“Atha di klinik dekat tempat kerja, Zi. Tidak usah cemas. Dia tidak terluka parah.”
Ucapan Haris terus terngiang di telinga Ziya selama dalam perjalanan ke klinik. Di daerahnya memang belum ada rumah sakit. Yang terdekat dari kampung, memerlukan waktu satu jam lebih. Di tempat Ziya, hanya ada klinik dan puskesmas. Fasilitas kesehatan juga seadanya.
Di telepon tadi, Ziya sempat bertanya pada Haris mengenai apa yang terjadi. Haris hanya mengatakan kalau Atha terjatuh dan lengannya terluka, jadi dia membutuhkan beberapa jahitan. Ketika Ziya ingin mengajukan pertanyaan lain, Haris tiba-tiba memutuskan panggilan.
Bayangkan saja. Bagaimana mungkin Ziya tidak cemas. Dia menduga kalau kejadiannya tidak sesederhana itu. Sedari tadi, pikiran wanita itu diliputi kekhawatiran. Pasti ada sesuatu yang salah, tetapi dia tetap berdoa semoga keadaan Atha tidak parah dan otaknya saja yang sedang terbawa suasana.
Butuh sepuluh menit untuk sampai ke klinik yang dimaksud oleh Haris. Malam itu, klinik lumayan ramai. Ziya memarkir motor dengan sedikit tergesa-gesa. Dia melepas selendang yang digunakan untuk mengikat tubuh Yazid ke tubuhnya dan meminta sang sulung turun lebih dulu.
Jika membawa Yazid di malam hari, Ziya biasanya memang melakukan hal itu. Mengikatkan tubuhnya pada Yazid dengan selendang membantu untuk menjaga keamanan Yazid selama dalam perjalanan. Karena terkadang Yazid mengantuk. Jadi, Ziya tidak mau mengambil risiko.
Sementara Dania digendong di depan. Awalnya, Ziya ingin menitipkan Yazid dan Dania pada sang adik. Sayang, adiknya tengah pergi. Karena terburu-buru, dia memutuskan untuk membawa mereka. Toh, hanya ke klinik, bukan bepergian jauh.
Klinik yang dituju Ziya bukanlah tempat yang besar. Di sana hanya ada enam ruangan berukuran empat kali enam. Satu ruang bersalin dan satu ruang pendaftaran serta menunggu berukuran empat kali lima. Di tambah dengan satu ruangan untuk pemeriksaan. Di bagian depan klinik, ada sebuah apotek yang menyediakan berbagai macam obat.
Saat membuka pintu klinik, tangan Ziya sedikit gemetar. Dia berdeham sambil menenangkan diri sebelum melangkah masuk dan menemui petugas jaga di ruang pendaftaran. Mulutnya sudah terbuka untuk bertanya ketika dia melihat seseorang yang dikenal. Meski tidak hafal namanya, dia tahu kalau itu adalah karyawan Atha.
“Ada yang bisa kami bantu, Bu?” tanya penjaga pada Ziya. Wanita itu menoleh.
“Eh, sebenarnya ... saya ....” Ziya menoleh pada orang yang dia kenal sebagai karyawan Atha, tetapi sosok itu sudah menghilang. Keningnya berkerut.
“Iya, Bu? Ada masalah apa?” ulang sang penjaga. Ziya kembali berpaling padanya.
“Maaf. Saya mau bertanya mengenai pasien bernama Atha.”
“Bapak Atha? Apa yang menjadi korban kebakaran?”
“Korban kebakaran?” tanya Ziya memastikan. “Maksudnya apa, ya? Apa suami saya menjadi korban kebakaran?”
“Ibu tidak tahu? Atau saya salah orang? Sebentar, ya, Bu.”
Petugas itu memeriksa beberapa data. Ziya memperhatikan dengan tidak sabar. Matanya lalu beralih ke berbagai tempat. Dia mulai merasa tidak nyaman. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang dimaksud si petugas dengan menjadi korban kebakaran. Dia benar-benar ingin tahu.
Kemudian, sebuah suara yang sangat Ziya kenal memanggil namanya. Dia menoleh dengan cepat. Di sanalah Atha, dengan tangan yang disangga oleh sebuah kain. Tergopoh-gopoh, dia mendekati sang suami dan memeriksa keadaannya. Atha hanya diam selama Ziya memutari tubuhnya.
Selain luka di lengan kiri, ada beberapa luka baret di wajah dan tangan kanan Atha. Ziya meraih tangan Atha yang tidak terluka, lalu menggenggamnya. Atha tersenyum melihat kelakuan sang istri. Wajar jika Ziya bersikap begitu. Ini pertama kalinya Atha mengalami luka yang cukup serius. Tentu saja dia berharap kalau hanya akan mengalami sekali seumur hidup.
“Mas tidak apa-apa, Zi. Hanya luka kecil,” ujar Atha, mencoba menenangkan Ziya.
“Apanya yang luka kecil, Mas? Apa luka kecil perlu diperban dan digantung seperti itu?” Ziya menunjuk kain yang menopang lengan Atha. Sekali lagi, Atha tersenyum.
“Tapi Mas benar-benar tidak apa-apa. Kamu tenang saja, ya.”
“Sebenarnya ada apa, Mas? Kenapa Mas bisa terluka?”
“Duduk dulu, ya, Zi. Mas akan ceritakan pelan-pelan.”
Atha menggandeng Ziya dan mendudukkannya di sebuah kursi. Dia menarik napas, lalu duduk di samping Ziya. Butuh beberapa saat untuk menenangkan debat jantungnya sekarang. Jujur saja, dia sedikit terkejut dengan kehadiran Ziya di klinik. Siapa yang memberikan kabar ini kepada Ziya?
Sebelum pergi ke klinik, Atha sudah berpesan untuk tidak mengabari Ziya terlebih dahulu. Dia sendiri yang nanti akan menghubungi sang istri. Siapa mengira kalau ada yang diam-diam memberi kabar pada Ziya. Lagi pula, dia masih belum mempersiapkan diri untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Di hadapan Atha, Ziya menunggu dengan cemas. Yazid terus menarik baju Ziya dan wanita itu hanya memintanya bersabar. Sang adik sudah tertidur pulas dalam gendongan Ziya. Entah apa yang membuat Atha mengulur waktu untuk menjelaskan semuanya pada Ziya.
Sikap diam yang dilakukan oleh Atha semakin membuat Ziya khawatir. Atha bahkan melamun untuk waktu yang cukup lama. Ziya hanya menunggu karena tidak mau membuat Atha semakin tertekan. Jika Atha sudah siap, dia akan menceritakannya tanpa Ziya minta. Jadi, Ziya memutuskan bersabar lebih lama.
Walaupun begitu, Ziya bisa merasakan jika tangan Atha sedikit gemetar. Dia mengeratkan genggaman tangannya dan berharap Atha bisa merasakan kehadiran sang istri. Ada yang tengah bertarung di kepala Atha dan Ziya memahami. Apa pun yang akan Atha sampaikan, bukanlah hal baik.
Bukan berburuk sangka, tetapi wajah Atha sudah menceritakan gambaran kisah yang akan disampaikan. Ziya berusaha terlihat kuat, meski sejak tadi sangat khawatir. Dalam hati, dia tidak berhenti meminta kepada Allah agar segalanya dipermudah. Dia juga meminta kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi masalah.
“Sebelum Mas cerita, Mas harap kamu tenang dulu,” kata Atha. Dia menatap jauh ke dalam kedua mata Ziya yang indah.
“Mas tenang saja. Aku cukup kuat. Jadi, Mas tidak usah khawatir. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar ada kebakaran?” Atha mengangguk.
“Usaha kita terbakar, Zi. Hampir seluruh barang berharga hangus terbakar. Mas ... mungkin harus menutup tempat itu.”
Kedua mata Ziya terpejam. Dia mengucap innalilah beberapa kali dalam hati. Sepertinya Allah masih ingin menguji kesabaran Atha dan keluarga. Setelah diharuskan untuk merelakan uang karena penipuan, kini mereka juga kehilangan sumber pencarian utama.
Jika mau jujur, Ziya tidak begitu terpukul. Yang penting, Atha masih bisa berada di sisinya. Namun, usaha itu adalah jiwa Atha. Sejak sebelum menikah, Atha sudah memulai. Ziya sangat paham bagaimana Atha sangat mencintai pekerjaannya. Atha mencurahkan semua pikiran dalam usaha tersebut.
Lebih dari siapa pun, Atha adalah orang yang akan paling kecewa dan terluka. Bukan karena harus menanggung banyak kerugian. Melainkan karena semua jerih payahnya selama ini menghilang dalam sekejap. Dia tentu sulit menerima musibah yang menimpanya kali ini.
Lihatlah bagaimana tingkah Atha sekarang. Dia menundukkan kepala sambil memejamkan mata. Jika bukan karena egonya yang tinggi, dia mungkin sudah menangis. Akan tetapi, begitulah Atha. Ziya belum pernah melihat Atha menangis. Dia tidak mengerti mengapa Atha bisa menahan semua penderitaan.
Yang Ziya maksud adalah Atha bisa meluapkan kesedihan yang menyesakkan d**a. Kalau saja Ziya yang berada dalam posisi Atha, entah sudah bagaimana rupanya. Dia bukan orang yang cengeng, tetapi mudah tersentuh untuk sesuatu yang menyentuh. Beberapa kali, dia mengeluarkan air mata demi menenangkan hati.
Bukankah ada yang mengatakan jika air mata bukanlah tanda kelemahan. Banyak makna dibalik jatuhnya buliran bening itu. Saat bahagia pun, seseorang bisa menangis. Orang juga menangis ketika dia menyesali kesalahan. Lalu, apa salahnya menangis ketika kita kehilangan sesuatu?
Menangis dalam keadaan seperti ini bukan berarti tidak menerima kenyataan. Lebih karena untuk meluapkan kesedihan. Dengan meneteskan air mata, mungkin penderitaan yang dirasakan dalam hati bisa sedikit berkurang. Ya ... memang, hal itu tidak dapat mengembalikan apa yang telah Allah ambil. Namun, bisa membuat kita meringankan beban.
“Mas yang sabar, ya. Insya Allah, akan ada gantinya yang lebih baik,” kata Ziya menenangkan. Dia mengusap punggung Atha. Pria itu terlihat rapuh.
“Mas hanya bersedih karena kejadian ini akan membuat banyak orang kehilangan mata pencarian mereka. Mas sedikit marah pada diri sendiri karena tidak bisa menjaga tempat itu dengan baik,” ucap Atha pelan, nyaris tidak terdengar.
“Mereka pasti mengerti, Mas.” Ziya masih mencoba untuk menenangkan Atha. “Tidak ada yang terluka, kan? Maksudku, para karyawan Mas.”
“Dua orang yang saat itu ada di sana terluka, tapi tidak terlalu parah. Karena mereka berada di bagian depan.”
“Bukankah itu bagus? Setidaknya tidak ada korban jiwa.”
“Iya. Untung saja tidak. Uang bisa dicari lagi, tapi nyawa pemberian Allah hanya satu.”
Tiba-tiba, Atha bersimpuh di depan Ziya. Dia lantas meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dengan sangat erat. Kedua matanya memerah. Atha pasti berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Padahal Ziya tidak masalah kalau Atha ingin menumpahkan semua beban dengan mengeluarkan air mata.
“Mas minta maaf, Zi. Sekarang, kita bahkan tidak memiliki apa-apa.”
“Mas ini ngomong apa? Mas masih punya aku sama anak-anak. Mas masih punya keluarga yang akan mendukung. Yang paling penting, kita punya penolong yang paling murah hati, Allah. Dia yang akan memberikan kita jalan keluar.”
“Kamu sungguh tidak kecewa karena hal ini?”
“Tentu saja tidak. Bukankah Mas tadi bilang, uang bisa dicari lagi. Kita akan menemukan cara lain untuk mendapatkan penghasilan. Rezeki tidak mungkin tertukar, bukan?” Atha tersenyum mendengar pertanyaan Ziya.
“Ada banyak tanggungan yang harus Mas tunaikan. Apa kamu siap hidup prihatin bersama dengan Mas? Mungkin akan butuh waktu yang cukup lama. Selain utang bank, Mas juga harus bertanggung jawab pada para karyawan. Semua kerugian konsumen yang terlanjur memesan juga tidak sedikit.”
“Insya Allah, aku kuat. Aku akan mendampingi Mas sampai akhir.”
“Terima kasih, ya, Zi. Mas tahu kalau kamu akan mengatakan semua itu,” ujar Atha sambil tersenyum.
“Jadi, Mas cuma ngetes aku?” Ziya melepas genggaman Atha setelah sang suami mengangguk. Dia memajukan bibir sambil melayangkan tatapan protes.
“Bukan begitu, Zi. Mas hanya takut kamu ikut menderita karena kesalahan yang Mas lakukan.”
Atha beranjak, lalu duduk di samping Yazid yang ternyata sudah tertidur. Dia meraih Yazid dan menidurkannya di pangkuan. Ziya sedikit bergeser agar si sulung mendapatkan ruang yang lebih luas, sehingga bisa tidur dengan nyaman. Wanita itu melonggarkan gendongan Dania karena pundaknya sedikit capai.
“Kita pulang saja? Anak-anak sudah tidur. Kasihan mereka,” ujar Atha saat melihat Ziya kurang nyaman menggendong Dania.
“Bagaimana dengan kios Mas?”
“Mas akan kembali ke sana setelah mengantar kalian pulang.”
“Tapi tangan Mas sedang terluka. Memangnya Mas bisa bawa mobil dengan tangan seperti itu?” Atha melirik tangannya. Agaknya dia lupa dengan hal itu.
“Bagaimana kalau begini? Mas akan minta bantuan Haris untuk mengantarkan kita?”
“Apa tidak terlalu merepotkan?”
“Hanya sebentar.” Ziya menatap Atha yang memohon. “Oke?”
“Oke. Tapi, Mas jangan memaksakan diri. Mas sedang terluka saat ini. Mas juga butuh istirahat.” Ziya mengingatkan.
“Iya. Kalau begitu, Mas telepon Haris.”
Malam itu, meski cobaan kedua dalam rumah tangga Atha dan Ziya terjadi, mereka tidak merasa khawatir. Mereka saling menerima dan menjaga. Dengan kerja sama yang baik, mereka akan menemukan jalan keluar. Pertolongan Allah itu nyata, bukan?