“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” Hanin, adik Ziya, menodong sang kakak begitu dia muncul di depan pintu rumah.
Dikunjungi oleh adik yang jarang datang membuat Ziya menghela napas. Dia dan Hanin hanya saudara sepupu. Orang tua mereka kakak beradik. Kebetulan, jodoh Hanin berasal dari daerah yang sama dengannya, jadi mereka sekarang tinggal berdekatan. Sekadar itu.
Sebelum ini, Ziya dan Hanin tidak begitu dekat. Kesibukan masing-masing menyebabkan intensitas pertemuan mereka sangat sedikit. Mereka hanya sesekali bertemu saat ada acara keluarga atau hari raya. Itu pun jika keduanya tidak terlalu disibukkan dengan kegiatan mereka.
Berbeda dengan sekarang. Ziya dan Hanin berada di tempat yang jauh dari orang tua mereka. Dua orang yang saling kenal, tetapi tidak dekat itu, perlahan saling mengikat tali persaudaraan. Mereka jadi lebih sering mengobrol dan menyelesaikan permasalahan bersama.
Jarak pernikahan Ziya dan sang adik tidak begitu jauh. Selain itu, tempat tinggal mereka lumayan dekat. Meski jarang saling berkunjung karena Hanin sibuk membantu sang suami di warung bakso, mereka berbagi pikiran beberapa kali. Sejujurnya, Hanin yang lebih sering meluapkan isi hati.
Tidak seperti Ziya yang tertutup, Hanin adalah kebalikannya. Jika Ziya pendiam, Hanin merupakan wanita aktif yang tidak bisa berhenti melakukan apa pun. Hanin sangat ekspresif. Dia mengatakan semua yang ingin dikatakan, tanpa ditahan, tanpa disaring, dan tanpa malu-malu.
Sudah berulang kali Ziya mengingatkan agar jangan menceritakan masalah keluarga dengan orang lain. Hanin tetap saja abai. Seolah apa yang disampaikan oleh Ziya hanya angin lalu, tidak usah dipedulikan dan dituruti. Dia masih mengatakan segala hal yang terjadi dalam rumah tangganya.
Untungnya, Hanin cukup tahu diri saat berbicara dengan orang lain. Terutama saat ada Ziya di dekatnya. Sebagai saudara, Ziya bisa menjaga rahasia Hanin dalam hati. Yang berbahaya, jika Hanin menceritakan hal tak pantas kepada seseorang yang tidak dapat menjaga amanah.
Bukan hanya Hanin dan keluarga yang akan malu, tetapi Ziya juga. Sebagai orang yang lebih tua, walaupun selisih umur mereka hanya dua tahun, dia harus bisa menjaga sang adik. Orang tua Hanin selalu menanyakan keadaan putrinya pada Ziya. Mereka secara khusus menitipkan Hanin pada dirinya.
Tanggung jawab sebesar itu sangat sulit dilakukan. Meski sudah memiliki seorang putra, Hanin masih bersikap seperti gadis. Dia suka bepergian ke berbagai tempat sendirian. Padahal Ziya sudah mewanti-wanti agar Hanin tidak sembrono. Jika Hanin ingin pergi, dia bisa meminta sang suami untuk menemani.
Meski anak Hanin sudah berumur empat tahun, bukan berarti dia bisa meninggalkannya sesuka hati. Lagi pula, sang anak masih balita. Bagaimana bisa dia tidak mengajak anaknya saat pergi. Memang, suaminya tidak pernah protes, tetapi itu bukan alasan untuk mungkin dari kewajiban seorang istri, bukan?
Sebagai ibu, Hanin sudah sepantasnya menjaga dan merawat sang anak. Namun, percuma saja mengingatkan Hanin berulang-ulang. Hati dan telinganya seakan tertutup, sehingga dia tidak bisa menerima ucapan orang lain. Hal terbaik yang bisa Ziya lakukan hanya terus memberi peringatan. Sisanya dia serahkan pada Hanin. Toh, Hanin yang menjalankan.
Kewajiban Ziya untuk mengingatkan sesama muslim sudah ditunaikan. Perkara Hanin mau mendengar atau tidak, itu bukan urusannya. Hanin benar-benar sulit dikendalikan. Ziya terkadang merasa gagal karena tidak bisa menunaikan pesan sang bibi padanya. Menjaga orang dewasa lebih sulit dari pada anak-anak, dalam kasus Hanin tentunya.
“Kak, apa yang terjadi?” ulang Hanin.
Pandangan Ziya menyapu halaman rumah yang terlihat kosong. Dia melirik tajam pada wanita yang berdiri di depannya, heran mengapa mereka tidak mirip sama sekali. Tidak bisakah Hanin lebih lembut dan sopan. Hanin itu seorang bangsawan. Harusnya dia juga bersikap seperti bangsawan.
Dengan sabar, Ziya membimbing Hanin masuk dan memintanya duduk. Dia melirik ke arah pintu yang masih terbuka, berharap ada yang muncul di sana. Akan tetapi, sepertinya tidak. Kali ini pun sama. Hanin tidak mengajak suami dan anaknya. Kapan sikap Hanin itu bisa diubah?
“Rehan sama Fatih tidak ikut?” tanya Ziya sambil menyebutkan nama suami dan anak Hanin. Sesuai dugaan, Hanin menggelengkan kepala.
“Mas Rehan baru selesai beberes warung. Dia capek, makanya tidak ikut ke sini. Fatih sudah tidur, jadi aku tinggal saja.”
“Lalu, kenapa kamu tidak istirahat saja? Kamu pasti juga capek, kan?”
“Mana bisa aku istirahat setelah mendengar berita kalau tempat kerja Mas Atha kebakaran. Benaran, Kak? Kok, bisa? Bagaimana kebakaran terjadi?”
“Aku juga belum tahu detailnya, Nin. Mas Atha belum cerita semua. Intinya, usaha Mas Atha lenyap. Semua habis terbakar.”
“Bagaimana dengan Mas Atha dan yang lainnya? Katanya ada yang terluka? Bagaimana keadaan mereka? Apa lukanya parah? Siapa saja yang terluka?” Hanin langsung mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Membuat Ziya mengerutkan kening mendengar semua hal itu.
“Kamu sebenarnya dengar cerita ini dari siapa?”
“Dari orang yang makan bakso di warung kami,” ujar Hanin.
“Siapa, sih, yang bergosip di warung kami?”
“Banyak.” Hanin menoleh saat menyadari sesuatu. “Jadi, kebakaran itu tidak benar-benar terjadi?” dia diam lagi. “Tidak benar. Tadi Kakak bilang kalau Mas Atha belum cerita semuanya. Berarti kebakaran itu memang terjadi.”
“Sudahlah. Jangan bilang apa-apa lagi. Tempat Mas Atha kerja memang kebakaran. Mas Atha dan dua karyawan terluka, tapi tidak separah yang kamu pikirkan.”
“Memangnya apa yang aku pikirkan?” Hanin mengerucutkan bibir. “Katanya ada yang sampai patah tulang?”
“Memang. Salah orang. Yang satunya cuma luka bakar sedikit. Kalau Mas Atha ... dia dapat banyak jahitan di lengannya.”
“Terus, Mas Atha di mana? Aku mau jenguk sekalian.”
“Masih mengurus karyawannya yang terluka. Mungkin akan pulang larut malam. Kalau mau menjenguk, sebaiknya kamu kembali besok.”
“Katanya lengannya dijahit, kenapa malah keluyuran? Bagaimana kalau malah semakin parah?” gerutu Hanin.
“Hush! Doa kamu jelek banget. Mas Atha menunaikan tanggung jawabnya, bukan keluyuran. Kamu itu yang keluyuran malam-malam. Sudahlah. Pulang sana. Nanti Fatih bangun, ribut. Besok saja kamu ke sini lagi.”
“Kakak usir aku?”
“Bukan. Kamu, kan, capek dan ini sudah malam. Istirahatlah. Besok kita akan membicarakan tentang kebakarannya lagi besok. Oke?”
Mulut Hanin komat-kamit entah menggumamkan apa. Dia melongok keluar, berharap jika Atha muncul dan memuaskan rasa ingin tahunya yang belum terpenuhi. Sayang, sosok yang diharapkan tidak muncul-muncul. Sebagai gantinya, dia melihat ke arah kamar, tetapi baik Yazid maupun Dania sudah tidur sejak tadi.
Kelakuan sang adik tidak pernah berubah. Ziya tersenyum melihat tingkah Hanin yang kekanakan. Dia berharap kalau Atha tidak akan pulang dalam waktu dekat. Atha tentu sudah lelah menyelesaikan urusan hati ini. Ziya tidak ingin waktu istirahat Atha terganggu karena kehadiran Hanin di sini.
Bukan tidak menyukai kunjungan Hanin. Hanya saja, Hanin berkunjung di saat yang tidak tepat. Ziya tahu kalau Hanin tidak bermaksud mengganggu. Namun, kejadian hari ini sangat mendadak. Dia khawatir kalau Atha masih syok dan belum bisa mengendalikan diri setelah kembali ke rumah nanti.
Mulut Hanin yang sulit dikontrol bisa menambah beban Atha. Meski tidak pernah berniat jahat, terkadang Hanin kerap mengatakan sesuatu yang tidak semestinya dan membuat orang lain terbebani. Adiknya itu memang kurang bisa memilih kalimat yang baik saat berbicara. Dia tidak mampu memperhalus perkataan.
Di sisi lain, meski Atha tampak sangat dingin, dia tidak bisa menolak seseorang yang ingin berbicara dengannya. Takut orang itu tersinggung atau menganggapnya sombong. Kalau sampai Atha muncul saat Hanin masih di sini, Ziya tidak bisa menjamin, berapa jam yang Atha butuhkan untuk menjelas kejadian malam ini.
Sebagai istri, Ziya tidak mau Atha merasa semakin tertekan. Dia saja sudah menekan diri sekuat tenaga agar tidak mendesak sang suami. Tunggu sampai suasana hati Atha membaik, baru dia akan bertanya. Malam ini, dia akan membiarkan Atha istirahat dulu. Besok, dia yakin kalau Atha pasti menjelaskan semua.
Tidak baik mendorong Atha mengatakan mengenai kebakaran itu saat suasana hatinya masih diliputi kekhawatiran atau ketegangan. Setelah merasa dikhianati oleh teman dekatnya, Noufal, dan mengalami kerugian. Sekarang dia mendapat musibah yang menghancurkan seluruh kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
Pasti tidak mudah bagi Atha melalui semua hal itu. Ziya tahu kalau Atha mencoba kuat di hadapannya. Dia juga tahu kalau sang suami hanya ingin membuatnya tenang dan tidak khawatir. Akan tetapi, mana mungkin dia tidak merasakan kesedihan di hati Atha. Dia bisa memahami sikap Atha saat ini.
Sesudah membuat Ziya kecewa karena investasi bodong, Atha tidak ingin menambah kekecewaan sang istri. Dia membebani dirinya terlalu kuat. Padahal Ziya tidak sedikitpun merasa kecewa. Awalnya mungkin iya, tetapi setelah dipikir-pikir, dia lebih cenderung bersimpati pada Atha ketimbang kecewa.
Setiap istri ingin mendampingi suami di saat tersulitnya. Begitu juga dengan Ziya. Dia ingin Atha merasakan kehadirannya dan berbagi beban. Lalu, mereka bisa berdiskusi untuk menemukan jalan keluar dari masalah ini. Bukankah berbagi akan membuat kita lebih baik? Benar, bukan?
Sudah Ziya putuskan kalau dia akan menunggu Atha pulang dan menyambutnya dengan senyum. Dia tidak ingin Atha merasakan kegelisahan dalam dirinya. Permasalahan ini akan ada jalan keluar terbaik. Ziya yakin itu dan dia akan berusaha untuk meyakinkan Atha mengenai pertolongan Allah.
Jadi, langkah pertama yang bisa dilakukan oleh Ziya adalah meminta Hanin pulang agar dia tidak mengganggu Atha. Ziya memperhatikan Hanin yang masih memperhatikan sekeliling. Hanin tidak akan menyerah dengan mudah, tetapi kali ini Ziya tidak boleh kalah. Demi kebaikan Atha.
“Mas Atha masih lama, Nin. Kamu pulang saja. Aku juga mau tidur,” kata Ziya sambil mengusap mata.
“Kakak bisa tidur dalam keadaan seperti ini?”
“Memangnya kenapa? Justru dalam keadaan seperti ini, Kakak harus banyak tidur. Jadi, besok bangun bisa fresh dan bisa bantu Mas Atha. Iya, kan?”
“Iya juga, sih.” Hanin mangut-mangut. “Ya, sudah. Aku pulang dulu, Kak. Besok aku ke sini lagi buat dapat berita eksklusif dari Mas Atha. Dadah, Kak Ziya.”
“Pakai salam, Nin.”
Tanpa memedulikan sekeliling, Hanin meneriakkan salam sambil berlari keluar. Ziya geleng-geleng kepala. Selalu saja begitu. Datang dan pergi tanpa mengucap salam. Apa coba sulitnya mendoakan kebaikan untuk orang lain? Hanin benar-benar sudah sangat sulit ditolong. Ziya merasa usahanya mengingatkan Hanin selama ini sia-sia belaka. Hanin tidak berubah sedikit pun.
Selang beberapa waktu setelah Hanin pulang, Ziya mendengar suara pick up Atha yang memasuki halaman rumah. Ziya tersenyum, lalu keluar untuk memastikan. Atha memarkir mobil kesayangannya dengan sangat pelan. Dia sempat membelai pintu mobil sebelum berbalik dan melihat Ziya.
Untuk sesaat, kedua mata Atha membesar. Mungkin dia tidak menyangka kalau Ziya akan menyambutnya seperti ini. Dia berharap Ziya sudah tertidur, sehingga tidak harus mengatakan apa pun. Malam ini saja. Dia bermaksud menjelaskan mengenai musibah itu besok.
Ziya melangkah mendekati Atha. Atha menelan ludah ketika Ziya meraih lengannya yang sehat sambil tersenyum lebar. Dia sudah menyiapkan beberapa kalimat untuk mengalihkan perhatian Ziya, tetapi perkataan sang istri membuatnya sangat lega.
“Ayo, istirahat. Mas sudah sangat capek malam ini. Waktunya untuk mengistirahatkan diri,” ujar Ziya, lalu menarik Atha memasuki rumah.