Kepedesan

1050 Kata
Hari ini, impian Mila untuk bangun siang akhirnya terwujud. Kalau saja perutnya tidak terasa lapar, mungkin ia akan tidur sampai lewat jam makan siang. Dengan malasnya gadis cantik itu beranjak dari kasur kemudian menuruni anak tangga menuju lantai satu. Ia mengambil air dari dispenser lalu meminumnya, sambil menikmati selembar roti tawar Mila melangkahkan kakinya menuju ruang depan untuk membuka gorden. Untuk kali ini, ia tidak langsung membuka pintu depan, takut akan ada tamu yang tak diundang datang. Tepat pukul sebelas, Bu Ira datang. Sebelumnya ia telah memberitahu tahu Bu Ira untuk masuk lewat pintu samping. "Loh, tak kirain Mbak Mila gak di rumah makanya suruh lewat pintu samping," kata Bu Ira kaget dengan logat jawanya, kala melihat Mila santai di depan tivi. "Di rumah aja kok, Bu. Ibu sudah belanja ke pasar kan?" tanya Mila. Hari ini ia ingin makan ikan Nila goreng dengan sambal bawang, ditambah sayur lalapan. "Sudah dong, Mbak," sahut Bu Ira mengacungkan jempol. "Langsung masak aja ya, Bu. Beresin rumahnya nanti habis makan, lapar soalnya," kata Mila tertawa. "Siap, Mbak." Bu Ira bergerak memberikan hormat pada Mila kemudian beranjak menuju dapur. Segera menyiapkan makanan sesuai dengan permintaan majikan seminggu sekalinya itu. Sebelum mulai memasak, Bu Ira membuka lebar pintu serta jendela belakang agar sirkulasi udara masuk, meski sebenarnya telah terpasang cooker hood. Dengan cekatan Bu Ira membersihkan bahan masakan kemudian mulai kegiatan memasaknya. Aroma sedap masakan yang Bu Ira olah mulai tercium kala Mila menuruni tangga. Ia baru saja selesai membersihkan diri. "Tambah lapar ini," ucap Mila tiba di dapur. Dengan mengenakan baju kaos oversize dan celana pendek hitam andalannya, Mila ikut membantu menyajikan makanan yang telah masak ke atas meja makan. "Kita makan sama-sama yuk, Bu," ajak Mila yang sudah tak sabar ingin makan. "Oke, Mbak. Selesai nyuci ini dulu ya, Mbak," sahut Bu Ira yang tengah mencuci peralatan bekas masak tadi. Sambil menunggu Bu Ira selesai membereskan dapur, ia duduk manis di ruang makan mencicipi tempe dan sambal yang tersaji. Beberapa menit kemudian, netranya melirik ke ujung meja tempat ponsel Bu Ira berada karena layarnya menyala. "Bu, ini ada telepon," kata Mila membawakan ponsel milik Bu Ira ke dapur. Terjadi perubahan ekspresi dari wajah Bu Ira saat menerima telepon yang sepertinya dari anaknya. "Ada masalah, Bu?" "Anak saya sakit, Mbak. Maaf ya gak bisa nemenin Mbak Mila makan siang," ucap Bu Ira gak enak. "Ya ampun, Bu. Kenapa gak bilang, harusnya Bu Ira fokus sama anak aja. Saya jadi gak enak," ucap Mila. "Gak apa-apa, Mbak." Dengan cepat Mila memindahkan makanan tadi ke beberapa wadah makan untuk Bu Ira bawa. Awalnya Bu Ira menolak, tapi karena Mila memaksa, ia akhirnya menerima wadah berisi makanan itu. "Cepat sembuh buat anak Bu Ira ya." Mila mengantarkan Bu Ira hingga naik ke sepeda motor miliknya. Baru akan masuk ke dalam rumah melalui pintu depan, suara tetangga sebelah terdengar memanggil namanya. "Harusnya tadi langsung masuk," gerutu Mila. Ia kaget karena Nico malah meninggalkan rumahnya dan berjalan menuju rumah Mila. "Kamu sudah makan siang?" tanya Nico. "Belum, Pak," sahut Mila seadanya. "Kita makan siang di luar," ucap Nico yang terdengar seperti perintah bukan sebagai sebuah ajakan. "Tapi makanan saya sudah siap di dalam, Pak," ucap Mila yang berharap Nico akan segera pergi. "Kalau gitu saya ikut makan aja," ucap Nico masuk begitu saja ke dalam rumah Mila. "Loh, Pak. Pak." Mila mengikuti Nico. "Sekarang kan bukan jam kerja, Pak. Bapak gak bosan ketemu saya terus? Di kantor lalu di rumah," celetuk Mila hendak menghentikan langkah Nico, tapi ia sudah sampai di ruang makan dan melihat makanan yang telah tersaji. "Mungkin itu sudah takdir. Lagian makanan sebanyak ini kamu mau habiskan sendiri?" Nico berbalik menatap Mila. Setiap hari berhadapan dengan bosnya itu, Mila seperti terjebak dan tak bisa melawan setiap kata Nico, CEO yang selalu benar dan tak pernah salah. Tanpa kata, Mila berjalan ke arah dapur dan mengambilkan piring. "Jadi saya boleh?" tanya Nico menatap makanan yang tersaji di meja lalu berganti menatap Mila. "Harus saya jelaskan lagi, Pak? Ini bukan di kantor dan bukan jam kerja, jadi saya tidak perlu terlalu resmi dengan Bapak," ucap Mila begitu lugas sembari menyendokkan nasi ke dalam piring, mengambilkan ikan, dan mendekatkan piring berisi sambal serta lalapan. Mila lalu duduk persis di depan Nico. Untung saja kedatangan Nico tak membuat nafsu makannya hilang, yang ada ia semakin lapar. Makan menggunakan tangan, gadis manis itu terlihat lahap dengan sambal yang cukup banyak di pinggir piringnya. Melihat gaya makan Mila yang begitu bersemangat, Nico mengambil sambal hingga dua sendok yang langsung ia letakkan di atas ikannya. Perlahan keringat mulai mengalir di pelipisnya. Sedikit gemetar, Nico meraih gelas dan langsung menghabiskan air putih yang ada di gelas. "Pak Nico kenapa?" tanya Mila melihat tingkah bosnya yang tak biasa. "Kepedasan kayaknya" gumam Mila dalam hati. Ia meraih ponselnya dan berjalan menjauh dari ruang makan untuk menghubungi Priska. Jujur saja ia tak tahu harus berbuat apa. "Kamu kasih aja gula pasir sama Pak Nico," saran Priska. "Oh oke deh," ucap Mila langsung mengakhiri panggilannya, padahal Priska masih kepo dan ingin bertanya lebih lanjut. Pasalnya ini adalah hari libur dan Nico biasanya paling anti mengambil jadwal pertemuan dengan klien kecuali klien itu penting. Ia ingin tahu apa yang Mila dan Nico lakukan di hari libur begini. Membawakan piring kecil berisi gula, Mila meminta Nico memakannya untuk mengurangi rasa pedas yang bosnya rasakan. Dengan mulut yang mengemut gula, Nico menatap Mila. Ternyata sekretarisnya itu cepat tanggap juga. "Priska bilang coba kasih gula," ucap Mila. Nico membulatkan bibirnya pelan. "Sudah tahu pedas, kenapa Bapak masih makan sambal?" tanya Mila heran. "Ya lihat kamu enak makannya, saya juga mau," sahut Nico. "Hidup itu ya gitu, Bapak gak bisa ngikutin saya yang suka makan pedas hanya karena ingin terlihat sama, padahal Bapak gak bisa makan pedas. Jangan hanya karena ngeliat orang lain enak lalu Bapak ikut-ikut, hasilnya gak bagus," ucap Mila memberi perumpamaan yang langsung kena di hati Nico. Perumpamaan yang mengingatkannya tentang pernikahan yang ia jalani sekarang. Di awal sebelum menikah, sebenarnya ia masih belum siap membina rumah tangga. Hanya saja ia melihat teman seangkatannya sudah mulai menikah, ia lalu mengikuti hal itu karena tidak ingin ketinggalan. Dan pada akhirnya ya begini, rumah tangganya tidak bisa dipertahankan padahal baru dua tahun usianya. "Ganti aja ikan di piring, Bapak," ucap Mila menjauhkan ikan penuh sambal itu kemudian menggantinya dengan ikan yang baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN