Dengan masih posisi sedikit membungkuk hormat, Mbok Ginem menunjuk ke arah belakang Lenny dengan ibu jarinya, "Tuan Ghiyan sudah pulang?"
"Eheem!" Ghiyan menjawab dengan deheman.
Lenny langsung menoleh ke arah asal suara, nampak pria dengan setelan celana kain warna abu-abu dan kemeja warna biru muda. Ghiyan nampak begitu maskulin dan mempesona dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Ghiyan.
Lenny yang mempunyai rasa cinta pada Ghiyan, ingin rasanya ia memeluk tubuh kekar dan berotot yang berdiri di hadapannya, tapi Lenny pakaiannya kotor dan lusuh sedangkan Ghiyan penampilannya bersih tanpa noda.
Lenny hanya berdiri mematung menatap wajah tampan yang ada di depannya, sedangkan Ghiyan berdiri dengan congkaknya, "Cepat masuk kamar, dan mandi sana!"
"Apakah aku istrimu? Lihatlah perbedaan kita, kamu berdiri dengan baju dan wajah yang bersinar bagaikan bulan purnama, sedangkan aku kumal bagai air comberan, tapi saat kita dalam kamar kita tidur bersama. Apa arti diriku di matamu, Mas?"
"Tutup mulutmu! Sana, cepat mandi!" hardik Ghiyan.
Lenny lalu berjalan menuju kamar tanpa sepatah kata, hatinya mendadak merasakan sakit yang tidak bisa di jabarkan.
"Apa aku hanya pemuas nafsumu, saja? Apa arti diriku, bagimu, Mas?" gumam Lenny dengan derai air mata.
Lenny berjalan ke arah kamarnya yang ada di bagian sisi sebelah kanan ruangan rumah Ghiyan yang luasnya dua puluh kali tiga puluh meter persegi.
"Saat aku hamil, harusnya aku berlimpah kasih sayang, tapi aku malah hidup dalam kesedihan," gumam Lenny sambil berjalan di lorong rumahnya.
Lenny menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan nafasnya dengan sangat keras. Saat tahu dirinya sedang mengandung, Lenny sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat di atas alat pendeteksi kehamilan yang bergaris merah dua yang menandakan bila dirinya sedang hamil.
"Aku hamil harusnya aku bahagia, tapi kenapa aku harus bersedih?"
Lenny mengelus perutnya, seharusnya ia tidak hamil dengan keadaan dirinya yang seperti ini, tapi nasib berkata lain, kini dirinya hamil walau dengan pekerjaan yang menumpuk serta istirahat yang kurang.
Janin yang ada dalam kandungannya pasti sangat tangguh dan kuat, hingga bisa bertahan walau Lenny sibuk kerja dan kurang istirahat, tapi janin itu tetap sehat di dalam kandungan Lenny.
"Aku bahkan belum periksa ke dokter kandungan. Aku ingin USG agar tahu keadaan bayiku, tapi aku tidak ada waktu untuk pergi."
Sepanjang perjalanan dari taman ke kamarnya, Lenny terus bicara dengan dirinya sendiri, ia butuh teman bicara tapi sayangnya tidak ada yang mendengar suara hatinya yang lara menahan derita.
***
"Cepat buka sepatuku!" perintah Ghiyan saat melihat Lenny yang baru ke luar dari kamar mandi.
'Ya Allah, dari tadi duduk di sofa dengan santai, kenapa tidak di buka sendiri?' gerutu Lenny dalam hati.
"Ayo, cepat!"
Ghiyan mulai terlihat kesal melihat Lenny yang berdiri mematung menatap dirinya, "Cepat buka, udah gerah tau!" bentak Ghiyan.
"Iya, Mas!"
Lenny lalu jongkok di depan Ghiyan, dengan cekatan Lenny membuka sepatu warna hitam milik Ghiyan lalu disusul dengan membuka kaos kakinya juga.
"Sudah selesai, Mas!"
"Kata siapa sudah selesai?"
"Kataku, Mas! Lihat itu sepatu sudah aku lepaskan, lalu mau apalagi?"
"Duduk di situ dan pijat kakiku, aku mau tiduran sebentar, nanti aku ada acara."
Lenny menuruti apa yang diperintahkan oleh Ghiyan, ia memijat kaki Ghiyan, sesekali Lenny memandang Ghiyan yang sedang duduk bersandar di sofa dengan mata tertutup.
Wajah tampan Ghiyan membuat wanita manapun akan meleleh melihatnya, tidak terkecuali dengan Lenny, ia masih berharap bila Ghiyan akan berubah mencintai dirinya dengan setulus hati.
Setelah puas menikmati wajah tampan Ghiyan, Lenny mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia sangat kesal dengan dirinya sendiri yang tidak berdaya di hadapan Ghiyan.
'Kenapa aku harus jatuh cinta pada laki-laki seperti Mas Ghiyan? Huh, menyebalkan!' gerutu Lenny dalam hati.
Tangan Lenny dengan lembut memijat kaki Ghiyan, dan tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran Ghiyan setelah merasakan pijatan tangan Lenny.
"Hmmm, sampai kapan aku menunggu cinta kamu, Mas! Cinta yang tulus dan penuh kasih sayang tanpa kata-kata kotor dan hinaan. Aku juga tidak tahu kenapa aku masih bertahan di samping kamu, padahal kamu mengabaikan aku," gumam Lenny.
Lenny duduk bersila di atas lantai, punggungnya ia sandarkan di tembok kamarnya, pandangan matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
'Haruskah aku pergi dari sini? Apa sebenarnya yang aku cari di sini? Mungkin kalau aku kerja di cafe seperti dulu, aku akan mendapat gaji buat biaya berobat ibuku, tapi apa itu akan cukup?' batin Lenny.
Tok tok tok! Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari luar kamar tidurnya.
Lamunan Lenny buyar, ia segera bangkit dari duduknya, ia takut Ghiyan terbangun dengan suara ketukan pintu itu.
"Siapa itu, ya?" gumam Lenny sambil berlari kecil ke arah pintu kamar.
Lenny dengan cepat membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya ia setelah tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Desi ...?"
"Hai, Len! Apa kabar?"
"B-baiik, ada apa?" tanya Lenny dengan nada suara terbata-bata.
"Aku di suruh Mama Yanti ke sini!" jawab Desi santai.
"Mama menyuruh kamu, datang?"
"Iya! Kenapa?" terdengar suara keras dari arah belakang tembok pembatas antara kamarnya dan ruang tengah.
Dari balik tembok muncul wanita paruh baya dengan memakai gaun berwarna merah dengan hiasan bordir bunga-bunga warna pink. Wanita yang masih tersisa kecantikan di masa mudanya itu memandang sinis ke arah Lenny dengan tangan yang sedang berkacak pinggang.
"Mama, aku-" suara Lenny terhenti karena ibu jari Bu Jayanti di letakkan di depan bibirnya.
"Ssstt, kamu diam saja, aku tidak suka dengan bantahan, terlebih itu terucap dari mulut kamu, paham!"
"Paham, Bu!"
Lenny menunduk malu, terlebih ada Desi di hadapan mereka, Lenny merasa Bu Jayanti segaja mempermalukan dirinya di hadapan Desi yang memang benci sama Lenny.
Desi masih saudara sepupu dari pihak ibu Ghiyan, dan Desi sudah lama menaruh hati pada Ghiyan, tapi karena Ghiyan menikahi Lenny, Desi menjadi sangat benci pada Lenny.
Dengan sudut matanya, Lenny mencuri pandang ke arah Desi, dilihatnya senyuman sinis di sudut bibirnya. "Wanita ini sungguh menyebalkan!" desis Lenny.
"Kamu bisa minggir!" ucap Desi dengan congkaknya.
Lenny masih berdiri tegak di tengah pintu kamar, ia tidak ingin minggir dan memberi jalan kepada mertua dan juga wanita yang membuat hati Lenny kesal.
"Hei, orang kampung, cepat minggir! Kamu menghalangi jalan, aku mau masuk ke kamar anakku!" Bu Jayanti mendorong tubuh Lenny agar menepi dari jalannya.
Bruuk!
Tubuh Lenny terdorong mengenai pintu kamar. "Aduuh! Bisa tidak lebih sopan!"
Langkah kaki Bu Jayanti terhenti dan ia menoleh ke belakang ke arah Lenny yang meringis kesakitan.
"Hei, orang kampung! Kamu itu yang tidak sopan menghalangi jalan mertua kamu ini, tahu tidak, hah!"
"Mama Yanti, kenapa kita harus meladeni perempuan yang tidak tahu diri itu, Mam! Abaikan saja lah, Mam!" ucap Desi dengan pandangan mata sinis ke arah Lenny.