Bab 16: Melepas

1664 Kata
“Jadi, kita sepakat dengan harganya, ya?” tanya Doni, si pembeli pick up milik Atha. Seperti kata Haris, Doni sudah menyepakati harga yang ditawarkan oleh Atha asal keadaan mobil sesuai dengan penjelasannya. Hari ini, Doni khusus datang untuk melihat langsung barang yang ingin dibeli. Dia sudah meneliti setiap detail mesin dan juga fisik pick up. Tidak ada yang meleset dari penjelasan si perantara. Semua hal diberitahukan dengan sangat baik sehingga Doni tidak merasa sia-sia karena sudah datang sendiri ke rumah Atha. Dia merasa sudah mendapatkan apa yang telah didinginkan. Tidak masalah jika dia harus menempuh jarak dua jam lebih ke sini. Senyum di wajah Doni justru menimbulkan kesedihan di hati Atha. Namun, Atha berusaha menyembunyikan hal itu dari semua orang. Dia tidak ingin dilihat sebagai pria cengeng atau tidak bertanggung jawab. Meski begitu, tidak mengapa kalau dia sedikit sedih karena kehilangan benda kesayangan, bukan? Di samping Atha, Haris menarik napas dalam-dalam. Dia tahu kalau Atha sebenarnya tidak ingin melepas pick up itu. Keputusan ini tentu sudah membuat Atha sedikit sentimental. Atha memang tidak menunjukkan sisi lemahnya, tetapi dia cukup memahami perasaan sang sahabat. “Iya. Sudah sesuai kesepakatan. Saya senang Bang Doni menyukai mobil saya.” “Tentu saja. Apa yang dijelaskan oleh perantara kamu cukup meyakinkan, jadi saya tertarik untuk melihat. Hasilnya sangat memuaskan.” “Terima kasih. Semoga mobil ini akan lebih bermanfaat di tangan Bang Doni.” “Pastinya. Sesuai perkataan saya di telepon, saya akan mentransfer uangnya begitu kita mencapai kata sepakat. Saya minta nomor rekeningnya, ya?” “Baiklah.” Tangan Atha sibuk menekan layar telepon seluler untuk mencari di mana dia menyimpan gambar yang menampilkan nomor rekeningnya. Pikiran yang sedikit kacau membuat mata Atha sedikit buram. Dia tidak menemukan apa yang dicari. Atau itu karena dia yang tidak berkonsentrasi. Menyadari sikap aneh sang sahabat, Haris menyenggol pundak Atha. Sedikit tersentak, Atha menoleh dan bertanya tanpa suara. Haris melirik telepon seluler milik Atha sambil mengedipkan mata. Butuh beberapa saat sebelum Atha sadar dan memahami apa yang ingin Haris sampaikan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan pada diri Doni, Atha segera meminta maaf dan mengatakan kalau dia memang sedikit pelupa, jadi memerlukan waktu lebih lama. Atha menggelengkan kepala demi bisa menyingkirkan segala ganjalan. Kemudian, dia kembali mencari gambar yang diinginkan. “Ini dia. Maaf, ya. Saya suka lupa,” ujar Atha sambil menyodorkan sebuah gambar. “Baiklah. Sebentar.” Doni melihat gambar itu beberapa saat, lalu mulai menggerakkan tangan di atas layar telepon selulernya. Dia mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekening yang diberikan oleh Atha. Senyumnya mengembang begitu ada keterangan jika transaksi telah berhasil. Artinya, sekarang mobil itu sudah menjadi milik Doni. Di pihak lain, Atha juga menerima pemberitahuan uang masuk ke rekeningnya. Dia membuka pesan itu dan menahan napas. Uang yang dia terima menandakan jika hari ini adalah kali terakhir pick up-nya terparkir di halaman rumah. Dia harus segera mengikhlaskan mobilnya agar tidak ada beban di d**a. “Terima kasih, Bang Doni. Mari, kita bersalaman sebagai tanpa kesepakatan,” ucap Atha dan dia berjabat tangan dengan Doni. Kini, Atha hanya dapat melihat mobil yang disayanginya menjauh, kemudian menghilang dari pandangan mata. Dia menengadah ke langit. Melepaskan sesuatu yang dicintai memang sangat sulit dilakukan. Keikhlasan mudah diucapkan, tetapi begitu sukar diwujudkan. Apa pun itu, Atha harus belajar ikhlas. Ada banyak kesempatan untuk memiliki mobil lagi suatu hari nanti. Sebelum ini, dia juga tidak berpikir akan bisa membeli sebuah pick up. Kemudian, Allah mampukan dia untuk memiliki kendaraan yang bagi sebagian orang merupakan hal mewah. Jika sekarang Allah kembali mengambil mobil itu, lalu apa Atha berhak merasa sakit hati. Dia tidak boleh terus memikirkan pick up yang sudah tak terlihat mata. Ada banyak hal yang memerlukan pemikirannya. Jalan hidup masih sangat panjang. Untuk apa merasa terbebani saat salah satu kesenangan kita diambil Sang Pemilik? “Sabar, Bro. Insya Allah, nanti akan mendapatkan ganti yang lebih baik.” “Amin. Makasih sudah mau bantu aku menjual mobil. Nanti aku kirimkan bagian kamu. Oke?” Haris tertawa. “Aku sudah bilang kalau itu tidak perlu, Tha. Kamu sudah banyak membantu. Apa aku tidak boleh memiliki hari di mana aku membalas jasamu itu?” “Dulu, aku memberi bantuan dengan ikhlas. Aku sama sekali tidak mengharapkan balasan dari kamu. Jadi, kamu tidak perlu sungkan begitu.” “Kalau kamu memberiku uang, aku akan semakin sungkan.” “Tapi, Ris, aku ....” “Aku tahu kamu tidak pernah mengharapkan pamrih atas semua bantuan kamu dulu. Tapi, aku tetap ingin membantumu saat ini. Aku juga ikhlas, Tha. Jadi, tolong jangan buat aku merasa seperti teman yang tidak tahu etika.” “Gaya bicaramu itu terdengar menggelikan. Aku tidak terbiasa dengan kata-kata bijak yang keluar dari mulut kamu. Apa kamu sadar?” “Ada saatnya seseorang harus bersikap serius, Tha. Kamu benar-benar tidak bisa menempatkan waktu dengan baik.” Ganti Atha yang terbahak. “Maaf. Aku hanya bercanda. Soalnya kamu jarang bersikap serius. Jadi, setiap kamu ngomong serius, aku merasa kamu sedang berubah menjadi orang lain.” “Tidak usah mengkritik orang lain. Bukannya tadi kamu hampir menangis?” “Menangis? Apa kamu sedang membicarakan mengenai diriku? Yang benar saja.” “Masih tidak mau mengaku. Aku melihat kalau kedua matamu itu sudah memerah. Iya, kan? Sudah. Mengaku saja!” “Apa yang kamu katakan itu tidak masuk akal.” Selesai mengatakan hal itu, Atha langsung pergi. Dia berusaha untuk tidak memedulikan tawa Haris di belakangnya. Kalau dia menoleh atau bahkan berbalik, pasti sang sahabat akan terus mengoloknya. Dan dia tidak menginginkannya terjadi. Dia tidak mau kalah dari Haris. *** Ziya memperhatikan setiap gerakan Atha yang tengah mengobrol dengan Haris dan Doni. Mereka hanya berdiri di sekitar pick up milik Atha. Dari yang Ziya tahu, Doni datang untuk memastikan keadaan kendaraan Atha, apakah sesuai dengan yang diharapkan. Pria itu memeriksa hampir satu jam. Saat tadi Ziya menghampiri sambil mengantarkan minuman dan camilan, Atha tidak mengatakan apa-apa. Meski begitu, Ziya tahu kalau dibalik senyum Atha yang mencoba menguatkan sang istri, dia menyimpan kesedihan. Ziya jadi semakin menaruh iba pada suaminya yang malang. Atha adalah pria pekerja keras. Dia sudah terbiasa hidup mandiri sejak lulus sekolah menengah. Kios sablon yang dia miliki merupakan bukti bagaimana tekunnya membangun usaha tersebut. Memulai bisnis dari skala kecil sampai cukup besar diakui oleh orang lain bukanlah hal mudah. Sebagai satu-satunya usaha yang bergerak di bidang sablon, kios Atha berkembang pesat akhir-akhir ini. Terutama tiga tahun belakangan. Dia bisa menyewa tempat yang lumayan besar. Meski tidak mendapatkan tempat yang cukup strategis, dia sudah sangat senang bisa bersaing di antara bisnis lain di sekitarnya. Pelanggan terus bertambah dari hari ke hari. Keadaan itu semakin memompa semangat Atha untuk memperluas jaringan. Karenanya, dia ingin membuka cabang di kota. Rencana itu sudah setengah berjalan. Dia bahkan sudah menyurvei beberapa tempat sebagai wacana. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Kebakaran itu meruntuhkan semua mimpi yang Atha bangun susah payah. Jika sebelumnya dia tidak tertipu oleh investasi bodong, mungkin keadaan tidak akan seburuk sekarang. Ketika tabungannya sudah terkuras habis untuk modal berinvestasi, dia justru kembali ditimpa kemalangan. Setelah dua musibah besar itu, Atha benar-benar dibuat tidak berkutik. Dia mulai mempertanyakan kemampuannya untuk memimpin. Gagal menjaga keluarga karena kesalahan dalam investasi dan juga terpuruk sebab kegagalan menyelamatkan usahanya. Apa yang lebih buruk dari itu? Dalam sudut hati terdalam Atha, dia menyalahkan diri karena gagal memimpin rumah tangga dan bawahannya. Dia mengorbankan banyak hal untuk menjaga keduanya, tetapi tetap saja tidak dapat mempertahankan mereka. Betapa buruknya cara dia memimpin orang-orang terpenting dalam hidup. “Berapa banyak yang Kakak butuhkan sebenarnya?” Pertanyaan Hanin mengalihkan perhatian Ziya dari Atha. Dia menoleh dan mendapati sang adik yang tengah menyilangkan kedua tangan di d**a. Melihat bagaimana cara Hanin bertanya, Ziya tahu kalau adiknya itu serius. Saat dalam mode begitu, Ziya baru bisa merasakan betapa inginnya dia memeluk Hanin. Tentu saja Ziya tidak akan melakukan hal itu. Tidak mau membuat orang-orang di sekitarnya merasa terbebani karena derita dalam hati yang dia simpan. Cukup mendapat perhatian dan simpati. Dia tidak ingin merepotkan orang lain dengan masalahnya. Lagi pula, dia paling ahli menyimpan perasaan. Kata orang, Ziya itu bagaikan wadah yang tertutup rapat. Dia mampu menyembunyikan hal apa pun dalam hati dan menahannya selama mungkin. Karenanya, banyak teman yang menjadikan Ziya tempat bercerita. Meski tidak mampu membantu permasalahan mereka, dia bisa menjadi pendengar yang baik. “Memangnya kamu punya berapa banyak?” tanya Ziya, setengah bercanda. Senyumnya mengembang saat menatap balik Hanin. “Aku serius, Kak. Mas Atha sudah sering membantu kami. Walaupun kami tidak punya banyak tabungan, kami masih bisa memberi bantuan barang sedikit.” “Tidak perlu, Nin. Insya Allah, kami bisa menyelesaikan permasalahan ini. Kamu dan suami kamu bantu doa saja, ya.” “Kak, aku sungguh-sungguh. Kita hanya berdua di sini. Kalau ada yang bisa aku bantu, katakan saja. Jangan menanggung apa pun sendiri.” “Tadi Kakak sudah bilang, kalian bantu doa. Itu yang paling penting.” Hanin mendengkus mendengar kalimat Ziya yang baginya sangat menyebalkan. Selalu begitu. Ziya dan Atha terus membantu keluarga Hanin. Ketika pertama kali membuka warung bakso, mereka yang membantu suami Hanin mencari tempat. Mereka juga menambah modal yang cukup banyak. Meski begitu, Atha tidak pernah mau saat Hanin dan suami bermaksud mengembalikan. Keadaan keuangan suami istri itu memang belum sebaik Atha, tetapi sudah bisa dibilang baik. Tetap saja, Atha tidak bersedia menerima uang pengganti yang telah diberikan pada Hanin. “Kalian akan terus seperti itu, kan?” tanya Hanin sedikit jengkel. “Maksud kamu?” “Masih pura-pura tidak mengerti? Kakak dan Mas Atha itu sama saja.” “Karena kamu adik kami. Sudah tugas kami untuk menjaga kamu.” “Tapi aku juga mau membantu, walaupun tidak banyak.” “Kakak tahu maksud kamu, Nin. Sekarang ini, aku dan Mas Atha sedang berusaha agar bisa menyelesaikan masalah kami.” “Apa aku benar-benar tidak bisa membantu apa pun? Kecuali doa, ya. Kalau berdoa, tentu saja aku selalu melakukannya untuk Kakak dan Mas Atha.” “Tunggu dulu. Sepertinya ada yang bisa kamu bantu,” ujar Ziya sambil tersenyum lebar. Kening Hanin mengerut melihat ekspresi Ziya yang menurutnya aneh. “Jangan meminta hal-hal aneh.” “Bukan aneh. Hanya saja ... ini sedikit mendesak. Jadi, aku sangat membutuhkan bantuan kamu. Bagaimana?” Sekali lagi, Hanin memandang Ziya penuh selidik. Ada senyum aneh di wajah sang kakak. Wajar, bukan, kalau dia berpikir ada yang disembunyikan dari Ziya dan itu pasti sesuatu yang aneh. Meski begitu, Hanin tetap mengangguk. Dia sudah menawarkan bantuan, mana bisa mundur sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN