"Uhm ... aku sudah cukup." Kirana mendorong piring berisi ravioli yang masih tersisa sepertiga ke tengah meja. Leonard menatap khawatir, "Masih merasa mual?" Kirana menendang kaki lelaki itu di bawah meja, "Sedikit. Padahal aku sudah minum obat mual." "Seharusnya bulan depan morning sickness-mu sudah berkurang." Leonard meremas tangan sang istri. "Iya, kuharap juga begitu. Sayang sekali ravioli ini," keluhnya. "Tidak apa-apa, Baby. Biar kuhabiskan." Tanpa ragu Leonard mengambil piring Kirana dan melanjutkan makan. "Thank you, Daddy ... Sorry merepotkanmu." "It's okay, Baby. Aku lebih dari rela melakukannya." Kalau tidak ada siapa pun di restoran ini ingin rasanya Kirana melompat ke pangkuan Leonard dan menciumi lelaki itu sampai kehabisan nafas. Handphone di saku Leonard berdentin

