Bagas menyeruput kopi panasnya setelah ia lelah seharian berlatih karate di tempat yang biasa gunakan untuk latihan. Ia memilih duduk di kursi bagian outdoor agar bisa menikmati senja sore ini. Bagas memilih untuk menikmati senjanya dengan membaca komik kesukaannya sambil sesekali menyeruput kopinya itu. Bagas memang selalu memilih untuk menghabiskan waktunya sendiri agar tidak ada yang mengganggunya ketika membaca komik. Namun ketika sedang menikmati waktunya hingga ada seseorang yang menelponnya.
“Halo, ngapain lo nelpon gue?” ucap Bagas kepada si penelepon dengan nada ketusnya.
“Ye galak amat lo.” balas seorang wanita yang sedang bercakap dengannya di telepon yang ternyata adalah sepupunya sendiri yaitu Laksmita.
“Ya lo ganggu gue aja baca komik.” Balas Bagas kepada Mita dengan nada sedikit kesal.
“Anterin gue ke toko buku dong, gue lagi mau beli buku yang gue pengen banget nih.” Mita meminta Bagas untuk mengantarkannya ke toko buku.
“Yaelah besok aja emang nggak bisa? Nanggung nih gue baca komik nya.” balas Bagas kepada Mita.
“Ayolah Gas anterin gue please, itu buku kalau nggak cepet kebeli nanti keburu dibeli orang lain soalnya limited edition tau nggak lo.” Mita memohon kepada sepupunya itu agar mau mengantarkannya ke toko buku. Akhirnya dengan berat hati ia mengiyakan ajakan Mita.
“Iya-iya gue kerumah lo sekarang.” Bagas langsung menutup teleponnya dan segera menjalankan motornya ke rumah Mita. Ketika Bagas baru memasuki Gerbang kompleks, ia melihat Mita sudah menunggunya di depan pintu rumah.
“Lama banget sih lo.” omel Mita kepada Bagas yang sudah membuatnya menunggu lama.
“Makanya cari pacar sono, biar nggak nyusahin gue terus.” balas Bagas sambil sedikit meledek Mita.
“Berisik lo, udah ayo cepetan keburu toko bukunya tutup.” Mita langsung buru-buru naik ke motor Bagas, kemudian Bagas langsung melajukan motornya menuju toko buku yang biasa mereka datangi tidak jauh dari rumah Mita. Setelah sampai di depan toko buku Mita langsung turun dari motor Bagas.
“Lo mau ikut masuk nggak?” tanya Mita kepada Bagas.
“Nggak deh gue tunggu disini aja, udah sana cepetan masuk.” kata Bagas dengan gerakan tangannya seperti mengusir Mita.
“Bawel banget sih lo.” ucap Mita sebelum meninggalkan Bagas dan kemudian melangkah masuk kedalam toko buku.
Mita berjalan mengitari bagian dalam toko buku buku tersebut untuk mencari buku yang ia inginkan. Saat sedang memilih-milih buku yang ingin ia beli, Mita melihat ada cewe yang menurutnya ia kenal, setelah mendekati cewek itu ternyata dugaan ia benar, cewek itu ialah Kinan salah satu teman SMA nya.
“Kinan.” panggil Mita sambil menepuk bahu Kinan.
“Eh Mita, ngapain lo disini?” tanya Kinan kepada Mita.
“Ini gue lagi mau beli buku buat persiapan tes masuk perguruan tinggi,keburu abis stok bukunya hehehe.” balas Mita sambil sedikit tertawa kecil.
“Kalau lo ngapain disini?” tanya Mita kembali kepada Kinan.
“Oh gue lagi novel favorit gue disini, lo sendirian disini Mit?” ucap Kinan sambil bertanya kepada Mita.
“Enggak kok, gue dianterin sepupu gue kesini, tapi dia di nunggu didepan.” balas Mita kepada Kinan dan Kinan pun mengangguk.
“Eh yaudah, gue duluan ya Kin, keburu nanti gue diomelin lagi tuh sama sepupu gue, soalnya dia kalo ngomel bisa ngalahin singa.” Mita berpamitan kepada Kinan sambil mebuat candaan tentang sepupunya itu yang membuat Kinan refleks tertawa.
Mita pergi ke kasir untuk membayar bukunya setelah berpamitan kepada Kinan. Setelah selesai membayar bukunya, Mita langsung keluar menghampiri Bagas yang sudah menunggunya didepan.
“Lama banget sih lo.” ucap Bagas kepada Mita dengan nada sedikit kesal.
Mita langsung menyodorkan komik yang sengaja ia beli untuk Bagas agar tidak tambah mengomel lagi..
“Nih gue beliin lo komik biar lo nggak ngomel terus.” balas Mita sembari menyodorkan komiknya.
“Apakah ini penyuapan?” tanya Bagas kepada Mita dengan mata sedikit menyelidik.
“Enak aja lo, yaudah sini kalau nggak mau, lumayan bisa gue jual lagi ke temen gue.” Mita berusaha mengambil komiknya lagi namun segera dicegah oleh Bagas.
“Eitss barang yang sudah dikasih tidak bisa diminta kembali.” ucap Bagas sambil menjulurkan lidahnya bermaksud untuk meledek Mita. Mita kesal kepada Bagas namun ia tidak mau marah ke Bagas karena jika ia marah, nanti ia akan disuruh pulang sendirian. Akhirnya Mita tidak menggubris ledekan Bagas langsung naik ke motor Bagas, Bagaspun langsung menjalankan motornya untuk mengantarkan Mita kembali ke rumah.
Selama lima belas menit Kinan memutari semua bagian yang ada di toko buku itu hingga ia menemukan novel yang ia cari, usahanya mencari novel tidak sia-sia karena setelah itu ia langsung menemukannya, setelah menemukan novel yang ia inginkan, ia langsung pergi ke kasir untuk membayarnya. Saat Kinan akan berjalan pulang ke rumah, rintikan hujan mulai turun membasahi jalan dan seketika itu ia langsung berlari untuk mencari tempat meneduh. Kinan sebenarnya sangat menyukai hujan, namun disituasi ramai seperti ini ia harus menahan agar tidak bermain dengan air hujan. Akhirnya ia hanya bisa menikmati air hujan dengan memandangnya saja, sesekali ia menengadahkan tangannya keluar agar bisa bersentuhan dengan air hujan yang membuat ia bisa bahagia. Setelah hujan mulai mereda, Kinan memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya sebelum hujan kembali turun dan semakin deras.
Setelah ia sampai dirumahnya ia langsung masuk kedalam kamarnya untuk membaca novel barunya itu. Ketika ia sedang asyik membaca novel, ia merasakan ponselnya bergetar dan berbunyi tanda ada seseorang menelfonnya. Ketika ia melihat layar hp nya, ternyata yang menelponnya itu adalah Ruri.
“Halo Rur ada apa?” tanya Kinan kepada Ruri yang tiba-tiba menellfonnya.
“Besok ke taman yuk Kin, gue bosen banget nih mau ngapain.” Ruri mengajak Kinan agar ia mau menemaninya ke taman yang biasa mereka kunjungin.
“Tumben-tumbenan lo ngajak gue ke taman, biasanya kalo gue ngajak lo selalu nolak kalau ke taman.” Kinan heran dengan temannya satu ini.
“Hehehe gue lagi pengen aja ke taman soalnya gue bosen banget nih.” Ruri menjelaskan kepada Kinan mengapa ia ingin pergi ke taman.
“Yaudeh deh iya, besok langsung ketemuan aja di taman.” Kinan mengiyakan ajakan Ruri agar sahabatnya itu tidak bosen lagi.
“YES, oke gue tunggu lo besok ditaman awas aja kalau nggak dateng.” ucap Ruri kepada Kinan ditelepon.
“Emang kalau gue nggak dateng lo bakal ngapain gue?” tanya Kinan kepada Ruri.
“Gue suruh lo traktir bakso depan sekolah hahaha.” Ruri membalas pertanyaan Kinan sambil tertawa.
“Aneh lo.” Kinan semakin heran dengan tingkah sahabatnya itu.
“Bercanda elah Kin hehehe, yaudah pokoknya besok gue tunggu lo di taman dan harus dateng, Bye.” ucap Ruri kepada Kinan sebelum ia mematikan teleponnya. Setelah percakapan berakhir, ia langsung melempar ponselnya itu ke kasurnya dan melanjutkan untuk membaca novelnya lagi.