Bab 15: Kejutan

1656 Kata
Pandangan Atha masih tertuju pada pick up hitam yang menjadi andalannya dalam melancarkan usaha. Sudah setahun berlalu sejak dia membeli kendaraan itu, tetapi rasanya baru kemarin dia mengendarai. Menjadi mobil pertama yang dibeli, membuat Atha sangat mencintainya. Ada sedikit ketidakrelaan untuk menjual kuda besi itu. Jika saja Atha masih memiliki jalan keluar lain, dia akan memilihnya. Sayang, semua sudah buntu sekarang. Dia sudah punya tanggungan di bank yang harus dibayar setiap bulan dan jumlahnya tidak sedikit. Mana mungkin dia berani mengajukan pinjaman ke lembaga lagi. Jika mau, ada banyak tempat yang memberikan penawaran pada Atha. Jaminannya pun tidak sesulit di lembaga keuangan seperti bank. Akan tetapi, Atha sudah bertekad tidak akan berutang lagi. Satu pengalaman buruk sudah cukup baginya. Dia tidak mau terjatuh di lubang yang sama. Seandainya saja ada yang berbaik hati meminjamkan dana pada Atha, itu akan sangat baik. Namun, siapa pun yang melihat dan mengerti masalah tidak akan berani mengeluarkan sepeser uang untuknya. Masalah yang dia hadapi sekarang sudah menumpuk, siapa yang mau terlibat dalam hal ini? Satu-satunya hal yang dapat Atha pikirkan adalah menjual aset yang dimiliki. Untuk sekarang, pick up yang harus dia lepaskan. Mungkin bila nanti tidak cukup, dia harus merelakan rumah yang dia tinggali. Berat? Tentu saja berat. Melepaskan sesuatu yang telah lama kita miliki merupakan hal sulit. Benar. Allah melarang umat-Nya untuk mencintai sesuatu secara berlebihan. Jadi, saat ia diambil, si empunya tidak merasa kehilangan. Bersedih karena hilangnya hal yang dimiliki sangat wajar. Tidak masalah selama menyikapinya dengan bijak. Bukan menangis meraung-raung atau menyalahkan orang lain. Itulah yang sedang Atha usahakan. Dia mencoba menguatkan hati agar dapat melepas hal-hal yang dicintai. Untuk masalah rumah, dia belum membicarakan dengan Ziya. Sungguh, dia tidak ingin pindah dari tempat tinggalnya selama ini. Terlalu banyak kenangan bersama. Atha juga tidak sanggup mengatakan keinginannya ini pada Ziya. Wanita itu terlalu baik untuk mendapat ketidakberuntungan. Karenanya, dia akan berusaha lebih keras agar bisa mempertahankan rumah. Demi Ziya dan anak-anak dia rela berkorban apa pun. Dia sudah mengecewakan mereka dua kali. Jadi, dia tidak boleh bertindak gegabah dan memutuskan sesuatu secara buru-buru. Melihat pintu rumah terbuka membuat Atha memikirkan apa yang Ziya lakukan di dalam sana. Dia tahu kalau sang istri juga sedang merencanakan sesuatu untuk memberi bantuan. Pertanyaan Ziya mengenai pekerjaan yang ingin dilakukan di rumah tempo hari sudah membuktikan niatnya mendampingi Atha. Kali mau jujur, Atha tetap ingin Ziya berkonsentrasi merawat anak-anak mereka. Apa lagi Dania masih satu tahun. Yazid, meski sudah terlihat mandiri, dia tetaplah anak berusia lima tahun. Kedua anak itu masih membutuhkan perhatian penuh dari orang tua mereka, terutama sang ibu. Kasih sayang ibu bisa memberikan rasa aman bagi anak-anak. Atha tahu kalau peran ayah juga sangat penting bagi pertumbuhan buah hati, tetapi dia tidak begitu mengerti bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Beberapa kali, dia mencoba mendekat. Namun, selalu kalah dengan batasan waktu. Menjalankan usaha mandiri yang belum berkembang membuat Atha kehilangan banyak waktu dengan putra putrinya. Dia lebih sering menghabiskan hari di kios ketimbang menemani keluarga di rumah. Bahkan, sering kali dia lupa dengan janji yang sudah dibuat karena pesanan menumpuk. Rasa bersalah kerap menghampiri Atha saat tiba-tiba Yazid protes karena sang ayah mengingkari janji yang dibuat. Kalau sudah begitu, Atha akan berusaha memberi penjelasan agar anak laki-lakinya itu mengerti. Dalam hal ini, Atha selalu berterima kasih karena Ziya membantu untuk menjelaskan. Terkadang Atha merasa iri karena anak-anak lebih menurut pada Ziya. Lalu, kemudian dia sadar kalau istrinya memang lebih sering berkomunikasi dengan buah hati mereka. Tidak mengherankan kalau mereka lebih dekat dengan Ziya. Dialah yang terlalu tenggelam dalam pekerjaan dan sering abai. Bukan tidak ingin ikut merawat anak-anaknya, Atha hanya sedikit sulit membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah. Semenjak meminta Ziya berhenti bekerja, Atha berusaha lebih keras agar kebutuhan mereka tercukupi. Karena itu, dia menerima lebih banyak pesanan. Pikiran Atha penuh dengan bayangan Ziya. Dia melangkah pelan ke arah pintu, lalu mengucap salam. Ziya menjawab setelah muncul tiba-tiba. Atha sampai terkejut karena tidak menyangka kalau Ziya akan berada di hadapannya secepat itu. Di samping Ziya, ada kedua anak mereka yang tersenyum lebar. “Selamat datang, Ayah,” ucap Yazid. Dania mengoceh tak jelas, seolah ingin mengikuti perkataan sang kakak. “Terima kasih.” Atha melirik Ziya yang juga tersenyum. Dia merasa kalau ada yang tidak beres. “Ada apa ini?” tanyanya tanpa bisa menahan diri. “Kami punya sesuatu untuk Ayah,” ujar Ziya. “Ayo, ke sini!” Hati Atha bertanya-tanya apa yang telah disiapkan Ziya dan anak-anaknya. Dia mengikuti langkah ketiga orang tercintanya dengan senyum menghias bibir. Apa pun yang akan dia terima nanti, pastilah sangat istimewa. Karena semua itu dipersiapkan untuknya seorang. Sudah selayaknya dia berterima kasih. Senang rasanya masih bisa tersenyum di saat seperti ini. Di luar tadi, dia merasa sangat kesepian dan tertekan. Namun, setelah masuk dan melihat anak istrinya, dia gembira luar biasa. Mengherankan sekali karena dia bisa merasakan betapa tenang hatinya sekarang. Tidak mengapa jika 'sesuatu' yang disebutkan Ziya bukan hal yang seperti Atha duga. Dia sudah sangat senang begitu melihat sang istri dan kedua anaknya menyambut di depan tadi. Tidak ada yang lebih dia butuhkan selain melihat senyum di wajah orang-orang tercinta. Dan dia baru saja memperoleh itu. “Kejutan!” teriak Ziya dan kedua anaknya bersamaan. Hampir saja Atha tidak mempercayai penglihatannya. Dia menatap hiasan sederhana yang tampaknya dipersiapkan oleh Ziya dan Yazid. Tertulis kalimat 'Semangat, Ayah. Kami bersama Ayah'. Di atas meja, ada kue tart berbentuk hati yang berwarna merah muda. Bila biasanya dia tidak menyukai warna itu, sekarang dia sangat menyukainya. Kening Atha berkerut begitu membaca dua kalimat di atas roti berhias krim merah muda itu. Dia melirik Ziya yang sepertinya juga menyadari apa yang tengah dipikirkan oleh sang suami. Namun, bukannya menjelaskan, Ziya malah mendorong tubuh Atha dan memintanya mendekati meja kue. “Apa Mas salah mengingat hari?” tanya Atha. Sedikit khawatir kalau dia memang lupa hari ulang tahun pernikahannya. Dia lega saat Ziya menggeleng. “Kue ini hanya eksperimen aku, Mas. Karena bingung mau menulis apa, jadi ... aku menulis itu saja. Tidak masalah, bukan?” “Tidak masalah sama sekali,” kata Atha sambil tersenyum lebar. “Tapi Mas sedikit aneh,” ucap Ziya. Dia memperhatikan Atha dari atas sampai bawah. “Aneh bagaimana? Mas berantakan?” Atha menepuk-nepuk pakaian yang dikenakan, lalu sedikit merapikan rambut yang entah bagaimana bentuknya. “Mas ini kenapa?” “Tadi kamu bilang Mas aneh, jadi Mas berbenah sedikit.” “Maksud aku bukan penampilan Mas yang aneh.” “Lalu?” Atha kembali mengerutkan kening saat Ziya hanya tersenyum misterius. “Apa sebenarnya yang mau kamu katakan?” “Bukan apa-apa. Aku hanya heran karena Mas ternyata mengingat kapan ulang tahun pernikahan kita.” “Tentu saja Mas ingat. Itu hari yang penting untuk kita, bukan?” “Tapi, bukankah kita tidak pernah merayakannya? Aku pernah membuat kejutan waktu anniversary kita dan Mas tidak ingat hari apa itu.” “Itu ... karena beberapa alasan, Mas sering lupa. Tapi, sejujurnya, Mas selalu ingat kapan kita menikah. Serius.” Atha menambah kata terakhir saat Ziya terlihat tidak mempercayai ucapannya. “Beberapa alasan, ya? Sepertinya Mas memang tidak pernah mengingat anniversary kita. Iya, kan? Mas hanya ingin membuatku senang.” “Bukan begitu, Zi. Jauh-jauh hari sebelum waktu anniversary kita, Mas selalu mengingatkan diri sendiri. Tapi, entah bagaimana, Mas terus lupa saat waktunya sudah tiba. Bukankah itu hal yang aneh?” “Terus saja cari alasan.” “Bukan mencari alasan, Zi. Benar. Mas selalu berusaha mengingat hari-hari yang penting, termasuk anniversary kita.” Mendengar betapa Atha menyesali perbuatannya di masa lalu membuat Ziya tertawa. Tadinya, dia hanya berniat untuk menggoda sang suami. Siapa sangka kalau Atha malah menganggap serius omongannya kali ini. Dia jadi merasa bersalah sekaligus terhibur. Bersalah karena tidak bermaksud memojokkan Atha dan terhibur karena Atha jarang memiliki ekspresi seperti sekarang. Tahu jika Ziya ternyata hanya bercanda, Atha memberikan tatapan penuh tanya. Pria itu memiringkan kepala. Ziya yang sudah lama tidak melihat senyum jail menghiasi bibir Atha sedikit berdebar. Ketika di awal perkenalan mereka, Atha memang memiliki sisi yang suka usil. Dia juga beberapa kali melontarkan rayuan. Itu dulu sekali. Sudah sangat lama sejak Ziya melupakan sikap Atha yang begitu. Dia pikir Atha tidak akan pernah memberikan ekspresi seperti itu lagi padanya. Lalu, tiba-tiba saja dia diberi kejutan. Ini di luar prediksinya. Dia yang ingin mengejutkan Atha, tetapi malah dia yang terkejut. Andai saja Atha bisa bersikap seperti itu sejak awal, mungkin rumah tangga mereka akan sedikit lebih hangat. Sikap serius Atha terkadang menimbulkan tekanan tersendiri di hati Ziya. Dia tidak mempermasalahkan hal itu, tentu saja. Dia menerima semua hal yang melekat pada diri Atha, tanpa terkecuali. Semua sikap Atha, baik buruknya sudah diterima oleh Ziya. Dia mungkin juga memiliki kebiasaan yang sulit dimengerti oleh sang suami. Akan tetapi, Atha tetap diam, bukan? Bisa jadi, dia melakukan hal itu bukan karena tidak ingin membuka diri. Bagaimana kalau ternyata dia hanya ingin dia memberikan ruang yang lebih luas padanya? Bukankah setiap orang membutuhkannya? Begitu juga dengan Atha dan Ziya. Masing-masing dari mereka bukan tidak ingin terbuka dalam segala hal. Terkadang, mereka sebenarnya saling mengerti, tetapi tidak mau memperlihatkan pada pasangan. Karena banyak alasan yang mereka miliki untuk tetap diam dan tidak mengatakan kebenarannya. “Iya. Aku percaya ucapan Mas.” “Tapi kenapa Mas merasa kalau kamu masih menertawakan Mas dalam hati?” “Mas terlalu banyak berpikir.” Padahal Ziya memang berusaha menahan tawa. “Jangan pura-pura. Kamu memang sedang tertawa dalam hati, kan?” “Sudahlah. Sebaiknya kita segera memotong kue itu. Kalau tidak, Dania akan meraih dan merusaknya.” Sekarang giliran Atha yang tertawa. Dia menangkap tangan Dania yang menggapai-gapai meja tinggi di hadapannya. Demi menjaga gerakan sang putri, dia menggendong Dania. Di sampingnya, Ziya ikut mengeluarkan tawa. “Mari, berdoa untuk keselamatan kita semua. Untuk kebahagiaan kita semua. Untuk kesuksesan kita semua. Dan untuk rasa syukur kita pada Allah. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus bagi kita semua.” “Amin.” Ziya dan Yazid mengamini. Sore itu, keluarga Atha tenggelam dalam kebahagiaan. Kejutan kecil yang dipersiapkan oleh Ziya berdampak besar pada kenangan mereka. Hari itu, hanya ada kegembiraan. Sesaat, kesedihan yang Ziya dan Atha rasakan beberapa saat lalu menghilang. Semoga tidak ada lagi musibah setelah hari ini. Amin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN