Chapter 13

1211 Kata
Saat giliranku tiba, aku pun menaiki panggung. Berdiri di hadapan semua orang yang sudah tidak sabar ingin menyaksikan penampilanku. Termasuk dua senior yang sejak tadi berada di dekatku dan saling berlomba untuk mendapatkan perhatianku. Aku tidak sedang merasa percaya diri atau bahkan sok merasa paling cantik sehingga di rebutkan oleh senior seperti mereka, tapi aku berkata yang sejujurnya. Aku berani bersumpah jika ada yang menganggap perkataanku bohong. Dirly memberiku senyuman semangat, sementara si cowok ajaib bernama lengkap Mahesa Gesa Geraldo itu hanya menatapku dengan sorot yang tak kumengerti. Aku memejamkan mataku sejenak, menarik nafas perlahan dan membuangnya dalam desahan panjang. Kurasa, sudah saatnya untuk aku menampilkan persembahanku. Harapanku hanya satu, mereka semua semoga terhibur dengan penampilanku. Saat musik mulai mengalun lembut, dengan segenap hati dan penghayatan yang dalam sebuah lagu yang sudah kupilih sejak mendaftar pun segera kunyanyikan. When tomorrow comes, I’ll be on my own. Feeling frightened up, The things that I don’t know. When tomorrow comes, Tomorrow comes Tomorrow comes.... And though the road is long, I look up to the sky In the dark I found, I stop and I won’t fly And I sing along, I sing along, then I sing along I got all I need when I got you and I I look around me, and see sweet life I’m stuck in the dark but you’re my flashlight You’re gettin’ me, gettin’ me through the night Can’t stop my heart when you shinin’ in my eyes Can’t lie, it’s a sweet life I’m stuck in the dark but you’re my flashlight You’re gettin’ me, gettin’ me through the night Cause you’re my flash light.. You’re my flash light, you’re my flash light. Semuanya mengangkat kedua tangannya ke atas. Menggerakkannya ke kanan dan kiri seolah menikmati nyanyianku. Aku tersenyum senang di dalam hati, baru setengah jalan tapi mereka sudah berhasil terbawa suasana. I see the shadows long. beneath the mountain top I’m not the afraid when the rain won’t stop. Cause you light the way You light the way, you light the way. I got all I need when I got you and I. I look around me, and see sweet life. I’m stuck in the dark but you’re my flashlight. You’re gettin’ me, gettin’ me through the night. Can’t stop my heart when you shinin’ in my eyes. Can’t lie, it’s a sweet life. I’m stuck in the dark but you’re my flashlight. You’re gettin’ me, gettin’ me through the night. Cause you’re my flash light. You’re my flash light, you’re my flash light. Semuanya ikut bernyanyi bersamaku. Mereka semakin terhanyut dengan cara aku membawakan lagunya Jessie J sesuai versiku sendiri. Kulihat Viona pun ikut bernyanyi walau ku tau dia tidak pernah pasih saat melafalkan bahasa inggris. Tapi karena sama-sama terbawa suasana, dia pun jadi tertular dari yang lainnya. I got all I need when I got you and I. I look around me, and see sweet life. I’m stuck in the dark but you’re my flashlight. You’re gettin’ me, gettin’ me through the night. Can’t stop my heart when you shinin’ in my eyes. Can’t lie, it’s a sweet life I’m stuck in the dark but you’re my flashlight. You’re gettin’ me, gettin’ me through the night. Cause you’re my flash light You’re my flash light, you’re my flash light~ (Flashlight – Jessie J) PROK PROK PROK. Suara riuh tepuk tangan, siulan memuji dan sorakan kagum pun terdengar dari bawah panggung. Aku tersenyum bahagia karena suguhanku akhirnya berhasil telak menciptakan respon yang positif dan sangat baik. Aku membungkukkan tubuh sejenak, isyarat sebagai tanda memberi rasa hormat dan terima kasih kepada penonton karena sudah mau memberikan tepuk tangan yang meriah untuk performanceku. "Yey ... beri tepuk tangan lagi buat junior sekaligus teman kita Quensha Lovinitria!!" seru senior berambut pirang sebahu itu menaiki panggung. Lalu dia berdiri di sampingku sambil memegang mikrofon yang sama sepertiku, "Sumpah, suara lo benar-benar bikin bulu kuduk gue berdiri loh! Penghayatannya dalem banget dan gue rasa Jessie J aja masih ada di level kedua setelah lo,” pujinya terkagum-kagum Perempuan ini terlalu berlebihan dalam memujiku. Tapi mungkin seperti itulah gayanya ketika menjadi pemandu acara. "Tapi serius deh, bukan cuman gue aja, bahkan mereka semua yang nontonin lo barusan, seakan terbawa hanyut dalam suara merdu lo itu. Benar-benar menakjubkan." Lagi-lagi perempuan berbibir merah itu memujiku tak henti-hentinya. Aku hanya bisa kembali tersenyum malu akibat terlalu banyak menerima pujian, dan tidak lupa aku pun mengucapkan terima kasih untuk pujiannya. Seiring pembawa acara itu melanjutkan cuap-cuapnya, akhirnya aku dipersilahkan juga untuk menuruni panggung. Dengan perasaan yang berbunga-bunga karena mendapat respon positif dari semua yang menyaksikan, kini aku pun sudah berpijak lagi di atas tanah. "Tria!" seru Viona yang kudapati sedang berlari kecil ke arahku. Viona lantas memelukku dan mengucapkan selamat karena aku berhasil memberikan penampilan yang terbaik. Dengan perasaan yang gembira aku pun balas memeluknya. Bukan hanya Viona, tapi kini Romeo pun turut menyalamiku juga. Baru kali ini dia mengakui kehebatanku dalam bernyanyi, biasanya dia hanya bereaksi biasa aja. "Tumben lo, ngakuin kehebatan suara gue," sindirku melirik Romeo. Dia mengangkat bahunya sok cool, "Ya gue sih orangnya jujur. Kalau bagus bilang bagus, kalau jelek gak bakalan gue bilang bagus lah," katanya menyeringai. Aku sedikit mencibir, tapi tak lagi membalas komentar Romeo. Karena kalau aku terus membalasnya, maka itu akan menjadi perdebatan yang panjang dan mengakibatkan Viona kewalahan untuk melerai kami lagi. Dan lagi aku hanya tidak mau merusak mood ku yang sedang bagus saja hanya karena berdebat gak jelas dengan Romeo. *** “Tria!” Aku menoleh saat seseorang memanggilku. Senyum pun mengembang ketika kudapati Dirly tengah berjalan menghampiriku. “Selamat ya, lo udah sukses kasih yang terbaik buat—“ “Gue.” Tidak diharapkan, tiba-tiba saja Esa muncul merangkul bahuku. “Benerkan baby?” liriknya tersenyum sok manis. Baby? Apaan? Sejak kapan namaku berubah jadi Baby? “Apaan sih, jauhin tangan lo dari bahu gue!” usirku kejam menghempaskan lengannya. “Oww, lo kejam baby,” cebiknya sok imut. Demi Tuhan! Ada apa dengan dia? Kenapa sekarang dia berubah jadi cowok sok manis begitu setelah kemarin-kemarin bersikap kasar dan kejam padaku. Apa dia salah minum obat? Atau dia kesambet penghuni bukit? Kalau itu benar, maka harus segera ada yang mengeluarkan roh halus di dalam tubuhnya. “Tapi gak masalah, gue suka kok sama cara lo nyanyi tadi. Penghayatannya dalem banget, sampe gue mikir, saat lo lagi nyanyi pasti lo sambil ngebayangin gue. Iya kan?” pedenya selangit. Aku tercengang luar biasa. Sebenarnya dia kenapa? Otaknya sudah korslet kah? “Tria, kalo gitu gue ke sana dulu ya. Kayaknya tadi ada yang manggil,” pamit Dirly tiba-tiba. Bahkan sebelum aku menyahut Dirly sudah lebih dulu melenggang pergi. Meninggalkan aku yang sekarang hanya berduaan saja bersama cowok ajaib ini. “Kepala lo gak kebentur benda keras kan?” tanyaku menatapnya serius. Alis tebalnya lantas saling bertaut, “Maksud lo?” “Soalnya kelakuan lo aneh bin ajaib, sebentar kasar, sebentar kejam dan tiba-tiba berubah jadi sok manis. Apa sebaiknya lo periksa otak aja? Mana tau otak lo bermasalah,” saranku sarkastik, memberinya solusi. Kupikir dia akan marah mendengar perkataanku. Namun tanpa kusangka dia malah tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang berjajar rapi. “Lo lucu deh, gue jadi gemas pengen cium.” Cup. Dan satu kecupan pun mendarat tak sopan di pipi kananku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN