Makan Bareng Di Rumah

1210 Kata
Dea yang sedang berada di lobi kantor, memasang wajah kaget saat melihat Mila turun dari mobil Nico. Ia bersembunyi di balik tiang dan mengejutkan temannya itu. "Bikin kaget aja kamu, De!" seru Mila mengelus dadanya, "ngapain sih?" "Harusnya aku yang tanya. Kamu ngapain sama bos?" tanya Dea menggandeng tangan Mila, menuju ruangan menggunakan lift yang isinya hanya mereka berdua. "Kemarin habis ada acara di Bandung, jadi pulangnya malam. Aku gak sempat balik ke kantor buat ambil mobil, jadinya nebeng sama bos," ungkap Mila tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Acara apaan sampai malam? Atau acara kamu sama bos berdua?" ledek Dea senyum-senyum. "Jangan sampai ya tolong. Jadi sekretaris dia aja ini terpaksa banget," sahut Mila cepat. Sekeluarnya dari dalam lift, mereka berpisah di depan ruangan Dea sementara Mila masih harus berjalan beberapa langkah menuju ruangannya. Setelah meletakkan tas di atas meja, ia kemudian menekan tombol power untuk menyalakan komputer. Dari dalam ia melihat Ani yang berdiri di depan ruangannya. "Temenin ya, Mbak," ucap Ani cengengesan. "Ribet amat sih bos ini," gerutu Mila menemani Ani masuk ke ruangan Nico. Mila duduk di sofa sembari menatap Ani yang begitu sigap membersihkan ruangan Nico. "Nanti aku bilang sama bos deh, kalau kamu mau bersihin ruangan gak perlu nunggu aku datang. Kan jadinya ribet," ucap Mila. "Terserah Mbak Mila aja, saya sih ngikut perintah. Kalau teh tetap Mbak Mila yang antar ya, ini saya mau buatin dulu," ucap Ani yang pamit keluar karena telah selesai melakukan tugas pertamanya. Mila masih santai duduk di sofa ruangan Nico karena si empunya ruangan juga belum datang. Secara tiba-tiba kejadian di penginapan kemarin melintas di benaknya. Kejadian saat Nico memeluk kakinya sambil mengigau. "Kenapa ya dia sampai segitu kebawa mimpi?" Mila bertanya-tanya sambil mengelus dagunya. Mengira-ngira apa yang tengah Nico alami dengan pernikahannya hingga sampai ingin berpisah. "Ah bodo amat lah," ucap Mila kemudian mengabaikan pikiran itu. Ia beranjak dari sofa, lalu berjalan sedikit lebih cepat ke arah pintu yang tak disangka terbuka lebih dulu dari arah luar. "Auw…." Mila menjerit karena keningnya kepentok pintu yang terdorong cukup kuat oleh Nico dari arah luar. "Kamu ngapain di sini?" tanya Nico yang reflek ikut mengelus kening Mila. Tersadar dengan apa yang Nico lakukan, Mila segera mundur beberapa langkah. "Nemenin Ani bersihin ruangan Bapak. Untuk ke depannya bisa gak sih Ani itu bersihin ruangan ini tanpa harus saya temenin, Pak?" tanya Mila. "Jam segini baru dibersihin?" tanya Nico heran menatap jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul sembilan pagi. "Yaiyalah, Pak. Ani mana berani masuk sendiri. Kan perintah Pak Nico kaya gitu, Priska juga bilang hal yang sama. Jadi mulai besok, boleh atau enggak?" Mila penuh penekanan. Ia juga merasa terbebani dengan tugas yang seharusnya bukan menjadi tanggungjawabnya. Kalau tidak percaya dengan petugas kebersihan lebih baik bersihkan sendiri, itu yang ada dipikiran gadis itu. "Ya sudah," sahut Nico ketus berjalan menuju mejanya. Ia segera keluar dari ruangan itu dan kembali lagi dengan membawa teh tawar untuk Nico. *** Setelah mengirimkan email yang Nico minta, ia akhirnya dapat menarik nafas lega karena pekerjaan hari ini telah selesai dan besok adalah weekend. Ia sudah membayangkan bisa bangun siang dan bersantai di rumah seharian. Komputer telah mati dan meja telah bersih dari kertas-kertas, ia lalu menyampirkan tasnya di bahu dan berjalan keluar ruangan. Sebelumnya Nico sudah bilang kalau ia masih ada yang dikerjakan, tapi ia memperoleh Mila untuk pulang duluan. Mila menyambut hal itu dengan senang hati serta tanpa tanya, daripada Nico berubah pikiran. Ruangannya yang dulu juga sudah kosong saat ia melintas, wajar saja karena jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. "Pulang duluan, Pak," pamit Mila pada petugas keamanan kemudian menaikan kembali kaca mobilnya. Malam ini ia tidak ingin makan sesuatu yang ribet, jadi sepanjang perjalanan pulang pikirannya sudah membayangkan akan makan dua mie instan ditambah dengan telur mata sapi. Setibanya di rumah, Mila langsung menuju kamar dan membersihkan diri. Membawa ponselnya ke dapur, ia dengan cepat menyiapkan panci untuk merebus mie instan. "Eh telur habis ya," ucap Mila berdiri menatap isi kulkasnya. Telur yang biasa ia letakkan di balik pintu, hari ini raknya sudah kosong. "Gak enak kalau gak pake telur," gumamnya lagi menutup pintu kulkas. Meski sebenarnya malas, ia akhirnya memutuskan untuk membeli telur di warung yang ada di depan kompleknya. Setelah mematikan kompor, gadis yang sedang mengenakan celana pendek berwarna hitam itu berjalan ke arah pintu depan membawa uang sepuluh ribu yang ada di balik casing ponselnya. Ia berdiri beberapa menit di teras rumah. Bingung harus menggunakan apa, kalau naik mobil terlalu berlebihan hanya untuk beli telur, tapi kalau jalan kaki jarak ke warung depan itu lumayan jauh. Mila kemudian menjentikan jarinya, baru ingat kalau di garasi mobil ada sepedanya yang lama dianggurin. "Mau kemana kamu?" suara itu terdengar saat Mila baru saja keluar dari halaman rumahnya, bersiap mengayuh sepedanya. "Ada yang mau dibeli di depan," sahut Mila. "Apa?" tanya Nico lagi. "Mau beli telur, Pak. Ada lagi yang mau Bapak tanyakan?" Mila menatap Nico dengan kesal. "Saya punya telur di rumah," sahut Nico yang membuat Mila belum bisa pergi ke warung depan. "Saya mau beli aja, Pak. Terima kasih," ucap Mila yang sudah mulai mengayuh tapi malah ditahan oleh Nico. Langit malam yang terlibat sangat gelap, kemudian mengeluarkan suara yang cukup membuat kaget. Sedetik kemudian butiran air mulai jatuh membasahi. "Kamu gak dengar gledek? Ini juga sudah gerimis," ucap Nico menengadah tangannya, "kalau kamu beli ke depan sana, yang ada pas kamu pulang kamu bakal kehujanan," lanjut Nico lagi. Mila menatap bosnya dengan perasaan kesal. Kalau ia tidak bertemu dengan Nico, ia sekarang pasti sudah pulang dari warung dengan membawa telur. "Kamu balik dan tunggu saya bawain telur ke rumah kamu," ucap Nico membelokkan sedikit stang sepeda milik Mila. Dengan sangat terpaksa ia mengikuti apa yang Nico katakan. Air hujan yang tadinya hanya gerimis, kini berubah menjadi butiran air hujan yang besar dan cukup deras. Setelah memarkirkan sepeda di tempat semula, seorang pria berpayung datang dengan membawa satu plastik putih berisi setengah lusin telur ayam. "Saya gak perlu sebanyak ini, Pak," ucap Mila menolak plastik putih itu. "Ya sudah ambil aja kenapa sih?" Wajah Nico berubah menjadi tegas. "Makasih, Pak." Mila menerima telur ayam itu. Langkah kakinya terhenti saat Nico mengucapkan kalimat yang sulit Mila percaya. "Hah? Pak Nico bilang apa?" tanya Mila memasang wajah pilonnya. "Telurnya kan banyak, kamu sekalian masakin saya aja. Dari tadi saya order makanan gak ada yang mau terima, mungkin karena hujan," ulang Nico. Mendengar kalimat yang sama yang bosnya ucapkan, membuat Mila tak hentinya menggerutu dalam hati. Ia menyesal kenapa tadi keluar rumah, seharusnya ia tetap berada rumah. Menikmati mie instan tanpa telur sepertinya lebih mantap, dibandingkan harus memasak untuk bosnya. "Saya gak bisa masak," ketus Mila. "Lalu telur ini buat apa kalau kamu gak bisa masak? Dadar telur masa gak bisa?" Kesal Nico selalu saja ada bahan untuk membahas dirinya, Mila lalu mempersilahkan bosnya itu masuk dan menunggu di ruang tamu, sementara ia menyiapkan makanan di dapur. Setelah beberapa menit Mila memasak mie instan dan telur di dapur, Nico kembali datang menghampiri karena aroma yang sangat harum tercium hingga ke ruang tamu. Lantas ia meletakkan dua piring berisi mie dan telur dadar di atas meja makan minimalisnya. Tanpa mengucapkan kata-kata, Nico langsung saja menyantap makanan yang Mila sajikan tadi. "Ya ampun, mimpi apa aku kemarin," batin Mila melihat sikap bosnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN