Setelah menghabiskan dua batang rokok, Nico kembali ke kamar dan mendapati Mila telah terlelap tidur. Ia lantas mengambil posisi di ujung tempat tidur dan bersandar di dinding. Menurutnya ini posisi yang pas untuk tidur, tapi tidak mengganggu sekretarisnya itu.
Waktu berlalu dengan cepat, hingga Mila terbangun karena merasa kakinya tertimpa sesuatu. Betapa kagetnya ia saat membuka mata dan melihat Nico tertidur dengan ujung tempat tidur dengan memegangi kakinya.
"Aduh," gumamnya pelan. Ia perlahan bangun dan berniat ingin menarik kakinya. Namun, Nico malah memeluk kakinya, tapi karena merasa tak enak, ia sedikit menarik paksa kakinya.
"Tega banget kamu ya," ucap Nico membuat Mila kaget, "aku kurang apa sih sama kamu?!" lanjut Nico.
Mila mendekatkan wajahnya dan melihat mata Nico yang masih terpejam. Ternyata bosnya itu hanya mengigau, sejurus dengan itu Nico melepaskan kaki Mila.
"Huft," desah Mila lega. Perlahan ia meninggalkan kamar, setelah merapikan dirinya di kamar mandi.
Matanya sedikit tak nyaman melihat pemandangan yang ada di depannya. Beberapa pasangan tampak terlihat keluar kamar dengan pakaian yang acak-acakan. Ia mempercepat langkahnya menuju meja tempat penjaga penginapan itu standby.
"Di sini dapat makan gak sih, Mas?" tanya Mila yang baru saja mengirimkan pesan pada supir kantor untuk mengingatkannya kembali agar segera menyusul mereka ke Bandung.
"Ya kali, Mbak. Penginapan sudah harga murah dapat makan," sahut penjaga itu tertawa kecil.
"Boleh minta kwitansi untuk pembayaran penginapan ini, Mas?"
"Sudah sama pacarnya, Mbak. Kemarin malam sudah langsung dibayar waktu kita ngerokok bareng," jawabnya.
Mila cuma menganggukan kepala. Meski dalam hati ia tidak terima dibilang pacarnya Nico, tapi percuma juga kalau dijelaskan.
Langit sudah mulai berwarna menyambut matahari pagi. Mila berjalan ke arah gerbang masuk dan memperhatikan sekitar untuk melihat apakah ada penjual makanan.
"Pak Nico mau gak sih makan di pinggir jalan kayak gini?" Mila menatap ke arah depan tempat beberapa pedagang makanan pinggir jalan tengah menjajakan makannya.
Dari arah belakang ia merasa ada menyentuh bahunya, spontan ia berbalik dan melihat bosnya berdiri di depannya sambil membawa tasnya.
"Pak Nico?" kaget Mila meraih tasnya.
"Kamu ngapain di pinggir jalan kayak gini? Mau balik duluan, tinggalin saya?"
"Mau beli makanan untuk sarapan pagi, Pak. Gak mungkin saya balik duluan sementara tas saya masih ada di dalam," sahut Mila.
"Ya sudah, kalau gitu kita cari makan aja dulu," ucap Nico berjalan lebih dulu.
Mila sempat bingung, ini cari makan dulu apa nanti balik lagi ke penginapan. Namun sebelum semakin jauh, Mila segera menyusul Nico yang beberapa kali berhenti di depan orang jual makanan.
"Jadi mau makan apa, Pak?" tanya Mila mengimbangi langkah kaki Nico.
Nico belum menjawab, ia masih melihat-lihat sekitar. Beberapa menit kemudian ia berhenti di salah satu rumah makan yang menjual gudeg.
"Makan di sini aja," ucap Nico sembari masuk ke dalam rumah makan itu.
Setelah memesan makanan, mereka duduk menunggu sambil memeriksa ponsel masing-masing.
"Iya, Pak Andi," ucap Mila menempelkan ponsel di kupingnya.
Nico yang mendengar nama supirnya disebut, reflek menatap Mila.
"Ini saya sudah ketemu sama mobil Pak Nico," ucap Pak Andi.
"Langsung aja, Pak di kerjain mobilnya. Nanti saya share lokasi jemputnya," ucap Mila kemudian menutup panggilannya.
Nico masih menatap Mila, menunggu penjelasan.
"Saya minta tolong Pak Andi buat datang ke sini, untuk mengurus mobil Pak Nico."
"Kunci mobilnya kan ada sama saya?"
"Saya minta Pak Andi ambil kunci cadangan sama petugas jaga kantor, Pak."
"Kenapa kamu gak bilang sama saya?"
"Emang gak boleh?" tanya Mila cepat, tapi kemudian ia cepat meralat ucapannya.
"Maksudnya saya supaya kita cepat balik ke Jakarta, Pak. Saya juga sudah share loc tempat ini, jadi sebentar lagi Pak Andi bakal datang," lanjut Mila bersamaan dengan datangnya gudeg pesanan mereka.
Pak Andi meminta salah satu supir kantor yang lain untuk menemaninya ke Bandung subuh-subuh dengan membawa ban serep mobil Nico, sesuai dengan permintaan Mila.
Tak sampai satu jam, dua mobil datang dan parkir di depan rumah makan tempat mereka makan. Pak Andi dan Pak Burhan datang mendekat.
"Pagi, Pak. Pagi, Mbak," sapa mereka berdua. Pak Andi kemudian meletakkan kunci mobil Nico di atas meja.
"Pagi," sahut Nico langsung mengambil kunci cadangan mobilnya.
"Makasih banyak ya, Pak," ucap Mila.
Pak Andi dan Pak Burhan menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Pak Andi sama Pak Nico, sarapan dulu aja. Nanti setelah itu langsung balik ke kantor," ucap Nico merogoh dompet lalu memberikan lima lembar uang berwarna merah ke tangan Pak Andi, "ini buat Bapak berdua. Saya sama Mila duluan balik ke Jakarta," lanjut Nico.
Mendengar apa yang Nico ucapkan membuat Mila syok, padahal bukan begitu skenarionya. Di awal ia ingin Pak Andi yang mengantarkan mereka berdua balik ke Jakarta, makanya ia meminta Pak Andi untuk membawa teman.
"Oh siap, Pak. Saya sudah cek kondisi mobil dan semuanya bagus, Pak," ucap Pak Andi tersenyum senang. Gak sia-sia mereka subuh berangkat, sampai sini malah dapat duit.
"Saya duluan ya," pamit Nico yang mau tak mau Mila juga pamit.
"Hati-hati, Pak… Mbak," pesan Pak Andi dan Pak Burhan sembari mengantarkan sampai ke mobil.
Mila hanya bisa menghela nafas begitu Nico melajukan mobilnya menuju Jakarta. Impiannya untuk tidur selama perjalanan menuju Jakarta pupus sudah, karena tak enak dengan Nico yang fokus menyetir. Namun sekuat tenaga ia menahan kantuk, ia akhirnya terlelap juga saat sudah setengah perjalanan.
***
Tahu-tahu ia terbangun di sofa, di rumah yang asing tapi cukup familiar dengan bangunannya. Setelah nyawanya benar-benar sudah terkumpul, ia berdiri dan berjalan perlahan mengamati keadaan sekitar.
"Sudah bangun kamu?" Suara yang biasa ia dengar seketika membuat mata terbelalak.
"Pak Nico" gumamnya dalam hati seraya berbalik. Pria itu terlihat sudah rapi dengan wajah yang segar. Dapat dipastikan ia telah mandi karena pakaian yang ia gunakan juga sudah berganti.
"Kenapa saya malah ada di sini?" tanya Mila bingung. Padahal seharusnya ia pulang ke rumah yang jaraknya sangat dekat dari rumah Nico. Bersebelahan.
"Kamu gak mau bangun, lalu kamu mau tidur di mobil?"
Mila terdiam. Ia sama sekali tidak merasa seperti orang yang sedang dibangunkan saat tidur tadi, yang ada ia malah merasakan hangat pelukan yang membuatnya semakin nyenyak tidur.
"Jadi Pak Nico gendong saya?" Mila memastikan.
"Lalu saya harus melempar kamu dari dalam mobil masuk ke rumah?" Nico menatap Mila tajam.
"Bukannya terima kasih kamu malah banyak tanya. Sekarang kamu siap-siap. Saya tunggu kamu biar kita ke kantor bareng," perintah Nico.
"Saya jalan sendiri aja, Pak. Takut Bapak kelamaan nunggu," ucap Mila masih berani menatap Nico yang mata hampir keluar.
"Apa susahnya sih tinggal ikutin apa yang saya bilang? Heran saya," decak Nico geleng-geleng kepala.
Memasang wajah cemberutnya, Mila keluar dari rumah Nico dan berjalan menuju rumahnya.