"Hah, yang bener nih?" Mila kaget saat melihat berita di salah satu akun media sosialnya. Salah satu penyanyi asal luar negeri sedang mengadakan konser di Bandung, kota yang sedang ia datangi. Ia lalu mencari kebenaran hal itu di website pencari berita dan ternyata hal itu memang benar.
"Dari tadi saya panggil-panggil, kamu gak dengar? Kamu ngapain emangnya?" Suara berat Nico membuatnya kaget.
"Eh. Maaf, Pak." Mila langsung beranjak dan mengambil tasnya.
Berjalan mengikuti Nico, Mila masih saja melihat akun media sosialnya. Namun, baru saja beberapa saat meninggalkan cafe baik Nico dan Mila sama-sama merasakan ada yang aneh dengan mobil yang mereka naiki. Tak ingin mengambil resiko, pria berdasi itu dengan cepat mencari tempat untuk menepikan sekaligus memarkirkan mobilnya dengan aman. Benar saja saat Nico mengecek kondisi mobil, pria itu mendapati kalau salah satu ban mobilnya kempes.
Dengan langkah kesal ia berjalan ke sisi lain kemudian membuka pintu mobil tempat Mila duduk.
"Kamu bisa bawa mobil gak sih? Kamu tadi kemana aja?" tanya Nico penuh emosi.
"Memang ada apa, Pak?" Mila bertanya balik, kaget melihat Nico yang marah. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud oleh bosnya.
Nico lalu menarik tangan Mila dan membawanya ke arah ban belakang sebelah kiri. Dengan berkacak pinggang, Nico menunjukkan ban mobil yang kempes pada sekretarisnya itu. Mendengar suara Nico yang cukup nyaring, Mila hanya bisa menunduk. Seingat ia sudah mengecek kondisi mobil sesuai dengan perintah Nico, tapi kalau sudah begini itu semua di luar kendalinya.
"Semua sudah kamu cek?" tanya Nico lagi.
Mila mengangguk pelan.
Nico mengambil nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar. Pria itu kemudian menggulung lengan bajunya hingga siku, bersiap untuk mengganti ban yang kempes dengan ban serep. Namun, saat mengecek tempat di mana ban serep itu berada, ia malah tak menemukannya.
"Kamu bilang kamu sudah cek semuanya," ucap Nico membuat Mila segera menghampiri Nico yang berada di bawah mobil. Amarahnya yang tadi sudah mulai mereda kini malah meledak lagi.
"Sudah dicek semua, Pak," sahut Mila gugup. Berpikir apalagi kesalahannya sekarang.
"Ban serepnya mana? Saya cek di mana-mana gak ada," kata Nico keluar dari bawah mobil dengan kondisi yang sedikit kotor. Wajahnya terlihat lucu dengan noda hitam yang menempel di pipi serta keningnya, tapi hal itu tidak membuat Mila tertawa karena ekspresi Nico yang menyeramkan.
"Maaf, Pak. Kalau itu gak saya cek tadi," ucap Mila menunduk.
"Ya ampun, Mil! Kamu itu sekretaris saya, bukannya membantu malah menyusahkan saya!" Nico marah, "cari hotel terdekat!" lanjutnya masuk ke dalam mobil.
Gadis itu sedikit gemetar melihat kemarahan Nico barusan, untung ia membawa ponsel di tangannya. Berdiri di samping mobil, Mila membuka aplikasi online pencari hotel di ponselnya. Namun setelah beberapa kali mengecek, hotel yang berada di aplikasi itu semua dalam keadaan penuh.
Bukan main gusarnya ia, bingung harus berbuat apa. Dengan jemari tangan yang sedikit gemetar, ia terus mencari tapi tetap saja tidak menemukan hotel yang bisa mereka tinggali untuk malam ini.
Takut Nico semakin marah, gadis itu kemudian mencari nomor telepon hotel terdekat lalu mencoba menghubunginya. Raut kecewa dan takut bercampur jadi satu, kala ia mendapat penjelasan dari petugas hotel yang ia hubungi. Semua hotel sedang penuh karena telah dipesan oleh orang yang ingin menonton konser penyanyi internasional itu.
"Gimana? Hotelnya sudah dapat?" tanya Nico saat Mila membuka pintu mobil.
"Maaf, Pak–"
"Maaf apalagi? Hotelnya ada atau enggak?" Nico cepat memotong ucapan Mila.
"Semua hotel sedang penuh karena lagi ada konser di Bandung, Pak," ucap Mila cepat.
"Ya kamu cari yang lain. Saya gak mau tidur di mobil!" perintah Nico.
Pria itu memanggil Mila lagi sebelum pergi, meminta tisu basah untuk membersihkan kotoran yang ada di wajahnya.
Kesal, marah, dan takut bercampur jadi satu. Sambil melihat ponselnya, Mila berjalan mencari penginapan terdekat. Lima menit berjalan sendirian, ia menoleh kebelakang karena merasa ada yang mengikutinya. Ternyata itu adalah Nico, ia menyusul dengan membawakan tas Mila.
"Bapak ngapain?" tanya Mila ketus sembari menerima tas miliknya.
"Mobil sudah saya kunci, daripada bolak balik nantinya," ucap Nico yang sepertinya sudah mulai jinak, tidak seemosi tadi.
Daerah yang mereka lalui cukup ramai dengan beberapa toko dan tempat makan, tapi sejauh ini mereka belum melihat adanya tanda-tanda tempat penginapan. Mengingat jam yang sudah berganti menjadi malam, mereka berdua kemudian memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum mencari penginapan lagi.
"Kalau mau yang murah-murah, ada tuh di depan sana. Gak jauh dari sini," ucap pemilik warung makan lalapan yang mendengar percakapan antara Mila dan Nico.
"Makasih, Pak. Setelah ini nanti kamu coba ke sana," sahut Mila cepat.
Mendengar kata murah barusan, Mila takut kalau Nico nantinya malah gak mau. Kalau baginya, yang penting bisa tidur untuk malam ini.
"Cepat kamu selesaikan makannya, biar kita cek penginapan. Saya sudah capek," tukas Nico yang tahu-tahu sudah selesai makan. Entah lapar atau memang enak.
Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh si pemilik warung, mereka berdua tiba di bangunan empat lantai yang catnya sudah sedikit kusam.
"Tanya dulu ke dalam," perintah Nico berdiri di depan memperhatikan beberapa mobil yang terparkir di halamannya.
Baru lima menit menunggu, Nico yang sudah tidak sabar segera menyusul sekretarisnya itu. Mila langsung menatap Nico dengan tatapan bingung.
"Kamarnya sisa satu, Pak," ucap Mila lirih.
Nico terdiam. Sebenarnya ia ingin meminta bantuan dengan kliennya tadi, tapi nomor ponselnya tidak bisa dihubungi.
"Lalu mau gimana?" Nico menatap Mila.
"Tenang aja, Mas… Mbak. Penginapan di sini aman, bebas dari grebek," ucap penjaga penginapan yang terlibat masih muda tapi bergaya berantakan.
Selain karena telah capek dan tidak punya pilihan lain, mereka akhirnya mengambil satu kamar yang tersisa itu.
Gadis itu berharap akan ada dua tempat tidur berbeda di kamar itu, tapi ternyata ia salah. Tempat tidur yang tersedia adalah single bed tanpa ada sofa.
"Ini gimana tidurnya, Pak?" tanya Mila masih menatap ranjang dari depan pintu, sementara Nico sudah masuk ke dalam terlelap dulu.
"Ya tidur aja. Kamu bisa tidur sambil duduk di ujung tempat tidur ini," ucap Nico santai melepas kemejanya kemudian membaringkan diri.
Mila masih mematung. Kalau kembali ke mobil, jaraknya cukup jauh. Mau pesan ojek online, sudah malam begini jarang ada yang mau terima.
"Cepat masuk! Tutup pintunya, banyak nyamuk!"
Mila segera melakukan apa yang Nico perintahkan.
"Ya ampun, begini banget sih," gumam Mila dalam hati. Mau tak mau ia masuk ke dalam kamar itu, lantas memilih untuk ke kamar mandi terlebih dahulu guna membersihkan diri seadanya.
"Bete banget sih, Ca," keluhnya melalui panggilan suara.
"Bete kenapa, Mil? Lagi di mana sih ini?"
Penuh emosi ia menceritakan dari awal kejadian hingga ia terjebak bersama Nico di hotel ecek-ecek di Bandung.
"Aku masih di Semarang lagi, Mil. Gak bisa nyusulin ke Bandung," ucap Ica sendu.
"Gapapa, Ca. Aku cuma bete aja," lirih Mila yang beberapa menit kemudian mengakhiri panggilannya.
Tidak mungkin tidur di dalam kamar mandi, Mila memberanikan diri keluar dan mendapati bosnya telah terlelap tidur.
Mas Marcel Calling
"Iya, Mas?" Mila menjawab panggilan itu.
Nico terlihat sedikit bergerak.
"Kamu di mana? Gak lagi di club kan?"
"Gak, Mas. Mila lagi di Bandung ada kerjaan, Mas." Mila hendak berjalan keluar kamar, tapi terhenti karena Nico bangun dan bertanya kenapa ia belum tidur.
"Kamu sama cowok, Mil? Jangan macam-macam ya!"
"Mila sama bos Mila, Mas. Lagi ada kerjaan. Mila tutup dulu ya," ucap Mila gelagapan dengan cepat mematikan panggilan itu dilanjutkan dengan mematikan ponselnya, takut kalau Marcel akan menghubunginya lagi.
"Siapa? Pacar kamu?" tanya Nico sinis.
"Bukan urusan, Bapak." Mila tak kalah sinis.
Nico beranjak dari ranjang dan keluar, sebelum itu ia meminta Mila untuk tidur saja duluan.