpikir begitu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, Mbok!" "Non, kenapa tidak menolak atau membalas perlakuan mereka?" "Aku harus bagaimana lagi, Mbok! Aku masih butuh bantuan mereka, ibuku masih butuh pengobatan dan itu butuh biaya besar, jadi biarkan saja mereka begitu padaku." "Non, apakah Tuan Ghiyan baik sama Non Lenny?" Lenny tersenyum simpul, ia tidak tahu harus menjawab apa, Ghiyan cuek dan dingin, tapi saat di atas ranjang, Ghiyan begitu panas dan energik. Lenny tidak tahu apa yang sebenarnya dalam pikiran Ghiyan. "Baik, tapi saat di dalam kamar saja!" Lenny tertawa ringan setelah menjawab pertanyaan Mbok Ginem. "Ah, Non Lenny bisa aja! Semua laki-laki kalau di dalam kamar pasti baik, soalnya ada maunya, Non!" Mbok Ginem ikutan tertawa mendengar ucapan Lenny. "Betul juga sih! Mas Ghiyan kalau dalam kamar berubah hangat dan menyenangkan, tapi saat di luar kamar berubah dingin dan menyebalkan!" "Mbok lihat Tuan Ghiyan maunya di manja dan di sayang, tapi tak mau memikirkan Non Lenny yang ada di sampingnya, sebenarnya Tuan Ghiyan menikahi Non Lenny untuk apa? Mbok jadi bingung?" "Mbok aja bingung, apalagi saya! Hehehe." Sejenak Lenny terhibur hatinya dengan bicara dan bercanda dengan Mbok Ginem. Sebenarnya apa yang tadi Mbok Ginem bicarakan adalah pertanyaan yang selalu Lenny tanyakan dalam hatinya. 'Aku istrinya atau pembantunya, sih? Kalau aku istrinya, aku tidak mungkin di perlakukan seperti ini, tapi kalau pembantu kenapa aku dinikahi secara resmi? Ah, jadi bingung?' batin Lenny sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Saat Lenny termenung dan larut dalam lamunan, tiba-tiba Mbok Ginem berdiri dari duduknya dan membungkuk hormat, Lenny mengeryitkan dahinya, ia bingung kenapa Mbok Ginem berubah sikapnya. "Mbok, ada apa? Kenapa berdiri begitu?" "A-anu, itu Non! A-ada Tuan di belakang." "Oh, ya!" spontan Lenny menoleh ke belakang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook