Tria tahu, seharusnya sejak awal dia tolak saja kebaikan si kakak tingkat menyebalkan itu. Meskipun ia rela menggendongnya hanya demi kebaikan Tria semata, tapi tetap saja, kini ia berhasil menjadi objek terutama saat menduduki topik terhangat yang sudah menyebar di hampir seluruh telinga penghuni kampus Nusa Wijaya.
"Ya ampun, Tria. Jadi ceritanya, lo udah mulai akrab nih sama ketua senat ganteng itu?" Tanpa pernah disangka, tahu-tahu Viona asal nyeletuk saja yang seketika membuat Tria harus memutar bola matanya begitu jengah.
Lagipula, kenapa sih Viona harus sesotoy itu. Siapa juga yang mulai akrab sama si kakak tingkat menyebalkan itu. Yang ada, Tria malah merasa risih kali ketika tanpa sengaja ia mendengar setiap orang yang sedang menggosipkannya pasca melihat dirinya yang digendong oleh Mahesa tadi.
Ya, ketika Tria digendong Mahesa akibat kakinya mengalami keseleo, sepanjang jalan menuju tenda Tria pun dipandang takjub oleh para senior yang bertugas menjaga-jaga di sekitar tenda. Memang hanya segelintir orang saja, tapi seperti yang kita tahu, bahwa cerita yang muncul dari satu mulut ke mulut yang lain itu akan dengan sangat mudahnya tersebar. Maka, tidak heran kan seandainya kini seluruh mahasiswa--baik itu yang senior maupun sesama mahasiswa baru--menjadi tahu perihal kejadian tadi sewaktu Tria digendong Mahesa hingga memasuki tenda. Bahkan, Mahesa pun sempat mengobati bagian pergelangan kakinya juga sebelum akhirnya ia harus pergi ketika seorang kakak tingkat perempuan datang menghampiri dan memintanya untuk ikut bersamanya.
Tria tidak peduli akan hal itu. Yang jelas, Tria hanya ingin pergelangan kakinya segera sembuh agar ia tidak merepotkan siapa pun selama di perkempingan tersebut. Memang semestinya Tria itu tidak perlu loncat-loncat demi membawa bendera di atas dahan. Akibatnya seperti inilah akhirnya. Kakinya cidera dan ia tidak bisa dengan bebas pergi ke mana-mana.
"Btw gue denger, lo diperhatiin sebegitunya ya sama Kak Esa. Ciye, ciye, jadi iri deh. Kapan gue bisa kayak lo! Dipeduliin sama kakak tingkat ganteng dan dia seorang ketua senat pula. Duh, indahnya...." tukas Viona berangan-angan.
Sementara itu, Tria yang mendengar dan melihat sikap serta ocehan berlebihan dari sahabatnya itu pun lantas mendengkus sebal seraya berkata, "Gak usah lebay! Lo kalo mau kayak gue, sana cidera dulu. Baru nanti lo dikasih perhatian tuh sama si Meo. Ada-ada aja, gue mau sembuh, lo malah mau kayak gue." Tria misuh-misuh tak habis pikir. Lalu, ia pun kembali mengusap-usap bagian kaki yang terkilir.
Viona dan anggota regu 2 memang sudah kembali dari penjelajahan, dan katanya mereka hanya mendapatkan bendera sebanyak 7 buah saja. Padahal, mulanya mereka yakin kalau regu mereka pasti akan meraih kemenangan. Tapi sayang, ketika Tria dan Mahesa tidak ada di antara mereka. Justru kemenangan pun tidak jadi mereka dapatkan. Tidak masalah memang, toh yang mendapat kekalahan mutlak pun bukan regu mereka. Masih ada regu lain yang mendapatkan bendera lebih sedikit dari yang regu 2 dapatkan.
Maka, Tria pun tidak perlu merasa sedih. Setidaknya, regu 2 tidak akan mendapatkan hukuman di malam api unggun nanti bukan?
***
Tria Pov
Beberapa orang terlihat hilir mudik kesana kemari, mereka begitu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sementara aku, setelah mendapat nomor antrian untuk tampil di atas panggung hanya bisa berdiam diri sambil menyiapkan keberanian untuk menampilkan yang terbaik di hadapan semuanya nanti.
Aku memang sudah mendaftar, ku rasa di moment seperti ini aku juga berhak menunjukkan bakat yang kumiliki. Dan ya, untung saja kakiku sudah sembuh setelah diurut oleh tukang urut yang dibawakan si kakak tingkat itu.
"Ehem.” Sebuah deheman sukses membuatku terperanjat kaget.
Aku lantas melirik ke samping kiriku dan menemukan wajah tampan Dirly yang kini melemparkan senyuman penuh pesonanya.
“Dirly....” gumamku menyebut namanya. Aku jadi teringat dengan kejadian tadi pagi.
“Lagi apa? Kok sendirian aja?” tanya nya sembari melongok kanan kiri. Dia nyari siapa?
“Temen lo di mana? Kok tumben gak ada bareng lo,” lanjutnya. Ternyata, dia mencari Viona yang biasanya selalu bersamaku.
“Temen gue lagi latihan dansa sama partnernya, daripada gue ganggu kan mending gue menyendiri,” terangku tersenyum tipis,
Dirly pun mengangguk paham.
Tatapannya pun ia luruskan ke ujung sepatu bertali putihnya. Untuk sesaat keadaan berubah sunyi, baik aku mau pun Dirly. Kami sama-sama tidak membuka suara lagi.
“Emm, soal tadi pagi. Gue minta maaf ya,” tukasnya memecah sunyi. Rupanya dia pun masih ingat. Dan jujur aku memang sedikit kecewa karena Dirly hanya terdiam saat aku membutuhkan bantuannya.
“Ada beberapa hal yang bikin gue gak bisa mencampuri urusan Esa, misalnya kayak tadi. Mungkin gue bisa aja rebut lo lagi dari seretan memaksa Esa. Tapi gue sadar, kalo gue gak punya hak lebih buat sekedar ikut campur antara masalah lo sama dia,” tuturnya menciptakan rasa bingung yang mulai bersarang di kepala.
Maksudnya apa? Kenapa setiap kalimat yang diucapnya seolah mengandung arti tersendiri, memangnya kenapa kalau Dirly bertindak untuk membantuku? Itu haknya sendiri bukan?
“Tapi, tadi lo gak di apa-apain sama Esa kan? Maksud gue, dia gak kasarin elo kan?” tatapnya kini menunjukkan sorot khawatir.
Kepalaku refleks menggeleng, ketua senat itu emang sedikit kasar memperlakukanku tapi tidak sampai melebihi batas kok. Dan kurasa dia pun tidak mungkin akan sekasar melebihi batasannya, hanya saja dia terlalu gengsi juga arogan.
“Syukurlah....” desah Dirly tersenyum lega. Aku pun jadi ikutan tersenyum saat melihatnya tersenyum seperti itu.
“Oh iya, by the way tadi gue lihat lo ikut daftar buat ngisi acara di pentas malam ini. Kalo boleh gue tau, emangnya lo mau berpartisipasi apa?" alih Dirly ke topik lainnya.
“Emm, gue sih ada niatan mau nyanyi. Itu pun kalo gue gak dengan tiba-tiba disuruh turun dari atas panggung karena suara gue gak layak didenger,” kekehku sedikit bergurau.
Dirly ikut tertawa kecil mendengar candaanku. Rasanya begitu nyaman melihat tawa di wajah tampannya.
“Terus udah nentuin lo mau nyanyi apa?”
Sejenak aku tertegun untuk beberapa saat. Kenapa suara Dirly berbeda dari sebelumnya? Apa dia bisa mengubah-ubah aksen suaranya tanpa diduga?
Namun ketika melihat pandangan Dirly lurus ke belakangku, di situ lah aku menemukan jawabannya.
“Jadi gimana? Lo udah siap memberikan persembahan yang terbaik khusus buat gue?” lontarnya lagi, sesaat setelah aku berbalik badan dan menemukan batang hidung si ketua senat resek itu.
“Persembahan terbaik khusus buat lo? Maksud lo apa?” protesku menatap tajam.
Dia memamerkan senyuman miringnya. Lancangnya, dia pun tanpa ragu mengalungkan sebelah tangannya di bahuku. INI MAKSUDNYA APA?
Dengan emosi tertahan aku berusaha mengenyahkan lengan cowok yang tanpa kusangka bertengger anteng di pundakku. Namun sebelum itu terjadi si cowok arogan ini malah lebih mengeratkan rangkulannya seraya meringsek tubuhku sehingga semakin merapat dengannya.
Dirly masih ada di dekatku, tapi mengingat ucapannya tadi yang mengatakan bahwa dia tidak akan pernah bisa mencampuri urusan si ketua senat kejam ini. Aku pun buru-buru mengambil kesimpulan. Dirly tidak akan bisa menolongku, maka itu artinya lagi-lagi aku harus berjuang seorang diri untuk mengatasi ulah ajaibnya si cowok arogan ini.