Bab 12: Hari Baru

1730 Kata
“Harum sambalnya sampai ke belakang, lho,” kata Atha sambil mendekati Ziya yang sibuk menghaluskan sambal di cobek. “Kalau ada yang buat sambal terasi, pasti hidungnya langsung beraksi.” “Iya, dong.” Atha melirik tudung saji yang tertutup. “Kamu masak apa? Ada aroma gurih.” Tanpa menunggu jawaban Ziya, dia menghampiri meja makan. “Masak pecel lele, Mas. Lalapannya lengkap,” ujar Ziya. Senyumnya mengembang. “Wah! Mas langsung lapar.” Atha duduk tenang di kursi. “Dania masih tidur?” “Iya. Selesai masak, nanti aku bangunkan.” Ziya menyendok sambal dan meletakkan di sebuah mangkuk kecil. Wanita itu kemudian menghidangkan bersama lele dan lalapan. Ziya sengaja memasak makanan kesukaan Atha, berharap sang suami bisa sedikit terhibur. Dia ingin melakukan apa saja agar beban suaminya bisa diringankan. Sesudah salat Subuh, Atha melihat lahan di belakang rumah. Ada beberapa jenis sayuran yang ditanam oleh Ziya. Mulai dari kangkung, bayam, sampai daun ubi. Ada juga daun seledri dan berbagai bumbu seperti kunyit dan jahe. Di lahan paling ujung, Ziya menanam cabai kecil dan cabai merah. Masih segar dalam ingatan Atha saat Ziya mengeluh kalau tanamannya selalu gagal tumbuh. Ada saja yang membuat mati. Atha tidak bisa membantu karena dia sama sekali buta masalah pertanian. Yang dilakukannya saat itu hanya menyemangati Ziya agar sang istri tidak menyerah berusaha. Melihat hasil yang diperoleh oleh Ziya sekarang, membuat Atha mau tak mau merasa bangga. Banyak hal baru yang Ziya pelajari setelah menjadi seorang ibu rumah tangga. Atha tahu jika sebelum menikah, Ziya jarang sekali melakukan pekerjaan rumah seperti saat ini. Jadi, dia selalu menghargai usaha Ziya untuk memenuhi semua kewajibannya dengan baik. Bahkan sangat baik. Terkadang, Atha merasa malu karena Ziya memiliki lebih banyak keterampilan dibandingkan dirinya. Ziya pintar dalam belajar. Dia bisa memahami sesuatu dengan cepat. Mungkin itu sebabnya dia mudah beradaptasi di berbagai lingkungan. Dia juga pandai menempatkan diri dan memilih kata yang cocok saat berhadapan dengan lawan bicaranya. Tidak mengherankan jika banyak yang menyukai sikap baik yang menempel di diri Ziya. Siapa yang tidak tertarik pada wanita serba bisa seperti dia. Atha bahkan harus mengelus d**a saat ada yang membicarakan betapa sempurnanya Ziya. Dia hanya takut kalau Ziya bisa menemukan celah perbedaan di antara mereka dan menimbulkan ketidaknyamanan. Terus terang saja, Atha tidak begitu bisa bergaul dengan seorang wanita. Dia memang pernah berbicara beberapa kali. Namun, itu hanya karena dia tidak dapat menolak saat mereka mengungkapkan perasaan padanya. Dia terus saja mengatakan untuk saling mengenal. Tetap saja, pada akhirnya para wanita yang dia kencani menyadari betapa dingin hati Atha. Label playboy yang sempat melekat pada dirinya sama sekali tidak membebani Atha. Dia tidak peduli mengenai pendapat orang lain. Selama orang yang dia sayang bisa melihat ketulusannya, itu akan baik-baik saja. Dia tidak harus menjelaskan semua tentang masa lalunya pada Ziya, bukan? Sejak menikah, Atha juga tidak pernah bertanya macam-macam mengenai masa lalu Ziya. Dia hanya tahu kalau dulunya Ziya sempat dekat dengan teman kampus. Sayang, pria itu menikah terlebih dahulu. Sementara Ziya hanya menyimpan perasaan dalam hati sampai waktu yang lama. Begitulah kisah yang pernah Atha dengar dari berbagai sumber. Dia pernah melihat sosok pria yang bernama Vino itu. Pria itu banyak dikagumi oleh kamu hawa karena ketampanan dan kebaikannya. Atha sempat merasa minder setelah melihat saingannya. Dia bahkan tidak mengenyam pendidikan di kampus. Berasalan dari keluarga yang kurang mampu membuat Atha harus puas dengan pendidikan sekolah menengah atas. Padahal dia termasuk pelajar yang cerdas dan berbakat. Dia menjadi salah satu kebanggaan sekolah karena sering memenangkan perlombaan. Sayang, dia tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pelajaran. Sebenarnya Atha bisa menempuh jalur beasiswa. Akan tetapi, artinya dia harus kuliah di universitas kota. Jika saja saat itu sang ibu tidak sedang sakit, dia sudah pasti mau menerima. Begitulah perjalanan hidup. Mungkin dia memang sudah memiliki jalan lain yang telah disiapkan oleh Allah. Nyatanya, selepas sekolah menengah atas, Atha bisa mempelajari usaha sablon secara otodidak. Bekal itulah yang sampai sekarang mengangkat namanya. Melalui kiosnya, dia bisa memperbaiki keuangan keluarga. Bahkan setelah menikah, dia tidak perlu merasa khawatir akan mengalami kekurangan biaya hidup. Bayangkan saja bagaimana kacaunya Atha saat melihat semua jerih payah yang dibangun terbakar di depan mata. Melebihi apa pun, usaha itu sudah seperti setengah jiwa bagi Atha. Dia melakukan banyak hal demi untuk mengembangkan, tetapi dalam semalam semua hancur tak bersisa. “Mas hari ini keluar, ya,” ujar Atha saat Ziya masih membereskan peralatan memasak. Pria bermata tajam itu memperhatikan sang istri yang tengah mencuci wadah-wadah. Rambutnya yang hanya sedikit melewati bahu diikat asal jadi satu. Ada beberapa anak rambut yang mencuat dan menutupi kening. Dengan tubuh tinggi, Ziya terlihat sangat menawan. Ziya sungguh sosok yang baik dalam berbagai hal. Atha cukup beruntung karena dia lebih tinggi dari pada Ziya. Kalau berbicara masalah ketampanan, banyak yang bilang kalau Atha lumayan ganteng. Lihat saja berapa banyak gadis yang dulu sempat mengejar. Bukankah itu membuktikan kalau dia menarik di mata para wanita? Ya ... walaupun dalam hal ini Ziya juga lebih unggul. Dari yang Atha dengar, Ziya kerap mendapatkan pernyataan cinta. Beberapa di antara mereka bahkan pernah melamar. Namun, tidak ada yang ditanggapi serius oleh Ziya. Begitulah jodoh. Jika hati belum merasa klik, meski kita berusaha, tetap akan berpisah. Lain halnya jika sudah berjodoh, sekuat apa pun kita menolak dan bersikeras tidak menyukai, tetap saja akan bersatu. Karena itu, jangan berlebihan dalam sesuatu. Bisa jadi orang yang diam-diam tidak kita sukai, kelak menjadi pasangan kita. Tidak ada yang bisa menyangka, bukan? Jodoh adalah hak yang hanya dimiliki oleh. Benar, bukan? Pastinya benar sekali. “Mas mau ke mana?” “Sebenarnya ....” “Sebenarnya kenapa?” tanya Ziya. Atha sedikit terkejut karena kehadiran Ziya di sampingnya. ”Kok, kaget begitu? Mas tadi melamun, ya?” “Eh, sebenarnya ... Mas mau bilang kalau ....” “Kalau apa? Bilang saja, Mas. Kayak ngomong sama siapa saja.” Benar apa yang dikatakan oleh Ziya. Tidak ada lagi yang perlu Atha tutupi. Setelah dua kejadian tak menyenangkan yang terjadi, hubungan mereka menjadi semakin kuat. Atha jadi lebih menghargai keberadaan Ziya. Di sisi lain, Ziya jadi bisa melihat kalau Atha sebenarnya cukup mempertimbangkan perasaannya. Selama ini, Ziya pikir Atha tidak pernah memikirkan mengenai dirinya dan anak-anak. Ternyata, Ziya salah. Di balik sikap dingin Atha, dia selalu menyimpan nama seluruh keluarga di sudut hati terdalam. Ziya bisa merasakan sikap hangat Atha beberapa hari belakangan. Musibah yang menimpa mereka ternyata bisa mengubah semua. Bisa saja ini merupakan salah satu hal baik yang dapat dipetik sebagai pelajaran. Bahwa di balik setiap musibah, selalu ada hikmah. Terkadang, kita bisa merasakan sesaat setelah melewatinya. Terkadang lagi, kita baru menemukannya setelah berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah permasalahan terjadi. Sebagai manusia, kita tidak bisa memastikan apa pun dalam hidup. Kita hanya menjalani apa yang telah menjadi jalan pilihan Allah. Baik buruknya hasil yang didapat, tetap harus disyukuri. Ingat, apa yang kita lihat, terkadang tidak sejalan dengan kenyataan. Jadi, jangan hanya menilai dari satu sisi. “Mas mau jual mobil kita,” ucap Atha tanpa melihat Ziya. “Untuk menutupi kerugian kios Mas?” “Ya ... begitulah. Meski kebakaran itu bukan kesalahan Mas, Mas tetap harus bertanggung jawab pada konsumen dan karyawan, kan?” “Tentu saja. Aku tidak masalah dengan langkah yang Mas ambil. Selama Mas pikir itu baik, aku akan selalu mendukung setiap keputusan yang Mas buat.” “Terima kasih, ya, Zi. Mas akan memperbaiki keadaan kita sedikit demi sedikit.” “Mas tidak perlu memikirkan aku dan anak-anak. Aku masih punya sedikit tabungan yang bisa dipakai tiga atau empat bulan ke depan. Mas tenang saja.” “Kamu punya simpanan uang?” “Punya, dong. Setiap kali Mas kasih uang bulanan, aku selalu menyisihkan sedikit." “Sepertinya kamu cukup pandai mengatur keuangan." “Kebiasaan berhemat, Mas. Orang tuaku selalu mengajarkan untuk hidup sederhana. Tidak peduli akan sekaya apa pun kita kelak. Lagi pula, aku terbiasa mengatur keuangan sejak dulu. Mas tahu, kan, kalau aku sudah lama hidup jauh dari orang tua. Jadi, aku berusaha menekan pengeluaran dan mengendalikan keinginan. Jangan sampai kita menghabiskan uang hanya untuk memenuhi nafsu saja.” “Kuliah paginya benar-benar menakjubkan, Ustazah Ziya,” kata Atha bergurau. “Aku hanya menceritakan yang sebenarnya." “Iya. Mas tahu. Jadi, kamu tidak masalah kalau kita tidak punya mobil?” “Tidak masalah. Toh, kita masih punya motor. Iya, kan?” Atha mengangguk. “Ngomong-ngomong, apa Mas tidak mau membahas mengenai hal lain?” “Hal lain seperti apa? Ada yang mau kamu ketahui?” “Sejujurnya, aku penasaran mengenai kebakaran di kios Mas.” “Apa yang membuatmu penasaran?” “Mas sudah menemukan sumber masalah yang menyebabkan kebakaran itu?” “Belum. Dugaan sementara karena terjadi korsleting listrik.” “Tapi mengapa tidak ada yang menyadari?” “Mungkin kami terlalu sibuk dan fokus bekerja. Jadi, kami tidak memperhatikan sekeliling. Lagi pula, saat kejadian, kami sedang salat berjamaah di masjid.” “Tidak ada yang tinggal di kios?” “Ada. Dua karyawan Mas yang terluka. Tapi, saat itu mereka sedang tidur. Mereka juga tidak menyadari kalau ada yang janggal. “Mas tidak bermaksud untuk menyelidiki. Bagaimana kalau ini bukan sebuah kecelakaan.” Atha mengerutkan kening. Dia tidak menyangka kalau Ziya akan mengatakan hal seperti itu. Biasanya, dia selalu berbaik sangka terhadap setiap hal. Kenapa sekarang dia justru seakan meragukan seseorang? Benar-benar bukan gaya seorang Ziya. Dari mana dia mendapatkan pikiran begitu? Meski Atha juga sempat menduga hal ini sebelumnya, dia tidak ingin banyak berpikir. Mungkin saja memang ada yang tidak beres. Lalu, perlukah dia menyelidiki kasus ini? Bagaimana kalau kenyataannya tidak sesuai dengan harapan Atha? Bukankah hanya akan membuatnya semakin kecewa? Perkataan yang keluar dari mulut Ziya perlu dipertanyakan. Atha menopang dagu dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya sibuk mengetuk-ngetuk meja makan. Dia mulai memusatkan pandangan kepada Ziya yang kini sibuk mencari kata-kata untuk menutupi kegugupan. Sungguh. Ziya tidak bermaksud menuduh siapa pun mengenai kebakaran itu. Akan tetapi, menurutnya, perkara ini tetap harus diselidiki. Meski tidak disengaja atau hanya karena kecerobohan, kebenaran harus diusut, bukan? Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk pengalaman agar kelak bisa lebih berhati-hati. “Kenapa malah melihatku seperti itu?” “Soalnya kamu sedikit aneh. Katakan, kamu tidak menuduh salah seorang dari karyawan kami bertanggung jawab atas hal ini, kan?” “Bukan begitu, Mas. Apa pun itu, kita tetap perlu tahu menyebab kebakarannya, kan?” “Kenapa menurut kamu itu perlu?” “Sebagai pelajaran saja. Supaya ke depannya kita tidak melakukan hal yang sama.” Alasan Ziya membuat Atha tertegun. Atha tidak menyangka pemikiran Ziya sangat sederhana. Jadi, itu tujuan Ziya meminta Atha untuk menyelidiki kasus ini. Jika memang begitu, Atha akan berusaha melakukan. Pertanyaannya, bagaimana Atha tahu apa yang menyebabkan kebakaran. Untuk sekarang, Atha hanya ingin fokus mencari uang untuk mengganti semua kerugian pihak. Mungkin dia bisa menyelidiki penyebab kebakaran setelah menjual mobil dan mengganti rugi. Pada saat itu, pikirannya akan sedikit lega. Jadi, dia bisa berpikir lebih jernih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN