Bab 10: Bye, Kesayangan

1930 Kata
“Kalian baik-baik saja?” tanya Atha pada kedua karyawannya yang terluka. Yang satu mengalami patah tulang kaki. Sementara yang lain hanya luka bakar ringan. Kedua pekerja yang tengah kelelahan itu tertidur di ruang depan. Jadi, mereka tidak tahu jika ada api yang melalap kantor mereka. Saat sadar, api sudah cukup besar dan mereka terjebak di dalam. Letak ruko satu lantai yang Atha sewa berada di ujung jalan. Jarang sekali orang melewati tempat itu. Ditambah dengan suasana yang sudah senja. Semua orang memilih untuk berada di dalam rumah atau beribadah di tempat ibadah. Wajar saja kalau tidak ada yang menyadari terjadi kebakaran. Masjid yang Atha dan para karyawan tuju untuk salat Magrib sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja, kedua tempat itu terhalang ruko dua tingkat. Sekilas, tidak akan ada yang menyadari kalau ada sebuah bangunan kios sablon di belakang ruko. Kekhusyukan saat beribadah juga membuat jamaah tidak melihat adanya api. Dalam hitungan menit, semua kios Atha nyaris terbakar habis. Kantor yang berisi bahan-bahan mudah terbakar juga menjadi pemicu cepatnya api menyebar. Semua perlengkapan sablon ludes dilahap si jago merah. Yang tersisa hanya dua buah komputer dan tiga meja. Beruntung, Atha memarkir pick up miliknya di ruko depan kiosnya. Jadi, benda kesayangannya itu masih selamat. Ketika melihat kobaran api seusai salat berjamaah, semua menuju tempat kejadian. Atha sempat kalap dan berusaha menerobos masuk untuk menyelamatkan kedua karyawannya yang terjebak di dalam kios. Kenekatan Atha berbuah luka di lengan. Dia tidak sadar apa yang telah menggoresnya sampai harus mendapatkan beberapa jahitan. Pikiran pria itu kacau begitu melihat satu pekerjanya tergeletak tak berdaya di dekat meja. Di sampingnya, ada satu orang yang berusaha menyelamatkan. Keberuntungan masih memihak kedua karyawan Atha. Meski salah satunya harus menderita patah tulang, dia bersyukur karena masih bisa selamat dari musibah. Aksi Atha sempat membuat pria itu keracunan asap. Harislah yang kemudian datang dan membantu Atha keluar dari kios. Pemadaman dengan menggunakan alat seadanya sungguh tidak membantu. Tidak ada pemadam kebakaran seperti di kota. Para warga berpencar mencari sumber air. Mereka berlarian membawa air dalam ember. Beberapa yang lain berusaha mencari selang agar lebih mudah untuk menyemprotkan air. Lambatnya proses pemadaman membuat kios Atha tidak terselamatkan. Dia hanya bisa melihat tempat yang telah lama digunakannya itu hancur tak bersisa. Setelah api padam, dia sempat terduduk di tanah sambil menutup wajah. Sakit karena terluka di tangan sama sekali bukan apa-apa. Meski begitu, Atha menahan perasaan sekuat tenaga. Dia tidak ingin para karyawan semakin tertekan karena melihatnya terpukul. Jadi, dia meminta semua pekerja pulang dan menunggu kabar selanjutnya. Tidak ada gunanya menatap puing-puing bangunan yang sudah menjadi onggokan arang. Belum dapat dipastikan apa yang menjadi sebab kebakaran. Saat kios ditinggalkan, semua terlihat baik-baik saja. Dugaan sementara adalah adanya korsleting listrik. Meski belum yakin sepenuhnya, Atha tidak memiliki alasan lain. Tidak mungkin ada orang yang sengaja membakar tempat usaha Atha, bukan? Sejauh ini, Atha tidak memiliki musuh. Persaingan dalam bisnis sablon di sekitar kiosnya juga tidak ada. Jadi, dia tidak mau berburuk sangka pada seseorang. Mungkin memang terjadi korsleting listrik tanpa disadari oleh siapa pun. Tidak ada yang pasti dalam kejadian ini. Untuk sementara, Atha memilih mempercayai opsi tersebut. “Iya, Mas. Kata dokter, nanti saya bakal dirujuk ke rumah sakit di kota untuk operasi,” ujar si pekerja yang mengalami patah tulang kaki. “Haris sudah mengurus prosedurnya. Kamu tenang saja. Sebentar lagi kita akan berangkat ke kota.” “Mas tidak perlu menemani. Saya sudah meminta adik saya datang dan menemani.” “Tapi saya harus bertanggung jawab. Kamu terluka saat bekerja, sebagai atasan sudah kewajiban saya untuk memastikan keadaan kamu baik-baik saja.” “Mas sedang terluka. Saya bisa pergi sendiri. Sungguh, Mas. Saya tidak mau membebani Mas semakin jauh. Saya tahu Mas orang yang bertanggung jawab, tapi untuk proses operasi, saya bisa mengatasinya sendiri.” “Atau Haris saja yang menemani kamu?” tawar Atha. “Tidak perlu, Mas. Mas Haris juga sudah terlalu lelah. Saya benar-benar tidak apa-apa. Kata dokter, saya masih cukup muda. Jadi, pemulihannya akan lebih cepat.” Mendengar nada gurauan dalam kalimat sang pekerja membuat Atha tersenyum. Dia merasa beruntung karena memiliki seorang karyawan yang sangat pengertian. Tetap saja, dia yang harus bertanggung jawab. Sebagai atasan yang baik, dia akan memberikan ganti rugi kepada semua bawahannya. “Baiklah kalau kamu maunya begitu. Aku akan kirim uang ke rekening kami untuk pengobatan. Jika kurang, segera hubungi aku. Kamu tenang saja. Ini adalah fasilitas khusus karena kamu terluka saat bekerja. Jadi, kamu tidak boleh menolak perintah atasan.” Pekerja itu tersenyum. “Terserah Mas saja. Yang penting Mas ikhlas.” “Tentu saja aku ikhlas.” Atha menoleh pada karyawan yang mendapat luka bakar ringan di lengan dan kaki kirinya. “Bagaimana keadaan kamu?” “Baik, Mas. Luka saya tidak separah dia,” katanya sambil menunjuk pekerja yang terbaring di sampingnya. “Tapi kamu juga terluka. Apa kamu yakin kalau kamu tidak perlu memeriksa lukamu di rumah sakit kota? Sekalian sama temanmu.” “Tidak perlu, Mas. Kata dokter, luka saya bisa membaik seiring dengan waktu. Saya hanya perlu mengoleskan obat tepat waktu.” “Itu mungkin akan sakit dan nantinya bisa meninggalkan bekas kalau tidak dirawat dengan baik,” ucap Atha sambil memperhatikan luka bakar yang cukup lebar di lengan sang pekerja. “Saya laki-laki, Mas. Tidak akan serepot perempuan yang ribut hanya karena bekas luka. Mas tenang saja.” “Tidak bisa begitu. Kamu harus terus mengontrol kesehatan sampai lukamu benar-benar sembuh. Saya yang akan biayai sampai akhir. Jangan sampai luka itu membuat kamu minder di kemudian hari. Kamu, kan, harus menikah suatu hari nanti.” “Tidak sedramatis itu, kan, Mas? Perjalanan saya masih panjang untuk menuju pelaminan. Mas tidak usah khawatir.” Kali ini, Atha dibuat tertawa oleh candaan karyawannya. Meski sudah menjadi korban, mereka berdua tetap menghormati Atha sebagai atasan. Padahal dia tidak begitu perhatian sebelumnya. Dia hanya sekadar mengenal mereka dan menyapa sesekali saat bertemu. Interaksi mereka hanya sebatas pekerjaan. Pria yang terluka lengannya itu tidak menyangka kalau para pekerja sangat baik. Dia terlambat menyadari kehangatan yang belum pernah dirasakan. Kenyataan bahwa dia telah kehilangan tempat bekerja kembali menyesakkan d**a. Entah kapan dia bisa bertemu pekerja yang begitu pengertian begitu. Dengan tanggungan yang cukup banyak saat ini, Atha tidak berani membayangkan masa depan. Bukan. Dia tidak putus asa. Dia hanya tidak ingin bermimpi terlalu tinggi. Yang harus dia lakukan sekarang adalah menyelesaikan permasalahan ganti rugi. Butuh banyak uang untuk menutup semua itu. Kekayaan Atha benar-benar nol. Dia hanya memiliki rumah dan kios. Sertifikat rumah sudah berada di bank. Dia tidak punya hal lain yang bisa membantu. Kepala Atha berisi berbagai alternatif yang bisa dilakukan. Kalau dia diam dan tidak segera menemukan jalan keluar, kasihan para karyawan serta konsumen yang menanti. Harus ada jalan lain yang Atha pilih. Tidak mungkin dia hanya diam dan menyaksikan semua karyawan menderita. Dia juga tidak ingin mengecewakan konsumen yang sudah terlanjur percaya pada kios mereka. Kerugian yang mereka derita mesti segera dia bayar, tidak boleh menunda lagi. Sampai detik ini, belum ada konsumen yang menelepon atau mengirimkan pesan untuk menanyakan mengenai kebakaran. Atha bersyukur karena tidak ada yang mengganggunya di saat-saat terburuk begini. Namun, bukan berarti dia akan lari dari kewajiban yang harus dikembalikan. Para konsumen berhak menerima ganti rugi karena mereka sudah dikecewakan. Meski secara tidak sengaja, Atha tetap menjadi pihak yang bersalah. Dia yang telah menyanggupi pesanan. Jika pada akhirnya semua itu tidak bisa diselesaikan, bukankah Atha masih harus berdiri di garis terdepan? *** “Kamu yakin mau menjual pick up itu?” tanya Haris. Dia menunjuk mobil yang baru saja mereka beli setahun lalu. Keadaannya masih sangat baik. Akan tetapi, Atha butuh pemasukan yang besar dalam waktu dekat. Dia tidak mau jika terus menunda dan membuat bebannya bertambah berat. Pick up itu adalah satu-satunya hal berharga yang dimiliki oleh Atha. Dengan menjualnya, dia bisa, setidaknya, bernapas lega. Meski hasil penjualan mungkin tidak banyak, tetapi cukup untuk menanggulangi permasalahannya untuk sementara. Setelah ini, dia akan memutar otak guna mencari penghasilan tambahan. Mata Atha memperhatikan pick up yang sudah setahun terakhir menemani. Hatinya merasa sedikit tidak rela untuk berpisah. Akan tetapi, dia tidak bisa menunda kewajiban. Harus ada yang dia korbankan untuk memenuhi tanggung jawab dan mobil itu adalah jawaban paling tepat. Biaya operasi dan menyembuhkan kedua karyawannya pasti sangat mahal. Dia harus mulai mempersiapkan. Saldo yang ada di rekeningnya sudah tidak terlalu banyak. Entah bagaimana dia bisa mengatasi semua kerugian. Dia berharap, semoga Allah memberikan petunjuk. Sejujurnya, yang membuat Atha lebih khawatir adalah keadaan Ziya dan anak-anak setelah musibah yang berturut-turut menimpa mereka. Tidak perlu memikirkan anak-anak, mereka juga belum memahami keadaan yang menimpa Atha saat ini. Lain dengan Ziya yang begitu mengerti posisi Atha. Wanita itu pasti memendam banyak hal demi membuat Atha tenang. Meski tidak begitu memahami sikap Ziya selama hidup bersama, Atha bisa memastikan kalau sang istri akan melakukannya. Sekarang, Ziya tidak bisa duduk dengan tenang. Mungkin juga dia tengah memikirkan banyak cara untuk membantu Atha. Benar-benar membuat Atha khawatir. Ziya selalu meminta Atha untuk berusaha terbuka dan tidak menanggung apa pun seorang diri. Padahal wanita itulah yang sebenarnya menyimpan banyak hal dalam hati. Dia juga berusaha menutupi masalah dan tidak mau merepotkan sang suami. Atha tidak tahu apa sikap saling menjaga seperti itu merupakan hal baik dalam sebuah keluarga. Tanpa Ziya sadari, Atha mencoba untuk memahami apa pun mengenai sang istri. Hanya saja, dia selalu merasa kesulitan saat ingin menyampaikan maksud hati. Hasilnya dia tetap menyimpan semua pengetahuan mengenai Ziya sebagai sebuah rahasia. Entah kapan dia akan mengeluarkan. “Kamu mau menawarkannya berapa?” Haris bertanya lagi. “Kamu atur saja. Bukannya kamu punya teman yang biasa melakukan jual beli kendaraan? Minta bantuan dia saja. Lebih cepat, lebih baik. Aku perlu mengganti semua kerugian konsumen dan anak buah kita.” “Kamu yakin, Tha? Itu benda kesayangan kamu.” Atha menatap sedih pada pick up hitam yang sudah banyak berjasa membantunya. “Sudah saatnya aku melepas dia, Ris. Lagi pula, kita butuh dana secepatnya.” “Kamu tidak mau mempertimbangkannya lagi?” Atha tersenyum, lalu menggeleng. “Kamu sudah mengatakan hal ini pada Ziya?” “Belum. Tapi aku yakin kalau dia akan setuju.” “Sepertinya memang begitu. Dia tipe orang yang lebih baik tidak punya apa-apa dibandingkan harus menanggung utang tanggung jawab. Iya, kan?” “Dia memang seperti itu.” “Beruntung sekali kamu memiliki istri sebaik dia. Kamu harus melindungi wanita seperti Ziya. Jarang-jarang, lho, ada wanita yang mau bertahan setelah mengalami semua hal sulit begini.” “Tentu saja. Aku akan menggenggam erat tangan Ziya supaya dia tidak bisa melarikan diri,” ujar Atha penuh semangat. Haris tergelak. “Sejak kapan kamu jadi orang seromantis itu?” ejek Haris di sela tawanya. “Tidak usah mengejek begitu. Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada pick up kesayanganku.” Atha kembali melihat mobil yang terparkir itu. “Maaf, ya. Sepertinya kita tidak berjodoh. Semoga kamu mendapatkan pemilik baru yang lebih baik.” Tawa Haris semakin meledak begitu mendengar kata-kata perpisahan yang diucapkan oleh Atha. Dia tidak menyangka kalau Atha punya sisi seperti itu. Selama bersahabat, dia belum pernah melihat Atha penuh emosi seperti sekarang. Mendapatkan dua ujian besar berturut-turut agaknya sangat memengaruhi sang teman. Tidak mengherankan. Kalau Haris berada di posisi Atha, mungkin dia akan lebih gila. Dia juga tidak akan bisa berpikir jernih dan menemukan solusi di tengah badai. Harus dia akui kalau Atha memiliki jiwa kepemimpinan dalam baik. Dia sangat bertanggung jawab dan mau melakukan segala cara untuk memenuhi kewajibannya. Meski Atha kesulitan mengelola emosi di saat-saat tertentu. Dia tidak pernah meninggalkan sesuatu yang menjadi tugasnya. Suatu sikap yang dicontoh oleh banyak orang. Tidak banyak orang yang mampu tenang setelah mendapat ujian seperti sang sahabat itu. Yang bisa Haris lakukan adalah membantu Atha semampunya. Dia tidak berasal dari keluarga kaya, jadi dia tidak bisa membantu keuangan Atha. Jalan terakhir yang dia punya hanyalah memberikan dukungan dan menawarkan bantuan jasa. Dengan begitu, dia bisa merasa lega karena telah ikut menjaga Atha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN